
Setelah beberapa saat, Aminah akhirnya tiba di sebuah pantai terdekat yang ada di kotanya itu. Dia lantas turun dari motor milik ojol itu dan memberikan helm kepada bapak itu.
"Luapkan saja semuanya agar kamu lega." Ucap bapak ojol itu pada Aminah.
Aminah yang mendengar ucapannya itu lantas tersadar bahwa sejak tadi dia terus menangis diatas motor tua milik bapak ojol itu. Aminah menatap ojol itu penuh pertanyaan.
"Kamu lagi sedih kan? Bapak sering lihat anak bapak dulu termenung dengan wajah yang tampak sedih seperti kamu saat ini. Pergilah, luapkan semuanya. Jika kamu ingin menangis, menangis lah. Tapi ingat, kamu harus bangkit. Masih ada orang yang menyayangi kamu dan itu adalah orang tua kamu. Mereka pasti akan merasa jauh lebih terluka melihat putri mereka bersedih." Ucap ojol itu lagi.
Aminah tersenyum dan berterima kasih pada ojol itu.
"Kamu mau bapak tunggu?" Tanya ojol itu pada Aminah.
"Saya takut kalau saya nantinya lama Pak." Ucap Aminah.
"Tidak apa-apa. Hari sudah menjelang malam. Disini tidak banyak taksi atau ojek yang lewat. Bapak akan tunggu kamu." Ucap ojol itu lagi.
Lagi-lagi Aminah berterima kasih. Dia lalu berjalan ke arah pantai. Melepaskan sepatunya dan mulai berbaring di pasir. Aminah mulai menumpahkan segala kesedihan yang ada di dalam hatinya dengan menangis sesenggukan. Jika ada orang yang memperhatikannya seperti itu, orang-orang pasti tahu jika Aminah tengah patah hati.
__ADS_1
Cukup lama Aminah menangis tanpa menghiraukan orang lain yang menatap aneh kearahnya.
Aminah berbaring di tepi pantai sangat lama dan terus menatap langit, sampai akhirnya ia merasakan tetes hujan mendarat di pipinya. Meski enggan, Aminah terpaksa bangun. Menatap sekitar yang sudah sangat sepi.
Aminah pun berjalan gontai mengambil sepatu dan ponsel lalu meninggalkan pantai. Aminah terlihat begitu berantakan.
Aminah lalu mendekat ke arah di mana ojek tadi menunggunya.
"Sudah?" Tanya lelaki paruh baya itu langsung beranjak saat melihat Aminah mendekat.
Aminah mengangguk, sembari menerima helm darinya, lalu mulai naik ke motor dan perlahan kendaraan roda dua itu melaju pelan menembus rintikan hujan.
Setelah Aminah memaksa, akhirnya ojol itu kembali melanjutkan perjalanan, menerjang hujan.
Kali ini Aminah meminta ojol itu untuk mengantarnya pulang ke rumah, karena percuma baginya jika harus kembali ke toko karena hari sudah begitu sore dan Naya pasti sudah menutup toko dan pulang ke rumah.
Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah. Dingin menusuk kulit Aminah karena pakaian yang ia kenakan basah kuyup.
__ADS_1
Lelaki ojol tersebut menyerahkan ponsel dan dompet Aminah yang di simpan di jok motor. Aminah lantas mengambil selembar uang berwarna merah dan menyerahkan pada ojol tersebut.
"Yang sabar, ya Neng. Bapak memang tidak tahu apa masalah yang kamu hadapi, tapi melihat dari pengalaman anak bapak dulu, kalau lagi sedih dia selalu baca Qur'an sama sholat. Bapak juga sering lihat dia sering memanjangkan waktu sujud terakhir ketika sholat, katanya lagi doa dalam hati. Titipkan hati kita pada Allah, insyaa Allah nanti rasa sedih akan diganti dengan bahagia. Karena memang, kita ini sebagai manusia hanya bisa berencana dan Allah yang tentukan akhirnya." Ucap bapak ojol itu.
Aminah tersenyum mendengar ucapan lelaki paruh baya itu.
"Insyaa Allah, nanti saya coba, Pak. Salam buat anak bapak, ya. Terima kasih untuk sarannya." Balas Aminah.
"Iya. Kamu yang kuat ya Nak. Nanti bapak sampaikan salam kamu kepada anak bapak melalui doa." Ucap ojol itu.
Wajah Aminah berubah menjadi bingung.
"Anak bapak sudah meninggal dua tahun yang lalu." Ucap ojol itu seolah menyadari keheranan di wajah Aminah.
"Saya minta maaf Pak." Ucap Aminah merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa Nak. Bapak harap kamu bisa jauh lebih semangat lagi menghadapi setiap masalah yang terjadi dalam hidup kamu." Balas ojol itu.
__ADS_1
Kemudian ojol itu berpamitan. Aminah merasa lebih segar setelah mendengar saran dari ojol itu. Pengemudi ojol itu pernah memiliki seorang putri yang seumuran dengan Aminah dulu, tapi sekarang dia sudah meninggal. Hal itulah yang membuatnya merasa harus menemani Aminah kala sedih karena dia tidak mau Aminah salah jalan.
Bersambung....