
“lalu bagaimana keadaan ayah dan anak yang terluka itu?” tanya Eric
“sampai pada detik ini, keduanya saya lihat sama sama tampak baik dan sehat. Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya pikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk dia kembali kepada ayahnya.”
“sekarang?”
“iya. Saya menemui kamu karena kamu adalah pemilik dari ayah dan anak ini”
“apa yang sedang anda bicarakan, saya tidak mengerti”
“kisah yang sudah saya ceritakan pada kamu adalah kisah dari peliharaan yang kamu panggil jubatus. Saya tidak tau apa alasan kamu tidak mencari cari Dion selama beberapa bulan terakhir ini. Tetapi karena saya sudah dipercayakan jubatus untuk menjaga anaknya maka saya harus melakukannya dengan baik.”
“apakah cerita yang kamu maksud tadi adalah kejadian dimana jubatus terluka beberapa bulan lalu?.”
“benar sekali. Sebelumnya saya tidak mengetahui siapa pemilik dari cetah cetah itu. Saya mencari cari informasi mengenai pemilik mereka dan saya menemukan bahwa hanya anda yang memiliki hewan peliharaan seperti mereka di kota ini.”
“kalau begitu kamu pasti ingat orang orang yang sudah melukai jubatus”
“saya tidak dapat memastikannya, yang saya ingat mereka itu adalah preman preman jalanan. Mereka pernah saya jumpai di jembatan awai yang ada di jalan Laun, tempat itu sering di datangi preman preman yang suka mencopet dan mencuri akan tetapi para keamanan kota ini tidak mau berurusan dengan mereka jadi mereka suka bertindak sesuka hati.”
“tetapi kenapa mereka bisa berurusan dengan peliharaan saya?, Saya merasa bahwa dibalik preman preman itu pasti ada orang yang menyuruh mereka melukai jubatus karena informasi mereka tidak dapat saya temukan”
“kalau itu saya tidak tau. Baiklah karena saya sudah mengantar Dion kembali pada ayahnya jadi saya pikir urusan saya sudah selesai. Saya kembali dulu karena masih banyak hal yang harus saya lakukan, terima kasih atas waktunya”
"begitu ya, terima kasih sudah memberitahu saya. Ayo biar saya antar ke depan”
“baik, terima kasih”
Eric mengantar tamu tersebut keluar hingga depan pintu rumah. Pria paruh baya itu memeluk erat Dion yang tampak sedih karena harus berpisah dengan orang yang sudah merawatnya saat ia terluka.
Meoww..
“kamu harus patuh pada tuanmu Dion. Dia adalah tuanmu yang sebenarnya dan aku hanyalah seseorang yang lewat kemudian membantumu”
Meoww..
Jubatus mengeong dari dalam rumah melihat kepergian tamu Eric.
“kemarilah jubatus” ujar tamu tersebut.
Jubatus menghampiri tamu Eric dengan ragu ragu. Setelah berada di dekatnya, tamu itu dengan perlahan mengelus kepala jubatus.
“aku kembalikan anak yang kamu titip padaku.”
Meoww..
__ADS_1
Pria paruh baya itu lalu memeluk Jubatus dan Dion bersamaan. Setelah berpamitan dengan Dion tamu itu pun berpamitan dengan Eric.
“sebelum anda pergi bolehkah aku mengetahui siapa nama anda”
“nama saya Gauri”
“oke pak Gauri, terima kasih karena memberikan informasi yang sudah saya cari selama ini.”
“berhati hatilah terhadap tunangan anda”
“tunangan saya?, maksud anda Viana?”
“benar, saya pergi dulu"l
Tamu Eric segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya dan meninggalkan Eric yang masih bingung dengan apa yang ia katakan barusan.
Tin.. tin.. tin...
Suara klekson mobil Alan yang dikendarai oleh Galen dan Alyosha memberikan tanda agar mobil yang ada di depan mereka untuk bergegas maju agar mobil mereka berdua dapat memasuki area parkir rumah Eric.
Mobil Gauri melaju setelah ia melambaikan tangan pada Eric dari dalam mobilnya dan Galen juga memarkirkan mobil di tempat parkiran yang sudah di sediakan. Galen membuka pintu mobil untuk Alyosha sebelum ia turun. Mereka berdua berjalan bersama menuju rumah Eric.
