
Cuit... cuit... citt..
Suara burung yang hinggap di ranting pohon tepat di samping kamar Alyosha bernyanyi merdu. Nyanyian setia dari para burung di pagi hari selalu memberikan suasana khas bagi Alyosha. Lebat daun pada pohon dan sinar matahari yang lembut membuat ia sulit dalam melihat jenis burung apa yang selalu menemani pagi Alyosha.
Hari ini hari libur, waktunya Alyosha latihan setelah empat kali berturut tidak mengikuti latihan bela diri rutin. Selesai ia membersihkan badan ia mengecek luka di dahi kanannya yang sudah mulai pulih tetapi masih perlu ditutup perban agar terhindar dari bakteri dan debu.
Alyosha membersihkan seluruh ruangan rumah dan menyiapkan sarapan. Gauri masih terlelap dalam tidur setelah pulang larut malam lagi.
Alyosha menuliskan surat di atas kertas origami dan meletakkannya di meja makan seperti biasa, agar Gauri dapat menyesuaikan aktivitas harian dengan perintah Alyosha. Karena Gauri harus diingatkan seluruh kegiatan yang akan ia lakukan agar tidak melakukan hal hal yang membahayakan orang lain karena efek dari mabuk.
Sambil menuju tempat ia latihan, Alyosha berlari lari kecil sekalian melakukan pemanasan. Selain berlari sebagai pemanasan ia juga dapat menyapa pejalan kaki yang ia jumpai atau sekedar menebar senyum ramah menjalin relasi antara sesama.
Latihan bela diri sudah Alyosha lakukan dari saat ia duduk dibangku SMA. Ia berlatih bela diri sesuai dengan manfaat bela diri yaitu untuk menjaga diri sendiri dan orang sekitar dari perbuatan orang orang jahat.
Semenjak ibu meninggalkan Alyosha dan Gauri saat ia berumur 12 tahun, mereka berdua hanya bisa bergantung satu sama lain. Tetapi tidak setelah Alyosha masuk SMA. Gauri sudah mulai mabuk mabukan dan mengabaikan Alyosha juga perusahaan Gauri. Gauri hanya bergantung pada Alyosha dan Alyosha bergantung pada dirinya sendiri.
Di kota S yang ia tempati, tidak jarang terjadi pelecehan seksual, pemerkosaan dan hal hal jahat lain. Setiap korban dari kejahatan selalu wanita. Jika para wanita membela diri sendiri, banyak cibiran tetangga yang di lontarkan pada korban.
Itu salah kamu yang keluar malam, sudah tau wanita tetapi masih keluar malam juga!
Lihat cara berpakain wanita itu seksi sekali. cara berpakaian yang seperti itu bagaimana tidak memancing lelaki hidung belang !
Masih banyak opini lain yang selalu membenarkan kejahatan dan menyudutkan korban. Membuat banyak korban mengalami gangguan pada kesehatan mental mereka. Tetapi di sisi lain Alyosha membenarkan cibiran masyarakat pada wanita karena ia telah mengalami hal tersebut.
Jika kejahatan di usut sampai kursi pengadilan, para penjahat biadab akan mengancam keluarga dari korban.
Yang lebih miris ialah jika korban merupakan dari keluarga yang kurang berada. Mereka hanya bisa menahan amarah pada diri sendiri.
Sungguh sangat miris, tetapi wanita adalah manusia kuat yang Alyosha tahu seperti dirinya sendiri.
Karena ia merasa apapun yang terjadi dalam hidup tidak bisa selalu bersandar pada orang lain, terkadang suatu waktu seseorang harus mengandalkan diri sendiri untuk menyelesaikan sebuah masalah.
__ADS_1
Tidak terasa setelah lima belas menit Alyosha berlari akhirnya ia sampai ke tempat pelatihan. Ia melihat tim lain sudah berkumpul di lapangan.
“selamat datang Alyosha. Setelah sekian purnama tidak latihan akhirnya latihan juga” ucap Dafa menyambut Alyosha.
“hai semua, maaf saya baru bisa latihan hari ini. Akhir akhir ini saya punya banyak urusan. Latihannya langsung kita mulai saja deh” Ujar Alyosha canggung.
“baik kita latihan mulai dari yang sedang terlebih dahulu. Setelah latihan sedang, kalian harus berlari mengelilingi lapangan lima kali putaran dan untuk pendinginan bisa dipandu Alyosha” Ujar Dafa menjelaskan kegiatan hari ini.
Setelah berlatih dan pendinginan, Alyosha beristirahat sejenak disamping Dafa.
