Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Teman Kelas


__ADS_3

“hoammmm"


Meera berbalik badan dan menggeliat di atas kasur empuk dengan bulu yang lembut. Ia menarik selimut tebal yang sudah terlepas saat ia tidur untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia kembali mengarungi mimpi mimpi indah di alam bawah sadar. Hingga ia terlelap dalam tidur di pagi hari dengan udara yang sejuk.


Setengah jam berlalu, ibu Meera membangunkan Meera yang masih mendengkur. Ibu Meera menghidupkan lampu dan membuka jendela kamar Meera. Ia menarik selimut yang menutupi wajah Meera lalu mencium kening Meera.


“sayang ayo bangun. Bukankah kamu harus mengikuti perkuliahan”


“emm... mami, sekarang sudah jam berapa?”


“jam setengah sembilan. Kamu masih memiliki waktu untuk bersiap satu jam lagi.”


"mami yang bener. Kenapa tidak membangunkan Meera lebih cepat. Hari ini Meera harus memasak untuk ayah Alyosha.”


Meera segera bangkit dari tidurnya mendengar perkataan mami. Ia sudah berniat untuk membawakan bekal makanan untuk ayah Alyosha yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


“kamu tenang saja. Mami sudah memasak banyak makanan.”


“kok tumben mami memasak sarapan?”


“semalam kamu pulang dengan raut wajah sedih. Mami memasak pagi ini agar kamu punya mood yang bagus saat kuliah nanti. Yaudah buruan kamu siap siap dulu, mami akan menunggu kamu di ruang makan oke.”


“oke mami sayang”


Meera bangkit dari kasur dan mulai bersiap siap untuk kuliah. Hari ini kuliah yang akan ia lalui dengan berat dan tidak semangat karena belajar tanpa Alyosha. Meera mengambil tas kecil yang ia bawa ke rumah Alyosha. Tas yang berisikan barang barang untuk penyelidikan kasus Alyosha.


Meera sarapan di ruang makan bersama keluarga. Setelah sarapan ia memasukkan bekal untuk ayah Alyosha yang sudah disiapkan oleh ibu Meera. Ia lalu bepamitan kepada kedua orang tua dan tidak lupa mencium perut ibunya yang sedang mengandung adik kecil Meera. Meera memberikan bekal makanan pada Gauri ayah Alyosha sebelum ia menuju kampus Arashi.


Dengan lesu Meera memasuki kampus. Sesampai di dalam kelas, semua mata tertuju pada Meera. Meera menatap dengan sinis teman teman sekelas yang melihat ia dengan pandangan merendahkan. Meera duduk di samping kursi kosong tempat Alyosha biasa duduk.


“haiss.. kalian kenapa sih. Masa hanya dengan berita begituan kalian dengan mudah bisa percaya, padahal Alyosha tidak pernah mencari masalah dengan kalian malahan jika kalian dalam keadaan susah dan sedih ia akan membantu dan menghibur kalian. Dasar tidak tahu balas budi” ujar Meera pada teman sekelas yang masih menatapnya sampai ia duduk di kursi.

__ADS_1


“kita kan tidak tau isi hatinya. Mungkin dia membantu kita karena ada maunya saja.” Ujar Lia sekertaris kelas.


"lagi pula dia kan dari keluarga broken home dan kurang berada. wajar saja sih dia melakukan hal buruk seperti itu" lanjut Lia


“HEH, KAMU BILANG APA BARUSAN. KAMU SUDAH LUPA YA. KAMU KIRA AKU TIDAK TAU APA YANG TERJADI DI BELAKANG KAMPUS SAAT ACARA ULANG TAHUN KAMPUS. KAMU TIDAK MENGINGAT KEBAIKAN ALYOSHA SAAT ITU. KAMU MAU AKU MENGUMUMKANNYA DI DEPAN SEMUA ORANG. IYA KAMU MAU ?” Meera berteriak dengan keras.


Meera yang biasanya selalu bersikap pendiam dan cuek terhadap teman kelas membuat seisi kelas terdiam dengan teriakan marahnya. Lia yang mendengar perkataan Meera tidak dapat berkata kata, ia hanya bisa menunduk takut jika Meera membeberkan rahasianya saat acara ulang tahun kampus Arashi tahun lalu.


Dimana saat itu Lia tengah di lecehkan oleh para senior lelaki hingga Alyosha menghajar semua senior tersebut. Pakaian Lia yang sudah basah kuyup digantikan dengan jaket Alyosha. Alyosha juga mengancam para senior hingga Lia tidak pernah di ganggu mereka sampai sekarang karena mereka takut akan berurusan dengan Alyosha.


Lia juga pernah ketahuan oleh para senior wanita karena telah mencuri barang dan uang milik mereka di loker olahraga. Pada saat itu senior tersebut tengah berlatih badminton di lapangan. Lia menghampiri Alyosha meminta bantuannya. Alyosha yang tidak memiliki cukup uang meminta Meera untuk membantu Lia mengganti semua kerugian yang telah ia perbuat.


