Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Lamaran Naya


__ADS_3

Anto tersenyum lalu berlutut dihadapan Naya.


"Dihadapan semua sahabat dan teman-teman kamu.... Innayah, maukah kamu menikah denganku?" Ucap Anto dengan lantang.


Semua mata tertuju pada keduanya, tak terkecuali Aminah yang berjalan mendekat ke arah Naya yang terlihat bingung dengan situasi yang dihadapinya.


"Min...." Ucap Naya.


Aminah tersenyum dan mengangguk. Naya masih saja terdiam.


Sementara Anto masih berlutut dengan memegang sebuah kotak beludru merah berbentuk hati yang berisi cincin emas bermata putih. Dani terlihat merekam momen tersebut dengan ponselnya.


"Bagaimana?" Tanya Anto. "Sekali lagi aku katakan, dihadapan semua teman-temanmu yang menjadi saksinya. Innayah, maukah kau menikah denganku?" Ucap Anto bertanya kembali.


Air mata Naya luruh, begitu juga dengan Aminah. Air mata keduanya jatuh bersamaan dengan anggukan Naya.


Sorak sorai dari teman-teman Naya yang hadir pada acara reuni itu membuat suasana berubah bahagia. Euforia kegembiraan dari Anto begitu terpancar, tanpa ia sadari ia memeluk Dani dengan sangat erat.


"Dia bilang iya Dani. aku bakal nikah." Ucap Anto.


"Akhirnya. Selamat ya." Balas Dani.


"Terima kasih Dani." Ucap Anto.


Sementara Naya juga memeluk Aminah dengan erat.


"Alhamdulillah, akhirnya sahabatku laku juga." Canda Aminah.


"Iihh kamu tuh, emang aku barang sampai dibilang laku." Balas Naya sambil melepas pelukan Aminah dengan wajah cemberut.


"Becanda kali, selamat ya." Ucap Aminah.

__ADS_1


"Makasih ya, semoga kamu segera nyusul. Entah sama Dani atau Andika, atau siapapun itu. Pokoknya yang paling penting kamu bahagia." Ucap Naya.


Tanpa keduanya sadari, ucapan Naya itu terdengar oleh Dani dan juga Andika.


"Semangat Dani." Ucap Anto.


"Iya iya. Sudah sana berikan cincin itu untuk Naya." Ucap Dani.


Keduanya pun berjalan mendekat ke arah Naya dan Aminah berdiri.


"Selamat ya Mas, tolong nanti kalau udah sah. Dijaga baik-baik sahabat aku ini." Pesan Aminah.


"Tentu, aku pasti akan menjaganya dengan seluruh jiwa raga aku. Dan aku doakan semoga kamu dan Dani segera menyusul." Balas Anto yang membuat Aminah merasa canggung.


Anto lalu memberikan cincin itu pada Naya.


Naya dan Anto sejak dulu memang sama-sama saling menaruh perasaan. Tapi tak ada satupun dari keduanya yang mau menyatakan perasaan mereka. Terlebih Naya sebagai seorang wanita yang tentunya merasa gengsi. Sementara Anto sendiri sejak awal sudah berkomitmen untuk tidak pacaran, dan lebih memilih untuk langsung menikah saat dia sudah siap.


Satu persatu teman-teman Naya yang hadir di reuni tersebut memberi ucapan selamat pada Naya. Hingga tiba giliran Andika.


"Selamat ya Nay." Ucap Andika.


"Makasih ya, semoga kamu juga segera mendapat yang terbaik." Balas Naya.


"Ini juga lagi usaha." Balas Andika sambil melirik Aminah.


Aminah menjadi kikuk, karena terjebak pada cinta dua orang pria.


"Aminah, sorry aku pulang duluan ya. Ibu aku nelpon, lagi gak enak badan." Ucap Andika berpamitan pada Aminah.


"Eeh iya, hati-hati ya. Salam sama beliau, semoga cepat sembuh." Balas Naya.

__ADS_1


"Aamiin. Ntar aku sampaikan. Kalau gitu aku duluan ya, semuanya." Ucap Andika lalu berjalan meninggalkan lokasi reunian.


...----------------...


Pukul sepuluh malam, Aminah dan Naya akhirnya memutuskan untuk pulang. Anto menawari keduanya tumpangan, tentu saja akan satu mobil bersama Dani.


Awalnya Aminah ingin menolak, namun karena menghargai perasaan Naya sebagai calon isteri Anto, akhirnya Aminah mengalah. Mereka berempat pun akhirnya pulang dengan satu mobil.


Tepat saat Naya ingin duduk di kursi belakang, dengan cepat Anto mengarahkannya untuk duduk di kursi depan. Aminah pun terpaksa duduk berdampingan dengan Dani.


Sepanjang perjalanan pulang, Anto dan Naya tak henti-hentinya mengumbar kemesraan. Walaupun sekedar hanya berpegangan tangan.


Sementara suasana terbalik terjadi di kursi belakang. Aminah tampak kaku, ia hanya terdiam. Hal itu membuat Dani tak henti-hentinya menggoda Aminah.


"Aminah, kamu gak iri sama mereka? Bentar lagi mereka bakal nikah lo. Kamu gak pengen apa?" Tanya Dani.


Aminah tak membalas ucapan Dani, ia hanya terdiam dengan pandangan mengarah keluar jendela. Dani pantang menyerah, ia kembali mencoba mengajak Aminah bicara.


"Aminah, kita nikah juga yuk!" Seru Dani yang berhasil membuat jantung Aminah berdegup kencang.


Aminah berusaha menahan gejolak di dalam hatinya dengan bersikap setenang mungkin. Ucapan Dani tak mampu membuatnya berbalik untuk menatap Dani.


Hingga Anto yang duduk di kursi kemudi memiliki ide.


Sedari tadi, Anto sudah memperhatikan gerak gerik Dani nya melalui kaca spion depan.


Tiba-tiba setelah memberi kode pada Naya, dengan sengaja Anto berbelok tajam hingga membuat Aminah menjadi refleks mendekat ke arah Dani dan memegang tangan Dani.


Anto tersenyum, begitu pula dengan Dani.


"Makanya, jangan jauh-jauh. Kalau dekat gini kan aku bisa lindungi kamu." Ucap Dani.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2