Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Pernikahan Naya


__ADS_3

Di rumah Dani...


Dani tengah berdebat dengan kedua orang tuanya mengenai hubungannya dengan Aminah.


"Kamu itu kenapa gak bisa nurut aja sih sama keinginan Ibu. Kamu malah jadi anak pembangkang selama kenal dengan perempuan itu." Bentak Bu Susi pada Dani yang baru saja pulang ke rumahnya setelah seharian bekerja.


"Sudahlah Bu, biarkan Dani menentukan masa depannya sendiri. Lagipula apa salahnya dia menyukai Aminah. Aminah itu gadis yang baik. " Ucap Pak Rudi.


"Sudahlah Bapak gak usah ikut campur. Tau apa Bapak tentang anak satpam itu. Lagian apa Bapak gak malu sama keluarganya Maya kalau kita setuju membiarkan Dani dengan wanita lain?" Ucap Bu Susi.


"Aduuuhh Ibu sama Bapak kenapa sih ribut. Ini sudah malam, bukannya istirahat dulu, ini malah berdebat. Malu sama tetangga." Ucap Indra, adik Dani yang baru masuk rumah.


Sementara Dani hanya terdiam, berusaha menahan emosi yang tengah menguasai hatinya.


"Udah kamu juga diam aja gak usah ikut campur." teriak Bu Susi.


Indra langsung berjalan menuju kamarnya dengan wajah cemberut setelah dibentak Bu Susi. Setelah itu Bu Susi berjalan masuk ke kamarnya.


Dani menghela nafas panjang seraya bersandar di sofa.


"Aku cuma harus berusaha lebih keras lagi, agar Ibu bisa merestui." Ucap Dani seorang diri.


...----------------...


Pesan demi pesan ancaman terus masuk silih berganti ke ponsel Aminah. Status hubungan berpacaran yang dibuat Aminah dengan Rizal tidak lantas membuat Aminah merasa lega karena seseorang terus saja mengganggu hidupnya.


Orang itu tak lain adalah Maya, mantan istri dari Dani. Dia terus melakukan berbagai cara untuk membuat hidup Aminah tak tenang. Berulang kali Aminah mengatakan bahwa dia sudah tidak memiliki hubungan dengan Dani, tapi tetap tak bisa membuat Maya berhenti mengganggunya.


Aminah bahkan tak pernah lagi mau bertemu dengan Dani, meski Dani terus berusaha untuk mendekati dirinya.


Hingga pada akhirnya sebuah pesan kembali masuk ke ponsel Aminah, tepat dua hari sebelum pernikahan Naya.


[Kau mungkin bisa bertahan dan melewati setiap rencana yang aku lakukan. Tapi tidak dengan orang-orang terdekatmu.]


Aminah menghela nafas kasar.


'Sampai kapan Maya itu seperti ini.' gumam Aminah.


Meski pesan itu lagi-lagi bernada ancaman, namun hal tersebut tak lantas membuat Aminah gentar.


"Seperti yang Ibu dan Bapak katakan, aku hanya harus sabar." Ucap Aminah menyemangati dirinya sendiri.


...----------------...


Hari pernikahan Naya dan Anto tiba. Pagi-pagi sekali Aminah sudah berdandan dan menuju rumah Naya.


Naya tampil cantik dengan kebaya putih dan hiasan kepala yang ia kenakan. Aminah berusaha menahan haru, air matanya menggenang saat melihat Naya berjalan ke arahnya yang menunggu di ruang tamu.


"Kamu kenapa sedih gitu? Jangan bilang kamu nangis karena pengen kawin juga. Hahaha...." Ledek Naya.


"Hush... kamu tuh, ya gak lah. Aku cuma terharu aja lihat kamu yang tumben kelihatan cantik, sedikit sih. Lebih cantikan aku pastinya." Ucap Aminah terkekeh.


Naya spontan menepuk pundak sahabatnya itu.


"Akhirnya hari ini tiba juga, kamu bakal jadi isteri orang dan tinggal bareng suami kamu. Aku gak bisa usilin kamu lagi deh." Ucap Aminah dengan air mata yang jatuh tak tertahankan.


"Aaaa... Aku jadi ikutan mewek nih." Balas Naya berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.


Kedua sahabat itu berpelukan sambil mengusap air mata masing-masing.


"Loh...loh... Kok pada nangis toh. Nanti make up-nya luntur." Ucap Bu Mila yang baru keluar dari kamar. "Ayo jalan, nanti terlambat." Lanjut Bu Mila.


