Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Bertemu Orang Baru


__ADS_3

Pagi menjelang....


Hari ini toko kue tutup, karena Bu Aya ada acara keluarga. Sehingga dapur utama tak memproduksi kue. Aminah sengaja bangun lebih awal, agar bisa lari-lari, sekedar olahraga ringan.


Bertemu dengan beberapa orang dan saling menyapa. Langkah Aminah memelan saat sedang melewati puskesmas, ada spanduk bertuliskan donor darah di atas gerbang.


'Wah, kebetulan, sudah lama nggak donor darah.' batin Aminah.


Setelah memastikan waktu pelaksanaannya Aminah pun segera pulang.


Sesampai di rumah, Aminah membersihkan diri. Lalu, sarapan dan rebahan sebentar, sebelum akhirnya bersiap untuk donor darah.


Aminah sudah menelpon untuk mengajak Naya, namun Naya menolak ikut. Karena alasan takut jarum suntik.


Sekitar pukul 9 pagi, acara donor darah dimulai. Semua pendonor didata oleh perawat di meja depan.


"Kita timbang berat badan dulu ya, Mbak." Ucap perawat itu pada Aminah.


Aminah mengikuti perawat itu, lalu naik ke timbangan badan.


"Nama?" Tanya petugas itu.


"Aminah, Mbak."


"Alamat?"


"Deket-deket sini aja, rumah warna ijo, yang dekat dengan kiosnya Bu Set itu. Enak lho Mbak belanja disana, aku aja kalau belanja di kasih diskon, boleh ngutang lagi. Apalagi kue bolunya. Duuhh enak banget, buatannya Bu Mil tuh. Terus kalau beli–"


"Mbak?" Perawat itu menatap Aminah dengan tajam. "Promosi-nya nanti malam saja, ya. Soalnya hari ini saya puasa," lanjut perawat berjilbab itu, lalu nyengir.


"Oh, siap, Mbak. Nanti lanjut via WA ya, saya buka jastip." Ucap Aminah.


"Sip, sip," balas perawat muda itu, lantas keduanya terkekeh bersama.


"Ehem." Perawat lainn


"Eh, alamatnya Mbak." Perawat di depan Aminah langsung kembali fokus.


"Jalan melati, rumah nomor 25, kalau dari jalan utama belok kanan di gang samping bengkel Jaffa." Ucap Aminah menyebut sebuah bengkel yang cukup ternekal itu.


"Oh, ya, ya, ya." Peraawat itu mengangguk-angguk. "Umur?"


"25 tahun," jawab Aminah pelan.


"Berapa, Mbak? Yang keras Mbak, kita nggak lagi main tebak kata."


"25! Umur gadis ini 25!" Tiba-tiba ada suara bariton dari arah belakang, keras dan jelas.

__ADS_1


Orang-orang pada menoleh ke arah Aminah. Ia segera membalikkan badan.


Seketika dahi Aminah mengernyit melihat pria di depannya itu. Pria berkemeja hitam yang lengannya dilipat sampai siku, dengan rambut yang masih terlihat basah. Ia memandang Aminah dengan memainkan kedua alisnya.


"Bener, kan, umurmu 25 tahun." Ucapnya seraya mengerlingkan mata yang seketika membuat Aminah salah tingkah.


"Kau siapa?" Tanya Aminah.


Pria itu tak menjawab.


"Registrasi sudah selesai, Mbak. Silakan tunggu, ya, nanti akan dipanggil sama petugas yang lain." Pernyataan perawat itu, dibalas dengan anggukan dan ucapan terima kasih oleh Aminah.


Mata Aminah dengan mata pria tampan itu beradu. Pria tertawa, menampakkan deretan giginya yang putih bersih. Lantas, ia melewati Aminah, ia terlihat akan mendaftar juga.


"Nama?" Samar terdengar pertanyaan dari sang perawat.


"Rizal Ardiansyah, bukan Rizal Armada. Jodoh dari Aminah yang usianya 25 tahun, tapi belum berani menikah!" Ucap pria itu lantang.


'What?' Aminah melongo.


Aminah segera menghentikan langkah dan membalikkan tubuh ke arah sumber suara itu. Kicauan orang-orang di sekitar pun mulai terdengar.


"Waa ... ternyata sepasang kekasih."


"Cie cie ...."


"Kayak di sinetron ini."


"Iya, judulnya cintaku bersemi saat donor darah."


"Eh, itu kan cewek yang panggil kucing Bapak kemarin."


'Bapakh.... harga diri anakmu sedang dalam ancaman netizen!'


