Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Curhat


__ADS_3

Aminah tengah sibuk membungkus pesanan dari pelanggan, saat seorang wanita yang baru masuk toko memanggil namanya.


"Aminah...!"


Aminah menatap wajah wanita berjilbab itu sambil mengingat-ingat, lalu tersenyum lebar saat tahu siapa wanita itu. Kain yang menutupi kepala wanita itu membuat Aminah pangling.


"Nita? Beneran ini kamu?" Tanya Aminah mencoba meyakinkan dirinya tidak salah orang.


Wanita berlesung pipi itu mengangguk dengan seulas senyum di bibirnya.


Nita adalah salah satu teman yang lumayan dekat dengan Aminah saat kuliah dulu. Satu tahun setelah kelulusan ia menikah dan Nita ikut dengan suaminya. Semenjak saat itu keduanya jadi jarang komunikasi, lalu tergerus oleh kesibukan masing-masing hingga tak ada lagi kabar di antara mereka.


Kini, Nita ada di depan Aminah. Tubuhnya terlihat kurus, tetapi wajahnya tampak tenang dan bahagia, keduanya saling merangkul, menguapkan rindu. Dikarenakan Aminah masih harus kerja, mereka memutuskan untuk melanjutkan temu kangen seusai toko tutup. Sebelumnya Aminah sudah mengenalkan Nita pada Naya.


Sepulang kerja, Aminah pulang dulu bersama Naya. Lalu mengendarai motor ke arah taman, tempat yang sudah di sepakati untuk bertemu dengan Nita.


"Kamu sudah menikah?" Tanya Nita.


Aminah menggeleng pelan.


"Belum. Doakan, ya." Balas Aminah.


"Aamiin. Semoga cepat diketemukan sama jodohmu. Kamu belum move on dari si penghianat itu ya." Ucap Nita terkekeh.


"Dia udah balik lagi ke kota ini. Kabar yang beredar udah cerai." Balas Aminah lalu menyeruput kopi. "Kamu apa kabar? Suami? Anak?"


Lalu keduanya terdiam sejenak.


Terdengar helaan napas dari Nita.


"Aku belum punya anak."


"Maaf." Ucap Aminah.


Aminah mengelus lengan kurus milik Nita itu. Aminah paham dengan apa yang dirasakan Nita, terlihat dari raut wajahnya yang tiba-tiba berubah sendu.


Nita menoleh ke arah Aminah, lalu tersenyum.


"Santai saja, aku sudah kebal, kok." Ucapnya.


"Suamimu masih kerja di tempat dulu?" Tanya Aminah lagi.


"Iya, dia ... sudah menikah lagi." Ucapan Nita itu terdengar pelan, tetapi sangat menusuk hati Aminah.


"Ha? Serius? Terus, kamu ...."


"Kami sudah bercerai, makanya aku balik lagi kesini." Nita tersenyum getir. "Aku belum sanggup berbagi hati. Aku sudah bersamanya hampir sepuluh tahun semenjak pacaran sampai nikah. Cinta kita kalah oleh alasan dia yang mengatasnamakan taat kepada orang tua." Lanjut Nita.

__ADS_1


Aminah mengembuskan napas berat. Tak tega rasanya melihat keadaan Nita saat ini. Benar kata orang, menikah bukan tentang penyatuan dua hati saja, tetapi ada banyak pemikiran dan pemahaman yang perlu disatukan. Terutama keluarga.


"Gara-gara ... anak, ya?" Tanya Aminah.


Nita mengangguk.


"Dia anak tunggal dan orang tuanya sangat menginginkan cucu. Sementara aku ... belum bisa memberikannya. Kami sama-sama berjuang kala itu, semua alternatif, dokter terbaik, sampai cara tradisional sudah kami coba. Sampai akhirnya dia mulai lelah dan tinggal aku yang berjuang sendiri. Bisakah disebut rumah, jika hanya punya satu pondasi?" Ucap Nita sendu.


Mata Aminah mulai memanas.


