Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Berfoto


__ADS_3

Bel berbunyi menandakan para murid sekolah untuk pulang. Sudah waktunya untuk Eric dan kepala desa melihat situasi sekolah. Eric, Galen dan Nathan menuju sekolah di pandu kepala desa mengelilingi sekolah dan pusat kesehatan di desa Hala. Di belakang sekolah terdapat banyak tanaman sayur sayuran yang sudah layak di panen, merupakan hasil dari praktik bercocok tanam para murid murid di sekolah tersebut.


“beginilah keadaan sekolah di desa kami, walaupun bangunannya sudah tua tetapi masih sangat layak untuk kami gunakan. Kami sangat bersyukur karena pak Eric bersedia membangun sekolah dan rumah sakit yang baru untuk desa kami” Ujar kepala desa.


“dulu sewaktu saya kecil ibu saya pernah bercerita jika ia punya impian membangun sebuah tempat yang digunakan sebagai sarana dalam berbuat banyak hal kebaikan, jadi saya ingin mewujudkannya sekarang dengan membangun tempat berjasa seperti sekolah dan rumah sakit.” Ujar Eric


"betapa berbaktinya anda menjadi seorang anak. Pasti ibu anda sangat bangga memiliki anak seperti anda"


“berapa banyak siswa yang bersekolah di sini pak?”tanya Galen


“sekitar seratus lima puluh siswa sudah termasuk perempuan dan laki laki.”


“lumayan banyak juga” ujar Nathan.


“iya pak Nathan semua murid disini hanya sekolah dasar. Kalau ini adalah kantor para guru dan staf di sekolah kami, tempat terakhir yang kita kunjungi. Jadi semua tempat di sekolah ini sudah kita jelajahi. Bagaimana jika sekarang kita lanjutkan ke pusat kesehatan yang berada tidak jauh dari sekolah ini juga”


“baiklah pak, kita lanjutkan saja ke pusat kesehatan” ujar Eric.


Eric, Galen, dan Nathan berpamitan pada seluruh guru guru yang masih berada di kantor sekolah. Para guru menyambut kedatangan mereka bertiga dengan ramah sebelumnya. Sebelum pergi mereka juga sempat membahas tujuan perusahaan Eric terhadap sekolah tersebut walaupun Eric tau jika para guru tersebut juga sudah mengetahuinya. Eric, Galen dan Nathan hanya ingin berbasa basi sedikit agar tidak terlalu canggung.


“Apa boleh kami foto bersama dengan pak Eric dan yang lainnya. Sebagai orang yang berinvestasi pada sekolah, kami ingin mengabadikan momen penting kita bersama di sekolah lama di desa Hala kami ini” ujar kepala sekolah


“dengan senang hati bu, kami sangat merasa terhormat atas ajakan kepala sekolah. Dimana kita akan melakukan foto bersama tersebut” ujar Eric


“bagaimana jika kita foto di depan tulisan nama sekolah yang ada di dekat gerbang masuk” ujar salah seorang guru.


“itu terdengar bagus. Yasudah kalau begitu kita sekarang kesana” ujar kepala desa.


Mereka berjalan bersamaan menuju pintu gerbang sekolah. Para guru dan staf sekolah yang masih menetap di sekolah, kepala desa dan juga Eric, Galen, dan Nathan. Semuanya sudah mengambil posisi masing masing dengan diatur oleh kepala desa.


“oke posisinya sudah pas” ujar kepala desa

__ADS_1


“lalu siapa yang akan mengambil gambar kita?” tanya Galen


Kring... kring... kring...


Suara bel sepeda yang akan lewat terdengar, Alyosha dengan sepedanya yang baru saja mengantarkan pesanan di pusat kesehatan membunyikan bel sepeda melihat kepala desa yang berdiri di tengah jalan. Alyosha lalu memberhentikan sepedanya di depan kepala desa. Ia tidak menyadari orang orang yang di atur oleh kepala desa yang sedang berdiri di posisi masing masing ingin berfoto bersama.


“permisi pak kepala desa, bapak sedang apa berdiri di tengah jalan?” tanya Alyosha


“tuhh” ujar kepala desa memonyongkan bibir menunjuk mereka yang sedang menunggu.


Alyosha lalu membalikkan wajah melihat sesuatu yang di tunjuk oleh kepala desa. Alyosha melihat para guru yang melambaikan tangan tersenyum pada Alyosha, ia juga melihat Eric, Galen dan Nathan yang juga melemparkan senyuman padanya.


