Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Bu Wati vs Pak Haris


__ADS_3

Pukul tiga sore, Pak Haris yang tengah duduk di ruang tamu tiba-tiba merasa perutnya kembali keroncongan. Padahal sebelumnya Pak Haris sudah makan siang bersama Bu Wati. Dengan cepat Pak Haris pergi ke dapur untuk merebus mi instan. Sementara Bu Wati terlihat tengah asyik menonton Drakor favoritnya.


"Aduuuhhh...... Bapak gimana, sih? Kan, udah ibu bilang!" Teriak Bu Wati tiba-tiba.


"Apa sih bu? Pakai teriak-teriak segala." Balas Pak Haris.


"Itu kuali!" Ucap Bu Wati berkacak pinggang.


"Iya, terus kenapa sama kuali?" Tanya Pak Haris dengan dahi yang mengkerut.


"Kan, udah ibu bilang, kalau kuali untuk menggoreng dan merebus itu beda." Balas Bu Wati.


"Maksudnya? Bapak salah, ya?" Tanya Pak Haris lagi sambil menggaruk kepalanya.


"Ya iyalah, salah! Kuali untuk menggoreng itu yang pantatnya udah hitam, kalo buat merebus yang masih kinclong pantatnya. Gimana, sih, Bapak? Masih saja lupa!" Protes Bu Wati.


"Waduh, emang kenapa kalau disamain aja. Kan sama-sama kuali?" Balas Pak Haris seraya sibuk menuang bumbu mi instannya ke dalam mangkok.


"Duh, capek deh! Dengar, ya Pak! Kuali menggoreng itu kalau digunakan untuk merebus jadi susah lagi dipakai buat menggoreng." Ucap Bu Wati.


"Kok, bisa???" Tanya Pak Haris.


"Ya, bisalah! Jadi lengket-lengket ikan atau apa pun yang ibu goreng di dasar kuali nya. Tolonglah kerjasamanya, Pak! Pusing ibu ini, ha!" Bu Wati semakin menggerutu.


"Iya ... iyaaa! Itu aja, kok heboh bener sih?" Balas Pak Haris sembari menuang mi yang sudah masak ke dalam mangkok.


"Gimana 'nggak heboh, Pak??? Bapak sih, enak tidak tahu gimana kesalnya ketika ikan yang kita goreng terkelupas dan hancur. Hancur hati ibu, Yah! Hancuurr..." Ucap Bu Wati seraya menepuk dadanya berulang kali.


"Astaga. Ibu sih, kan udah pernah Bapak kasih tahu gimana caranya biar ikan tuh nggak lengket di kuali?" Ucap Pak Haris.


"Mana? Kapaaan? Jangan ngaku-ngaku, deh!" Balas Bu Wati.


"Tuh, kan? Ibu itu sering sekali lupanya. Udah pikun." Ledek Pak Haris.


"Apa sih, Yah? Caranya yang bagaimana coba?" Tanya Bu Wati.


"Dengerin, ya! Kalau tidak ingin ikannya hancur atau lengket, minyak panasnya tetesi sedikit lemon, dan ikannya lumuri dengan tepung. Coba aja!" Ucap Pak Haris memberi saran.


"Ooo, yang itu sih, ibu sudah tahu Bapak! Cuma itu, ribet banget! Jadi males...." Balas Bu Wati.


"Ya sudahlah. Terserah ibu saja.!" Ucap Pak Haris seraya mengaduk mi instan buatannya.


"Kok, jadi Bapak yang marah? Ibu enggak bisa diginiin! Bapak jahat!" Ucap Bu Wati berlalu dengan wajah yang cemberut.

__ADS_1


"Ya Allah. Ampun dah, malah ngambek. Heuh, gara-gara keseringan nonton sinetron ini." Gerutu Pak Haris.


...----------------...


Tepat pukul lima sore, Rizal dan Aminah meninggalkan acara itu. Beberapa teman Rizal memintanya untuk tetap tinggal dan berpesta. Namun, Rizal menolak ajakan mereka secara halus.


"Sorry, aku harus mengantar pulang calon permaisuri ku dulu tepat waktu. Aku tak ingin calon mertuaku khawatir." Ucap Rizal menolak ajakan teman-temannya.


