
Di rumah keluarga Dani...
Ruang tamu rumah Dani sudah dipenuhi dengan keluarga Dani. Meski sudah begitu lama tak bersua dengan anggota keluarga itu, Aminah tentu masih mengingat dengan jelas siapa saja orang-orang yang duduk disana tampak mengobrol dengan santai.
Diantara beberapa orang, mata Aminah fokus pada sosok wanita paruh baya yang tampak anggun dengan hijab besarnya itu. Dia adalah sosok dari ibu kandung Dani. Aminah semakin merasa canggung.
"Kau bilang kita akan pergi ke panti. Tapi kenapa malah kesini? Keluarga kamu juga ada disini semua." Bisik Aminah.
"Tenang. Kita cuma mampir aja. Aku mau ambil sesuatu di kamar." Balas Dani.
Tatapan mata Ibu Dani begitu tajam melihat ke arah Aminah yang membuatnya merasa tak enak.
"Aku keluar aja." Ucap Aminah yang masih berdiri di ambang pintu.
Tiba-tiba dari arah belakang, seorang pria menarik tangan Aminah.
"Selamat pagi Aminah. Masih ingat aku gak? Aku Andre, sepupunya Dani." Ucap seorang lelaki bertubuh jangkung itu pada Aminah sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat.
Dengan cepat Dani menampik tangan pria yang terlihat seusia dengannya itu. Mata Dani pun terlihat mengancam Andre agar tak menyentuh Aminah.
Andre terbahak menatap tingkah Dani, serwya mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Oke, aku gak bakal pegang-pegang." Ucap Andre cekikikan. "Ternyata Dani emang belum move on sama kamu. Meski sudah lama berpisah, dia tetap balik sama kamu lagi. Dan kelihatannya kalian berdua juga masih sama-sama cinta." Sambungnya.
Aminah hanya tersenyum canggung. Dia tak ingin bicara banyak mengingat sorot mata Ibu Dani yang terus menatapnya tajam.
"Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan. Mmm maaf, aku keluar dulu." Ucap Aminah berbalik lalu berjalan keluar.
Saat Aminah sudah melangkah di teras, dari dalam rumah terdengar suara seorang wanita yang membentak Dani.
"Untuk apa kamu membawa dia kemari? Kamu tahu kalau hari ini kita semua ada disini untuk membahas hubungan pernikahan kamu sama Maya. Tapi lihat apa yang kamu lakukan." Ucap seorang wanita yang diyakini Aminah adalah ibu dari Dani itu.
"Bu, aku sama Maya sudah cerai. Apalagi yang harus dibicarakan? Ibu tahu sendiri sejak awal pernikahan aku sama Maya terjadi karena keterpaksaan. Aku gak bahagia Bu. Kenapa Ibu terus saja memaksa aku rujuk sama dia?" Ucap Dani.
"Sebenarnya apa kurangnya Maya dibandingkan wanita itu? Maya itu baik, dia bahkan mau ikut keinginan Ibu yang memintanya berhijab. Tidak seperti wanita yang kau eluh-eluhkan itu. Penampilannya mencerminkan kelakuannya."
"Ibu...." Teriak Dani.
"Apa ibu-ibu? Perempuan baik-baik itu tidak akan mau pacaran lama-lama seperti yang kalian lakukan dulu. Dan Maya, dia langsung setuju kala Ibu meminangnya untukmu."
Aminah yang mendengar semua itu merasa sakit hati. Dia tak pernah menyangka bahwa Ibu dari Dani akan menilainya seperti itu.
Dia begitu menyesal sudah mau mengikuti Dani pergi. Andai saja dia tidak mengikuti Dani tadi dengan alasan pergi untuk menyantuni anak yatim, dia tidak akan mendengarkan semua ini.
Aminah lantas menghubungi Rizal. Dia pikir Rizal lah orang yang bisa dihubungi sekarang dibandingkan Rendi yang mungkin saja sibuk dengan kekasihnya.
["Halo sayang! Tumben nelpon duluan. Rindu ya? Jangan, berat. Kamu gak akan kuat. Biar aku aja."] Ucap Rizal.
