Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Adik Kecil


__ADS_3

Alyosha menggelengkan kepala melihat kelakuan para mahasiswi lain. Ia tidak paham dengan apa yang dibicarakan oleh mereka, karena ia jarang sekali melihat apalagi mengikuti perkembangan di sosial media.


“para mahasiswa sekalian, silahkan lanjutkan tugas kalian” ujar pak Hedy menenangkan suasana.


Eric, Nathan dan Galen mulai berbaur mengamati kegiatan para mahasiswa. Mereka bertiga saling berpencar mengikuti arah yang mereka ingin. Para mahasiswa kembali dengan tugas yang diberikan.


Kelompok Alyosha sedang sibuk menyiapkan beberapa bahan yang akan digunakan untuk memasak hidangan yang sudah di tentukan.


Tiba tiba Sabrina yang berada disamping Alyosha menjatuhkan beberapa bahan yang ia genggam. Sabrina hanya diam menutup mulut menghadap ke arah Alyosha dan menatap Alyosha dengan lekat.


Saat Alyosha hendak membungkukkan badan mengambil bahan yang telah dijatuhkan oleh Sabrina. Alyosha merasa ada sesuatu yang keras tapi lunak seperti daging tersenggol oleh bokongnya. Ia terdiam sekejap dalam keadaan sedang membungkuk tersebut. Lalu Alyosha melihat dari sela sela kakinya ada seseorang yang sedang berdiri di belakang.


Alyosha mengingat bahwa tidak ada orang yang berada di sampingnya saat itu, apalagi menggunakan pakaian hitam karena mereka sudah punya dresscode berwarna putih.


Perlahan ia berdiri dan berbalik badan. Alyosha melihat yang ada dihadapannya ialah seorang lelaki yang berpakaian rapi, badan yang kekar dan tegap.


Eric yang memiliki raut wajah tampan dengan tatapan yang dapat membunuh kapan saja sedang mengamati Alyosha. Lalu Alyosha melirik ke bagian bawah tubuh pria tampan itu, ternyata yang tadi bersentuhan dengan bagian belakang Alyosha adalah adik kecil milik Eric.


Karena malu dan canggung Alyosha dengan cepat membuka pintu lemari kecil dari meja yang digunakan sebagai tempat penyimpanan beberapa barang. Alyosha bermaksud menutupi bagian tubuh Eric yang tersentuh tadi, karena malu melihat kembali ke arah sana.


Alyosha semakin salah tingkah karena pria itu terus mentapnya tanpa melakukan pergerakan sedikit pun. Alyosha melihat Meera yang menyuruh ia untuk segera meminta maaf dengan bahasa isyarat.


“saya minta maaf atas yang terjadi barusan. Sungguh saya tidak sengaja” ujar Alyosha gugup mengangkat dua jari.


Alyosha pun langsung membungkuk kembali meminta maaf. Karena ia membungkuk terlalu keras membuat dahi kanan Alyosha terbentur oleh pintu lemari kecil dari meja itu, menyebabkan luka di dahinya terbuka dan berdarah. Alyosha memegang dahi kanan yang sudah mengalirkan darah segar.


Suasana ruangan menjadi sunyi saat semua orang melihat kejadian antara Alyosha dan Eric. Melihat darah yang mengalir di dahi Alyosha para mahasiswa berbisik bisik satu sama lain.

__ADS_1


"memang benar kata orang. CEO dari perusahaan Digna adalah pria yang kejam dan tidak berbelas kasihan" cibir salah satu mahasiswa.


"kenapa semua wanita bisa menyukai pria yang memiliki tempramen seperti dia. Dia itu psikopat yang hanya menang kaya saja."


Bisikan para mahasiswa dengan suara agak keras yang di sengaja agar Eric dapat mendengar mereka. Nathan menatap tajam pada mahasiswa yang menjelek jelekan Eric.


Darah Alyosha mulai menetes di lantai, takut membuat orang yang berada di hadapannya semakin marah, ia langsung mengelap darah dengan baju yang ia kenakan. Tidak lagi terpikir baju yang ia kenakan berwarna putih. Sekarang bagian bawah bajunya sudah dipenuhi bercak merah segar karena darah yang ada di lantai.


