
Suara deras hujan yang jatuh di atas mobil menemani mereka berdua. Aminah memandang keluar jendela yang tak lagi jelas, karena tertutup embun dan juga hujan deras.
"Terima kasih karena masih mau bertemu denganku." Ucap Dani lembut.
Tubuh Aminah menegang dengan pandangannya yang masih menatap ke luar jendela.
"Kamu masih marah padaku?" Dani bertanya lagi.
Aminah hanya diam.
"Aku tidak akan memaksa untuk kau memaafkan dan melupakan kesalahanku dulu, tapi ... bisakah kita mulai semua dari awal?" Tanya Dani.
Aminah masih tak merespon.
"Banyak hal yang ingin aku sampaikan. Bahkan sejak dulu sampai sekarang, setiap detik aku selalu memikirkan mu. Ingin sekali aku menjelaskan semuanya padamu, tapi aku tak berdaya saat itu. Sampai akhirnya kita benar-benar terpisah oleh keadaan. Maaf, Aminah." Ucap Dani serius.
Lagi-lagi Aminah hanya diam.
"Aminah.... izinkan aku memperbaiki semuanya. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaikinya." Ucap Dani lagi.
"Jangan kembali hanya dengan alasan ingin memperbaiki, karena semua sudah selesai sejak kau pergi dulu, dan semua baik-baik saja saat kau tak lagi di sisiku." Balas Aminah akhirnya.
Terdengar helaan napas panjang dari Dani.
"Seperti kataku tadi, aku tidak akan memaksamu. Biarkan waktu yang akan menggerakkan hatimu jika memang kita ditakdirkan bersama. Dan mulai detik ini, jangan cegah aku untuk berjuang dan membuatmu jatuh cinta lagi padaku, Aminah." Ucap Dani dengan begitu serius.
Aminah terkejut saat Dani mengatakan hal itu. Seketika bibirnya membentuk senyuman simpul dengan pandangan yang masih tak menatap Dani.
__ADS_1
Mereka terdiam beberapa saat. Dani tampak kembali menikmati roti tadi.
"Apa di luar ada buaya? Sampai kamu sama sekali nggak ngalihin pandangan dari sana." Celetuk Dani.
"Buayanya ada di sebelahku." Balas Aminah.
Dani tertawa.
"Kamu nggak takut diterkam?" Tanya Dani.
"Buaya makan daging, bukan tulang," Balas Aminah yang sadar kalau tubuhnya sangat kurus.
"Benar, mangsaku terlihat kurus sekali. Apa diet mu kebablasan?" Ejek Dani.
"Kebanyakan nangis, jadinya...."
Aminah menghentikan omongannya dan menggigit bibir bawah pelan, menyadari bahwa dirinya mulai kebablasan bicara.
"Lupakan," Balas Aminah singkat.
"Aku ... hukk!"
'Jiaah, si Buaya cegukan.' ucap Aminah dalam hati.
"Maaf, aku ... hukk! hukkk!" Lagi-lagi Dani cegukan.
Aminah mengambil botol minum dari tas dan langsung menyerahkan pada Dani.
__ADS_1
"Terima kas ... hukkk!"
Baru saja duda keren itu menegak minuman beberapa kali, tiba-tiba saja ia terbatuk tak karuan. Hal itu membuat Aminah langsung berbalik menghadapnya dan menepuk-nepuk pundak tegap itu pelan, secara berkali-kali.
Tadinya Aminah sangat cemas, tetapi berubah menjadi salah tingkah saat tangan Dani bergerak cepat dan menggenggam kedua tangannya erat.
"Dulu aku mundur bukan karena tak ingin berjuang, tetapi keadaan yang memaksa untuk mengalah. Dan sekarang, sekeras apa pun keadaan yang akan aku hadapi nanti, aku tak akan lagi mundur. Pegang janjiku Aminah." Ucap Dani.
Otak Aminah ingin merespons dengan baik, tetapi berlawanan dengan hatinya. Bayangan betapa sakitnya dulu saat Dani meninggalkannya kembali terlintas, dan refleks membuat Aminah menarik tangan dengan cepat, lalu segera memalingkan muka.
Aminah mencoba menenangkan gemuruh dada yang menyatukan rasa kecewa dan rindu jadi satu.
'Ini menyakitkan!' ucap Aminah dalam hati.
Di satu sisi Aminah ingin berdamai dengan Dani, tetapi di sisi lain rasa kecewanya kembali mendominasi dirinya.
"Maaf, Aminah." Ucap Dani lagi dan lagi.
"Aku mau pulang," Ucap Aminah datar, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Dani.
"Aminah ...." Ucap Dani.
"Aku mau pulang!" Pekik Aminah kembali mengulang kalimat itu, dengan suara yang sedikit bergetar.
"Aminah..."
Suara Dani masih saja lembut seperti dulu dan itu semakin membuat Aminah sesak. Tak berpikir lama, Aminah langsung membuka pintu yang ternyata tak dikunci dan ia langsung melesat keluar. Tak peduli derasnya hujan yang turun.
__ADS_1
'Toh hujan sudah menjadi teman setiaku sejak lima tahun yang terakhir.' ucap Aminah dalam hati.
Bersambung....