
Entah sejak kapan posisi keduanya berubah jadi seperti saat ini. Aminah sudah berada di bawah tubuh Rizal saat ini. Rizal memeluk pinggangnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menekan ranjang untuk menahan bobot tubuhnya sendiri agar tidak terlalu menindih Aminah dan membuatnya merasa sesak.
“Engh…hmm….” Suara itu mengalun begitu saja ke dalam telinga Rizal.
Sungguh Rizal tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini.
'Semuanya terasa sangat…. Ah… benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.' ucap Rizal dalam hati.
Kembali Rizal mencium bibir Aminah dengan lebih dalam. Tangan kanannya yang melingkar sempurna di pinggang Aminah sedikit mengangkat punggungnya hingga kini tubuhnya benar-benar menempel dengan tubuh Rizal.
Rizal dapat merasakan detak jantung Aminah yang berdebar kencang, napasnya yang terengah-engah bahkan terasa hangat tepat di depan hidung Rizal.
“Sa...yang….” Aminah mendorong dada Rizal hingga membuat Rizal melepaskan pelukannya di pinggang Aminah kemudian mengelus dahinya untuk menyingkirkan rambut yang menjulur ke wajahnya. Rizal dapat merasakan dahi Aminah yang sedikit basah karena keringat.
“Kenapa?” Rizal membelai pipi Aminah dengan tangan kanannya.
Saat ini Rizal bahkan masih berada di atas tubuh Aminah dan menahan bobot tubuhnya sendiri dengan satu tangan.
“Rizal, aku mencintaimu.” Aminah berbisik di telinga Rizal, membuat Rizal merinding sesaat karena udara yang keluar dari mulutnya.
“Aku….hmmmp….” Rizal tidak dapat melanjutkan Ucapannya karena Aminah sudah menutup bibir Rizal dengan bibirnya.
'Apa ini Aminah? Mengapa istriku yang polos bisa melakukan hal ini padaku.'
Rizal benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja Aminah lakukan padanya. Aminah menempelkan bibirnya di bibir Rizal dan tidak menggerakkannya sedikitpun. Aminah menindih tubuh Rizal tanpa menahannya sama sekali, membuat Rizal sedikit sesak karena tubuh Aminah yang berada di atas tubuhnya. Tapi Rizal merasa baik-baik saja, karena bobot tubuh Aminah memang tidak terlalu berat.
Rizal merasa sangat senang karena saat ini posisi Aminah benar-benar berada di atas tubuhnya. Aminah pasti dapat merasakan debaran jantung Rizal yang tidak karuan, karena dadanya yang tepat menempel di dada Rizal.
Rizal yang gemas dengan kelakuan Aminah segera mencium bibir Aminah, tangan kanannya bergerak ke tengkuk Aminah dan sedikit menekannya untuk memperdalam ciumannya. Tangan kanan Rizal mengelus lembut punggung Aminah.
Tanpa aba-aba Rizal memutar tubuhnya ke samping hingga posisi mereka kali ini berbalik. Rizal lah yang berada di atasnya, kali ini Rizal lah yang menguasai tubuh Aminah. Rizal yang mengambil kendali atas semuanya.
"Biarkan aku yang memulainya, sayang." Bisik Rizal.
“Engh…hmmm mmh…. “
Suara pelan yang terdengar seperti rintihan itu keluar begitu saja, saat Aminah merasakan tangan liar Rizal menelusup ke dalam dress tidur putihnya melewati pahanya kemudian bergerak ke perutnya. Rizal meraba perut datar Aminah, membuatnya sedikit menggeliat dan membuat Rizal semakin menggila. Rizal kembali mencium bibir Aminah lebih dalam dari sebelumnya.
“Mmmmph…“
Aminah merasakan seluruh tubuhnya lemas saat tangan liar Rizal menelusup ke balik dress tidurnya, perlahan membelai pahanya kemudian bergerak menuju perutnya dan akhirnya berhenti disana. Aminah merasakan tangan kanan Rizal meraba perutnya, membuat Aminah merasakan sebuah sensasi yang benar-benar tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata, semuanya mengalir begitu saja. Semua perasaan itu, rasa takut, rasa gugup, semuanya hilang saat Rizal menjelajahi tubuhnya dengan lembut.
“Engh,,, mppph….”
Ciuman Rizal semakin menggila saat suara pelan itu keluar begitu saja dari mulut Aminah yang kini sedang dikuasai Rizal. Aminah benar-benar berada di bawah kekuasan Rizal dan tidak dapat melakukan apapun, Aminah tidak bisa menolak semuanya. Ternyata suara pelan yang terdengar menjijikan bagi Aminah itu bisa membuat Rizal menjadi semakin mengeratkan cengkraman nya di tengkuk lehernya, menekan kepala Aminah untuk memperdalam ciumannya. Rizal mencium bibir Aminah lebih dalam dari sebelumnya.