"Saat itu aku yakin, kalau kami akan punya anak dan hidup bahagia, tapi aku salah, Min." Nita menatap Aminah dengan raut wajah sendu. "Aku salah karena terlalu banyak menuntut Allah untuk mengabulkan semua doaku, tapi ibadahku masih segitu-segitu aja bahkan sering bolong karena alasan capek setelah periksa atau terapi. Aku lupa ... kalau anak itu adalah titipan Allah." Ujar Nita.


"Nitaaaa...." Aminah menggenggam tangan sahabatnya itu dengan erat.


Nita mulai bercerita lagi, pasrah dan berusaha berbenah diri. Mendekati Dzat Yang Maha Pemberi dengan sekuat tenaga. Tidak lupa mohon ampun dan mohon dikuatkan jika memang itu adalah ujian untuknya.


"Aku berobat sembari bertobat." Ucap Nita.


Tak terasa air mata Aminah menetes, saat mendengar penuturan yang membuat hatinya ikut terasa sakit. Cepat Aminah mengusap pipi yang sudah basah agar tak membuat Nita semakin sedih.


"Saat hati mulai tenang dan legowo dengan masalah momongan, ujian lain datang dari pihak suamiku kala itu. Keluarga besarnya tiba-tiba menawarkan Mas Dika untuk menikah lagi, dengan membawa segudang dalil tentang poligami dan alasan yang mendasar, karena momongan. Aku tidak menentang akan hal itu, tapi aku juga tak mampu jika harus menjalaninya." Ujar Nita.


"Kamu tahu Min... sejak aku menikah, hanya ada dua hati yang harus ku jaga. Hati suami dan mertua. Gadis yatim piatu ini bisa apa? Bahkan saudaraku pun tak pernah memedulikan aku. Aku mati-matian menjaga hati mereka, tapi sepertinya mereka lupa kalau menantu dan istri dari anaknya itu juga punya hati yang rapuh. Tak ada tempat cerita seperti anak yang akan mengadu para orang tua disaat terluka. Aku sendirian Min ...." Isak Nita mulai terdengar.


Aminah mengelus punggung Nita pelan.


'Saat kamu merasa sendirian. Ingatlah Allah selalu bersama prasangka hamba-Nya. Dekati dan gedor pintu langit, jangan hanya sekedar mengetuk tapi gedor yang keras dengan doa dan taubatmu. Allah tidak pernah mengecewakan hamba-Nya, karena kecewa itu kita sendiri yang ciptakan. Terlalu bergantung pada sesama manusia, sampai lupa bahwa semua adalah titipan yang bisa sewaktu-waktu bisa diambil tanpa harus izin kepadamu'


Detik itu juga aku langsung menangis, meraung memohon ampun atas apa yang aku pinta, tapi tak seimbang dengan perintah-Nya yang justru sering aku tinggalkan." Ujar Nita panjang lebar.


Saat Nita mengatakan itu, hati Aminah pun ikut bergetar.


"Perlahan aku mulai memperbaiki ibadahku, lalu memakai jilbab setelah izin dengan suamiku. Di saat itu pula ujian bertubi-tubi datang. Termasuk melepaskan suamiku yang juga hanya titipan Allah." Lanjut Nita.


Air mata Aminah sudah tak terbendung lagi. Aminah memeluk Nita erat.


'Tak sanggup rasanya jika aku berada di posisi itu.' batin Aminah.


Aminah pikir menikah itu akan seindah seperti yang terlihat di layar kaca, sosial media, dan cerita yang ia baca. Aminah pikir menikah itu adalah takdir bertemu seseorang hingga akhir hayat, tapi ia salah. Aminah lupa, kalau seisi di dunia ini hanyalah titipan, yang bisa di bolak-balikkan dan diambil kapan saja oleh-Nya.


Malam ini, Aminah meminta izin Pak Haris dan Bu Wati untuk menginap di kontrakan Nita dan berjanji akan pulang besok pagi-pagi sekali.