Meow.. meoww
Dion berlari dan meloncat ke dalam dekapan Alyosha membuat Alyosha terjatuh ke tanah karena badan Dion yang sangat berat. Eric dengan cepat berlari ke arah Alyosha karena merasa takut jika Dion akan melukainya. Setelah melihat Dion sedang menjilat wajah Alyosha, Eric merasa sedikit legah. Eric membantu Alyosha berdiri kembali dan mengenggam kalung Dion agar tidak berbuat seperti tadi lagi.
“pasti takut dong, hampir saja aku berteriak kencang tapi saat aku melihat kakinya aku merasa kasihan jadi aku tidak menghindar. Apakah ini peliharaanmu?” ujar Alyosha sembari membersihkan pakaiannya dari tanah.
“ya benar.”
“sejak kapan kakak membeli cetah baru lagi?” tanya Galen.
“ini adalah anak jubatus yang hilang saat ia terluka waktu itu. Karena terlalu sibuk jadi aku tidak sempat memeriksa jumlah keluarga barunya yang ada di taman belakang beberapa bulan lalu”
“apakah pelayan yang bertugas tidak melapor?”
“oh iya, kenapa aku bisa melupakan itu. Aku juga merasa ada sesuatu yang terlupa di dalam rumah ini dan ternyata aku belum mendapatkan laporan selama beberapa bulan dari pelayan penanggung jawab keluarga jubatus”
“kalau begitu coba kakak periksa dulu sekarang”
“Aku akan menanyakan pada pelayan itu, kalian langsung istirahat saja. Bawa Alyosha ke kamar atas, aku sudah menyuruh pelayan membersihkan
kamar untuknya”
“baik kak Eric. Ayo Alyosha”
__ADS_1
“bisakah aku ikut denganmu Eric?”
“kamu tidak ingin istirahat?”
“tidak, aku sudah istirahat di pasar api dan juga di perjalanan tadi”
“yasudah ayo. Kamu masuk dan istirahat saja Galen dan sekalian beritahu kepada kepala pelayan untuk membawa pelayan yang bertugas di taman belakang untuk kesana”
“baik kak”
Langit sudah mulai tinggi dan matahari dengan perlahan juga mulai muncul kepermukaan. Alyosha mengikuti Eric berjalan ke taman belakang pagi itu. Dion memberontak dari penjagaan Eric lalu menghampiri Alyosha. Eric hendak berbalik ke arah Alyosha tetapi dihalangi oleh jubatus. Wajah marah jubatus ditambah dengan erangan membuat Eric menghentikan langkahnya.
“tidak apa apa Eric mungkin dia ingin bersamaku. Siapa namanya?”
“namanya Dion dan yang galak ini adalah ayahnya namanya jubatus.”
“mungkin dia ingin berjalan bersamaku. Ayo Dion.”
Alyosha mengambil kalung Dion dan berjalan bersama sama begitu juga dengan Eric yang berjalan bersampingan dengan mereka.
“kamu adalah orang pertama yang tidak di serang oleh jubatus saat bertemu. Semua orang yang datang ke rumah ini selalu di serang oleh jubatus dan membuat mereka selalu ketakutan untuk berkunjung kembali kesini”
“lalu bagaimana orang yang ada di rumah ini?”
“jika orang orang yang di rumah ini jubatus tidak akan menyerang mereka, ia hanya menggertak saja.”
“jadi dia hanya menurut padamu saja”
“iya benar dan juga kepala pelayan. Sudah sampai, bagaimana menurutmu lapangan yang kusediakan untuk rumah keluarga jubatus?”
“cukup luas dan aku rasa juga lumayan nyaman”
Eric membuka pintu taman belakang tempat dimana keluarga jubatus berada. Tiga cetah dengan cepat berlari ke arah Eric dan Alyosha. Eric berjongkok menyambut cetah cetah yang sudah lama tidak ia kunjungi. Mereka saling bergurau dan berguling guling diatas rumput yang masih diselimuti oleh embun pagi.
“kalian semakin kurus saja, apakah kalian tidak ***** makan?”
“jangan tiduran di atas rumput lagi, itu masih basah Eric” larang Alyosha
“ha.. ha..., aku sangat merindukan mereka”
“liat bajumu jadi kotor. Eh kamu mau ngapain?”
Eric hendak mebuka bajunya yang basah dan kotor tetapi ditahan oleh Alyosha.
“kan kamu bilang baju aku kotor jadi aku mau membukanya”
__ADS_1
“tetapi jangan disini juga. Lihat itu ada orang yang datang, kamu tidak malu?”
Eric menoleh kebelang, kepala pelayan dan seorang pelayan sedang berjalan menghampiri mereka berdua.