Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Kantong Kresek


__ADS_3

Aminah yang tengah mengelap kaca toko, bersiap untuk membuka toko tepat pukul delapan pagi. Kejadian pagi tadi benar-benar di luar prediksinya. Mengingat situasi tadi, Aminah hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Bagaimana tidak! Ada 3 orang pria yang sama-sama memberikan perhatian lebih kepadanya. Pertama, Dani, mantan kekasihnya yang sekarang sudah berstatus duda. Kedua, Rendi pria yang sudah menjalin hubungan persahabatan dengannya cukup lama, bahkan orang-orang menyebut mereka sebagai teman tapi mesra. Namun, Rendi sudah punya kekasih. Dan yang terakhir sosok pria bernama Rizal yang baru saja dikenalnya beberapa hari ini.


"Min, kamu gak ada keinginan gitu buat nikah?" Tanya Naya.


"Siapa sih yang gak mau nikah!" Seru Aminah. "Cuma sekarang waktunya belum memungkinkan Nay. Aku masih takut. Lagian, calonnya juga belum ada." Lanjut Aminah.


"Takut apaan sih! Masalah calon bukannya udah ada 3 tuh, tinggal pilih aja apa susahnya." Balas Naya.


"Gak semudah itu kali Nay. Salah satu dari mereka bertiga juga belum tentu cocok kan sama aku." Ucap Aminah. "Dani, aku belum percaya sepenuhnya sama dia mengingat pengkhianatan yang dia lakukan. Sementara untuk Rendi! Kan kamu tahu sendiri dia udah pacaran lama sama Maya. Terus untuk si buaya itu, aku belum mengenalnya terlalu lama." Ucap Aminah lagi seraya fokus mengelap kaca etalase.


"Untuk Dani, apa kamu gak percaya kalau dia masih cinta sama kamu?" Tanya Naya lagi.


"Aku percaya kalau dia memang cinta. Tapi aku ragu kalau nantinya saat aku memutuskan untuk menerima dia lagi, Mama nya bakal berulah lagi, dan Dani bakal ninggalin aku kek dulu lagi. Aku.... takut terluka lagi Nay." Balas Aminah.


"Hmmm... sebenarnya kalau aku lihat-lihat sih, kamu lebih serasi sama Rendi. Kalian itu cocok banget tahu gak, makanya aku terus-terusan goda kalian cepet jadian dari dulu walau ada penghalangnya si Maya. Rendi tuh cool banget kek salju di antariksa, nah kamu tuh rame kayak tong setan," Ucap Naya yang dilanjutkan dengan tawa terbahak.


"Ih, kurang asem ngatain aku tong setan. Lagian salju itu di antartika, bukan antariksa." Ucap Aminah.


Naya kembali terbahak.


"Seriusan, deh. Tapi sayang banget sih, harus ada Maya diantara kalian." Ucap Naya lagi. "Padahal kalau dilihat nih ya, Bu Soraya lebih suka kalau kamu deh jadi mantunya ketimbang si Maya yang dandanannya menor itu." Lanjut Naya.


"Sok tahu kamu." Ucap Aminah.


"Dari pada sok tempe." Gelak Naya lagi.


Keduanya terus mengobrol sembari sibuk dengan rutinitas pagi mereka.


...----------------...


[Kamu suka yang mana?]


Deretan foto tas berwarna-warni masuk ke WA-Aminah. Pengirim pesan itu adalah Rizal. Dia mendapatkan nomor telepon Aminah dari Pak Haris sejak beberapa hari yang lalu.


[Yang ada tulisan Indoapril nya!] Balas Aminah.

__ADS_1


Sedikit terkekeh Aminah menulis balasan itu.


[Aku serius sayang....]


[Jiahhh... Main sayang-sayang segala. Lagian aku serius maunya tas yang itu aja.] Balas Aminah.


[Ya udah deh, kalau itu yang kamu mau. Tapi yakin gak mau oleh-oleh yang lain. Mumpung aku lagi diluar kota, ada urusan pekerjaan.] Balas Rizal.


[Gak ada.] Balas Aminah singkat.


[Oke. Besok aku sudah pulang, jangan rindu. Kata Dilan, rindu itu berat. Hanya aku yang sanggup.]


Aminah tersenyum membaca pesan balasan Rizal.


