
Satu minggu berlalu setelah pernikahan, Rizal meminta cuti kepada perusahaan tempatnya bekerja untuk berbulan madu. Dan hari ini adalah hari keberangkatan mereka berdua.
Beberapa jam sebelum berangkat ke bandara.....
Aminah mengeluarkan beberapa pakaian yang akan ia bawa dari dalam lemari baju, dan juga beberapa keperluan lainnya yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Negara M adalah tujuan mereka, dan mereka berdua akan menghabiskan waktu selama 5 hari disana. Sekarang, hari sabtu pagi mereka akan berangkat dengan pesawat pukul 10.
“Apa kau sudah menyiapkan semuanya?” Aminah berteriak dengan cukup kencang sambil memasukan barang-barang bawaannya ke dalam koper.
Saat ini Rizal sedang mandi, dia bangun kesiangan karena semalam sibuk menandatangani berbagai berkas sehingga tidur larut. Rizal memang sedang merintis usaha baru demi masa depannya bersama Aminah.
“Belum, tolong bantu aku, ehm… istriku sayang.” Balasnya dengan teriakan keras dari balik pintu kamar mandi.
'Aish, apa saja yang harus aku bawa untuk keperluannya. Hem, mungkin beberapa bajunya saja yang akan aku siapkan. Sisanya biar dia yang melakukannya.' gumam Aminah.
Aminah meraih sebuah koper berwarna silver dari dalam lemari kemudian meletakkannya di atas ranjang. Ia membuka lemari yang menjadi daerah kekuasaan Rizal, karena kedua pintu dari kanan memang hanya berisi baju-baju dan juga perlengkapan miliknya.
'Hem, kali ini kami berangkat untuk liburan, jadi tidak usah membawa pakaian formal.' ucap Aminah dalam hati.
“Baiklah, jeans, hoodie, t-shirt, hem apa lagi yang harus aku bawa?” Gumam Aminah sembari menurunkan beberapa pakaian dari dalam lemari Rizal.
Aminah mengambil celana jeans dan juga sebuah hoodie dengan warna silver yang terlihat sangat lucu.
'Kenapa dia tidak pernah menggunakannya? Pasti akan terlihat sangat keren jika dia menggunakan Hoodie ini.' batin Aminah.
Aminah juga mengeluarkan kaus pendek warna abu-abu dan juga kemeja santai motif kotak lengan panjang berwarna navy.
'Oh iya aku lupa aku juga harus membawa baju tidurnya, baju tidur berwarna biru dengan garis putih. Entah kenapa aku sangat suka jika dia menggenakan baju tidur setelan seperti ini, benar-benar lucu.' gumam Aminah.
"Hem tapi tunggu sebentar kenapa warna biru mendominasi seperti ini? Haha, sudahlah. Semua akan terlihat menarik jika dia yang mengenakannya." Ucap Aminah.
'Aish, aku lupa dengan satu hal yang harus dibawa. Yap, pasport-nya.'
Aminah berbicara dan bergumam dengan dirinya sendiri.
“Zal, dimana kau menyimpan pasport mu?” Aminah kembali berteriak dengan volume tinggi, agar Rizal bisa mendengarnya dengan jelas.
Aminah harus memastikan benda penting itu tidak ketinggalan, karena pasti akan sangat merepotkan jika sudah sampai di bandara tanpa membawanya.
“Cari di laci meja kerjaku!” Balas Rizal berteriak dari dalam kamar mandi.
Aminah segera melangkahkan kakinya menuju meja kerja Rizal, menarik gagang laci dan mencari benda tersebut di dalamnya. Aminah hanya menemukan beberapa kartu ataupun surat-surat penting lainnya yang terlihat berantakan.
'Aaihh, dimana dia meletakkannya?' pikir Aminah.
Aminah membungkukkan badannya agar bisa memeriksanya dengan jelas.
“Apa kau menemukannya?” Rizal menyentuh pundak Aminah dari belakang.
