
Aminah tiba di depan pintu kamar Naya.
"Assalamualaikum, Nay aku boleh masuk?" Ucap Aminah.
"Waalaikumsalam, masuk aja. Pintunya gak dikunci." Balas Naya dari dalam kamar.
Aminah lalu masuk ke dalam kamar Naya. Tampak Naya tengah memakai masker dengan bau khas masker coklat.
"Ciee calon pengantin lagi perawatan nih yeee..." Goda Aminah.
Naya tak menggubris ucapan Aminah, ia tengah asyik mengolesi wajahnya dengan masker coklat memakai kuas.
Aminah lalu duduk di tepian ranjang Naya.
"Maafin aku ya, soal yang tadi sore." Ucap Aminah merasa begitu bersalah.
Naya menghentikan aktifitasnya, lalu menghadap Aminah.
"Kamu gak perlu minta maaf sama aku. Harusnya kamu minta maaf sama Dani." Balas Naya.
__ADS_1
"Kenapa sama dia? Aku gak punya salah kok sama dia." Balas Aminah ketus.
"Min, sebagai sahabat, aku mau lihat kamu bahagia. Selama ini tuh kamu sedih terus, gak seceria dulu. Kalau kamu gak mau lagi sama Dani, ya move on dong Min." Ucap Naya.
"Gak segampang itu Nay, aku butuh waktu. Kamu gak akan ngerti." Ucap Aminah.
"Butuh waktu berapa lama lagi? Ini tuh udah lima tahun, apa susahnya sih move on!" Seru Naya.
"Kamu gak akan pernah mengerti gimana rasanya jadi aku. Kamu gak tau gimana rasanya ditinggalin sama cowok yang kamu cinta pas lagi sayang-sayangnya." Teriak Aminah seolah meluapkan semua isi hatinya pada Naya.
Naya terdiam sejenak.
"Ya, kamu benar. Aku memang gak pernah ngerasain gimana sakitnya ditinggal cowok yang aku cinta. Tapi aku pernah ngerasain pedihnya ditinggal laki-laki yang menjadi cinta pertamaku, panutan ku, pahlawanku, bahkan aku juga kehilangan dua orang laki-laki sekaligus Min. Kamu masih mending, cowok yang kamu cintai itu pergi hanya untuk sementara dan sekarang kamu bisa leluasa lihat dia lagi. Nah aku, kedua lelakiku pergi untuk selamanya. Aku pernah Min, aku pernah kehilangan. Dan sakitnya itu lebih perih dari yang kamu rasakan. Bapak, Nino...." Ucap Naya diiringi isakan.
"Maafin aku Nay, aku gak bermaksud untuk ngebuka luka lama kamu." Balas Aminah yang ikut terisak.
"Gak apa-apa Min. Selama ini kamu dan orang tua kamulah sudah menjadi keluargaku dan ibu. Jadi aku benar-benar pengen lihat kamu bahagia Min."
Aminah mengangguk dan saling berpelukan dengan Naya.
__ADS_1
Naya memang sudah kehilangan sosok yang dipanggilnya Bapak. Sosok yang menjadi cinta pertamanya. Sosok yang senantiasa melindungi dirinya. Naya harus kehilangan sosok Bapak dan juga kakaknya Nino dalam sebuah kecelakaan.
Sampai hari ini, Naya bahkan belum bisa melupakan semua kejadian itu. Dia selalu mengingat hari kepergian kedua orang kesayangan itu di hari ulang tahun Nino kakaknya yang kesepuluh tahun, sementara Naya masih berusia 7 tahun.
Naya dan Bu Mila begitu terpukul, hingga kehidupan mereka menjadi terbelenggu kesedihan. Untungnya orang tua Aminah senantiasa membantu mereka dalam semua hal.
"Min kalau aku minta sesuatu sama kamu, boleh gak? Itung-itung sebagai hadiah pernikahan aku nanti." Ucap Naya.
Aminah mengusap air matanya kemudian tersenyum.
"Kasih tau aja Nay, akan aku kabulkan." Balas Aminah.
"Berikan Dani kesempatan untuk menjelaskan semuanya sekali saja. Setelah itu terserah kamu." Pinta Naya.
"Tapi..."
"Gak ada tapi-tapian. Kalau gak mau, aku bakal coret kamu dari daftar tamu undangan." Ancam Naya.
Aminah memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Ya udah iya iya..." Balas Aminah disambut senyum penuh kemenangan oleh Naya.
Bersambung....