Aminah dan Naya tersenyum, keduanya pun melangkah keluar rumah bergandengan.


Di luar rumah sudah banyak tamu undangan yang akan ikut menghadiri akad nikah Naya yang berlangsung di sebuah masjid yang sudah ditentukan Anto.


Iring-iringan dari rumah Naya pun mulai berjalan menuju masjid. Perasaan haru dan bahagia nampak jelas di wajah Naya.

__ADS_1


Aminah bisa merasakan tangan sahabatnya itu bergetar karena gemetaran.


"Rileks aja, bukan kamu yang bakalan ucapin ijab qobul. Kamu cuma duduk santai aja." Ucap Aminah berusaha menenangkan Naya.


"Hehehe iya Min, tapi gak tau kenapa perasaan aku tiba-tiba kok gak enak gini ya." Ucap Naya yang raut wajahnya terlihat cemas.


"Hei, udah, tenang aja. Bismillah." Ucap Aminah mengelus tangan sahabatnya itu.


Naya mengangguk dan berusaha tersenyum.


Tiba di masjid. Tak ada satupun tanda-tanda bahwa di masjid itu akan dilaksanakan ijab qobul sebuah pernikahan. Tidak ada tenda ataupun orang-orang yang berlalu lalang. Masjid itu sepi dan sunyi.


"Kok sepi ya!" Seru Bu Wati.


Para warga yang ikut menjadi rombongan iring-iringan Naya mulai berbisik-bisik.


"Semuanya ayo kita masuk. Mungkin sudah ada orang di dalam, atau mungkin pengantin prianya telat sampai." Ucap Pak Haris berusaha menenangkan orang-orang yang terlihat gusar.


Rombongan pengantin pun masuk, namun di dalam masjid pun tak ada satu orangpun yang hadir. Hingga seseorang pengurus masjid pun mendekati rombongan.


"Permisi Pak, ini ada acara pernikahan ya?" Tanya Bapak pengurus masjid yang terlihat sudah sepuh itu.


"Iya Pak, tapi kenapa sepi ya?" Ucap Pak Haris.


"Maaf Pak, setahu saya acara ijab qabulnya batal disini. Soalnya kemarin teh ada orang yang datang ngasih tau kalau masjid ini gak jadi dipakai." Balas pria itu.


"Gak jadi? Ini maksudnya apa ya?" Tanya Bu Mila mulai panik.


Sementara rombongan yang lain mulai berbisik-bisik lagi.


"Semuanya tenang, lebih baik kita duduk dulu. Saya akan coba hubungin pihak pengantin pria." Ucap Pak Haris.


Pak Haris mencoba menghubungi Anto, tapi nomornya tak dapat dihubungi.


Terlihat jelas kecemasan di wajah Naya. Aminah kemudian berusaha menelepon Dani yang merupakan orang terdekat Anto. Sebenarnya Aminah tak pernah menghubungi Dani lagi, tapi kali ini dia terpaksa melakukannya.


[Maksud kamu apa? Aku lagi di jalan ini, bentar lagi nyampe. Nanti kita bicara disana aja.] Balas Dani.


Hubungan telepon pun terputus.


"Gimana Minah? Ada kabar dari Nak Anto?" Tanya Bu Mila panik.


Aminah menggeleng, membuat Bu Mila semakin khawatir.


"Dani udah di jalan, mungkin dia tau dimana Anto." Ucap Aminah.


Naya terlihat pasrah, ia berusaha menahan air matanya. Suara bisik-bisik dari para tamu undangan mulai terdengar menyesakkan dada.


"Gagal nikah kali..."


"Lakinya kabur mungkin..."


"Duh, kasihan si Naya..."


Tak lama Dani terlihat tergopoh-gopoh masuk ke dalam masjid.


"Nak Dani, dimana Anto? Kenapa tidak ada kabar?" Tanya Bu Mila.


"Maaf Bu, saya juga gak tau. Sejak tadi pagi saya coba hubungi nomornya, gak aktif. Saya sudah ke rumahnya, dia juga gak ada disana. Tetangganya bilang Anto sudah tidak terlihat sejak kemarin." Jawab Dani.


'Mas Anto kemana?' Naya membatin.


"Dan, kira-kira Anto kemana ya? Terus kenapa pengurus masjid sini bilang bahwa akad nikah disini tuh udah dibatalkan. Siapa yang batalin coba? Bukannya kamu yang bertanggung jawab atas acara pernikahan mereka?" Cecar Aminah dengan wajah kesal terhadap Dani.