__ADS_1
Aminah dapat merasakan tangan dingin Rizal karena baru saja selesai mandi. Aminah mengeluarkan tangan kanannya yang sedang merogoh laci itu untuk menemukan pasport Rizal.
“Aku tidak menemukannya." Aminah membalikan badannya menghadap Rizal yang tepat berada dibelakangnya.
Tapi, kemudian ia menyadari bahwa saat ini Rizal tidak memakai baju ketika keluar dari kamar mandi.
“Aaaaaaa…….. Apa yang kau lakukan." Ucap Aminah sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menghindari pemandangan yang disuguhkan di hadapannya.
'Bagaimana mungkin dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya. Dasar bodoh, apa dia sengaja melakukan hal itu dihadapan ku agar aku menjadi malu seperti ini, huh?' pikir Aminah.
“Ada apa? Kau kenapa, Sayang?” Rizal mencoba menarik kedua tangan yang menutupi wajah Aminah.
Tapi kemudian Aminah segera menundukkan wajahnya dan menutup mata rapat-rapat.
'Aku tidak boleh melihat pemandangan yang tidak seharusnya aku lihat.' ucap Aminah dalam hati.
“Rizal, apa yang kau lakukan. Cepat pakai bajumu! Mengapa keluar dalam keadaan seperti itu?” Aminah membalikan badannya membelakangi Rizal agar bisa membuka mata dan bernafas lega.
Tapi bukannya pergi Rizal malah memeluk Aminah dari belakang dan menyangga dagunya di bahu Aminah. Aminah yang benar-benar merasa terkejut hanya bisa diam menerima perlakuannya saat ini. Aminah dapat merasakan nafasnya yang terasa menggelitik di lehernya. Membuat Aminah merinding selama beberapa saat.
'Aduh, apa ada seseorang yang mati hanya karena sebuah pelukan?' pikir Aminah.
Aminah benar-benar merasa sangat sesak dengan perlakuan Rizal seperti ini. Bukan karena pelukannya yang terlalu kencang. Hanya saja, Aminah merasa jika pelukan Rizal ini bisa menghentikan detak jantungnya.
“Aku bahkan sudah melihat seluruh tubuhmu. Dan sekarang kau hanya melihat aku bertelanjang dada saja sudah menutup rapat matamu seperti itu, kenapa huh? Kau gugup?” Rizal berbicara masih dalam posisi yang sama, dan udara yang keluar dari mulutnya terasa hangat masuk ke dalam telinga Aminah.
“Aaa… aku…” Aminah memang benar-benar gugup dengan perlakuan Rizal seperti ini.
“Lalu kenapa sayang. Kenapa kau tiba-tiba diam seperti ini, huh?” Rizal menyingkirkan rambut panjang Aminah yang menjulur ke depan, kemudian mengecup lehernya dari samping.
'Demi Tuhan, aku benar-benar tidak dapat bergerak saat ini.' ucap Aminah dalam hati
Kedua kaki Aminah terasa lemas, ia bahkan kesulitan untuk mengartikulasikan kata-kata dari mulutnya.
'Bagaimana mungkin dia bisa melakukan ini padaku. Mengapa suamiku tiba-tiba menjadi mesum seperti ini.' pikir Aminah.
“Sa….sayang.” Aminah gugup.
'Bodoh, Aminah, kenapa kau menjadi gugup seperti ini. Setidaknya kau harus bisa menyembunyikan perasaanmu sendiri.' gumam Aminah dalam hati.
“Kurasa kita masih punya banyak waktu untuk bersenang-senang pagi ini. Kau tidak keberatan kan? Ini sudah satu minggu, dan aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Ucap Rizal.
Aminah tidak dapat berkata-kata ketika bibir Rizal mulai menjelajahi leher dan bahunya yang terbuka, karena saat ini Aminah masih menggunakan dress tidur dengan satu tali. Aminah hanya bisa terdiam sambil mengingat bibir bawahnya, menahan suara menjijikan yang mungkin akan keluar begitu saja dari mulutnya.
