Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Menggoda


__ADS_3

Sementara di dalam kamar, Rizal masih terkekeh geli sembari memasangkan kancing kemejanya.


'Haha, dia benar-benar lucu, aku hanya menggodanya tapi dia sudah gugup sampai mau pingsan seperti itu.'


Rizal memang hanya berniat menggoda Aminah dengan cara memeluknya dari belakang. Tapi ketika melihat bahu Aminah yang terbuka, juga leher jenjangnya yang terpampang indah di hadapan Rizal, ia mulai kehilangan akal sehatnya hingga akhirnya menjadi seperti itu.


'Untung saja aku bisa menghentikannya dan mengendalikan diriku sendiri. Ah, jika tidak. Entah apa yang akan terjadi di pagi yang cerah ini. Ya Tuhan, memikirkannya saja membuatku hampir gila.'


Rizal menghampiri koper berwarna silver yang tergeletak dalam posisi terbuka di atas ranjang. Aminah membereskan baju-bajunya ketika Rizal sedang mandi.


"Hem, istri yang baik. Kau mau membantu suamimu ini membereskan barang bawaannya hah?"


Rizal segera meraih koper silver itu dan memeriksa satu-persatu, apa saja yang Aminah masukan ke dalam kopernya.


“Kemeja biru, jeans biru, Hoodie biru, baju tidur biru. Lah, kenapa warna biru mendominasi koperku?” Gumam Rizal sembari mengacak-acak isi koper yang sudah Aminah rapikan itu. "Tunggu sebentar. Aku tidak menemukan barang-barang paling pribadi milikku. Mengapa bisa lupa hal terpenting seperti itu?"


'Hem, akhirnya hari ini tiba juga. Hari yang paling ku tunggu bisa berduaan dengan Aminah. Jika kami menikmati pantai pastinya panas terik akan lebih baik dari pada hujan. Selain itu, kami juga bisa menikmati sunset pantai yang pastinya saat indah. Aku benar-benar tidak sabar ingin segera sampai kesana.'


"Satu minggu penuh, ehm… honeymoon. Semoga saja akan menjadi hari-hari menyenangkan yang tidak terlupakan. Aku berharap kali ini kami berdua akan melakukan honeymoon seperti pasangan pengantin lainnya. Walaupun sebenarnya aku tidak yakin 100 % kami berdua benar-benar akan melakukannya disana. Mengingat sejak malam pernikahan, selalu saja ada penghalang saat akan melakukannya."


Setelah selesai bersiap, Rizal lalu turun kebawah.


“Aduh, aduh. Menantuku sudah selesai bersiap. Pastikan tidak ada yang tertinggal.” Teriak Pak Haris dari arah ruang makan.


Rizal masih melangkahkan kakinya dengan sedikit tergopoh-gopoh karena kedua tangannya menjinjing koper besar miliknya dan juga Aminah.


Tapi yang terasa lebih berat adalah koper milik Aminah. Rizal berpikir, apa saja yang dia bawa sampai seberat ini.


'Dia tidak memasukan meja riasnya ke dalam koper kan? Ya Tuhan, kenapa seorang wanita selalu saja merepotkan dirinya sendiri.'


“Em, Bu, Aminah masih mandi. Dan aku akan memasukan barang-barang ini kedalam mobil.” Rizal meletakan kedua koper itu dan berjalan menuju meja dapur, menuangkan segelas penuh air putih dan meneguknya sampai habis.


“Em, cepat bereskan setelah itu kita sarapan bersama” Ujar Bu Wati sembari meminum air putih, setelah itu Bu Wati mulai menyiapkan makanan.


Bu Wati meletakan sepiring besar nasi goreng diatas meja makan setelah itu, dia kembali dari dapur dengan membawa beberapa telor ceplok.


Rizal mengangguk singkat kemudian kembali membawa 2 koper besar itu menuju ke garasi dan meletakkannya di dalam mobil. Setelah itu Rizal kembali menuju ke meja makan dan duduk dengan tenang untuk menikmati sarapan. Rizal mengulurkan tangannya untuk menyendok nasi goreng yang terlihat sangat menggiurkan.

__ADS_1


“Bu, dimana Bapak?” Tanya Rizal dengan mulut yang masih penuh. Ia kesulitan untuk mendorong nasi goreng dan telor ceplok itu kedalam tenggorokannya.


"Bapak mu itu sedang asik membaca di ruang tengah. Tapi dari tadi Ibu sudah memanggilnya agar segera sarapan. Kau juga segera panggil Aminah agar dia segera turun.” Jawab Bu Wati sembari mengunyah telor ceplok.


“Em, mungkin dia belum selesai bersiap. Jika dia masih belum turun juga, aku akan menghampirinya ke atas." Ujar Rizal kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil segelas air putih yang terletak di depannya.


Sebelum meneguk air dalam genggamannya, Rizal menoleh kearah Bu Wati yang kali ini sedang memperhatikannya sembari tersenyum.


'Tapi kenapa senyumnya aneh sekali, seperti ingin mengatakan sesuatu. Ah entahlah.' pikir Rizal.


“Rizal ada yang ingin Ibu tanyakan padamu.” Ucap Bu Wati.


Bu Wati bangun dari kursinya lalu menghampiri Rizal kemudian duduk di kursi yang tepat berada di sampingnya. Rizal meliriknya dengan ekor matanya sedangkan ia masih sibuk meneguk air putih untuk mendorong nasi goreng yang sedikit sulit masuk ke tenggorokannya.


