Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)

Aminah (Antara Mantan & Masa Depan)
Bertemu Lagi


__ADS_3

Pagi hari....


Aminah kembali bisa bekerja setelah kemarin seharian ia beristirahat di rumah karena kurang enak badan. Kebetulan hari ini ada borongan paket jajanan dari langganan, jadi toko tutup sangat awal. Hal itu pun dimanfaatkan Aminah untuk pergi ke pantai.


Seperti biasa, jika ada waktu luang, Aminah lebih sering pergi ke pantai. Sementara Naya lebih memilih pulang ke rumahnya.


Aminah tengah duduk di pinggir pantai. Saat ponselnya bergetar.


[Tengok kanan.]


Alis Aminah saling mengait membaca sebuah pesan dari Dani. Tapi Aminah tetap mengikuti titah Dani. Di saat menoleh, tak jauh Aminah melihat ada sosok pria mengenakan kaos oblong berwarna hitam yang tengah menatap kearahnya. Kemudian pria itu berdiri dan duduk di samping Aminah.


"Mungkin ini yang namanya jodoh," Ucap Dani dengan senyum mengembang di bibirnya.


'Jodoh kepalamu. Bilang aja kalau kamu ngikutin aku.' ucap Aminah dalam hati.


Aminah hanya bisa memutar bola mata malas.


"Tadinya aku mau ke rumah teman aku, tapi entah kenapa tiba-tiba pengen mampir kesini tadi pas lewat," lanjut Dani.


Sepanjang waktu Dani banyak bercerita, seakan menganggap tidak ada apa-apa yang terjadi di antara mereka.


Sementara Aminah tak banyak menanggapi dan lebih banyak diam. Aminah takut terlalu menggunakan hati lagi ketika tengah berbicara atau bercanda dengan Dani.

__ADS_1


'Aku harus lebih berhati-hati, karena dulu pernah ku suguhkan hati padanya dengan sungguh-sungguh, tetapi ternyata ia hanya singgah dan meninggalkan luka.' ucap Aminah lagi dalam hati.


Aminah juga mengingat momen dimana wanita yang mengaku sebagai istri Dani datang ke rumahnya kemarin. Tapi Aminah tak mau membahas tentang kejadian itu pada Dani, karena dia tak mau membuat semuanya menjadi semakin panjang.


"Aminah.... bangun."


Suara seseorang berbarengan elusan lembut di kepala, membuat Aminah mengerjap beberapa kali.


'Ah, sepertinya aku ketiduran.' ucap Aminah dalam hati.


Saat sepenuhnya sadar, Aminah langsung menjauhkan kepalanya yang bersandar di pundak Dani. Dani lalu tampak menggerak-gerakkan bahunya pelan.


"Maaf," Ucap Aminah tak enak hati.


'Pasti dia pegal menopang kepalaku yang entah sejak kapan bersandar di sana.' pikir Aminah.


Tanpa menunggu persetujuan Aminah, tangan Dani mengambil alih tas Aminah dan membawanya.


Aminah menatap punggung Dani dengan perasaan tak karuan. Memori masa lalu kembali berputar dan membuatnya membenci keadaan saat ini. Rasanya Aminah ingin menolak takdir yang tengah datang padanya saat ini, tetapi itu tak akan mungkin.


"Takdirmu, pasti berjalan ke arahmu. Meski harus berkelok dan melewati banyak rintangan, Nak. Tugasmu hanya yakin dan percaya, kalau itu adalah yang terbaik menurut-Nya. Jangan membenci takdir, meski itu sangat menyakitkan, karena kita tidak tahu hadiah apa yang terbungkus di dalamnya." Ucapan Pak Haris kala itulah yang membuat Aminah sedikit demi sedikit memaafkan Dani. Meski dengan separuh hati.


"Aminah...!"

__ADS_1


Terdengar teriakan Dani diikuti oleh tarikan yang membuat Aminah terlonjak kaget. Tangan keduanya saling mengait erat, bukan Aminah, tetapi Dani yang lebih mendominasi genggaman itu.


"Tempat sampah segede itu nggak kelihatan? Ngelamun? Mikirin apa?" Dani mengomel sambil terus menggenggam tangan Aminah dengan erat.


Aminah menarik tangan dari genggaman Dani dan langsung berjalan mendahului dirinya.


'Andai lima tahun yang lalu ia juga menggenggam tanganku erat seperti ini, mungkin aku tak akan se kecewa seperti sekarang. Salahku memang, yang terlalu tinggi menaruh harap kepada manusia, dan akhirnya berujung kecewa.' ucap Aminah dalam hati.


"Kamu bebas menjauh dan aku bebas untuk mengejar." Dani berjalan menyusul dan kembali menggenggam tangan Aminah. "Aku antar sampai rumah, bahkan sampai di depan bapak dan ibumu." Ucap Dani serius.


...----------------...


Rencana hanyalah rencana, Aminah inginnya cepat-cepat pulang, tetapi Tuhan mengirimkan hujan deras untuk mematahkan rencana itu.


Suara derasnya hujan di luar sana, menemani gusarnya hati Aminah. Setelah berkali-kali ditolak oleh ojek online, bahkan Pak Parman, ojol langganannya tak bisa dihubungi. Aminah menjadi pasrah menunggu hingga hujan reda untuk bisa pulang.


Aminah menarik napas panjang, lalu menatap tangan kanan yang beberapa saat lalu digenggam Dani, sebelum akhirnya ia menariknya lagi.


Untuk kedua kalinya Aminah menarik napas panjang lalu dihembuskan perlahan. Tersadar, kalau orang bisa datang dan pergi sesuka hati, tetapi tidak dengan kenangannya.


Sedetik kemudian, tampak gelas berisi minuman yang masih mengepulkan asap tersodor di hadapan Aminah. Tanpa menatap si pemilik tangan putih itu, Aminah sudah tahu siapa pemberinya, lantas Aminah menerima gelas tersebut dan mengucapkan terima kasih.


Aminah menggenggam gelas dengan kedua tangannya, agar hangatnya sedikit mengurangi rasa dingin di tangan.

__ADS_1


Berkali-kali Dani menawarkan Aminah untuk pulang menggunakan mobilnya, namun terus saja ditolak Aminah.


Bersambung...


__ADS_2