“bagaimana kabarmu akhir akhir ini Alyosha?” Tanya Dafa memulai percakapan.
“terlalu banyak yang harus di urus Daf, seperti yang kamu tahu aku harus menjaga ayah”
“apakah ayahmu masih tetap mabuk setiap hari?” tanya Dafa
“begitulah” ujar Alyosha memelas.
“bersabarlah, semua pasti akan menjadi baik pada waktunya. Dua minggu lagi ada olimpiade yang harus aku ikuti."
"di negara L. Tahun ini mereka mengajukan diri sebagai tuan rumah. Bisakah kamu menggantikan aku untuk sementara waktu melatih anggota kelompok yang lain?” tanya Dafa
“hanya untuk waktu tiga minggu saja. Kuharap kamu bisa membantuku” lanjut Dafa
“baik, akan aku usahakan menggantikanmu untuk sementara waktu. Semangat ya untuk olimpiade yang akan kamu ikuti. Kamu harus bawa banyak kemenangan, jangan lupa.” Ujar Alyosha menyemangati Dafa.
“iya, aku janji akan membawa kemenangan yang banyak sesuai permintaan kamu. Dan ada yang harus aku beritahu padamu mengenai satu hal yang sangat penting setelah pulang olimpiade.” Ujar Dafa.
Dafa menatap Alyosha dengan lekat lalu mencubit hidung Alyosha. Membuat Alyosha merasa bingung dan malu.
“oke aku sangat menantikannya” ujar Alyosha memalingkan wajah dari Dafa.
__ADS_1
Mereka terdiam sejenak lalu Alyosha memberikan gantungan kunci berbentuk bunga matahari dari ponsel miliknya untuk Dafa.
“tanda penyemangat dariku dan jika kamu merindukanku kamu bisa melihat bunga matahari ini. Tandanya aku selalu berada disampingmu” ujar Alyosha malu.
Alyosha mengangkat jari kelingking untuk membuat janji pada Dafa. Lalu Dafa menyambut dengan jari kelingking Alyosha dan berjanji selalu ada untuk satu sama lain. Mereka berdua pun tertawa bersama.
“Hari sudah mulai sore. Kita harus pulang sekarang, aku antar kamu pulang ya" ajak Dafa.
Alyosha dan Dafa berjalan bersamaan menuju tempat parkir. Dafa mengenakan helm kuning pada Alyosha.
"kenapa aku merasa tubuh kamu makin pendek" ujar Dafa setelah memakaikan Alyosha helm.
"kamu kali yang ketinggian. Tinggi tubuhku udah normal buat ukuran wanita idaman pria" ujar Alyosha membela diri.
"iya deh, kamu memang idaman para pria." ujar Dafa menggoda Alyosha.
Alyosha menaiki motor mahal milik Dafa. Dia adalah anak dari pelatih sepak bola internasional. Ayah Dafa telah banyak melahirkan atlet sepak bola yang sudah menjuarai dunia berturut turut selama dia menjadi pelatih.
Dalam perjalanan pulang Dafa membelikan makan malam untuk Alyosha dan Gauri, tidak lupa juga membelikan minuman susu coklat kesukaan Alyosha.
Alyosha memberikan helm milik Dafa sesampai di rumah Alyosha.
“Makasih yah udah nganterin aku sampai rumah. Makasih juga buat makanan dan susu coklatnya. Kamu hati hati dijalan”ujar Alyosha pada Dafa.
Dafa menganggukkan kepalanya.
"kamu buruan masuk gih. Bersihin badan dan istirahat. Besok kamu mau kuliah lagi kan." ujar Dafa.
Alyosha pun masuk ke dalam rumah dengan Dafa yang masih memperhatikan Alyosha di atas motor miliknya. Setelah Alyosha menghilang di hadapan Dafa, ia lalu mengendarai motornya pulang.
Alyosha meletakkan makanan yang dibelikan Dafa di dapur. Alyosha lalu membersihkan badan. Selesai membersihkan badan Alyosha makan dan belajar di dalam kamar.
__ADS_1
Alyosha membuka lembar demi lembar buku yang berjudul sebuah tumbuhan. Buku yang berisikan beberapa tumbuhan dengan penjelasan yang runtut mengenai tumbuhan yang akan di bahas pada setiap babnya.
Ia paling suka belajar tentang tumbuh tumbuhan. Selain banyak ilmu yang ia dapat dari membaca buku, ia juga banyak belajar dan mempraktekkan ilmu tentang tumbuhan di toko herbal tempat ia bekerja.