Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Mengantar Rizal


__ADS_3

Pagi-pagi sekali rumah Aminah dibuat heboh oleh ketukan pintu yang ternyata merupakan ulah Rizal.


"Ada apa?"


Aminah yang baru saja selesai mencuci baju berjalan mendekati Rizal yang tengah bersama Pak Haris di teras.


"Ini Nak, Rizal mau minta tolong untuk ditemenin ke bandara. Ada keperluan mendadak dan dia gak ada temannya kesana. Bapak kan ada harus kerja, jadi gak bisa temenin dia. Kamu aja yang temenin, ya?" Ucap Pak Haris.


Pandangan Aminah mulai curiga.


"Modus! Paling ada sesuatu." Ucapnya.


"Kali ini aku beneran. Tolong, ya. Waktunya mepet nih. Aku bener-bener gak bisa kesana sendirian." Ucap Rizal.


"Udah sana ganti baju, cepetan ikut. Orang mau nolong itu jangan kebanyakan mikir, ntar jodohnya berat loh!" Celetuk Bu Wati yang ikut duduk di teras rumah.


"Iya, sebentar." Ucap Aminah.


Aminah pun mengalah dan segera mengganti pakaian, mengambil tas dan ponsel, lalu menghubungi Naya. Memberitahunya bahwa akan izin untuk tidak bekerja pagi ini.


Saat akan berpamitan pada orang tuanya tiba-tiba Aminah terkejut melihat sesuatu yang ada pada Rizal. Dengan secepat kilat Aminah membalikkan tubuh dengan wajah memanas.


"Ada apa, Nak?" Tanya Bu Wati yang terdengar bingung.


"Anu, itu ... sangkarnya kebuka, Bu," bisik Aminah tak enak hati.


"Waduuuhh, itu celana mu kenapa belum dikancingkan, Nak Ganteng! Awas terbang isi sangkarnya, aset berharga itu!" Teriak Pak Haris yang diikuti tawa.


"Eh, maaf, maaf!" Rizal berucap dengan nada yang terdengar sungkan.


"Sudah, sudah, cepet sana temenin Rizal ke sangkar, eh, maksudnya ke bandara!" Titah Bu Wati yang juga ikut tertawa.


Aminah segera mengikuti langkah Rizal menuju mobil. Keduanya segera naik ke atas motor dan mulai keluar ke jalanan utama.


"Kamu kenapa gak pakai helmnya dengan benar."


Rizal menghentikan motornya dipinggir jalan, lalu memperbaiki helm yang dikenakan Aminah.

__ADS_1


Aminah hanya terdiam, saat Rizal memperbaiki helm yang dia kenakan dengan benar. Jarak keduanya yang sangat dekat, membuat degup jantung Aminah berdetak kencang. Bau parfum yang dipakai Rizal menguar menusuk hidung Aminah.


'Bau parfum ini.......'


Pipi Aminah memerah saat pandangan matanya beradu dengan Rizal.


"Kamu denger sesuatu gak?" Tanya Rizal saat kembali pada posisi duduknya dan mulai melajukan motornya.


"Denger apa?" Tanya Aminah. "Suara motor!" Lanjut Aminah.


"Bukan itu." Balas Rizal.


"Terus....?" Tanya Aminah.


"Kamu dengar suara jantung berdetak kencang gak?" Tanya Rizal lagi.


Seketika raut wajah Aminah berubah merah karena malu.


'Aduuuhh, apa iya dia bisa denger suara debaran jantungku?' tanya Aminah dalam hati.


Aminah tak menjawab, ia justru semakin malu dan berusaha menahan debaran jantungnya yang semakin tak karuan.


"Aminah... kamu tau gak, setiap berada dekat kamu jantung aku sepertinya bekerja lebih cepat. Aku selalu merasa deg-degan. Apa mungkin karena aku benar-benar mencintai kamu?" Ucap Rizal.


Aminah hanya tersenyum.


"Jika kamu merasakan hal yang sama denganku, itu artinya kamu juga sangat mencintaiku." Lanjut Rizal tersenyum.


Motor kembali melaju dengan kecepatan tinggi. Sesampai di bandara, Rizal langsung turun dan mengajak Aminah turun.


Ternyata Rizal harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Jadi dia mengajak Aminah untuk mengantarnya agar motor yang dia bawa tadi bisa dibawa kembali oleh Aminah. Mengingat Rizal memang tinggal di sebuah rumah yang ada di depan rumah Aminah baru beberapa hari.


Rizal terlihat sangat senang karena Aminah menemaninya.


"Terima kasih ya, sudah mau mengantarku." Ucap Rizal.


"Terpaksa." Balas Aminah.

__ADS_1


Rizal hanya tersenyum. Dia lalu memberikan kunci motornya pada Aminah.


"Nanti pulangnya hati-hati. Gak udah ngebut. Sayangkan kalau sampai lecet apalagi nyium aspal. Masa aku keduluan sama aspal." Ucap Rizal.


"Ngomong apa sih kamu." Ucap Aminah.


Lagi-lagi Rizal tersenyum.


"Sekali lagi terima kasih. Aku jalan ya, doain aku supaya selamat sampai tujuan. Aku hanya pergi tuk sementara. Bukan tuk meninggalkanmu selamanya. Aku pasti kan kembali pada dirimu. Tapi kau jangan nakal, aku pasti kembali." Ujar Rizal.


"Perasaan itu lagu deh." Ucap Aminah.


"Emang iya. Siapa juga yang bilang pantun." Balas Aminah.


Plak!


Aminah memukul pundak Rizal.


"Udah sana, syuuhh... Syuhh..."


Rizal terbahak.


"Aku pergi nih. Awas aja kalau kangen." Ucap Rizal sambil menyodorkan tangan ke arah Aminah.


Setelahnya Rizal beranjak pergi dengan senyum yang mengembang.


Semua bergerak begitu cepat, sampai akhirnya Aminah menyadari satu hal.


'Kenapa tadi aku cium tangan dia?'


Beberapa detik kemudian, ponsel Aminah bergetar. Terdapat sebuah pesan dari Rizal.


[Udah bisa jadi isteri yang sholehah kamu sayang.]


'Waduh, aku di kacangin Buaya!' ucap Aminah dalam hati seraya menutup mulutnya.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2