
Saat jam istirahat di perusahaan, Eric, Galen dan Nathan melakukan pemeriksaan lahan yang akan dibangun secara langsung bersama kepala desa Hala. Mereka mendatangi kantor kepala desa untuk meminta bantuan dalam menjalankan pembangunan perusahaan.
Diperjalanan menuju sekolah dan pusat kesehatan yang lama, Eric dan lainnya berpapasan dengan beberapa pekerja kantor perusahaan. Mereka menyapa Eric dan lanjut berjalan sambil berbincang bincang menuju perusahaan manufaktur. Sekilas Eric mendengar mereka tampak kecewa karena seorang anak kecil yang tidak bernyanyi saat mereka makan di sebuah rumah makan.
Orang dewasa seperti mereka sangat menantikan seorang anak bernyanyi berarti anak tersebut sangat berbakat. Kalau bukan berbakat berarti anak itu cantik atau sebagainya, pikir Eric.
“karena anak anak masih belajar di kelas masing masing, bagaimana jika kita menunggu mereka pulang terlebih dahulu karena saya takut itu dapat mengganggu pembelajaran mereka nantinya?” ujar kepala desa.
“saya tidak memaksa tuan Eric. Hanya memberikan saran saja karena anak anak desa Hala sudah terbiasa belajar dalam keadaan sunyi” lanjut kepala desa.
“tidak masalah, saya juga memiliki banyak waktu karena ini masih jam istirahat di kantor saya” ujar Eric
“benar sekali pak kepala desa. Kita memang harus menjaga suasana saat anak anak sekolah sedang belajar agar lebih kondusif”ujar Nathan.
“kalau begitu kita makan terlebih dahulu sambil menunggu jam pulang mereka. Hanya ini satu satunya rumah makan yang ada di desa kami”
“saya mendengar pekerja perusahaan kami saat lewat tadi mengatakan ada seorang anak kecil yang suka menyanyi di sebuah rumah makan. Apakah ini rumah makan tersebut?” tanya Galen.
“benar sekali pak Galen, ini adalah rumah makannya. Jadi pak Eric, pak Galen dan pak Nathan ingin memesan makanan apa?” ujar kepala desa.
Eric, Galen dan Nathan mengambil posisi nyaman sambil melihat menu menu yang tertera. Setelah menuliskan pesanan mereka, kepala desa memberikan pesananannya pada pemilik warung. Para pengunjung baik dari penduduk desa Hala juga para pekerja perusahaan Eric memadati rumah makan kecil itu. Mereka tampak menyantap makanan yang sudah dihidangkan dengan lahap. Karena pengunjung yang terlalu banyak membuat mereka menulis dan memesan pesanan sendiri.
“Udara di sini sejuk sekali membuat pikiran menjadi jernih” ujar Galen.
“ini adalah desa impian sejuta umat. Banyak para pengunjung berdatangan ke desa ini untuk menghilangkan stress dan lelah mereka.” Ujar Nathan
“karena itulah aku bermaksud untuk merancang perusahaan kita dengan nuansa desa agar tidak mencoreng keindahan desa ini” ujar Eric
“sepertinya aku akan betah jika tinggal dan bekerja disini” ujar Galen
__ADS_1
“saya sangat mendukung keinginanmu” ujar Nathan tampak senang karena dapat berpisah dengan Galen.
“jika kamu memang berniat seperti itu , kamu boleh saja menjadi pemegang perusahaan baru ini”
“kak Eric beneran ngomong begitu, Galen sangat senang. Lagi pula kan aku juga sedang berusaha untuk tidak selalu mengikuti dan berada di dekat kakak. Aku ingin memulai kehidupan sendiri supaya bisa mandiri.”
“iya, terserah kamu. Semua pilihan itu ada ditanganmu karena kamu yang akan menjalaninya”
Setelah beberapa menit mereka menunggu pesanan akhirnya datang. Kepala desa juga ikut serta membantu membawakan hidangan makanan yang mereka pesan diikuti pemilik rumah makan yang berjalan di belakangnya. kepala desa dan pemilik rumah makan tersebut meletakkan makanan di atas meja. Aroma makanan yang wangi membangkitkan selera mereka bertiga.
“oke disini saja Alyosha”ujar kepala desa.
“selamat menikmati hidangan, terima kasih pak sudah membantu saya” ujar Alyosha.
Alyosha lalu menyunggingkan senyum seperti biasa pada setiap pembeli saat ia menghantarkan pesanan pembeli tersebut. Ia membelalakkan mata tidak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya. Buru buru Alyosha menutup mukanya dengan nampan yang ia bawa. Ia berharap tidak dikenali oleh mereka bertiga.
