
Setelah Alyosha melihat dengan jelas pria yang sempat meliriknya saat berlari menggendong Ocha, Alyosha terpaku membisu di tempat ia berdiri. Pria yang menggendong Ocha itu adalah Eric ayah dari kedua anaknya. Alyosha tidak sempat menghalangi Eric untuk membawa Ocha karena Eric sudah pergi melaju dengan mobilnya karena merasa khawatir pada Ocha.
Alyosha tidak tau akan melakukan apa karena ia masih tidak yakin dengan kejadian tersebut. Ia masih tidak menyangka jika Eric adalah orang yang menggendong Ocha pergi tanpa izin darinya. Alya menepuk bahu Alyosha yang sedang melamun. Alyosha kaget dan tersadar kembali. Ia lalu berbalik badan dan melihat Aarav, Alya, Galen, Nathan, Viana, Alan dan Meera sedang berdiri menatapnya.
“Alyosha tenanglah, kami akan membawamu mengikuti Eric dari belakang” ujar Galen
“kamu kira kamu siapa?”ujar Alyosha dengan tatapan kosong
“aku..”
Nathan menarik tangan Galen untuk menghentikannya berbicara.
“Alyosha berangkat samaku aja, jika kalian ingin ikut kalian bisa dengan mobil yang lain” ujar Alya
“Eric membawanya ke rumah sakit wijaya. Kalian ikuti saja ia kesana” ujar Alan
“aku sungguh minta maaf karena mengacaukan pernikahanmu” ujar Alyosha
“pergilah Alyosha. Kamu tidak usah mengkhawatirkan aku, Ocha lebih penting dari padaku.”
“kak Alan aku minta maaf juga, sepertinya aku harus mengikuti Alyosha ke rumah sakit” ujar Alya
“iya, kamu bawa mereka dengan hati hati”
Alya menganggukan kepalanya pada Alan. Alyosha menggendong Aarav dan berjalan bersama Alya menuju parkiran. Alya mengendarai mobilnya dengan laju untuk mengikuti Eric. Alya mencoba menenangkan Alyosha dan mengingatkannya jika Aarav masih ada. Alyosha memeluk Aarav yang terlihat sedih dan penuh amarah karena kakak kesayangannya dibawa oleh pria yang tidak ia ketahui.
Sesampai di rumah sakit Eric sedang mondar mandir di depan ruang pasien. Alyosha berjalan ke arah Eric dan menampar pipi Eric dengan keras. Eric yang belum siap dengan tamparan tersebut merasa kaget, tetapi melihat orang yang menamparnya adalah Alyosha ia mengurungkan niat untuk memberikan tamparan balik.
“siapa kamu, kenapa berani membawa anakku tanpa izin?”
Semua yang melihat kelakuan Alyosha terdiam. Dokter yang keluar dari ruangan membuat Alyosha menghentikan kemarahannya pada Eric. Dokter tersebut mengatakan bahwa Ocha mengeluarkan terlalu banyak darah sehingga tidak sadarkan diri. Alyosha melihat ke arah jas Eric yang dipenuhi lumuran darah. Rio dan Bram yang juga sudah sampai di rumah sakit menghampiri Eric untuk menenangkannya.
“untuk sekarang saya kira semua orang tidak boleh mengunjunginya dalam waktu bersamaan.”
Alyosha dan Aarav masuk ke dalam ruang pasien melihat Ocha yang terbaring lemah. Ruangan yang lebih besar dari ruangan sebelumnya dan terasa lebih nyaman. Alyosha baru sadar ternyata ruangan tersebut adalah ruang pasien VVIP.
Setelah melihat kondisi anaknya yang sudah mendapatkan perawatan ia lalu keluar. Ia menyadari bahwa perlakuannya pada Eric sudah keterlaluan karena pada saat itu ia sedang dikuasai oleh kemarahan dan ketakutan pada anaknya. Semua orang yang menunggu di luar menatap Alyosha yang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
“tuan Eric, ini pakaian anda. Silahkan ganti terlebih dahulu.” Ujar Nathan yang baru saja datang.
Eric menerima pakaian dari Nathan dan melirik ke kanan dan ke kiri mencari ruangan yang bisa ia gunakan untuk berganti pakaian.
“kamu boleh berganti pakaian di dalam” ujar Alyosha pelan karena masih segan mengingat perlakuannya pada Eric.
“terima kasih”
Eric masuk kedalam ruangan Ocha untuk berganti pakaian di kamar mandi ruangan tersebut. Setelah memakai pakaian kasual yang dibawakan Nathan, Ia melihat Ocha yang tidak sadarkan diri sedang terkulai lemas di atas ranjang. Eric berjalan menghampiri Ocha lalu mencium keningnya.
“sayang kamu harus kuat. Aku akan memperjuangkan kalian agar kita dapat hidup bersama.”bisik Eric di telinga Ocha.
Eric tersentak saat melihat Aarav yang menatapnya dengan tajam di sofa. Mata merah dan sembab karena menangis membuatnya malu berdekatan dengan Eric. Ia merasa akan menjadi lemah jika menghadapi Eric saat dalam keadaan menangis. Eric menghampiri Aarav yang membuang pandangan darinya.