Aminah segera membalikkan badan, tak memedulikan tatapan dan bisikan orang di sekitar, langsung mencari tempat duduk paling belakang dan paling pojok.


Pria berkemeja hitam itu celingukan setelah berbalik dari meja pendaftaran, seperti tengah mencari seseorang. Dan tiba-tiba tersenyum lebar saat matanya beradu dengan Aminah, ia pun mulai melangkah dan berjalan ke arah Aminah.


Aminah mencoba bersikap sesantai mungkin, walau dalam hati ingin teriak untuk menyuruhnya berhenti dan jangan dekat-dekat.


'Aku takut, nantinya detak jantungku kedengeran dia...' ucap Aminah dalam hati.


"Hai!" Pria bernama Rizal itu menyapa Aminah tepat saat dia berdiri di samping Aminah.


Aminah melihatnya sekilas, lalu membalas sapaan itu dengan anggukan dan senyuman. Rizal lalu duduk di kursi depan Aminah.


"Sekarang aku duduk di depanmu dulu, nanti saja kalau nikah baru kita duduk deketan. Biar ada deg-deg-annya gitu," ucap Rizal sambil bersandar. "Aku takut khilaf kalau duduk disamping kamu."

__ADS_1


"Buaya...," Balas Aminah pelan, hampir tak terdengar.


"Kamu mengatakan sesuatu?" Refleks, Rizal menoleh ke arah Aminah dan membuatnya jadi salah tingkah.


Aminah menggeleng cepat, lalu mengalihkan pandangan ke ponsel.


Beberapa saat kemudian, nama Aminah dipanggil. Rizal ikut berdiri dan berjalan mengekori sampai Aminah masuk ke ruang donor darah.


"Mas nya, kan, belum dipanggil." Petugas di dalam ruangan itu menegur pria berparas tampan itu.


"Oh, maaf. Soalnya setiap dia berjalan, aku merasa seperti ada yang menarik untuk ikut. Mungkin ini yang namanya cinta pada pandangan pertama." balas Rizal sambil menatap Aminah.


Mata Aminah semakin melotot. Ini adalah pertama kalinya.dia bertemu dengan pria bernama Rizal itu. Tapi pria itu malah terus mencoba untuk menggodanya.


"Halah lebay! Baru pacaran aja kebanyakan gombal, nanti kalau udah nikah tiap hari suruh nyuci gombal! Sudah sana keluar dulu, nanti dipanggil kalau sudah jatahmu! Jangan kebanyakan gombal, nggak baik buat isi dompet!" Balas salah satu petugas wanita paruh baya di ruangan itu.


'Bagus, Bu! Hajar terus! Lanjutkan! Maju!' teriak Aminah girang dalam hati.


Rizal terkekeh lalu berjalan keluar. Aminah pun merasa lega.


Setelah melewati semua prosedur, Aminah segera keluar dengan sekotak minuman sari kacang hijau dan sepotong roti, yang diberikan cuma-cuma untuk menambah tenaga.


"Aminah, tunggu!" Ucap Rizal.


Aminah yang sudah berada di pelataran parkir membalikkan badan dan menatap Rizal tergopoh-gopoh berlari ke arahnya.


"Ada apa? Aku sedang tidak menerima gombalan dan bentuk apa pun. Terutama dari orang yang tak dikenal." Ucap Aminah.


Rizal terbahak. Lalu, menyodorkan sebuah kotak makanan ke arah Aminah. "Untukmu."


"Apa ini? Jangan-jangan ada peletnya." Ucap Aminah.


"Aku nggak perlu pakai pelet, kamu juga udah klepek-klepek sama aku. Iya kan?" Ucap Rizal dengan kepercayaan diri yamg begitu tinggi.


'Pede tingkat dewa!' batin Aminah.


"Udah ambil aja, ini isinya gulai kambing. Bagus buat nambah darah. Ditambah yang masak, bukan aku sih, tapi emak-emak pemilik kedai penjual gulai kambing." Ucap Rizal.


"Aku gak suka kambing." Ucap Aminah.


"Kalau aku suka kan?" Ucap Rizal.


"Nggak." Balas Aminah singkat lalu berjalam meninggalkan Rizal.


"Aku ikut ya ke rumahmu ya. Mau ngobrol sama calon mertua." Ucap Rizal.


Aminah tak menjawab apapun, dia malah langsung berjalan. Rizal ingin mengejar Aminah, tapi perawat lebih dulu memanggil namanya. Rizal pun mengurungkan niatnya untuk mengejar Aminah dan beralih masuk ke dalam tenda dimana donor darah diakukan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2