Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Dimana Anto


__ADS_3

Keesokan harinya, rumor tentang Naya yang ditinggalkan oleh calon suaminya di hari pernikahan tersebar luas. Orang-orang mulai membuat opini-opini sendiri yang salah.


Naya tampak mengurung diri di kamar, wajahnya tak seceria biasanya lagi. Anto pun menghilang seolah di telan bumi. Tak ada tanda-tanda keberadaanya. Bahkan Dani sama sekali tak tau dimana Anto berada.


Aminah menyalahkan dirinya sendiri akan kejadian yang menimpa Naya. Ia merasa bertanggung jawab atas gagalnya pernikahan Naya.


'Lalu, apa yang harus aku lakukan?' gumam Aminah.


Sudah dua hari Aminah tidak bekerja, setiap harinya ia memilih menuju rumah Naya, sahabatnya yang kini tengah terpuruk dalam kesedihan.


"Nay, aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Ucap Aminah saat berada di dalam kamar Naya.


Naya yang tampak lesu dengan mata yang sembab, selalu berusaha tegar dihadapan Aminah.


"Gini ya Min, rasanya ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya. Sekarang aku ngerti gimana rasanya jadi kamu dulu." Ucap Naya.


Aminah menghela nafas panjang lalu mendekati sahabatnya yang duduk menghadap jendela itu.


"Naya, maafin aku. Semua ini terjadi karena aku." Ucap Aminah


Naya menatap Aminah dengan heran.


"Maksud kamu apa ngomong gitu? Jangan bilang kamu udah selingkuh sama Mas Anto. Aahh gak mungkin kan Min." Ucap Naya.


"Bukan Nay, bukan itu. Tapi..."


"Lantas apa Min?" Tanya Naya bingung.


"Kamu gagal nikah semuanya karena aku." Jawab Aminah.


"Kamu ngomong apa sih? Udah deh, gak usah berbelit-belit. Langsung aja ngomongnya." Balas Naya.


"Semuanya karena aku Nay. Aku selalu mendapat pesan teror dari seseorang yang aku yakini mantan istrinya Dani. Wanita itu terus mengancam aku jika aku gak menjauhi Dani. Padahal aku sudah bilang kalau aku gak ada hubungan apapun lagi sama Dani. Aku bahkan membuat status berpacaran dengan Rizal agar Maya yakin kalau aku gak ada hubungan apapun sama Dani lagi. Tapi Maya terus mengancam, bahkan aku selalu diteror dengan mengirimkan paket yang aneh-aneh. Dan terakhir dia mengirim pesan kalau aku masih gak mau menjauhi Dani, maka orang terdekat aku yang akan menanggung akibatnya. Dan lihat yang terjadi sama kamu, aku yakin memang dia pelakunya." Ujar Aminah mulai terisak.


Sementara Naya masih diam seraya mendengarkan ucapan Aminah.


"Aku dapat ancaman kalau gak jauhin Dani, orang-orang terdekat aku, bakal nerima akibatnya. Aku minta maaf, karena aku pernikahan kamu gagal. Karena aku kamu dan Bu Mila jadi malu karena jadi gunjingan orang." Aminah semakin terisak.


"Min, ini semua bukan salah kamu. Ini sudah takdir buat aku. Lagian apa kamu gak baca sendiri isi pesan dari Mas Anto. Kalau dia harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang pernah ia lakukan di masa lalu. Jadi semua ini tuh gak ada hubungannya sama kamu.," Ucap Naya.


"Ada Nay, semuanya berhubungan sama aku. Perlu kamu tahu, Dani bilang Mas Anto bukan orang seperti itu. Dia gak pernah punya pacar sebelumnya. Kamu perempuan pertama yang dia cintai Nay, dan pernikahan kalian batal benar-benar karena aku..." Tangis Aminah semakin pecah.


Naya memeluk Aminah dan ikut menangis.

__ADS_1


"Nay, maafin aku. Aku akan meresmikan hubungan aku sama Rizal, agar Maya gak berbuat yang macam-macam lagi. Aku yakin setelah ini Anto pasti balik lagi." Ucap Aminah.


"Gak Min, kamu gak perlu lakuin semua itu. Aku gak mau kamu ngorbanin perasaan kamu lagi. Kamu harus bahagia. Aku akan baik-baik aja walau gak jadi nikah sama Mas Anto. Pasti ada jalan keluar yang lain Min, tanpa kamu memaksakan perasaanmu dengan Rizal." Ucap Naya.


"Aku gak tau Nay, jujur aku sendiri gak tahu gimana perasaanku yang sebenarnya. Tapi jika tidak aku lakukan, Maya sudah mulai menyakiti orang-orang terdekat aku. Kamu ingat sendiri, kemarin toko Bu Aya, lalu rentetan ancaman yang datang dan yang paling menyakitkan Maya juga lah yang menjadi dalang dibalik gagalnya pernikahan kamu." Ujar Aminah panjang lebar menjelaskan pada Naya.


"Gak Min, pokoknya kamu gak boleh memaksakan perasaanmu. Aku lebih baik gak nikah daripada harus lihat kamu menderita seperti dulu lagi. Aku sayang sama kamu Min. Kamu udah seperti saudara kandung aku sendiri." Balas Naya.


"Aku juga sayang sama kamu Nay." Ucap Aminah memeluk Naya kembali.


Keduanya berpelukan dalam tangisan, sama-sama menangisi nasib yang mereka hadapi.


"Udah sekarang, ayo kita semangat lagi. Kita cari cara agar kamu bisa bahagia tanpa memaksakan perasaanmu dan Mas Anto juga bisa kembali. Oke." Ucap Naya penuh semangat.


Aminah mengangguk seraya mengusap air matanya.


...----------------...