“aku akan memaklumi perbuatanmu tadi, pergilah”ujar Aarav yang masih memalingkan wajah dari Eric.
“jangan menangis, Ocha sangat kuat. Dia pasti bisa melawan penyakitnya”
Eric mengusap kepala Aarav dan berlalu keluar. Ia tidak ingin berlama lama karena tidak tahan melihat kedua anaknya yang sedang sedih. Eric memberikan jas yang sudah ia ganti pada Nathan.
Wajah Alyosha terlihat merona karena melihat Eric berpakaian kasual yang membuatnya tampak lebih hangat dibandingkan memakai jas. Ini kali pertama bagi Alyosha melihat Eric terlihat lebih santai. Perhatian Alyosha pada Eric terhenti karena perempuan yang datang bersama dengan Nathan dan Galen terus melihat kearahnya dengan tatapan penuh kebencian.
“maafkan kami karena kejadian ini tidak akan terjadi jika kami tidak meminta Ocha untuk memperkenalkan dirinya” ujar Rio
“ini bukan kesalahan kalian, terima kasih sudah datang ke sini. Aku sangat berterima kasih atas kekhawatiran kalian pada Ocha.”
“Maafkan saya karena membawa anakmu dengan tiba tiba”ujar Eric
Alyosha tidak tau harus menjawab apa pada perkataan Eric. Ia tidak bisa mengatakan apapun karena Ocha bukan hanya anaknya sendiri melainkan juga anak Eric. Alyosha hanya membalas anggukan dan senyuman pada Eric karena ia merasa tidak perlu meminta maaf mengenai tamparan yang ia berikan padanya.
“terima kasih sekali lagi, kalian boleh meninggalkan kami”
“kami pamit undur diri. Semoga dia lekas sembuh.”
Mereka pun meninggalkan rumah sakit dan tersisa Alyosha dan Alya. Alyosha mengajak Alya masuk ke dalam lalu ia memberitahu Alya mengenai penyakit Ocha. Alya merasa sedih mendengar kabar Ocha sekarang.
Pada malam harinya, Alya berpamitan untuk pulang. Sekarang hanya ada Alyosha dan Aarav yang sedang menemani Ocha. Setelah kepergian Alya, Ocha tersadar dari pingsannya. Dia meminta segelas air karena merasa haus dan Alyosha membantunya untuk minum.
__ADS_1
Tidak berapa lama Meera dan Alan datang. Alyosha menyambut mereka berdua yang menghabiskan malam pertama mereka untuk menjenguk Ocha.
“silahkan masuk”
“kenapa kamu tidak memberi tahuku lebih awal?” ujar Meera
“aku tidak ingin merepotkan siapapun untuk masalah anak anakku. Aku merasa ini semua adalah tanggung jawabku.”
Mereka membawa makanan untuk mereka makan bersama. Alyosha menyuapi Ocha makan dan Meera menyuapi Aarav setelah berkali kali ditolak olehnya. Hal itu membuat mereka menjadi sedikit lebih rileks. Aarav dan Ocha sudah tertidur pulas karena lelah seharian. Lalu Alan datang setelah melakukan diskusi dengan beberapa dokter lainnya.
“sepertinya Ocha harus menjalani kemoterapi lusa, bagaimana Alyosha?”
“kenapa kamu bertanya lagi. Lakukanlah yang terbaik untuk Ocha.” Ujar Meera
“aku kan hanya bertanya. Lagian aku bertanya pada Alyosha kenapa kamu yang jawab sih” ujar Alan mencubit pipi Meera.
Meera melihat kearah Alyosha karena malu atas apa yang Alan lakukan padanya. Wajahnya memerah.
“baik dokter Alan, saya mengharapkan yang terbaik untuk anak saya”
“kamu harus melakukan yang terbaik buat anak kesayanganku” ujar Meera
“sepertinya kalian harus pulang karena jika tidak maka anak anakku akan diambil alih oleh Meera. Buatlah sendiri agar mandiri”
Meera memukul lembut Alyosha karena merasa malu mendengar perkataan Alyosha. Alan hanya dapat menutup wajahnya lantaran juga merasa malu.
“malam masih ada, jangan sia siakan malam pertama kalian. Aku tidak akan menganggu. Pulanglah”
“kami pulang dulu karena mami dan ayah sedang menungguku di rumah”
Meera tidak tahan dengan perkataan Alyosha dan hendak pergi. Alyosha tersenyum melihat kelakuan sahabatnya yang sudah berubah. Dulu ia tidak akan merasa canggung dan malu jika di goda tentang percintaan tetapi sekarang ia tampak malu malu kucing.
“Bye Meera dan dokter Alan. Kalian harus semangat”
“ALYOSHA”
“MEERA”
__ADS_1
Alyosha membalas tekanan kata dari Meera, ia tampak puas karea sudah mengganggu Meera. Ia merasa senang karena akhirnya sahabatnya mendapatkan jodoh terbaiknya yang bisa mengubahnya menjadi lebih pemalu.