["Bisa jemput aku gak?"] Balas Aminah dengan suara yang parau.
["Kamu dimana? Aku otewe sekarang."] Ucap Rizal yang menyadari suara Aminah yang sedih.
["Jalan mawar, kompleks perumahan green hills. Rumah nomor 32."] Ucap Aminah.
["Oke, aku langsung kesana. Kebetulan lagi dijalan yang deket dari situ juga. Tunggu 5 menit aja."] Balas Rizal.
__ADS_1
Setelah sambungan telepon terputus, Aminah langsung berjalan menuju gerbang rumah Dani.
Tepat 5 menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah itu. Aminah merasa bingung karena dia tahu jika Rizal menggunakan motor dan bukannya mobil. Namun, sosok yang keluar dari dalam mobil membuat Aminah terkejut. Dia adalah sosok wanita yang sama yang mengaku sebagai istri Dani yang pernah datang ke rumahnya waktu itu. Tapi kali ini penampilan wanita yang bernama Maya itu berbeda 180°.
Jika saat bertemu dengan Aminah, penampilannya bak model dengan rambut yang terurai indah. Kali ini dia tampil dengan hijab yang menutupi kepalanya. Meski penampilannya tetap fashionable.
"Kau.... Mau apa kau disini?" Teriak Maya pada Aminah.
Aminah hanya diam. Dia terus memperhatikan Maya dari kepala sampai ke kaki.
'Beda banget sama yang waktu itu.' pikir Aminah.
"Hei...." Teriak Maya lagi.
"Eh iya, kenapa? Ngomong sama aku ya?" Ucap Aminah menunjuk dirinya sendiri.
"Memangnya kamu pikir ada orang lain disini?" Ucap Maya balik bertanya.
"Maaf tapi aku gak kenal siapa kamu. Dan aku rasa ini adalah pertama kalinya kita ketemu." Ucap Aminah menyeringai.
"Kau!"
Maya begitu marah saat dia ingat perlakuan Aminah padanya saat itu, dimana kala itu Aminah menyiraminya dengan air saat Aminah menyiram tanaman.
Maya hendak menampar Aminah, namun tangannya ditampik oleh Dani yang ternyata sudah keluar rumah.
"Apa-apaan ini?" Teriak Dani.
Semua orang yang ada didalam rumah keluar setelah mendengar teriakan Dani.
"Kenapa kau mau menamparnya?" Teriak Dani lagi.
"Itu karena dia dulu yang memperlakukan aku tidak baik. Aku hanya memintanya untuk berhenti merusak rumah tangga kita, tapi dia malah mengatakan bahwa kau hanyalah miliknya." Ucap Maya.
Mendengar hal itu, Aminah hanya menganga.
"Asal kau tahu ya! Aku pernah pergi menemuinya dan memintanya untuk tidak berhubungan dengan kamu lagi. Tapi, dia malah menyiram ku." Lanjut Maya.
"Cih!" Ucap Aminah menyeringai.
"Lihat! Bagaimana bisa kamu tergila-gila dengan wanita seperti ini." Ucap Ibu Dani yang berjalan mendekat dari arah teras.
Aminah mencoba menahan amarahnya dengan menghembuskan nafasnya perlahan. Tepat saat Dani hendak bicara, sebuah motor berhenti dibelakang mobil yang ditumpangi Maya tadi.
Sosok pemotor itu tak lain adalah Rizal. Aminah pun tersenyum melihat kedatangan Rizal dan melambaikan tangannya.
"Maaf ya semuanya, saya permisi dulu. Silahkan lanjutkan urusan kalian semua." Ucap Aminah memberikan seraya memberikan senyuman terbaiknya.
Aminah berjalan ke arah Rizal yang tampak bingung. Setelah berada di samping Rizal, Aminah berbalik dan melihat semua orang yang terdiam menatap dirinya.
