
Setelahnya, Aminah masuk dan rumah dalam kondisi sepi. Hujan di luar sana membuat orang tua Aminah tidur cepat.
Aminah segera ke kamar mandi, membersihkan badan dan berganti pakaian yang memang selalu ia gantung di dekat kamar mandi.
Setelah selesai, Aminah beranjak ke dapur. Belum makan sedari siang ternyata membuat perutnya perih, tangannya bergerak mengambil mi instan dan hendak memasaknya.
"Dari tadi?" Suara Bu Wati tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur.
"Eh, kirain dah tidur Bu." Balas Aminah sambil menuang air ke dalam panci.
"Belum. Itu Ibu udah masakin rendang. Kamu tidak perlu masak mi." Balas Bu Wati.
Aminah membalas dengan senyuman lalu beranjak mengambil rendang yang disimpan di lemari kaca.
"Kamu ketemu sama Dani?" Tanya Bu Wati yang ikut duduk di meja makan.
Tangan Aminah yang tengah menyantap nasi, terhenti sejenak saat mendengar ucapan Ibu nya. Posisi Aminah yang menunduk sontak mendongak.
Namun Aminah tetap berusaha setenang mungkin menanggapi ucapan sang ibu.
"Gak Bu," Ucap Aminah singkat, seraya meneruskan makan.
__ADS_1
"Nak, diaโ"
"Aminah mau langsung tidur habis makan Bu," potong Aminah tanpa melihat ke arah Bu Wati
"Dani di luar, Nak." Ucap Bu Wati.
Refleks tangan Aminah berhenti memegang sendok.
"Setidaknya beri Nak Dani kesempatan ngejelasin, biar salah paham di antara kalian selama ini selesai." Balas Bu Wati.
Aminah berdiri dan memandang Bu Wati lekat.
"Buat apa Bu? Kecuali kalau dia pecahkan kaca di sana, lalu bisa menatanya lagi sama seperti semula tanpa menyisakan sedikit pun retak. Dan ... anggap saja itu hatiku," Ucap Aminah dengan dada yang bergemuruh menunjuk cermin yang menempel di dinding.
(Putus cinta memang tak sakit, karena yang sakit itu ketika sudah putus tapi masih cinta.) Quote Author ya... ๐
Bu Wati lantas keluar rumah, terdengar pintu dibuka dan ditutup beberapa saat setelahnya. Tak berapa lama kemudian, Bu Wati mengetuk pintu kamar Aminah.
"Nak, ada titipan buat kamu. Ibu cantolin di pintu, ya," Ucap Bu Wati dari luar, lalu terdengar berjalan pergi meninggalkan kamar Aminah.
Aminah yang sedang menyantap makan malamnya, tak begitu memperdulikan ucapan sang ibu dan memilih melanjutkan menonton film di laptop sembari menyantap makan malamnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Aminah keluar kamar dan seketika matanya tertuju pada bingkisan yang tergantung di gagang pintu, dan Aminah masih tak memperdulikannya.
Setelah mencuci piring dan hendak masuk ke kamar, Aminah baru mengambil bingkisan itu dan melihat isinya.
'Jaga kesehatan kamu.'
Sebuah tulisan di kertas kecil yang tertempel di botol minuman yang sama persis dengan yang diberikan seseorang tadi siang di mobil, tetapi Aminah tolak. Tak hanya minuman, tetapi juga ada makanan serba cokelat.
"Kamu di mana, udah pulang ngantor belum? Tolong titip beliin cokelat please, mood aku lagi jelek banget," Ucap Aminah suatu hari padanya saat sedang stres mengerjakan tugas kuliah di masa lalu.
"Siap, Sayang. Nanti aku beliin sekotak sekalian sama toko-tokonya juga." Balas Dani.
Lalu Dani akan mampir ke rumah Aminah setelahnya, hanya sekedar mengirimi beberapa makanan atau minuman serba cokelat. Dan lama-lama menjadi kebiasaan meskipun Aminah tak pernah meminta.
Aminah memandang lama kertas kecil itu, dari siapa lagi kalau bukan Dani. Tulisan tangannya pun masih sama dan sangat dihafal Aminah.
Setelah meletakkan bingkisan itu di meja, Aminah menjatuhkan tubuhnya di ranjang, lalu memandang atap kamar. Seakan sudah jadi kebiasaan kalau lagi banyak pikiran, Aminah hanya diam dan akan memandang pada satu titik tempat sampai bosan. Dan kali ini, lagi-lagi ada bayangan Dani di sana. Walau samar tapi mampu membuat perasaan Aminah tak karuan.
Aminah menghembuskan napas panjang dengan perlahan, berbarengan dengan mata yang perlahan terpejam.
'Jika di alam nyata aku masih enggan bertemu denganmu, semoga di alam mimpi kita akan bertemu dengan keadaan baik-baik saja.' ucap Aminah dalam hati.
__ADS_1
Bersambung....