"Demi Tuhan aku gak tau. Aku cuma mengurus untuk acara resepsi mereka minggu depan. Untuk akad nikah, Bang Anto bilang mau urus sendiri." Balas Dani.


Naya yang sedari tadi memegang ponselnya juga ikut berusaha menghubungi Anto. Namun sebuah pesan di akun berlogo biru membuat mata Naya memerah. Air matanya luruh tak tertahankan.

__ADS_1


'Tega kamu Mas.' batin Naya.


"Terus sekarang gimana Nak Dani? Anto dimana? Kenapa jadi begini?" Ucap Bu Mila dengan raut wajah khawatir.


"Sudah cukup, lebih baik kita pulang. Semuanya batal." Ucap Naya bangkit dari duduknya lalu berjalan seorang diri pulang ke rumahnya.


"Loh Nay, maksud kamu apa?" Tanya Aminah mengejar Naya.


Naya tak menjawab, dia malah memberikan ponselnya pada Aminah, kemudian berlari dengan air mata berlinang.


"Nayaaa, kamu kenapa Nak." Teriak Bu Mila yang mengikuti Naya yang berlarian.


Aminah sejenak termenung, dan membuka ponsel Naya.


Terdapat sebuah pesan dari akun bernama A


Deni Heriyanto.


[Maafkan aku Naya, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita. Aku sebenarnya tidak mau membuatmu kecewa, aku mencintai kamu. Tapi takdir tidak mengizinkan kita untuk bersama. Masa laluku datang dengan meminta pertanggung jawaban dariku yang sudah menyentuhnya. Sekali lagi maafkan aku.]


Aminah mengepalkan tangannya, raut wajah Aminah memerah tanda ia begitu marah dengan Anto.


"Ada apa ini Nak?" Tanya Pak Haris pada Aminah.


Aminah menghela nafas panjang.


"Nanti Aminah jelaskan di rumah Pak. Lebih baik, Bapak ajak semua rombongan untuk pulang. Karena acara ini sudah di pastikan gagal." Jawab Aminah.


"A-apa? Ga-..." mendadak Bu Wati jadi gagap.


Pak Haris memegang pundak Bu Wati.


"Ayo pulang." Ajak Pak Haris.


Rombongan pengantin yang lainnya perlahan berjalan pulang setelah diberitahu oleh Pak Haris. Gunjingan mulai mereka arahkan pada Naya yang ditinggalkan calon suaminya di hari akad nikah akan berlangsung.


Telinga Aminah menjadi panas karena omongan para warga.


Aminah dan Dani tak langsung ikut pulang melainkan mengobrol berdua di depan masjid.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Dani. "Kenapa Naya malah berlarian pulang?"


"Nih kamu lihat sendiri kelakuan sahabat kamu ini." Ucap Aminah dengan wajah emosi.


Mata Dani membelalak tak percaya.


"Gak, gak mungkin. Ini sudah jelas bukan Bang Anto."


"Maksud kamu? Gak usah coba bela-belain Anto deh. Kamu sama Anto tuh sama aja." Ucap Aminah kesal.


"Aku gak berusaha buat belain Bang Anto. Tapi demi Tuhan, aku yakin ini bukan Bang Anto. Sesuatu pasti tengah terjadi padanya. Perlu kamu tahu, Bang Anto gak pernah punya pacar. Apalagi sampai melakukan hal yang membuat dia harus bertanggung jawab seperti itu. Ini bukan Bang Anto." Ujar Dani.


"Kalau bukan Anto terus siapa? Nah, sekarang Anto-nya dimana?" Teriak Aminah murka.


"Aku benar-benar gak tau apapun, sumpah. Tapi aku yakin benar jika Bang Anto gak mungkin seperti ini." Ujar Dani lagi.


"Sudahlah. Kami sama Anto gak ada bedanya. Kalian sama-sama pria jahat." Ucap Aminah.


Aminah hendak berjalan pergi, namun Dani menggenggam tangannya.


"Aminah, tunggu dulu..." Ucap Dani.


"Lepasin aku. Aku yakin, ini semua ada hubungannya dengan kamu." Ucap Aminah.


"Apa maksud kamu?" Tanya Dani bingung.


"Tolong Dan, kembalilah sama mantan istri kamu yang gila itu. Aku sudah tidak mau kembali lagi sama kamu. Tolong mengertilah." Ucap Aminah lalu menarik paksa tangannya kemudian berlalu pergi meninggalkan Danu yang berdiri mematung di depan masjid.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2