...----------------...


Keesokan paginya...


Motor baru saja masuk ke halaman rumah, tetapi suara Dani sudah keluar masuk di telinganya.

__ADS_1


"Kamu dari mana saja? Semalaman aku menunggu kabar darimu. Nomormu gak aktif-aktif Dan ... Ya Tuhan. Ma-ta-mu, ada apa dengan matamu? Kamu habis tawuran?"


Aminah baru saja berbalik badan menghadap Dani. Semalam Aminah mematikan ponselnya dan banyak menangis setelah bercerita dengan Nita, lalu tertidur.


"Aminah, kamu baik-baik saja, kan?" Dani mendekat dan memandang Aminah lekat, seolah meneliti wajahnya apa ada yang terluka atau tidak.


"Hmm," Balas Aminah sambil duduk di teras rumah dan melepas jaket dan sepatu.


Aminah mengembuskan napas panjang, memejamkan mata sejenak, dan menatap Dani yang berdiri di depannya.


"Kenapa tiba-tiba kamu muncul lagi di hidupku? Padahal sudah jelas kau yang meninggalkan aku." Ucap Aminah.


Dani yang tadinya berdiri santai di depan, kini beranjak duduk di samping Aminah, berjarak meja.


"Karena aku sangat mencintai kamu, aku pernah berbuat salah dengan meninggalkan kamu, tapi sekarang gak akan lagi." Balas Dani.


Aminah tersenyum simpul.


"Kamu gak malu ya ngomong begitu. Kamu sendiri yang pergi dan sekarang kamu juga yang kembali. Kamu bahkan mengumbar cinta yang sama seperti dulu yang pernah kau khianati." Ucap Aminah.


"Aku sudah meminta maaf atas kesalahan yang aku perbuat sama kamu. Walau aku tahu pasti sulit bagimu untuk memaafkan aku. Tapi aku janji bahwa aku akan menebus semua kesalahan itu dengan membuat kamu bahagia." Ujar Dani.


Aminah menatap Dani sekilas dan menghela napas panjang. Saat akan membalas omongan Dani, tiba-tiba terdengar deru mesin motor yang sangat ia kenal.


'Rendi?'


Benar saja, detik berikutnya terlihat pria berjaket hitam berhenti di depan rumah Aminah. Ia melepas helm full face-nya, menatap Aminah dengan seulas senyum dan senyum itu perlahan memudar saat tatapannya berpindah ke sosok pria berkemeja biru di sebelah Aminah.


Mereka tengah saling menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Waaahh pagi-pagi sudah banyak tamu." Terdengar suara pintu terbuka, disusul suara Pak Haris.


"Lho, ada calon mantu 1 dan calon mantu 2 ini. Waduh, waduh, kayak mau ada sayembara jodoh ini, Ra."


"Selamat pagi, Pak." Rendi menyapa sambil berjalan ke arah Pak Haris.


Saat sudah dekat, tiba-tiba entah dari mana datangnya, sosok Rizal si pemuda yang disebut buaya oeh Aminah muncul dan malah menerobos terlebih dulu, mendahului Rendi bahkan Dani yang berada di dekat dengan Pak Haris.


Rizal lalu meraih tangan Pak Haris dan menciumnya dengan cepat. Ia berdiri membelakangi Dani dan Rendi yang melongo.


"Selamat pagi, Pak Bray. Tidur pakai gaya apa semalam?" Tanya Rizal sambil terus memegang tangan Pak Haris.


Rendi menoleh ke arah Aminah dengan tatapan yang tampak bingung. Aminah hanya mengangkat kedua bahu bersamaan.


"Wah, sekarang calon mantu nomor 3 datang juga. Apa ada yang bawa oleh-oleh pagi ini? Hmmm... Paling tidak lontong sayur, bubur ayam atau apa gitu buat menu sarapan." Ucap Pak Haris.


'Hadeh, pasti bakal banyak drama lagi setelah ini.' batin Aminah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2