
Pagi.....
Aminah bangun cukup pagi.
"Nak, kemarin–"
"Ibu kalau mau bahas Dani, aku lagi nggak mau denger," potong Aminah saat Bu Wati hendak mengatakan sesuatu.
Aminah yang baru saja selesai mandi melewati Bu Wati begitu saja untuk menjemur handuk.
Bu Wati malah terbahak.
"Duh, bukan itu. Makanya dengerin Ibu dulu, kemarin Bu Merry ke sini, kaTanya hari ini toko tutup siang karena ada undangan makan-makan di warung siapa gitu namanya Ibu lupa." Ucap Bu Wati.
Aminah mengerutkan dahinya.
"Lana, Dina, Tina, Wina, Mina, ....."
"Nana Bu." Ucap Pak Haris yang terlihat siap menuju tempatnya bekerja.
Pak Haris bekerja sebagai satpam di sebuah bank swasta. Sementara Bu Wati hanya menjadi Ibu rumah tangga, walau kadang sesekali Bu Wati mendapat pelanggan untuk menjahit pakaian.
'Warung Mbak Nana? Duh! Aku harus cari alasan biar nggak ikut, takutnya ketemu Dani lagi nanti di sana.' Ucap Aminah dalam hati.
"Tapi ... kayaknya aku nggak bisa ikut." Ucap Aminah.
Dahi Bu Wati terlihat mengerut. "Kenapa?"
__ADS_1
"Mumpung tutup siang, aku mau rebahan aja di rumah." Balas Aminah.
"Kamu sakit?" Tanya Bu Wati.
"Gak Bu, aku baik-baik aja." Jawab Aminah lagi dengan cepat.
Tak ingin diTanya lagi, Aminah segera berlalu masuk ke kamar dan bersiap-siap berangkat kerja sebelumnya ia sudah mencium tangan Pak Haris yang akan berangkat bekerja juga.
"Mau nebeng sama Bapak?" Tanya Pak Haris.
"Gak Pak, aku jalan sama Naya aja." Balas Aminah.
Saat akan mengambil ponsel di meja, pandangan Aminah tertuju pada bingkisan dari Dani semalam yang masih tergeletak, dan sama sekali belum ia minum. Tanpa pikir panjang, Aminah langsung memasukkannya ke laci meja.
'Aku sudah membuang semua hal yang mengingatkan tentangmu, tetapi sekarang kamu malah memberi lagi, seolah memberi celah untuk memulai harapan baru.'
Aminah dan Naya mulai sibuk menjaga toko sejak pagi. Pelanggan yang datang seperti biasanya lumayan banyak.
"Kamu yakin nggak mau ikut, Min?" Tanya Bu Aya saat menjemput Naya di toko tepat siang harinya.
Aminah menggeleng. "Lagi pengen rebahan aja di rumah Bu. Badan saya juga agak pegel." Balas Aminah tersenyum.
"Ya sudah kalau gitu. Apa besok kamu masuk siang? Kalau iya, nanti biar Ibu suruh Mira buat bantuin Naya dulu kalau kamu masih gak enak badan." Ucap Bu Aya pada Aminah.
Aminah mengangguk, mengiyakan. Lantas ia berjalan keluar toko, mengantarkan Bu Aya dan Naya ke mobil yang sudah berisi anak-anak lain dari dapur pusat.
"Kamu istirahat yang baik ya Min, jangan lupa minum vitamin." Pesan Naya sebelum masuk ke mobil.
__ADS_1
"Sip." Balas Aminah seraya mengacungkan jempolnya.
Mobil pun melaju meninggalkan toko.
Aminah kembali masuk, sedikit merapikan ruangan sebelum akhirnya ia pulang ke rumah.
Sebelum pulang, Aminah ingin membeli martabak kesukaan Bu Wati lebih dulu. Lumayan jauh, jadi harus pakai ojek online. Saat akan membuka aplikasi, Aminah melihat ojol yang terlihat baru saja menurunkan penumpang di dekat toko.
"Ojeekk." Teriak Aminah dengan suara yang lumayan keras.
Jarak yang tak begitu jauh membuat ojol itu menoleh.
"Eh, Bapak!" Seru Aminah, melihat ojol yang mendekatinya itu ternyata ojol yang kemarin membawanya ke pantai.
"Mau kemana Neng?" Tanya ojol itu sambil membenarkan posisi helm yang ia kenakan.
"Beli martabak buat Ibu saya Pak. Bisa antar gak? Tapi pakai offline saja ya Pak." Ucap Aminah.
"Bisa, bisa Neng. Ayo naik," Balas pak ojol itu sambil menyerahkan helm pada Aminah.
"Gimana orderan hari ini, Pak?" Tanya Aminah sambil naik ke atas motor.
"Alhamdulillah, lumayan Neng. Sudah siap? Kita jalan ya? Bismillah." Ucap Bapak ojol itu.
Motor tua itu pun mulai melaju membelah jalanan kota. Sepanjang perjalanan, ojol itu banyak bercerita tentang anak perempuan nya yang sudah meninggal itu.
Bersambung....
__ADS_1