Eric yang berada di hadapan Alyosha menarik tubuh Alyosha dan menggendong Alyosha beranjak keluar dari ruangan logistik. Alyosha hanya bisa menutup wajah karena malu dan menekan luka di dahi kanannya supaya darah dapat sedikit berhenti. Mereka memasuki lift diikuti oleh Nathan dan Galen.


Alyosha yang berada di dalam lift hanya bisa diam dalam dekapan Eric yang sedang menggendongnya. Alyosha melirik sekilas ke teman teman Eric dan melihat salah satu dari mereka memasang wajah yang sangat cemas.


Dalam hati Alyosha bertanya, kenapa dia memasang wajah seperti itu?. Aku kan bukan siapa siapanya. Sungguh aku memang memiliki jiwa yang sangat pede dan tidak tahu diri lanjutnya.


Saat lift terbuka mereka bergegas ke ruangan yang ada di depan lift. Satu satunya ruangan yang hanya berada di lantai atas. Alyosha melihat pakaian Eric yang sudah terkena darah dan mengotori jas mahal milik Eric.


Belum sampai di depan pintu terdengar suara yang membuat Alyosha terdiam ketakutan.


“diam dan menurutlah” Ujar Eric dengan tegas pada Alyosha.


Alyosha berdiri di tempat dan tidak berani berbalik badan melihat ke arah mereka. Badan Alyosha bergetar hebat. Ia teringat kejadian saat di taman dan tanpa ia sadari air matanya mengalir dengan deras.


Alyosha sangat takut kejadian itu terulang kembali karena sekarang berada di satu ruangan bersama dengan tiga pria yang tidak ia kenal. Ia mulai menangis sesenggukan.


“sudah tidak usah menangis lagi, bos kami tidak bermaksud menakutimu. Kami hanya ingin mengobati lukamu saja. Ayo ikuti aku”


Galen mendekati Alyosha menenangkannya. Galen yang memiliki warna mata merah cerah yang sama dengan Eric menuntun Alyosha pada Nathan.

__ADS_1


Alyosha membalikkan badan dan duduk dikursi yang sudah disediakan. Nathan yang sedari tadi memasang raut wajah cemas saat lift mulai membersihkan dan mengobati luka Alyosha. Ia dengan teliti melakukan pengobatan pada luka Alyosha.


“bisakah kamu mengikat ponimu agar saya dapat dengan leluasa dalam mengobati luka yang ada di dahimu." ujar Nathan


Alyosha mengikat seluruh rambutnya dalam satu ikatan. Nathan menatap wajah Alyosha yang tidak memakai poni. Lebih cantik dari sebelumnya. Ini pertama kali bagi Nathan berhadapan dengan seorang wanita apalagi menyentuh wanita yang sekarang sedang duduk berdekatan.


"siapa nama kamu?” tanya Galen saat Nathan mengobati Alyosha.


“saya Alyosha Gauri” ujar Alyosha


“ouh kamu mahasiswi Arashi jurusan tataboga ya. Pantas saja memiliki paras yang sangat cantik.” ujar Galen duduk disamping Nathan basa basi pada Alyosha.


“Galen berhentilah bertingkah konyol. tidak kah kamu melihat Nathan sedang mengobati wanita itu?" ujar Eric dari tempat duduknya.


Sifat penggoda Galen membuat Nathan risih berada di dekat Galen. Ia mengabaikan semua perkataan Galen agar dapat berkonsentrasi.


"tahan ya, Mungkin ini akan sedikit perih.” lanjut Nathan.


“auw..” rintih Alyosha kesakitan memegang dahinya.


“kamu bisa melakukannya dengan lembut sedikit gak sih. Pelan pelan dong saat mengobati perempuan. Perempuan adalah wanita lemah, mereka harus diperlakukan dengan sangat lembut. Kasihan, lihat dia kesakitan tuh.” Ujar Galen.


“kamu terlalu cerewet untuk bangsa pria Galen. Lebih baik kamu bertukar profesi saja. nah sudah selesai” ujar Nathan


Alyosha tersenyum kecil melihat tingkah Galen yang sedari tadi berbicara tidak berhenti.


“terima kasih banyak atas kebaikannya. Saya akan mengingat kebaikan anda" ujar Alyosha dengan sopan.

__ADS_1


__ADS_2