“Hmmmmph….”
Dengan sekuat tenaga Aminah mendorong tubuh Rizal menjauh, membuat dia menarik tangan kanannya yang sedang bermain di balik dress tidur Aminah kemudian menatap Aminah dengan bingung. Aminah merasakan perih di bibirnya.
'Aish, dasar bodoh. Kenapa kau merusak kegiatan menyenangkan ini?'
“Em… Ada apa?” Tanya Rizal dengan membulatkan maTanya karena bingung.
Aminah dapat melihat sedikit rasa kesal di sana. Mungkin karena Aminah yang tiba-tiba menghentikan semua kegiatan yang sedang dia lakukan.
“Kenapa kau menggigit bibirku?” Aminah berteriak tepat didepan wajah Rizal, membuatnya memundurkan kepalanya menjauh.
Aminah segera mendorong tubuh Rizal yang masih menindihnya hingga Rizal bangkit dari posisi yang terlalu menempel ini. Tapi Rizal masih saja menampakan wajah polos dengan ekspresi yang sama dengan sebelumnya.
“Ah…. Mmm… sayang… aku tidak sengaja” Ujar Rizal dengan sedikit terbata-bata.
__ADS_1
Rizal mengangkat tangan kanannya untuk menyeka bibirnya yang basah. Bahkan Rizal tidak berani melihat mata Aminah yang sedang menatap tajam ke arahnya.
'Aish, bagaimana dia bisa menggigit bibirku seperti itu.''
“Kau ini kanibal huh? Kau mau memangsa ku hidup-hidup?”
Aminah terus saja mengomel di depan wajah Rizal. Sebenarnya tidak begitu sakit, hanya saja Aminah kaget ketika Rizal melakukannya.
“Maaf, aku hanya terlalu bersemangat. Aku benar-benar menggila ketika kau memberikan sebuah respon terhadapku.”
Rizal menggaruk belakang kepalanya dengan sedikit malu. Dahinya mengkerut dengan tatapan yang tidak fokus.
'Bodoh, kau telah merusak suasana yang sangat menyenangkan dan momen yang benar-benar sedang aku nikmati.' Ucap Aminah dalam hati.
“Sudahlah. Aku ingin tidur.”
Aminah kembali berbaring lurus dan menarik selimut tinggi-tinggi sampai ke lehernya.
Aminah melihat Rizal menggeser posisinya lebih dekat ke arahnya, kemudian menahan kepalanya dengan tangan kanan. Aminah mencoba meliriknya dengan ekor matanya. Saat ini posisi Rizal benar-benar dekat, dan itu membuat jantung Aminah berdebar hebat. Aminah melihat mata Rizal yang sayu. Terlihat sangat tampan.
“Ayo kita ulangi lagi. Huh, mau sayang?”
Rizal menyentuh ujung hidung Aminah dengan telunjuknya, membuat Aminah hampir tersenyum karena perlakuannya.
'Ya ampuun, apa yang pria ini lakukan padaku hingga membuatku benar-benar tidak bisa marah padanya.'
“Aku sedang menikmati semuanya tapi kenapa kau tiba-tiba mengigit bibirku?”
Aminah menggembungkan pipinya dengan pandangan kesal, sedangkan Rizal hanya menampakan wajah tanpa dosanya.
“Sayang, sudah ku katakan. Aku hanya terlalu bersemangat. Ayo kita coba lagi."
Rizal tersenyum lebar sembari menyentuh bahu Aminah dengan telunjuknya.
Sebenarnya Aminah bukan tidak ingin, hanya saja ia malu jika harus mengulanginya dari awal. Aminah bahkan sudah memakinya berkali-kali sejak tadi.
“Baiklah, aku tau ini semua salahku. Oke. Aku janji akan lebih lembut melakukanya.”
Rizal membulatkan maTanya dengan tatapan penuh harap. Aminah mengabaikannya dan membalikan tubuhnya memunggungi Rizal.
“Ya sudah, tidurlah sekarang sudah malam. Besok kita masih mempunyai banyak kegiatan menarik. Selamat tidur sayang.”
Aminah dapat merasakan Rizal menepuk pundaknya pelan. Aminah sedikit merasa bersalah karena menolaknya begitu saja. Aminah lalu membalikan badannya ke arah Rizal yang ternyata sudah memejamkan mata.
Aminah memandangi wajah tampan Rizal yang terlihat sangat polos. Bibirnya, Aminah baru merasakannya lagi beberapa saat yang lalu.
'Dan kau benar-benar membuatku gila Rizal. Ikatan mu terlalu kuat hingga aku bahkan tidak mampu melepaskan mu.'
“Apa aku ini sangat tampan, huh?”
Tiba-tiba Rizal membuka maTanya dan berhasil memergoki Aminah yang sedang memandangi wajahnya.