“kamu tidak perlu memperdulikan perkataannya. Siapa yang tidak tahu sifat jelek Lia. Dia itu dikasih hati malah minta jantung.”ujar Sabrina menghampiri Meera.


“apakah aku boleh duduk di kursi Alyosha?” tanya Sabrina berdiri di samping Meera.


“silahkan” ujar Meera


“boleh saja. Asal kamu jangan aneh aneh memberikan saran padaku”


“iya kamu dengar aku saja dulu. Jika benar berita mengenai Alyosha dengan Eric, saran saya lebih baik kamu membujuk Eric untuk memberi klarifikasi dan mencabut kembali perkataannya jika mereka merupakan sepasang kekasih. Karena hingga sekarang ia tidak menjelaskan apakah benar bahwa wanita itu adalah Alyosha.”


“kok kamu bisa jadi pintar sih. Dulu saat ada masalah di dalam kelas kenapa kamu tidak memberikan saran juga.”


“aku akan pintar di saat saat tertentu dan di saat aku mau saja”


“iya deh, terima kasih atas sarannya.” ujar Meera


“Sabrina benar Meera. kami juga mendukung apa yang kamu lakukan. Kami tau Alyosha bukanlah perempuan seperti yang di beritakan. Benarkan Dian” ujar Boi yang duduk di bagian depan Meera.


“benar sih. Karena selama saya menjadi teman kelas Alyosha belum pernah melihat dia menyukai pria mana pun. Bahkan pria yang menjadi idola para wanita di kampus saja tidak pernah ia lirik apalagi ia selalu bersikap cuek, tidak seperti cewek cewek lain di kampus ini.”

__ADS_1


“nah kan Meer, banyak yang mendukung Alyosha kok. Kamu gak usah khawatir lagi, lakukan saja apa yang sudah aku katakan tadi”


“apakah perlu kita melakukan demonstrasi ke stasiun tv yang sudah menyebarkan berita hoax tentang Alyosha. Jika memang iya, aku bisa meminta anggota organisasiku untuk ikut serta” ujar Dian


“wow, apakah organisasi PPT akan bergerak?” tanya Sabrina


“PPT apaan sih?” tanya Boi


“Perhimpunan pria tampan LOL” ucap Sabrina disambut tawa Meera dan Boi


“dasar kamu Sabrina. yeah, bisa jadi begitulah terserah kamu saja. Bagaimana Meer?” ujar Dian


"tidak perlu sampai segitunya. Aku sedang menyusun rencanaku sendiri. Terima kasih ya usulannya dan sudah mau membantu Alyosha” ujar Meera


“tidak apa apa Meera. Kami kan juga teman Alyosha” ujar Boi


Percakapan yang mereka lakukan diberhentikan seketika oleh dosen yang sudah memasuki kelas mereka. Dosen yang akan memberikan materi kuliah pada mahasiswa di kelas tersebut. Dosen wanita yang merupakan dosen killer dan ditakuti semua mahasiswa jurusan tataboga karena ketegasan dan cara ia menatap lekat pada mahasiswa membuat mereka diam membisu.


Dosen yang selalu memanggil Alyosha untuk mencontohkan praktik yang sudah ia jelaskan terlebih dahulu sebelum mahasiswa lain melakukannya. Karena hanya Alyosha yang berani mengajukan diri untuk menjadi contoh.


"baik semua hari ini kita tidak melakukan praktik karena Alyosha sepertinya tidak hadir" ujar dosen yang berdiri dengan tegap menatap kursi Alyosha.


"jadi minggu depan mungkin akan kita lanjutkan praktik tersebut hingga Alyosha datang. Atau adakah yang mau menggantikan Alyosha untuk melakukan percobaan terlebih dahulu?"


Suasana kelas sangat hening hingga suara jam berdetak pun terdengar. Suara berat dan tegas dari seorang dosen wanita itu menggelegar keseluruh ruangan.


"Tidak ada, baiklah. Bukan saya tidak mau memberikan contoh pada kalian. saya bicara seperti ini saja kalian semua menundukkan kepala. Bagaimana saat saya mempraktikan dan kalian tidak mengamati saya. Saya rasa sia sia saja jika kalian menatap kolong meja bukan menatap saya."


"Seperti yang sudah saya bilang, saya akan menjelaskan materi saja. Saya harap terkadang kalian bisa melirik lirik saya saat saya menjelaskan karena saya takut materi sudah selesai dan saya sudah keluar pun kalian tidak menyadarinya."


Ruangan tetap hening seperti semula. Hingga Dosen tersebut keluar dari ruangan kelas juga tetap hening. Para mahasiswa keluar dari kelas dengan diam juga tidak memberikan suara sedikitpun karena Dosen tersebut masih berada tidak jauh dari kelas mereka saat ia menuju ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2