
“kamu dari mana saja, kenapa kamu pulang lama tadi malam?”
“ada sedikit urusan dengan teman”
“teman yang mana, apakah teman bisnis?”
“sudah jangan banyak bertanya, kamu habiskan saja sarapanmu. Aku akan pergi sekarang dan kamu bisa berangkat kerja dengan mobil yang lain”
“tetapi hari ini aku ada konperensi di siaran televisi. Apakah kamu tidak ingin melihatku?”
“sepertinya kali ini aku tidak bisa. Aku pergi dulu”
“tapikan Eric..”
“maaf Viana, aku bukanlah pria yang tidak memiliki pekerjaan. Aku sangat sibuk”
Eric mengendarai mobil menuju rumah Alyosha, ia sudah berjanji untuk mengantar Ocha dan Aarav ke sekolah. Ia menggunakan mobil yang biasa agar tidak menjadikan mereka pusat perhatian orang orang.
Sesampai di depan rumah Alyosha ia segera mengetuk pintu. Setelah beberapa saat, Alyosha membuka pintu. Melihat Alyosha di pagi itu membuat hari Eric terasa damai dan indah.
“kamu sudah datang?” tanya Alyosha basa basi setelah kedatangan Eric
“iya, apakah aku terlambat?”
“tidak, kami juga baru mau sarapan. Apakah kamu sudah sarapan?”
“belum, aku takut terlambat jadi tidak sempat sarapan di rumah”
“kalau begitu ayo gabung, kita sarapan bersama di sini saja. Ocha dan Aarav sudah di ruang makan”
Eric berjalan mengikuti Alyosha menuju ruang makan. Ocha dan Aarav sedang mempersiapkan makanan di atas meja membantu Alyosha.
“selamat pagi om Eric, ayo kita sarapan bersama. Masakan mama sangat lezat loh”
“terima kasih Ocha. kamu sangat rajin membantu ibumu”
“itukan kewajiban seorang anak” ujar Aarav ketus.
Mereka mulai menyantap sarapan yang ada di atas meja. Eric sarapan untuk yang kedua kalinya di pagi hari itu. Walaupun ia sudah sarapan sedikit di rumahnya ia tetap ingin bergabung bersama Alyosha, Ocha dan Aarav. Eric berpikir itu salah satu hal yang dapat mendekatkannya pada keluarga Alyosha. Selesai sarapan mereka lalu berangkat ke sekolah Ocha dan Aarav.
“apakah sudah sampai mah?” tanya Ocha
“Sudah sayang, tidak terlalu jauh dan tidak teralu dekat kan. Mama memilih sekolah ini berharap anak mama bisa mengembangkan potensi yang kalian miliki. Ayo turun”
Alyosha merapikan penampilan Ocha dan Aarav setelah turun dari mobil. Di parkiran sekolah sudah banyak anak anak dan orang tua yang berdatangan mengantar anak anak mereka. Alyosha mengambil tas yang disandang oleh Ocha dan Aarav lalu membawakan tas mereka.
“mama yang akan membawakan tas kalian karena kalian tidak boleh terlalu lelah.”
“sini biar aku saja yang membawakan tas Ocha dan Aarav. Ini terlalu berat untuk kamu”
__ADS_1
“baiklah, tetapi sebenarnya itu tidak seberapa kalau untukku”
“bisakah kamu berpura pura saja dan tidak mengutarakannya langsung” bisik Eric.
Alyosha tertawa mendengar bisikan dari Eric yang berusaha terlihat kuat dihadapan Ocha dan Aarav. Mereka berjalan bersama memasuki gerbang sekolah. Eric menggenggam tangan Ocha dan Alyosha menggenggam tangan Aarav saat mereka berjalan bersama. Setiap mata menatap ke arah mereka karena aura yang terpancar. Empat anggota keluarga yang memiliki wajah yang tampan dan cantik. Ditambah dengan Eric yang memakai kacamata minus dengan stelan jas hitam membuat ia terlihat seperti laki laki yang dermawan. Alyosha yang memakai dres kasual berwarna hijau muda menjadikannya terlihat cerah.
Karena pertama kalinya mereka menginjakkan kaki di sekolah Ocha dan Aarav, mereka tidak mengetahui tata letak setiap ruangan sekolah tersebut. Sebelum Ocha dan Aarav memasuki kelas, mereka berdua diharuskan untuk mendaftar ulang ke ruangan pendaftaran. Saat menelusuri setiap ruangan di sekolah tersebut mereka masih belum menemukan letak ruangan untuk mendaftar.