“Kau belum lagi melakukan itu padanya kan?” Ucap Bu Wati.


Uhugkh….. hgk…..


Air putih yang sedang mengalir di dalam tenggorokan Rizal tiba-tiba kembali keluar melawan arah.


'Ya Tuhan, selalu saja seperti ini. Kenapa Ibu suka sekali mengatakan hal yang membuatku jantungan. Untung saja aku tidak mati karena terkejut.' ucap Rizal dalam hati.


'Aish, pertanyaan macam apa itu?'


Bu Wati terlihat khawatir dengan keadaan Rizal dan langsung bangkit dari dudukannya untuk membantu Rizal menepuk punggung dan menghilangkan rasa sakit karena tersedak.


“Ah… ehm… cukup.” Jawab Rizal sembari menepuk-nepuk dadanya sendiri berusaha mengeluarkan sebuah suara dari mulutnya.


“Ah, Aminah sudah menceritakan semuanya pada Ibu. Isteri mu itu memang selalu bersikap seperti anak-anak di depan Ibu. Tapi Ibu rasa saat ini dia sudah sedikit bisa merubah cara berpikirnya. Dan Ibu yakin kau bisa , ehm… melakukannya dengan baik.”


Perkataan Bu Wati membuat wajah Rizal memerah seketika.


'Mengapa membicarakan hal seperti itu di meja makan, membuatku tidak nyaman saja.'


“Ehm.., ya..” Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Rizal, tidak tahu harus menjawab seperti apa. Yang pasti Rizal memang sudah kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan semacam itu.


“Baiklah, sekarang mungkin dia sudah selesai. Coba kau panggil dia agar segera turun dan sarapan. Pesawat kalian akan berangkat pukul 10 kan. Ini sudah jam 8. kalian bisa terlambat pergi ke bandara” Ujar Bu Wati kemudian bangkit dari posisinya dan kembali ke tempat duduknya.

__ADS_1


Rizal menaruh kembali sendok nasi goreng di atas piring. Dan segera bangkit dari posisinya kemudian berjalan menuju kamar.


Rizal membuka pintu kamarnya dan menemukan Aminah yang sedang berdiri tepat di depan cermin meja rias kesayangannya. Aminah itu gadis feminim walaupun dia tidak sering menggunakan make up tapi dia sangat memperhatikan penampilannya agar terlihat sempurna.


'Dan itu lah yang aku tidak suka darinya. Selalu saja membiarkan kecantikannya itu dinikmati oleh semua orang.' Ucap Rizal dalam hati.


“Kau masih sibuk? cepat keluar! Ayo kita sarapan.” Rizal berjalan mendekat ke arah Aminah kemudian duduk di pinggir ranjang tepat di belakangnya yang sedang berdiri di depan cermin.


Rizal memperhatikan gerakan Aminah dari pantulan cermin yang menghadapnya. Aminah masih sibuk mengatur letak scarf yang melingkar di lehernya.


'Aneh, Mengapa musim panas menggunakan syal seperti itu.'


“Kau ini korban fashion, atau memang tidak mengerti geografi huh? Ini musim panas. Jika kau menggunakan syal seperti itu, terlihat sangat aneh” Ujar Rizal dengan nada mencibir.


Rizal bangkit dari posisinya dan menyilangkan kedua tangan di dadanya kemudian memutari tubuh Aminah. Aminah yang kesal akhirnya berbalik menatapnya dengan tajam. Kemudian menarik syal nya hingga terlepas.


“Ini semua gara-gara mu Rizal. Kau yang membuatnya seperti ini.” Ucap Aminah kesal.


Aminah menunjuk beberapa tanda merah yang ada di lehernya.


'Haha, aku tidak menyangka akan berbekas seperti itu. Apa ciumanku tadi pagi benar-benar sebuas itu sampai tanpa merah menjalar di lehernya. Apa aku ini vampir?' Ucap Rizal dalam hati.


“Ahahaha, aku tidak menyangka akan meninggalkan bekas seperti itu” Ujar Rizal sembari terkekeh puas hingga terbungkuk-bungkuk dan memegangi perutnya sendiri.


Aminah yang kesal akhirnya meninju pelan lengan Rizal sehingga membuatnya kembali tegak dan segera menghentikan tawanya yang menggema di dalam kamar.


“Kau harus bertanggung jawab.” Aminah menggembungkan pipinya dengan kesal dan mengerucutkan bibir mungilnya.


'Ya Tuhan, jika seperti ini, aku malah ingin mencium mu Nyonya Rizal.'


“Maaf, aku kira tidak akan berbekas seperti itu. Sini aku bantu mengenakannya.” Rizal menarik kedua tangan Aminah agar mendekat kearahnya kemudian mengambil syal dalam genggamannya dan melingkarkan di lehernya untuk menutupi tanda merah itu.


“Sayang...” Rizal menyingkirkan poni Aminah dengan tangan kanannya.


Rizal kemudian mengecup dahi indah favoritnya. Beberapa saat ia menahan bibirnya disana, membuat Aminah sama sekali tidak bisa berkata-kata. Rizal benar-benar sangat mencintai gadis di hadapannya ini.


'Kurasa aku benar-benar tidak bisa terlepas darinya, karena ikatannya padaku terlalu kuat.'

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2