"Min, tolong antar kan keluar." Ucap Naya.


"Siap!" Aminah meletakkan ponsel di meja sebelum akhirnya keluar mengantar pesanan kue di depan toko karena sudah ada kurir yang menunggu.


Saat kembali, ponselnya sudah berpindah tempat ke meja penyimpanan berkas, ada panggilan dari nomor Dani. Tiga tak terjawab dan satu yang terangkat.


"Iya, awalnya gak mau aku angkat. Tapi karena sampai tiga kali, kirain hal penting ya aku angkat aja." Jawab Naya.


"Dia bilang sesuatu?" Tanya Aminah penasaran.


"Dia cuma bilang kangen." Jawab Naya santai.


'Ih gak jelas banget' gumam Aminah.


...----------------...


Pukul delapan malam Aminah tiba di rumah. Biasanya ia dan Naya pulang sore hari, namun hari ini ada pelanggan yang memesan mendadak menjelang sore dengan alasan kue akan digunakan pada acara tahlilan malam ini. Hingga Aminah dan Naya terpaksa harus pulang agak lambat dari biasanya.


Setelah mengucap salam dan masuk ke rumah. Seketika Aminah membelalakkan mata saat melihat ruang tamu nya penuh dengan kantong plastik dengan logo indoapril berserakan di atas meja.


'Kerjaan si Rizal pasti ini!' batin Aminah.


Kepala Aminah pening, seketika dia memijit keningnya. Kepalanya semakin terasa pusing, setelah mendengar ocehan Bu Wati.

__ADS_1


"Kamu tuh ya, ngapain pakai minta kantong plastik segala. Minta tuh emas, intan, berlian, atau beras gitu yang paling tidak bisa dimakan. Nah ini malah minta kantong plastik. Buat apa coba? Emang kantong plastik sebanyak ini bisa dijual lagi? Atau dimakan? Noh di kamar kamu ada lebih banyak lagi." Omel Bu Wati.


"Baru pulang, Nak?"


Aminah menoleh ke arah sumber suara, Pak Haris terlihat keluar kamar.


"Iya, Pak." Aminah berjalan ke arahnya dan mencium tangan tua itu.


"Giliran sama Bapaknya aja cium tangan, sama Ibu nggak." Protes Bu Wati.


Aminah kembali berbalik arah mencium tangan Bu Wati yang terlihat cemberut.


"Habis ibu sih, anaknya baru pulang bukannya disambut pakai senyuman kek, ini malah diomelin." Ucap Aminah yang memandang ke arah kantong plastik yang memenuhi ruang tamu.


"Ibumu memang begitu, paling juga iri sama kamu yang dikasih kresek sebanyak itu. Dan bunga ini juga titipan dari calon suami kamu itu." Ucap Pak Haris memberikan buket mawar merah untuk Aminah. "Bapak dulu cuma ngasih ibumu bunga yang warnanya kuning itu. Terus baunya persis seperti bau e'e ayam." Ucap Pak Haris yang membuat wajah Bu Wati semakin cemberut. "Ini semua dari Rizal. Katanya buat mahar."


"Mahar?" Tanya Aminah semakin bingung.


"Iya, katanya gitu tadi lewat telepon, titip mahar sama titip calon mempelai wanitanya ke Bapak, nggak boleh lecet atau lepas segel. Kapan-kapan mau diambil." Jawab Pak Haris.


'Diambil? Dia pikir barang titipan di supermarket?' batin Aminah.


Aminah mengembuskan napas panjang. "Aku pusing, Pak."


"Lho, kenapa? Nggak punya uang? Ya, sama berarti kita, Nak." Ucap Pak Haris.


"Makanya mintanya tuh barang berharga, nah ini kantong kresek sama bunga." Lagi-lagi Bu Wati ngedumel.


Aminah kembali mengembuskan napas panjang.


"Aku tidur dulu, ya, Pak," pamit Aminah sambil berjalan ke arah kamar tanpa memperdulikan ocehan Bu Wati.


Aminah tak habis pikir dengan Rizal yang benar-benar menuruti permintaannya yang ingin dibawakan tas plastik bertuliskan indoapril itu.


'Apa dia masuk ke minimarket itu dan membeli semua kresek itu?' pikir Aminah seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2