"Oh ya, perlu kalian semua ketahui. Saya sama sekali tidak mengejar Dani apalagi sampai berniat merusak hubungan pernikahannya dengan sang istri tercinta. Justru Dani sendiri lah yang kembali mengganggu hidup saya. Dan satu hal lagi, perkenalkan. Ini Rizal. Calon suami saya." Ucap Aminah memegang pundak Rizal.
Mendengar hal itu, sontak Rizal menjadi terkejut dan membuatnya menganga.
Setelah itu, Aminah langsung naik ke atas motor metic besar Rizal dan meminta Rizal untuk pergi dari sana. Semua orang tampak terdiam melihat kepergian Aminah, termasuk Dani yang merasa sangat terluka mendengar pengakuan Aminah tadi.
__ADS_1
Dalam perjalanan motor itu, Aminah terus memegang pundak Rizal. Aminah sendiri tak menyangka bahwa dia bisa mengatakan semua hal tadi, terutama bagian dimana dia mengaku bahwa Rizal adalah suaminya.
"Maaf." Ucap Aminah akhirnya mulai bicara.
"Kenapa minta maaf?" Balas Rizal.
"Karena yang tadi." Balas Aminah.
Rizal terdengar cekikikan.
"Aku malah senang karena kamu udah mengakui bahwa aku adalah calon suamimu." Ucap Rizal.
Aminah hanya diam dan terdengar menghela nafas.
"Tadi itu mantan kamu ya?" Tanya Rizal.
"Hmmm...." Balas Aminah.
"Belum move on juga ya?" Tanya Rizal lagi.
"Udah." Balas Aminah cepat.
"Kalau udah, kamu pasti udah lama nikah. Atau paling nggak terima tawaran aku untuk jadi suami kamu." Ucap Rizal lagi.
"Udah, gak usah bahas itu lagi." Ucap Aminah. "Bisa antar aku pulang gak?" Pintanya.
"Maaf gak bisa." Balas Rizal singkat.
"Ha?" Ucap Aminah bingung.
"Aku harus pergi ke sebuah pertemuan. Jadi gak bisa antar kamu pulang. Lebih baik kamu ikut aku aja." Ucap Rizal.
"Tapi...."
"Gak ada tapi-tapi. Pokoknya ikut aja." Ucap Rizal.
Motor Rizal memasuki pelataran parkir sebuah hotel berbintang lima di kota itu. Keduanya turun dari atas motor. Rizal lalu menggandeng tangan Aminah.
Tiba di ballroom hotel, sudah banyak tamu yang hadir. Semua mata tertuju pada Rizal dan gadis yang terlihat kikuk berjalan disampingnya itu. Rizal semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Aminah.
"Kenapa semua orang ngeliat ke kita?" Tanya Aminah.
"Mereka takjub liat aku gandeng wanita cantik." Jawab Rizal santai.
Aminah menggeleng mendengar jawaban Rizal.
"Cantik apanya? Yang ada malah aneh. Orang-orang pada pakai pakaian formal gitu. Nah aku malah pake pakaian santai kayak gini." Ucap Aminah semakin canggung.
Semua orang yang hadir memang tampak mengenakan pakaian formal, termasuk Rizal yang mengenakan kemeja putih. Sementara Aminah mengenakan kemeja oversize garis-garis dipadukan dengan celana jeans yang membuat penampilannya sedikit mencolok dibandingkan yang lainnya.
Rizal lalu mengajak Aminah duduk di sebuah kursi yang sudah ada namanya di atas meja. Beberapa orang mulai mendekat, dan mengobrol dengan Rizal sembari berkenalan dengan Aminah.
Rizal dan kolega-koleganya mulai berbincang mengenai kerja sama mereka. Sementara Aminah hanya bisa duduk manis mendengarkan mereka semua, sambil sesekali saling membalas senyuman pada orang lainnya.
Acara itu berlanjut dengan makan siang bersama. Aminah sedikit terenyuh melihat berbagai menu yang tersedia di meja dihadapannya.
__ADS_1
'Dikit amat ya isinya satu piring, heuh kenapa gak di uwek-uwek aja sekalian biar banyak.' gumam Aminah.
Bersambung....