“hai Alyosha kebetulan sekali kamu lewat. Bisakah kamu membantu kami” ujar kepala desa


“butuh bantuan apa dari saya pak kepala desa?”


“tolong fotokan kami sebentar, apakah kamu bisa?”


Alyosha menggenggam sebuah kamera dan mengarahkan ke depan matanya. Ia akan mulai mengambil gambar mereka yang sudah bergaya. Alyosha menghitung sampai tiga lalu menekan tombol untuk mengambil foto mereka. Alyosha menghentikan gerakannya dan menurunkan kamera karena kilatan cahaya yang berasal dari barisan mereka yang ingin di foto tersebut.


Perhatian semua orang tertuju pada Eric yang sedang menggenggam ponsel mahalnya. Eric sangat malu dan menjadi salah tingkah. Eric lupa mematikan mode cahaya saat mengambil gambar Alyosha barusan. Kilatan cahaya yang membuat Alyosha menghentikannya mengambil gambar. Alyosha menghela nafas panjang lalu kembali mengangkat kamera.


“saya ulangi sekali lagi ya bapak dan ibu, satu... dua.. tiga” ujar Alyosha


Ckrekk...


Sebuah gambar tertera jelas di layar kamera. Semua berjejer rapi dengan senyuman bahagia di wajah masing masing dari orang yang berada di foto tersebut. Alyosha memberikan kamera yang ia pegang kepada kepala desa.


“terima kasih banyak ya Alyosha”ujar kepala sekolah.


“sama sama bu kepsek. Kalau begitu saya pergi dulu ya ibu dan bapak semuanya”

__ADS_1


Alyosha berjalan menuju sepeda yang ia parkirkan di bawah pohon rindang. Ia menatap dengan sinis pada Eric yang sedang menatapnya juga. lalu Alyosha mengayuh sepedanya pulang kerumah.


“apa yag sudah kamu lakukan tadi kak?” tanya Galen


“aku juga tidak tau. Sepertinya perusahaan Digna harus merancang sebuah ponsel dengan mode cahayanya tidak dapat dilihat oleh orang lain dan juga ada sebuah notifikasi jika mode tersebut sedang aktif” ujar Eric


“ponsel dengan konsep seperti apa itu?” tanya Nathan


“ya konsep seperti itu”


“silahkan dilihat foto foto kita pak Eric, Alyosha sudah mengambilnya dengan sangat baik sepertinya ia berbakat jadi seorang fotografer.” Ujar kepala desa.


Eric melihat foto yang ditunjukkan oleh kepala desa padanya. Galen dan Nathan pun juga begitu, mereka menghampiri Eric yang memegang kamera sedang melihat foto barusan. Lalu mereka bertiga dan kepala desa melanjutkan perjalanan menuju pusat kesehatan.


Setelah pemeriksaan lahan yang dilakukan pada sekolah dan pusat kesehatan di desa Hala. Eric, Galen dan Nathan di jemput oleh seorang supir untuk mengantar mereka bertiga kembali ke penginapan.


“terima kasih banyak pak kepala desa sudah membantu kami memeriksa lahan yang akan kami pakai”


“sama sama pak Nathan, saya senang dapat membantu kalian. Jadi bagaimana dengan lahan yang ada di sekitar sekolah dan pusat kesehatan. Apakah jadi dipakai?”


“sepertinya akan kami pakai juga pak. Selain untuk memperluas bangunan perusahaan kami saya juga merasa tidak enak hati jika membangun perusahaan yang besar dan itu dapat membuat kedua rumah itu merasa terasingkan” ujar Eric


“baiklah kalau begitu. Sepertinya jemputan kalian sudah datang saya juga harus pulang ke rumah. Kita berpisah di sini saja”


“kami akan mengantar anda sampai rumah pak kepala desa” ujar Galen


“terima kasih atas tawarannya pak Galen, tetapi saya dari sini jasa karena rumah saya juga lebih dekat jika berjalan dari sini.” Ujar kepala desa menunjukkan sebuah jalan kecil yang di kelilingi oleh pepohonan besar.


“baik pak, terima kasih sekali lagi kami ucapkan karena sudah membantu kami”


“sama sama pak Eric”

__ADS_1


__ADS_2