Ayosha, Eric, Ocha dan Aarav terjebak saat melihat hanya ada jalan yang buntu di hadapan mereka. Alyosha melihat ke sekeliling untuk mencari orang yang dapat ditanyai mengenai letak ruangan untuk mendaftar. Hanya ada satu orang yang sedang mengepel lantai tepat di ujung lorong. Alyosha mencoba bertanya pada orang tersebut yang sepertinya petugas kebersihan di sekolah itu.
“permisi, ruangan pendaftaran murid baru ada di sebelah mana ya pak?”
“oh ruangan pendaftaran. Anda kembali ke belakang lalu belok kanan setelah itu anda hanya berjalan lurus saja. Nanti disana anda akan melihat tulisan ruangan pendaftaran dengan jelas”
“terima kasih pak”
“sama sama buk”
“bagaimana?” tanya Eric pada Alyosha saat ia kembali
“ternyata kita salah, seharusnya kita lurus saja tapi kita malah ke kanan.”
“apakah Ocha capek berjalan terus ?.”
“sedikit om Eric”
“sini biar om gendong saja. Kata dokter Alan kamu tidak boleh terlalu lelah”
“permisi bu guru, saya wali murid baru yang ingin mendaftar ulang”
“silahkan masuk bu”
“kalian tunggu di sini ya, mama masuk dulu”
“mereka juga boleh masuk kok bu”
“benarkah bu guru. Kalau begitu ayo masuk bersama sama”
“nama anaknya siapa bu ?”
“Ocha Digna dan Aarav Alyosha”
“mereka berdua pindah dari sekolah Hala dan akan lanjut di sekolah ini untuk kelas 2 SD. Apakah benar ?”
“benar bu guru.”
“silahkan tanda tangan disini untuk menyetujui pendaftarannya”
Alyosha menandatangani kertas pendaftaran Ocha dan Aarav. Setelah selesai melengkapi semua pendaftaran, mereka diarahkan oleh guru tersebut menuju kelas Ocha dan Aarav.
__ADS_1
“terima kasih sudah mengantarkan kami ke ruang kelas mereka berdua”
“iya bu, itu sudah kewajiban saya”
“ayo Ocha, Aarav, sebelum masuk ucapkan terima kasih pada ibu guru dulu”
“terima kasih bu karena sudah mengantar kami” ucap mereka bersamaan.
“sama sama Ocha, Aarav. Semangat untuk Ocha dan Aarav”
“ayo masuk, belajar yang rajin”
“baik om Eric”
“Maaf sedikit lancang, apakah bapak adalah pak Eric Digna?”
“benar, saya adalah Eric. Apakah ada yang diperlukan dari saya?”
“tidak pak. Saya hanya ingin memperjelas keraguan saya saja. Kalau begitu saya izin undur diri dulu.”
“apakah kamu tidak pergi ke perusahaanmu hari ini?” tanya Alyosha
“iya aku akan pergi sekarang. Hubungi aku saat Ocha dan Aarav selesai belajar, aku akan menjemput kalian nanti.”
“jika kamu sedang sibuk sepertinya tidak perlu sampai menjemput kami”
“tidak masalah karena besok aku harus pergi ke desa Hala untuk memeriksa pembangunan cabang perusahaan. Jadi selagi aku masih di kota S, aku ingin mendekatkan diri pada mereka berdua.”
“jika begitu terserah padamu saja. Aku akan menghubungimu nanti”
“aku pergi dulu. Kamu jagalah anak anak kita”
Eric mencium kening Alyosha secara tiba tiba membuat alyosha kaget. Alyosha memegang bekas ciuman Eric di dahinya. Ia kesal tetapi juga malu, wajahnya memerah melihat Eric yang menatapnya terus.
“apakah kamu puas?”
“sebenarnya tidak, tetapi semua butuh proses.
Baru satu ciuman saja wajahmu sudah merona apalagi dua ciuman, disini dan disini”
Eric menunjuk dahi dan bibir Alyosha. Saat tangannya bersentuhan dengan bibir Alyosha ia merasakan ada sesuatu di tubuhnya yang meminta lebih pada Alyosha. Eric menggelengkan kepalanya agar niat tersebut ia kubur dalam dalam untuk sekarang.
“yah begitulah, kita harus latihan dari sekarang karena kedepannya juga akan begitu bahkan lebih”
“jika kamu belum pergi dari sini sekarang juga maka aku akan membawa anak anakku pergi”
“baik, baik. Sampai jumpa nanti, ku harap pipi ini tidak merona lagi saat berjumpa nanti” ujar Eric mencubit pipi Alyosha dengan lembut.
“ERIC””
__ADS_1
Eric berbalik badan dan dengan segera meninggalkan Alyosha yang masih malu dan wajahnya merah padam. Ia sudah tidak bisa menahan rasa malunya di hadapan Eric. Jantungnya berdegup kencang dan hatinya seperti berbunga bunga atas apa yang Eric lakukan padanya barusan.