“Sayang…, em….ah… hentikan. Aku….” Dengan sekuat tenaga Aminah menghentikan Rizal yang mulai menggila.
Kedua kaki Aminah terasa sangat lemas, tapi ia berusaha melangkah untuk maju dan menjauhi tubuhnya. Kedua tangan Rizal masih melingkar di perutnya, tapi Aminah segera melepaskannya.
“Hahahahaha....”
__ADS_1
Tiba-tiba suara tawa itu membuat Aminah sepenuhnya sadar dari situasi yang cukup membuat darahnya mengalir deras. Spontan ia segera berbalik dan menatap Rizal dengan murka.
“Kau ini kenapa wajahmu merah seperti itu? Kau takut? Ya ampun, kau ini sudah besar sayang. Kenapa masih malu-malu. Huh." Lanjut Rizal kemudian kembali terkekeh puas.
'Bagus Rizal, mau bermain-main denganku huh? Ini masih pagi dan kau sudah menguji kesabaran ku. Mau mati rupanya.' ucap Aminah dalam hati.
PLETAK….
Sebuah jitakan yang lumayan keras akhirnya mendarat di kepala Rizal.
"Semoga saja bisa menyadarkan mu yang sudah mulai gila, dan juga menghilangkan pikiran kotor yang berkecamuk di otakmu." Ucap Aminah.
“Sayang, kenapa kau tiba-tiba galak seperti ini. Kurasa tadi kau benar-benar menikmatinya?” Goda Rizal.
'Haish, kenapa masih membahas hal itu.'
Aminah menjadi malu mendengarnya.
'Dasar kurang ajar, bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu padaku. Bodoh.' umpat Aminah dalam hati.
“Berhenti tertawa. Aku tidak mau membantumu membereskan barang-barang bawaan mu. Aku juga tidak mau mencari pasport milikmu. Merepotkan saja. Sudahlah, aku mau mandi." Ujar Aminah dengan nada tinggi.
Aminah memasang tampang kesal dan berjalan untuk mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Setelah itu, ia segera masuk ke kamar mandi.
Aminah menarik nafas dalam-dalam dan membasuh wajahnya berkali-kali untuk menghilangkan bayangan aneh yang berkeliaran di otaknya.
'Bagaimana mungkin aku berfikiran seperti itu? Ya Tuhan, kurasa sentuhannya benar-benar bisa membuatku gila.'
“Fiuh….”
Aminah menghembuskan nafas berat dan melihat bayangannya sendiri di cermin. Merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.
“Apa ini?”
Aminah benar-benar kaget ketika melihat beberapa tanda merah di lehernya.
"Bodoh, apa yang dia lakukan padaku sampai seperti ini? Apa Rizal itu vampir." Ucap Aminah.
'Aish, bagaimana aku bisa keluar dalam keadaan seperti ini?' pikir Aminah
Sekarang musim panas. Jika ia menggunakan syal, pasti akan terlihat aneh.
'Dasar bodoh seenaknya saja berbuat seperti ini padaku.'
Bayangan tubuh Rizal kembali terlintas di pikiran Aminah.
Aminah tidak pernah melihatnya bertelanjang dada dengan sejelas itu, meski malam pertama Aminah pernah sedikit saja melihatnya. Dan baru saja Aminah menyaksikan pemandangan itu di depan wajahnya dengan sangat jelas.
Sejak menikah, mereka memang hanya melakukan hubungan itu di malam kedua pernikahan mereka, karena keesokan harinya Aminah langsung datang tamu bulanan yang membuat keduanya tak dapat melakukannya sampai saat ini.
__ADS_1
'Awas saja kalau dia berani memperlihatkan tubuh indahnya itu pada gadis lain.' ucap Aminah dalam hati.
Bersambung....