Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Perempuan Malam Itu


__ADS_3

Alyosha langsung bangkit dan berterima kasih pada Nathan dan Galen lalu beranjak pergi. Ia enggan untuk berterima kasih pada pria dengan wajah kejam yang menggendongnya.


“Alyosha tunggu sebentar? biar aku antar kamu sampai bawah" ujar Galen.


Galen menghampiri Alyosha. Alyosha menganggukkan kepala dan berjalan keluar bersama Galen. Sebelum keluar Alyosha melirik Eric yang sedari tadi hanya duduk di sofa. Eric melihat Alyosha dengan tatapan tajam. Ia langsung bergidik dan cepat cepat melangkah keluar. Ia kembali mengurungkan niat untuk mengatakan terima kasih pada Eric.


Didalam lift, Galen yang berada disamping Alyosha memperkenalkan diri .


“kenalin aku Galen Digna. Aku berharap kita dapat bertemu kembali. Kalau kamu butuh bantuan kamu bisa menghubungiku ” ujar Galen sambil memberikan kartu namanya.


“saya Alyosha Gauri mahasiswi Arashi jurusan tataboga”


Alyosha menerima kartu nama yang di berikan Galen. Galen Digna seorang manajer di perusahaan Digna.


Galen memiliki nama akhir Digna, berarti dia adalah pemilik perusahaan Digna. tetapi kenapa dia menjabat sebagai manajer dan bukan CEO?


Alyosha bertanya dalam hati. Ia tidak ingin menanyakan langsung pada Galen takut membuat Galen tidak senang. Setelah lift terbuka, sudah ada Meera yang sedang berdiri menunggu Alyosha. Meera juga membawakan barang barang milik Alyosha. Alyosha dan Galen berjalan menghampriri Meera.


Meera langsung memberikan mantel milik Alyosha, lalu Alyosha memakai mantel agar baju putih yang terkena noda darah tertutupi.


“terima kasih tuan Galen sudah membantu Alyosha dan mengantar Alyosha sampai lantai dasar. Kenalin saya Meera sahabat Alyosha.”


ujar Meera mendahuluiku untuk berterima kasih pada Galen.


“kamu tidak perlu berterima kasih karena itu sudah kewajiban seorang pria mengantar seorang wanita cantik agar aman sampai tujuan. Mantel yang Alyosha pakai juga sangat bagus.” Ujar Galen lalu berbalik pergi.


Alyosha terdiam sekejap lalu menarik tangan Meera yang masih berdiri dan menatap pria ramah itu pergi. Alyosha mengeluarkan ponselnya, terdapat 15 panggilan tidak terjawab dari ayah.


“halo Dafa, aku harap kamu mendengarkan pesanku. Maaf aku belum bisa latihan hari ini. Besok pagi aku janji akan ikut latihan. Sorry Daf"


Alyosha mengirimkan pesan suara pada Dafa teman latihan bela diri yang ia jumpai tadi pagi.


Meera kembali ke parkiran mengambil mobil miliknya. Mereka berdua pun melaju pulang.


...***...

__ADS_1


Selesai membereskan peralatan untuk mengobati gadis tadi, Nathan menghubungi karyawan melalui telepon perusahaan yang sudah tersambung pada seluruh karyawan. Ia meminta seorang karyawan membawa pakaian ganti dan kopi keruangan Eric.


“bro kamu tau gak siapa cewek yang barusan aku obati?” tanya Nathan duduk disamping Eric


“gak tau. Lagian baru jumpa juga” ujar Eric dengan ketus.


“jadi kok kamu bisa menggendong dia. Apalagi wanita itu sedang terluka sampai berdarah. Bukan hanya sampai disitu, kamu bahkan membawa dia ke kantor pribadi kamu ini. Tidak pernah aku dengar dan lihat seorang wanita di izinkan masuk ke kantor pribadi CEO perusahaan Digna. Hingga orang yang kamu sukai, Viana juga dilarang masuk dan hanya boleh berjumpa di ruang tamu perusahaan.” Lanjut Nathan panjang lebar.


“Nathan. kamu gak seperti biasanya" uja Eric


“emang aku gimana biasanya?, Kok kamu sepertinya paham sekali tentang aku. Ehm.. aku lihat jadwal hari ini dulu, kamu lanjut saja kegiatan lainnya.” ujar Nathan sedikit gelisah mengalihkan pembicaraan.


“apa yang kamu sembunyikan?” tanya Eric


Nathan mulai salah tingkah. Dia lupa kalau Eric tiga kali bertemu saja dapat mengerti gerak gerik seseorang. Apalagi dia yang sudah dari kuliah berteman dengan Eric.


