
Alyosha memasuki rumahnya langkah demi langkah. Ia menutup pintu rumah dengan perlahan dan masuk ke dalam kamar Ocha dan Aarav. Wangi khas dari kedua anaknya masih bisa ia rasakan di dalam kamar tersebut. Alyosha mengambil baju tidur kembar Ocha dan Aarav yang tergantung, ia memeluk erat kedua baju tersebut.
“AAKHHHH.....”
Alyosha berteriak sekuat mungkin dengan membenamkan wajahnya di bawah bantal Ocha.
“Ocha.., Aarav.., kalian dimana sayang. Mama baru saja merasakan kebahagiaan dalam menikmati hidup ini bersama dengan yang namanya sebuah keluarga. Tetapi mama harus merasakan kembali arti kehilangan orang yang mama sayangi. Ocha.., Aarav.., kalian adalah anak mama yang paling jenius. Kenapa kalian masih tidak memberikan kabar pada mama sampai sekarang sayang. Ada apa dengan kalian? Kalian ada dimana?”
Deraian air mata Alyosha membasahi baju tidur Ocha. Mata Alyosha membengkak dan memerah akibat terus menerus menangis. Seperti ada sesuatu yang tergerak di dalam hati Alyosha, tanpa sadar Alyosha mengeluarkan ponsel dan menghubungi Eric.
“halo sayang” ujar Eric
“hiks... hikss...”
“ada apa Alyosha? kenapa kamu menangis?”
“Eric.. hikssss”
“Alyosha tenangkan dirimu terlebih dahulu baru ceritakan apa yang sedang terjadi”
“Ocha dan Aarav Eric..., Mereka berdua hilang, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat ini.”
Alyosha tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, dengan segera ia langsung mengakhiri panggilan dengan Eric. Alyosha tidak ingin membuat orang lain kesusahan karena ulahnya. Alyosha memukul mukul bantal yang di sampingnya.
“Alyosha bodoh..., Alyosha bodoh..., jangan menyusahkan terus.”
Alyosha terus memarahi dirinya sendiri dan mulai menangis kembali. Alyosha membaringkan tubuhnya di atas kasur kecil Ocha setelah lama menangis.
Tring..
__ADS_1
Alyosha membuka ponsel karena notifikasi pesan dari Meera. Meera meminta izin pada Alyosha untuk memposting kabar kehilangan Ocha dan Aarav di sosial medianya. Ia tidak ingin bertindak gegabah sebelum Alyosha mengizinkannya. Setelah Alyosha menjawab pesan tersebut dengan mengizinkan Meera membantunya, Meera lalu memposting foto Ocha dan Aarav malam itu. Dengan sekejap postingan tersebut dibanjiri dengan komentar simpati para netijen. Ada juga beberapa komentar yang memberikan saran apa yang harus di lakukan saat kehilangan anak.
Setelah mengirim pesan pada Meera, Alyosha lalu membersihkan diri agar dapat lebih tenang. Ia juga melewatkan makan malam karena kehilangan selera makan. Alyosha menyisir rambutnya yang sangat kusut di depan kaca rias.
Tok.. tok.. tok...
Dengan cepat Alyosha membuka pintu dengan harapan Ocha dan Aarav sudah kembali. Alyosha tidak menyangka bahwa yang ada dihadapannya adalah Eric. Setelah mendengar kabar kehilangan Ocha dan Aarav, Eric langsung berangkat ke kota S dan meninggalkan semua pekerjaannya. Alyosha memeluk Eric dengan ragu ragu. Kesedihan dan kehampaan yang barusan ia rasakan sedikit terobati karena kehadiran Eric.
Eric membalas pelukan Alyosha dengan erat. Ia tau bagaimana perasaan hancur seorang ibu yang sedang kehilangan anak anaknya. Eric membelai rambut Alyosha yang masih didekapannya. Air mata Alyosha kembali mengalir deras.
“jangan menangis lagi. Mata cantikmu sudah berubah dan membengkak.”
Alyosha melepas pelukannya dengan Eric dan menatap Eric dengan lemah. Eric membawa Alyosha masuk ke dalam rumah.
