
Sebisa mungkin Aminah bergerak dengan hati-hati agar tak bersentuhan dengan pria berkemeja biru yang duduk di sebelahnya itu.
'Semoga dia gak dengar detak jantungku yang bak kendang ditabuh keras.' ucap Aminah dalam hati.
Aminah merasa seperti flashback ke masa di mana mereka pertama kali dekat dan pergi kencan berdua.
'Grogi parah!'
"Cobain ini. Aminah. Ini kepiting rasanya mantep dan seger banget," Ucap Mbak Nana seraya mengambilkan kepiting dan kemudian menaruhnya ke piring Aminah.
"Dia alergi kepiting." Ucap Dani.
Aminah yang tadinya mau bicara, langsung membisu saat mendengar Dani lebih dulu mengatakannya. Ditambah, ia langsung mengambil kepiting dari piring Aminah dan langsung memindahkan ke piringnya, lalu memakannya dengan santai.
Dani kemudian mengambil daging ayam dan cumi, juga udang yang sudah matang, lalu meletakkan di piring Aminah.
"Dia sukanya ayam, cumi sama udang." Ucap Dani dengan santai.
Seketika keduanya jadi pusat perhatian orang lain yang ada disana, dan Aminah hanya bisa tersenyum canggung.
"Kok tahu? Hayooo ...." Pertanyaan Mbak Nana membuat Dani langsung terbatuk-batuk.
Dia seolah baru tersadar dengan apa yang barusan dilakukannya.
"Memang si pengusaha tampan ini penuh rahasia dan kejutan, jadi jangan kaget," sahut Mas Dito yang membuat suasana kembali mencair.
Aminah hanya bisa diam dan menikmati makanan dengan setenang mungkin, tak berani sedikit pun menatap pria di sebelahnya itu.
__ADS_1
Meja yang terdapat dua alat pembakar di bagian kanan dan kiri ini membuat Aminah berada di tengah-tengah. Aminah lebih banyak membantu Bu Aya untuk membakar daging dan memindahkannya ke piring. Sementara Mbak Nana membantu anaknya makan, dan Mas Dito terlihat berbincang dengan Dani.
Aminah benar-benar tak bisa bertingkah seperti dulu pada Dani. Keduanya seperti dua orang asing yang belum saling mengenal sekarang.
Tak berapa lama kemudian, Mbak Nana meninggalkan meja karena si kecil rewel. Sedangkan Bu Aya izin ke kamar mandi, tinggallah mereka bertiga.
Mereka lebih banyak diam sambil menikmati makanan yang ada di meja.
"Bentar." Mas Dito beranjak pergi saat ponselnya berdering.
Sekarang tinggal mereka berdua, Dani dan Aminah.
'Hah, ini meresahkan!' ucap Aminah dalam hati.
"Mau cumi atau ayam lagi?" Dani seolah mencoba membuka obrolan di tengah kebisuan mereka berdua.
Aminah menggeleng.
"Iya." Jawab Aminah singkat.
"Oh," balas Dani singkat.
Mereka kembali membisu beberapa saat, sebelum akhirnya Dani berdiri dan pergi.
'Huft!'
Baru saja Aminah bisa bernapas lega, tiba-tiba Dani kembali dengan meletakkan segelas minuman cokelat di dekat Aminah.
__ADS_1
"Boleh aku minta nomor WA-mu?" Ucap Dani yang membuat Aminah tak berkutik.
Aminah hanya diam.
"Nggak boleh, ya?" Tanya Dani lagi.
Aminah lagi-lagi hanya diam.
'Oh, ayolah, Aminah! Katanya mau mencoba berdamai sama masa lalu, dia cuma minta nomor WA-mu, bukan hatimu...' batin Aminah berperang.
Belum sempat Aminah menjawab, Bu Aya sudah kembali dari kamar mandi, disusul Mas Dito, dan Mbak Nana yang sudah menidurkan anaknya.
"Jadi ... snack box kemarin dari toko Ibu?" Tanya Dani saat Mbak Nana bercerita kalau kemarin teman Mas Dito banyak yang suka dengan snack box tersebut.
"Betul, Nak Dani." Balas Bu Aya.
"Wah, kebetulan sekali. Saya kemarin paling suka pastel nya, kalau mau pesan apa harus ke toko? Misal diantar bisa, Bu?" Tanya Dani.
"Bisa Nak, asal jaraknya nggak lebih dari 2km, kalau lebih dari itu harus pakai ojek online atau dikenai biaya antar." Jawab Bu Aya.
"Oh, gitu. Bisa saya minta nomor yang bisa dihubungi kalau mau pesan, Bu?" Tanya Dani lagi.
"Boleh, simpan saja nomor saya." Jawab Bu Aya.
"Kalau bisa nomor pegawai tokonya saja Bu, siapa tahu saya mau pesan menu lain yang ready hari itu di toko." Ucap Dani seraya sedikit melirik ke arah Aminah.
Aminah merasa Dani tengah memperhatikannya saat ia mengatakan meminta nomor pegawai toko.
__ADS_1
'Dasar modus!' ucap Aminah dalam hati.
Bersambung...