Tetapi untung saja dia diselamatkan oleh Galen yang datang setelah mengantar gadis tadi.


“kalian pasti penasaran apa yang barusan aku lihat” ujar Galen antusias


“eitss ada syaratnya. Syaratnya adalah kalian harus bantu aku jadian sama cewek yang tadi” Pinta Galen


Uhkk.... Eric tersedak kopi yang ia genggam yang sudah disediakan oleh Nathan sebelum Galen datang.


“sejak kapan tipemu menurun menjadi gadis rendahan. oh iya aku lupa kamu adalah playboy kelas kakap” ujar Eric menyindir Galen.


“kali ini aku beneran suka kak. Alyosha adalah tipe wanita yang selama ini aku cari. Aku gak bisa mengalah sama kakak bagaimana pun juga.” Ujar Galen serius.


“siapa juga yang ma...”


Mulut Eric langsung ditutup oleh Nathan. Hari ini Nathan benar benar tampak asing. Pria cuek dan pendiam seperti dia terlalu banyak bertingkah hari ini dan begitu cerewet.


“kamu lihat apa tadi” ujar Nathan dengan cepat, dia mengabaikan tatapan tajam Eric.


“ternyata yang membawa mantel malam milik Eric adalah gadis yang digendong Eric ke kantor barusan. Tapi kenapa bisa ada di tangan Alyosha ya?” ujar Galen penasaran.

__ADS_1


Eric langsung berdiri dan menyuruh Galen keluar dari ruangan Eric. Ia melempar semua barang yang ada dihadapannya. Eric teringat kejadian pada malam hari di taman. Kejadian yang terus menghantui Eric sampai sekarang karena penasaran siapa gadis yang membuat ia terus merasa bersalah.


Apalagi saat malam itu berada didekat Alyosha membuat Eric merasa nyaman. Saat berada diruangan logistik tadi, Eric juga merasa ada aura dari wanita malam itu makanya tiba tiba mendekati Alyosha.


“KAMU KENAPA TIDAK MEMBERITAHUKU DARI AWAL KALAU DIA WANITA YANG ADA SAAT MALAM ITU?” ujar Eric marah.


“aku juga tahu setelah kamu membuat luka di dahinya berdarah" Ujar Nathan


“Haiss....wanita itu terus menghantuiku dan memberikan rasa bersalah. Dan kamu tahu kalau aku tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Itu semua salahmu” Cetus Eric menunjuk Nathan.


"kenapa dia tidak datang untuk memintaku bertanggung jawab ?" tanya Eric.


"saya sudah memberikan nomor yang bisa ia hubungi. Tapi sampai detik ini dia belum menghubungi nomor tersebut" ujar Nathan


Walaupun Eric tahu Nathan melakukan semua itu karena sangat mementingkan keadaan Eric. Sampai Nathan lebih sayang Eric dari pada dirinya sendiri.


Drtt...drtt..


Suara telepon kantor berdering mengalihkan suasana antara Eric dan Nathan. Nathan buru buru mengangkat telepon tersebut.


“halo kakek. Eric ada disini dan sedang tidak sibuk. Sebentar saya akan memanggil Eric" Ujar Nathan.


Jika kakek Eric sudah menelepon pribadi pada Eric menandakan ada urusan penting yang harus dilakukan.


“hallo kakek, saya Eric”


“kamu harus datang ke kediaman kakek tiga hari lagi. Ada urusan mendadak yang wajib kamu hadiri sendiri dikediaman ini” ujar kakek diujung telepon.


“baik kek, Eric akan datang setelah tiga hari lagi” jawab Eric lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.


“Nathan siapkan jadwal yang akan di lakukan selama tiga minggu kedepan dan satukan untuk tiga hari ini. Majukan semua pertemuan karena kita harus stop jadwal selama sebulan kedepan. Jika memang malam ini bisa dimajukan beberapa jadwal juga bagus” Perintah Eric pada Nathan.


“malam ini ada pertemuan bisnis dengan wali kota tentang pembangunan rel kereta api menuju desa Hala. Pertemuannya dilakukan di acara ulang tahun adik Viana.” Jelas Nathan


“siapkan semuanya untuk malam ini. Dan Nathan kamu jangan lupa masalah tadi belum selesai. Kita akan membahas dan menyelesaikan masalah ini setelah pulang dari kediaman kakek” Ujar Eric.

__ADS_1


__ADS_2