Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Mengabaikan


__ADS_3

Suasana hening menyelimuti Aminah yang Dani yang tengah bertatapan dalam derasnya suara hujan.


"Aku mohon, menjauhlah." Ulang Aminah lagi.


Dani tersenyum getir.


"Maaf, tapi untuk hal itu aku gak bisa." Balas Dani.


Aminah kembali terdiam, pandangan matanya lurus ke depan. Memandang rintik hujan yang mulai sedikit mereda. Gelas kopi yang ada ditangan Aminah muai dingin.


Suara ponsel Aminah berdering, tanda sebuah pesan masuk. Dengan cepat Aminah membalas pesan tersebut.


"Aminah, sudah ku katakan padamu. Kalau aku tidak akan mundur, aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku lagi. Karena aku yakin, dari dalam lubuk hatimu yang terdalam, kau masih mencintaiku." Ucap Dani.


"Percaya diri sekali kamu. Siapa yang bilang aku masih cinta sama kamu?" Ucap Aminah ketus.


"Gak denger ya. Atau perlu aku ulang lagi. Tadi kan udah jelas, kalau aku yang bilang bahwa kamu masih mencintaiku." Balas Dani penuh percaya diri.


Aminah menghela napas panjang.


"Gak, kamu salah paham. Aku udah gak cinta sama kamu." Ucap Aminah serius.


"Walau begitu, aku yakin kalau aku akan bisa membuatmu jatuh cinta padaku lagi." Ucap Dani.


Aminah hanya terdiam menunduk.


Perlahan, rintik hujan mulai mereda.


"Ayo, aku antar pulang." Ucap Dani seraya berdiri dari duduknya.


Aminah seolah enggan berdiri, hingga sebuah motor tua yang menampilkan sosok ojol paruh baya berhenti tepat didepan mereka berdua duduk. Sontak Aminah yang mengenali motor itu langsung berdiri.


Aminah mendekat ke arah motor itu dan langsung naik di jok belakang.


"Pakai jas hujan dulu Neng." Ucap si pengemudi yang tak lain adalah Pak Parman itu.


Dani menatap ke arah ojol itu dengan bingung. Dani lalu mendekat ke arah ojol itu.


"Aminah, ikut aku aja pakai mobil biar gak kehujanan." Ucap Dani menarik tangan Aminah agar turun dari motor Pak Parman.


"Gak, aku mau pulang bareng Pak Parman aja." Balas Aminah memegang pundak Pak Parman.

__ADS_1


Raut wajah Dani berubah, ia mulai merasa kesal karena Aminah yang keras kepala. Dani hanya tak ingin Aminah sakit jika terkena hujan.


"Ayoo, pulang bareng aku aja. Nanti kamu sakit kalau kena hujan." Bujuk Dani lagi.


"Aku bilang gak ya gak." Balas Aminah berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dani.


Dani berusaha menarik Aminah agar turun dari motor Pak Parman.


"Lepasin." Ucap Aminah.


Melihat wajah Aminah yang mulai kesakitan karena genggaman Dani yang cukup kuat, membuat Pak Parman bertindak dengan menepuk lengan Dani.


"Mendingan Mas lepasin saja tangannya Neng Aminah, kesian tuh dia kesakitan." Ucap Pak Parman lembut


Dani refleks melepaskan pegangannya pada tangan Aminah karena tersadar akan raut wajah Aminah yang berubah kesakitan.


"Maafin aku." Ucap Dani merasa bersalah.


Aminah terlihat marah, sambil mengelus-elus pergelangan tangannya yang memerah.


"Kita jalan aja Pak." Ucap Aminah.


"Baik." Jawab Pak Parman seraya memberikan helm pada Aminah.


"Maaf Mas, Neng Aminah mau pulangnya sama Bapak. Bapak tidak tahu apa masalah kalian. Tapi Bapak cuma bisa kasih saran buat kamu, jangan memaksakan kehendak mu." Ucap Pak Parman pada Dani.


Sementara Aminah melihat ke arah lain, seolah tak mau menatap Dani.


Dani mengangguk membalas ucapan Pak Parman.


"Tolong jaga Aminah Pak, pastikan dia sampai rumah dengan selamat. Hati-hati di jalan." Ucap Dani menatap Pak Parman dalam.


"Pasti Mas, itu sudah tugas saya." Balas Pak Parman lalu motor pun berjalan meninggalkan Dani yang terlihat sedih.


Sepanjang perjalanan Aminah hanya terdiam, dengan tangan sebelahnya yang berpegang pada pundak Pak Parman.


"Neng gak apa-apa?" Tanya Pak Parman.


"Saya gak apa-apa kok Pak." Jawab Aminah.


"Hmmmm tadi Neng sama Mas yang tadi mmm......"

__ADS_1


"Udah gak usah ngomongin dia lagi Pak." Potong Aminah. "Tadi siang itu saya sudah coba hubungin Bapak minta dijemput. Tapi nomor Bapak gak aktif." Lanjut Aminah.


"Maaf ya Neng, tadi Bapak mampir ke makam anak Bapak dulu. Hari ini peringatan kematiannya yang ke dua tahun." Ucap Pak Parman.


"Maaf ya Pak, saya gak tahu. Dan terima kasih ya Pak udah mau jemput saya." Ucap Aminah.


"Gak masalah Neng. Sudah jadi tugas saya sebagai ojol." Ucap Pak Parman.


Aminah hanya tersenyum.


Beberapa saat kemudian, motor Pak Parman pun tiba di rumah Aminah. Pak Parman lalu bergegas pergi untuk menjalankan orderan lainnya.


Aminah lalu masuk ke dalam kamar, merebahkan diri di atas kasurnya yang empuk. Bayangan akan wajah Dani yang terlihat sedih, terlintas dipikiran Aminah.


Aminah lalu mengambil ponselnya, membuka aplikasi berwarna biru. Berselancar disana guna mencari hiburan atau berita-berita yang sedang update hari ini.


Sebuah notifikasi pesan WA terlihat di layar atas ponsel Aminah. Menampilkan nama Group Alumni SMA. Dengan cepat Aminah membuka pesan tersebut.


Pesan tersebut berisi tentang ajakan reuni khusus untuk kelas IPS angkatan Aminah.


'Aminah tampak berpikir, apakah harus pergi atau tidak?'


Tiba-tiba ponsel Aminah kembali berdering. Sebuah panggilan dari Naya.


"Halo, kamu dimana Min? Ikutan yuk ke acara reuni besok malam." Ucap Naya diseberang telepon.


Gak tau nih, lagi gabut. Kamu sendiri gimana?" Tanya Aminah.


Ikutan aja yuk, sekalian ketemu temen-temen lama. Siapa tau kamu bisa gak galau lagi." Suara Naya terdengar mengejek.


"Gimana ya?" Pikir Aminah.


"Udah ikut aja. Pokoknya besok malam aku jemput, ingat pakaiannya serba putih abu-abu. Lucu ya. Hihihi, acaranya juga di cafe miliknya Roman.


"Ya udah." Balas Aminah.


"Nah, gitu dong." Ucap Naya.


Sambungan telepon pun terputus. Aminah lalu membuka lemarinya, mencari outfit yang bertemakan putih abu-abu.


Pilihan Aminah jatuh pada dress berwarna putih dengan panjang dibawah lutut. Dipadukan dengan jaket levis berwarna abu-abu.

__ADS_1


"Hmmm semoga cocok." Ucap Aminah.


Bersambung....


__ADS_2