“aku sudah memerintah anggotaku datang ke sini malam ini. Kamu jangan khawatir sayang. Anak anak kita akan aman, ayo berbaring disini. Kamu pasti sangat lelah”
Suara mobil yang berhenti terdengar oleh Alyosha. Ia bangun dan melihat Eric yang juga tertidur dengan keadaan duduk. Alyosha merapikan rambutnya lalu keluar dan membuka pintu. Di depan pintu sudah ada Nathan dan Galen juga para anggota Eric.
“silahkan masuk”
Alyosha mengikuti para anggota Eric yang ia persilahkan masuk. Ia terkejut melihat Eric yang sudah duduk dengan tegap di bangku. Para anggota Eric memberikan hormat pada Eric lalu duduk bersama setelah Eric menyuruh mereka untuk duduk. Alyosha menyiapkan minuman hangat untuk mereka lalu bergabung bersama. Alyosha duduk di samping Eric dan mulai menceritakan semua yang terjadi dengan detail.
“aku memang adalah seorang ibu yang tidak bertanggung jawab. Kalian boleh menertawakan aku” ujar Alyosha dengan sedih.
“sayang, tidak ada yang bisa disalahkan di saat seperti ini.”
Eric memeluk Alyosha yang kembali bersedih. Ia tidak bisa melihat wanita yang ia sayangi merasa lemah. Para anggota Elang saling menatap melihat Eric yang memeluk dan memanggil Alyosha dengan panggilan sayang.
“sepertinya ada sesuatu yang janggal dari cerita Alyosha. Cctv taman Sunni merupakan keluaran dari perusahaan kita dan hanya bisa diperbaiki oleh perusahaan kita tuan Eric,” ujar Nathan menganalisis cerita dari Alyosha.
__ADS_1
“kamu benar Nathan. Aku dengar pemilik taman ini adalah anak dari penjual senjata tajam di Negara kita.” Ujar Eric
“benarkah yang kamu katakan?, tetapi aku tidak pernah membuat masalah dengan mereka. Apalagi aku baru saja tinggal di kota ini.”
“yang aku tau seperti itu sayang, tetapi sepertinya bukan mereka yang melakukan ini semua.”
“benar kak Eric, mereka tidak akan mau berurusan dengan hal hal semacam ini karena pemilik taman ini adalah seorang disabilitas. Jadi Galen merasa pasti ada seseorang dibalik ini semua”
“Bukankah dulu juga Alan pernah ingin membeli taman ini sebagai hadiah untuk pertunangannya dengan Meera. Tetapi karena suatu alasan Alan tidak jadi membelinya”ujar Eric.
Brakk...
Suara pintu rumah Alyosha terbuka lebar. Mereka semua yang berada diruangan tersebut merasa kaget. Secara bersamaan seluruh mata meuju arah pintu dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
“kenapa kalian berdua datang kemari?” tanya Eric
“kalian yang kenapa. Kenapa tidak mengajak kami berdua?, kamu ingin membuat aku terlihat jelek di hadapan Alyosha. Kamu ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan”
Dengan marah Meera menghampiri Eric. Emosi yang tidak stabil karena sedang hamil membuat kemarahan Meera terpecah di ruang tamu Alyosha. Dengan cepat Alan menahan Meera yang sedang berkacak pinggang di hadapan Eric karena ingin menantangnya.
“sayang kasihan anak kita. Dia pasti tertekan dihadapkan pada Eric, ayo kita duduk berjauhan dengannya.”
“kenapa kamu membolehkan Meera keluar malam begini Alan ?” tanya Alyosha
“Meera tidak sengaja mengangkat panggilan dari Galen barusan. Setelah mengetahui mereka ingin datang ke rumah kamu ia segera bersiap siap dan menyuruhku membawanya kesini. Aku tidak bisa menolak permintaannya”
“Meera kamu jangan terlalu memaksakan diri.”
Meera berpura pura tidak mendengar Alyosha karena ia tidak ingin disuruh kembali pulang oleh Alyosha.
__ADS_1