'Ya ampuuun, memalukan sekali.'
“Ish, kau ini terlalu percaya diri suamiku sayang.” Balas Aminah kemudian menjepit hidung mancungnya dengan jarinya, membuat Rizal tertawa geli kemudian menarik Aminah ke dalam pelukannya.
“Tidurlah, istriku sayang. Honeymoon kita belum selesai.”
Rizal menyingkirkan poni di dahi Aminah kemudian mengecupnya singkat. Aminah tersenyum ringan kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Rizal dan memeluknya dengan erat.
Keduanya mulai memejamkan mata, entah bagaimana ceritanya hingga akhirnya kedua bibir mereka menyatu. Bibir Rizal terasa hangat membuat Aminah semakin memperdalam ciumannya lalu memeluk Rizal dengan sangat erat. Ia merasakan kehangatan dari tubuh Rizal.
__ADS_1
Aminah sudah sangat ingin bercinta dengan Rizal, untuk membuat suaminya dapat melepaskan apa yang selama ini ia pendam.
"Oh, sayang, aku sangat ingin....."
Aminah tak membiarkan Rizal melanjutkan ucapannya dengan kembali menciumi pria yang sangat dicintainya itu. Keduanya benar-benar di mabuk asmara. Bahkan Rizal dengan bersusah Bapak mulai meraih bagian sensitive Aminah. Ia takut Aminah akan kembali menolak.
Aminah benar-benar telah dikuasai nafsu. Ia bahkan mulai membuka satu persatu kancing baju yang ia kenakan sendiri. Hingga meninggalkan penutup bagian dadanya.
"Sangat indah." Ucap Rizal.
Aminah kembali mencium Rizal, saling menggenggam tangan dengan erat, menyalurkan hasrat mereka yang terpendam selama ini.
"Stop sayang, stop." Ucap Rizal lirih.
"Aku ingin melakukannya." Balas Aminah manja.
"Begitupun denganku, tapi jika kita teruskan, aku bisa meledak."
"Memang itu yang aku rencanakan." Balas Aminah.
"Kalau kau bilang begitu, baiklah. Tapi, biarkan aku yang menguasai permainan."
Posisi Aminah yang tadinya berada diatas Rizal kini bertukar menjadi di bawah. Aminah tersenyum, keduanya kembali berciuman mesra. Tangan Rizal mulai terbiasa meraba setiap inci tubuh Aminah.
"Kau menginginkannya, bukan begitu sayang? Sama halnya dengan aku yang sangat menginginkan hal ini sejak lama." Ucap Rizal.
Sentuhan demi sentuhan Rizal semakin membuat Aminah bergairah. Rizal pun melepas sisa pakaian yang melekat di tubuh Aminah.
Mereka pun melakukannya, layaknya pengantin baru. Keduanya melepas semua perasaan yang selama ini terpendam.
"Oh, sayang, aku sudah lama menginginkan hal ini. Lama sekali." Ucap Rizal. "Aku selalu membayangkan hal ini di malam pertama kita. Tapi aku tidak pernah berani berharap, apalagi membayangkan bahwa bercinta akan terasa seindah ini." Lanjut Rizal.
Tubuh keduanya bergetar bersamaan, merasakan setiap puncak kenikmatan itu bersama dalam cinta. Rizal lalu berbaring di sisi Aminah dan memeluknya.
Sesaat keduanya terdiam, hingga Aminah kemudian bangun dan memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Aku pikir kita sudah melakukannya dengan hebat malam ini." Ucap Aminah dengan raut wajah yang malu.
"Iya, luar biasa." Balas Rizal. "Sudah sangat lama aku menunggu datangnya malam ini, dan sekarang kita sudah berhasil melakukannya." Timpal Rizal.
Aminah hanya tersenyum.
'Lebih dari luar biasa bagiku.' Ucap Aminah dalam hati.
"Kau mau kemana sayang? Aku ingin tidur, dengan kau berada dalam pelukanku."
"Aku juga." Balas Aminah. "Tunggulah sebentar, aku mau membersihkan diri dulu." Lanjut Aminah dibalas anggukan oleh Rizal.
"Cepatlah kembali." Ucap Rizal saat Aminah membuka pintu kamar mandi. "Aku masih mau lagi."
"Hahaha sabar." Balas Aminah, seraya tertawa terbahak.
"Sayang....." Teriak Rizal lagi.
"Iya..." Jawab Aminah kembali membuka pintu kamar mandi saat sudah masuk ke dalamnya.
"Aku mencintaimu. Terima kasih untuk malam ini...."
Aminah terlihat tersenyum sangat bahagia, "aku juga sangat mencintaimu." Balas Aminah kemudian kembali menutup pintu.
'Malam yang sangat indah. Semoga besok menjadi hari yang lebih menyenangkan lagi.' gumam Rizal dalam hati.
__ADS_1
Bersambung.......