
Keesokan paginya di toko kue tradisional tempat Aminah bekerja. Dia tak henti-hentinya menggoda Naya yang semalam di lamar oleh Anto.
"Ciee ciee yang bentar lagi married. Du-duh bahagianya..." Goda Aminah pada Naya yang tengah menyusun box-box pesanan pelanggan.
"Iiihh kamu tuh, gak usah pake teriak kali. Aku gak budek." balas Naya menyenggol Aminah. "Iri bilang boss..."
"Weekk siapa juga yang ngiri, huh." Ucap Aminah dengan mulut manyun.
"Ya kamulah. Iri kan karena aku yang duluan nikah. Bukan kayak kamu, pacaran sana sini. Ujung-ujungnya ditinggalin. Hahaha." Ledek Naya.
Aminah terdiam, membuat Naya merasa bersalah. Naya lalu memegang pundak Aminah yang membelakanginya.
"Aminah, maaf. Aku cuma bercanda." Ucap Naya.
"Ngapain pakai minta maaf segala. Kamu gak salah apa-apa kok." Balas Aminah tersenyum.
"Aku harap nantinya kamu juga bakal dapat yang terbaik Min." Ucap Naya lagi.
"Makasih ya. Eehh ngomong-ngomong kamu sama Mas Anto itu deket atau pacaran?" Tanya Aminah kepo.
"Pacaran sih nggak, deket juga nggak terlalu. Kamu juga tau sendiri kan, aku ketemu Mas Anto aja kayaknya cuma beberapa kali. Kami komunikasi hanya lewat hp." Ujar Naya.
"Hmmmm, kamu cinta gak?" Tanya Aminah.
"Jujur Min, sejak pertama kali ketemu Mas Anto, aku udah ngerasa ada getaran-getaran apa gitu." Balas Naya cekikikan.
"Huh getaran-getaran. Getaran asmara gitu?" Cibir Aminah.
__ADS_1
"Hihihi gitu deh." Balas Naya.
Aminah kembali terdiam, mengingat semua kejadian bagaimana pertemuan pertamanya dengan Dani. Mengingat kejadian itu, Aminah jadi tersenyum sendiri.
"Wooyy... Lagi mikirin apa sih sampai senyum-senyum sendiri? Jangan-jangan kesambet nih anak." Ucap Naya yang semakin membuat Aminah tertawa.
Namun seketika tawa Aminah hilang, kala kembali mengingat hal yang dilakukan Dani kala itu saat meninggalkan dirinya karena akan menikah dengan perempuan lain.
Aminah kemudian berusaha memfokuskan pikirannya.
Aminah dan Naya lalu melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing hingga sore hari. Tepat saat toko hendak ditutup, sebuah mobil terparkir di depan toko.
Aminah yang melirik ke arah depan toko memutar bola mata malas karena sudah mengetahui si pemilik mobil adalah Dani.
Dani memasuki toko dengan membawa sebuah bingkisan.
"Kalau mau beli kue, udah habis. Lagian toko juga udah mau tutup. Jadi, mendingan kamu pulang aja deh." Ucap Aminah ketus.
"Tidak... Tidak... Tidak... Aku datang kesini bukan buat beli kue. Tapi, aku mau ngasih ini ke kamu Naya." Balas Dani seraya memberikan sebuah bingkisan pada Naya.
"Buat aku?" Tanya Naya dibalas anggukan oleh Dani.
"Iya untukmu, ini sebagai hadiah dari aku karena udah nerima lamarannya Bang Anto." Jawab Dani.
"Bang Anto? Huh tumben banget manggilnya Bang Anto. Biasanya juga langsung manggil nama." Ucap Aminah ketus.
"Dia kan lebih tua dari aku. Apalagi sekarang dia udah mau nikah. Ya wajar dong, aku panggil dia Bang Anto. Lagian nanti kalau kita nikah, kamu harus ubah nama panggilan buat aku. Dari Dani jadi sayang." Ucap Dani percaya diri.
__ADS_1
"Hih." cebik Aminah.
"Waaahh, makasih ya. Ini bagus bangeett." Ucap Naya girang saat membuka isi bingkisan yang diberikan Dani. "Tapi kok dua? Warnanya juga hampir sama tapi ini modelnya agak kayak...."
"Yang satunya buat ibu kamu." Potong Dani.
"Buat Ibu?" Tanya Naya heran.
"Iya. Itu baju, persiapan buat acara lamaran kalian besok malam." Jawab Dani santai.
"Be-besok malam? Ta-tapi...." Ucap Naya gugup.
"Tenang aja. Kamu gak perlu pusing mikirin semua persiapannya. Semuanya sudah aku atur. Kamu tinggal duduk manis aja. Sekarang pulang ke rumah dulu, bicarakan sama Ibu kamu. Besok pagi ada orang-orang yang akan datang ngedekor ke rumah kamu." Ujar Dani.
"Aaahhh Mas Anto...." Ucap Naya terpesona memikirkan kebaikan calon suaminya itu
"Udah gak usah pakai pakai acara terpesona segala." Ucap Dani memotong ucapan Naya. "Ayo sekarang aku antar kalian pulang." Lanjut Dani berusaha menggandeng tangan Aminah.
"Gak usah pegang-pegang. Lagian aku juga bisa jalan sendiri." Ucap Aminah dengan ketus.
"Takut kamu jatuh nanti, kan sakit." Ucap Dani mengekori Aminah.
"Aku gak mau pulang bareng kamu. Kamu pulang aja sana sama Naya." Ucap Aminah saat sudah berada diluar toko.
"Min, kok kamu gitu sih!" Seru Naya sambil memasukan kunci toko ke dalam tasnya.
Bersambung....
__ADS_1