Eric, Galen dan Nathan juga merasa kaget setelah menyadari wanita yang berada di hadapan mereka adalah Alyosha. kepala desa merasa bingung melihat tingkah laku Alyosha dan ketiga tamunya. Mereka saling bertatapan satu sama lain.
“be..”ucap Eric
“tidak kok pak, saya tidak mengenali mereka” ujar Alyosha buru buru menghentikan perkataan Eric.
“oh saya kira kalian saling kenal, kalau begitu kamu duduklah di bangku yang kosong itu. saya akan mengenalkan kamu dengan mereka bertiga” ujar kepala desa
“tetapi pak..”
“tidak apa apa Alyosha, kelak mereka juga akan berurusan dengan kamu. Lagian pelanggan yang lain juga sedang menyantap makanan mereka jadi kamu kan tidak terlalu sibuk”
Alyosha dengan canggung duduk di kursi kosong samping Eric. Ia tidak bisa menolak perintah kepala desa yang sudah memberikannya banyak bantuan selama ia tinggal di desa Hala. Nathan menginjak kaki Galen yang terus menatap Alyosha dengan lekat.
__ADS_1
Jantung Eric berdegup dengan kencang dan perasaannya sudah tidak karuan. Jarak yang sangat dekat dengan Alyosha membuat Eric dapat merasakan udara hangat dari Alyosha. Wanita yang ia cari selama ini ternyata berada di surga Negara M yaitu desa Hala. Ia tidak menyangka jika mereka berdua bertemu dengan suasana canggung seperti ini.
Wanita yang pergi tanpa kabar dan tidak tahu apa alasannya meninggalkan kota S begitu saja. Entah berapa lama ia sudah tinggal di desa Hala ini. Eric juga tidak tahu apa maksud dari Alyosha yang mengatakan jika ia tidak mengenali Eric. Ia hanya bisa mengikuti alur dari Alyosha.
“ini adalah pemilik perusahaan manufaktur yang berada di desa sebelah namanya pak Eric. Ada pak Galen dan juga pak Nathan. Nah pak Eric dia adalah pemilik rumah makan ini namanya Alyosha. sudah saya anggap sebagai anak sendiri semenjak ia datang ke desa kami ini.” Ujar kepala desa.
“hai Alyosha saya Galen. Sedang bertemu dengan anda. kami sangat berharap dapat lebih sering berjumpa dengan anda.” ujar Galen
“iya pak Galen saya juga berharap seperti itu” ujar Alyosha dengan canggung.
Teng... teng... teng...
Suara bel berbunyi menandakan waktu pulang untuk anak sekolah. Para orang tua yang menunggu anaknya pulang sekolah sambil makan di rumah makan Alyosha mulai bersiap siap menjemput anak mereka.
“kalau begitu saya izin undur diri karena pelanggan saya sudah mau membayar pesanan” ujar Alyosha.
“baik... baik... silahkan Alyosha” ujar kepala desa.
Alyosha bergegas meninggalkan mereka yang melanjutkan makan. Ia kemudian membereskan meja meja yang sudah ditinggalkan para pelanggan. Sesekali Eric menatap Alyosha yang sedang bersih bersih.
Alyosha mempercepat gerakannya agar cepat selesai, ia lalu melirik Eric dan tidak sengaja tatapan Alyosha bertemu dengan tatapan Eric. Tatapan dari Eric itu membuat Alyosha menjadi salah tingkah. Tidak berapa lama Eric dan yang lain menyelesaikan makanannya lalu mereka pergi setelah membayar pesanan mereka.
“mama... Ocha pulang”
“mama... Aarav juga sudah pulang”
Ocha pulang dengan riang gembira dan tidak dengan Aarav. Wajah Aarav yang di tekuk dan raut wajah memelas berjalan lesu. Mereka berdua menyalami Alyosha setelah sampai di rumah. Ocha dan Aarav membuka sepatu bersamaan lalu menaruh tas di kamar mereka.
“jangan lupa ganti seragam sekolah dengan pakaian biasa. Makan siang juga sudah mama siapin di atas meja, setelah berganti pakaian lalu kalian makan. Mama akan mengantar pesanan dulu ke pusat kesehatan, jangan lupa untuk makan.” ujar Alyosha pada Ocha dan Aarav.
__ADS_1
“baik mam, mama berhati hatilah di jalan” saut Ocha dan Aarav.
Alyosha meletakkan pesanan makanan di keranjang yang berada di atas sepedanya. Alyosha lalu mengayuh sepeda dengan membawa pesanan makan siang ke pusat kesehatan.