"Maya kamu udah kelewatan, cepat katakan dimana Bang Anto?" Teriak Dani pada Maya yang tengah perawatan di sebuah salon kecantikan langganannya.


"Heh kamu tuh apa-apaan sih datang-datang langsung main marah-marah gitu aja. Aku salah apa? Terus ngapain kamu nanyain si Anto itu sama aku? Ha!" Balas Maya sengit.


"Udah deh, kamu gak usah sok gak tau segala. Kamu kan yang buat Anto gak jadi nikahin Naya. Kamu juga kan dalang dibalik menghilangnya Anto?" Ucap Dani.


"Kamu gak usah pura-pura lagi, Aminah yang ngasih tau aku semuanya. Kamu yang selalu ngancam dia, dan kamu juga yang menyembunyikan Bang Anto." Balas Dani.


"Ooohhh jadi kamu lebih percaya sama wanita pelakor itu dibanding dengan istri kamu sendiri? Apa sih yang kamu lihat dari wanita jelek itu? Apa sih hebatnya dia?" Bentak Maya.


"Cukup May, kamu gak berhak menyebutnya dengan seperti itu. Apa kamu lupa bahwa kita sudah cerai. Aku ini sudah bukan suamimu lagi." Ucap Dani yang seketika membuat wajah Maya memerah.


Maya yang tengah melakukan perawatan rambut seketika berdiri dihadapan Dani, dengan rambutnya yang masih berantakan karena masih di warnai.


"Cukup Dani, kamu jangan buat aku malu dengan lebih membela wanita pelakor jelek itu." Ucap Maya seraya menunjuk Dani.


"Aku tidak mau berbasa-nasi lagi. Cepat katakan dimana Bang Anto." Ucap Dani penuh penekanan seraya menatap Maya dengan tajam.


"Mana aku tahu, kamu pikir aku itu kurang kerjaan apa sampai menyembunyikan si Anto itu." Ucap Maya santai.


"Oohh jadi kamu gak mau kasih tau dimana Bang Anto. Oke fine, aku bakal laporin kamu ke polisi atas tindakan pengancaman dan penculikan. Aku punya buktinya." Ancam Dani.


Maya terdiam, tak tau harus berkata apa.


"Ayo cepat katakan, aku gak main-main buat laporin kamu ke polisi" Ucap Dani lagi.

__ADS_1


"Dia ada di rumah sakit X." Jawab Maya seraya duduk kembali ke kursi.


Tanpa membalas ucapan Maya, Dani langsung pergi menuju lokasi yang dikatakan Maya tadi.


"Awas kamu pelakor, kamu akan membayar semuanya." Ucap Maya.


Beberapa orang pegawai salon yang sedari tadi terdiam melihat pertengkaran Dani dan Maya, kaget saat di bentak oleh Maya.


"Kenapa kalian diam saja? Cepat layani aku, awas kalau sampai kalian bergosip tentang kejadian tadi. Aku pastikan kalian semua dipecat atasan kalian. Bila perlu tempat ini akan aku tutup juga." Teriak Maya.


Semua pegawai salon tertunduk dan melanjutkan pekerjaan mereka tanpa sepatah katapun.


...----------------...


Hari itu, sepulang dari rumah Bu Sandra, Anto tengah mengendarai motornya dengan santai pulang menuju ke rumah. Hari bahagia yang hanya tinggal dua hari membuat Anto selalu tersenyum sepanjang jalan.


Baru saja Anto membelokkan motornya ke jalan menuju rumahnya, tiba-tiba motor Anto langsung dipepet oleh dua mobil.


Jalanan yang lumayan sepi, membuat tidak ada seorangpun yang melihat kejadian itu.


Kejadiannya begitu cepat, Anto mendadak mengerem motornya saat satu buah mobil tiba-tiba berhenti menghalangi jalannya.


Motor Anto oleng dan membuatnya terjatuh karena mengerem mendadak yang membuatnya terpental ke aspal. Ada beberapa luma di tubuh Anto. Beberapa orang turun dari dalam sebuah mobil, kemudian menarik paksa Anto masuk ke dalam mobil itu. Anto ingin menolak, namun karena ia hanya seorang diri dan tubuhnya yang luka-luka membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa.


Anto merasakan tengkuknya dihantam sebuah benda tumpul hingga membuatnya tak sadarkan diri.


Saat terbangun, Anto sudah mendapati dirinya berada di sebuah rumah sakit dengan selang infus yang ada di tangannya. Anto merogoh saku celananya berharap ponselnya ada disana. Namun apa yang dicarinya tak ada disana.


Anto berusaha untuk bangun dari atas tempat tidur. Namun seorang pria yang ada di dalam ruangan itu bersama dirinya kembali memukuli tengkuk Anto dan memberikannya obat tidur dalam dosis yang tinggi yang membuat Anto tetap tak sadarkan diri.


Hingga hari H tiba, Anto tak kunjung dibebaskan juga.


"Wooyy lepaskan aku. Apa yang kalian inginkan dariku?" teriak Anto. "Siapa yang menyuruh kalian melakukan semua ini? Hah!" lanjut Anto.


Namun para penjaga sama sekali tak menjawab. Saat seorang penjaga masuk, Anto memohon untuk dibebaskan.


"Bang tolong lepaskan aku. Bantulah aku Bang. Hari ini aku akan menikahi wanita yang ku cintai Bang. Tolong kasihani aku." Rengek Anto.


"Apa peduliku, masih untung kau tak kami hajar. Sudah cepat habiskan makananmu." Hardik lelaki bertubuh kekar yang menemani Anto di dalam ruangan itu.


Lelaki bertubuh kekar itu kembali keluar kamar tempat Anto dirawat, dan kembali berdiri di depan pintu.


"Naya.... Maafkan aku." Ucap Anto pasrah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2