Tiba di rumah, Pak Haris dan Bu Wati sedang duduk di ruang tamu. Melihat kedatangan keduanya, Bu Wati dan Pak Haris menjadi bingung. Sebab pagi tadi, Dani lah yang menjemput Aminah. Tapi sekarang malah Rizal yang mengantarnya pulang.


Setelah itu, Rizal langsung pamit tanpa duduk barang sebentar.


"Maaf Pak, Bu, saya langsung pulang." Ucap Rizal seraya pamit pulang.


Aminah lalu duduk bersama kedua orang tuanya yang sejak tadi tampak bertengkar.


"Loh muka ibu kenapa cemberut gitu?" Tanya Aminah.


"Gak tau ini Ibu kamu, dari tadi pagi kerjaannya ngomel terus. Nyari sapu marah, siang katanya mau curhat malah marah juga, terus barusan kuali juga di permasalahkan. Pusing Bapak jadinya." Ucap Pak Haris.


Sementara Bu Wati masih saja tampak cemberut.


"Bu...." Ucap Aminah.


"Ceritanya panjang Bu..." balas Aminah.


Bu Wati lalu bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Aminah lalu menceritakan apa saja yang dia lakukan dengan Rizal. Tapi dia tidak menceritakan apa yang terjadi di rumah Dani.


"Aku ngantuk Bu, mau istirahat." Ucap Aminah.


"Ya udah, sana tidur gih. Oh ya, kasih tau tuh Bapak kamu, malam ini tidurnya diluar, gak boleh tidur di kamar bareng ibu." Ucap Bu Wati.


"Ibu ini kenapa sih? Bapak salah apa coba?" Tanya Pak Haris.


"Bilang sama Bapakmu, ibu lagi gak mau ngomong sama dia." Balas Bu Wati.


"Ooohh gitu, oke lah kalau begitu. Nak, kasih tau ibumu kalau gak ngasih Bapak tidur di kamar, Bapak gak akan kasih belanja bulanan." Ucap Pak Haris memegang kepala Aminah.


"Gak masalah. Bilangin sama Bapakmu itu, ibu juga bisa cari uang sendiri." Balas Bu Wati.


"Oke, bilang sama ibumu kalau...."


"Udaaaahhh....." Teriak Aminah memotong Ucapan Pak Haris. "Ibu sama Bapak kenapa sih, kenapa gak ngomong langsung aja? Kenapa malah lewat perantara aku. Heh, tua-tua keladi, makin tua makin menjadi." Ucap Aminah berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


...----------------...


Aminah keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya dan berganti pakaian menggunakan piyama motif doraemon.


Jam di dinding kamar Aminah menunjukkan pukul sebelas malam. Rasa kantuk mulai menghampiri, Aminah segera naik ke tempat tidurnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya.


Baru saja memejamkan mata, suara getar ponsel Aminah membangunkannya. Terlihat panggilan video dari Rizal.


Di layar ponsel Aminah, terlihat Rizal tengah berbaring mengenakan baju kaos berwarna putih.


"Udah tidur ya, maaf ya ganggu." Ucap Rizal.


"Baru aja mau lelap." Balas Aminah tersenyum.


"Kangeenn...." Ucap Rizal manja.


"Iihh apaan sih, lebay banget. Baru juga ketemu, seharian malah." Ucap Aminah.


"Aku pengen dekat kamu terus, gak mau pisah." Ucap Rizal.


"Belum muhrim..." Balas Aminah.


"Makanya kita nikah yuk..." Ucap Rizal.


"Hayuk." Balas Aminah cekikikan.


"Serius..." Ucap Rizal tak percaya.


"Tapi boong." Balas Aminah.


Rizal terlihat memanyunkan bibirnya.


"Udah ya, aku ngantuk." Ucap Aminah.


"Ya udah, selamat malam. Jangan lupa mimpiin aku." Balas Rizal.


"Hmmm..." Ucap Aminah.


Sambungan telepon terputus. Aminah mencoba memejamkan matanya, rasa kantuk yang amat berat membuat matanya begitu berat untuk terbuka.


Kembali getar ponsel Aminah terdengar, beberapa pesan masuk. Namun, Aminah begitu malas untuk mengambil ponselnya lagi. Aminah memilih untuk meneruskan tidurnya hingga terlelap dengan nyenyak.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2