
Para bawahan Arya mengikuti Alyosha masuk ke dalam taman matahari. Setelah di periksa petugas mereka memasuki taman tersebut dan juga memakai jaket yang sama dengan pengunjung yang lain.
“banyak sekali bunga mataharinya.” Ucap salah satu dari mereka
“kamu jangan seperti tidak pernah melihat bunga matahari. Sekarang kita harus fokus menyelesaikan tugas kita. Jika kita dapat menyelesaikannya dengan baik kamu bisa berkunjung kembali kesini” ujar orang yang menjadi ketua di antara mereka.
Alyosha dan Meera masih belum menyadari jika mereka sedang di ikuti oleh orang orang yang akan berbuat jahat pada mereka. Karena berada diantara bunga bunga matahari yang mana bunga matahari adalah bunga kesukaan Alyosha, ia sangat senang. Mata Alyosha menyapu seluruh taman dengan wajah yang berbinar.
“sudah lebih dari lima tahun aku tidak pernah kesini. Banyak sekali perubahannya sampai aku tidak lagi hapal semua lokasi di sini” ujar Alyosha pada Meera saat mereka sedang menikmati taman bunga matahari.
“setelah kamu pergi aku juga tidak pernah datang ke taman Sunni ini lagi. Aku takut jika aku datang ke taman ini membuat aku semakin merindukanmu”
“sebentar ya, aku titip anak anak padamu. Aku ingin memesan bibit bunga matahari dulu”
“aduh Alyosha, kamu tau kan antriannya itu sangat panjang. Kenapa tidak membelinya di tempat lain saja”
“aku ingin bunga yang asli dari taman ini. Supaya setiap hari aku bisa mengingat momen momen kita dulu jika bunga bunganya sudah tumbuh cantik di taman belakang rumahku. Sayang kalian berkeliling keliling dulu bersama tante Meera ya”
“baik mah”
“jangan lama lama Alyosha. Gunakan trik yang dulu kita pakai saat mengantri”
“tidak akan. Cukup satu kali saja.”
Alyosha berjalan menuju keramaian yang sedang mengantri untuk memesan bibit bunga matahari. Setelah pemesanan dan diberikan tanda pemesanan, bunga tersebut dapat diambil saat hendak keluar dari taman Sunni.
“emang tante Meera dan mama memiliki trik yang seperti apa dalam mengantri?”
“bermacam macam. Salah satunya kita dapat melakukan seperti ini. Pertama tama kita harus memasang wajah yang murung dan sedih lalu kita merintih kesakitan setelah itu kita berkata aduhhh... sakit sekali aku sudah tidak sanggup lagi untuk mengantri, tetapi apalah daya ibuku sudah menunggu dirumah. Permintaan terakhirnya ingin memiliki bibit bunga matahari dan aku sudah tidak kuat lagi. Aku sangat ingin pulang cepat tetapi aku juga tidak ingin mengecewakan ibuku yang sakit. Selesai”
“hanya begitu saja?”
“benar Aarav, kamu pikir itu mudah. Tante Meera harus memutar otak untuk memikirkan trik yang satu itu, apalagi saat melakukan trik itu butuh keberanian yang besar. Dan kalian tau, para pembeli akan merasa kasihan dan dengan ramah menyuruh kita untuk segera memesan duluan.”
“persahabatan mama dan tante Meera sangat erat. Ocha juga ingin memiliki persahabatan seperti persahabatan mama dan tante Meera”
“benar sayang. Tetapi kamu harus tau, jangan memilih sahabat yang hanya melihat tampilan dan hartamu saja.”
__ADS_1
“lalu sahabat seperti apa yang harus Ocha pilih tante?”
“sahabat yang menerima kak Ocha apa adanya” saut Aarav
“benar sekali Aarav. Kamu memang sangat jenius”
“mama yang sudah memberitahu Aarav. Mama pernah bercerita jika ia memiliki sahabat yang menerima mama apa adanya. Sahabat yang tidak malu memiliki teman seperti mama.”
“so sweet banget kan mama kamu, tante Meera memang sangat baik hati.”
“tetapi tante Meera. Setelah Aarav lihat sepertinya bukan tante yang menerima apa adanya mama tetapi mama yang sudah dengan rendah hati menerima tante Meera apa adanya. Kasihan mama, selama ini pasti dia tertekan dengan kelakuan tante”
“aduh tante Meera jadi sedih mendengar itu”
“tidak kok tante Meera. Ocha juga ingin memiliki sahabat seperti tante Meera agar hari hari Ocha selalu ceria. Mungkin karena Aarav itu anaknya om Eric maka dia mewarisi sifat om Eric. Aarav itu tipe orang yang cuek, dingin dan tidak mau bersahabat dengan orang yang menghabiskan waktunya untuk bermain main persis seperti ayahnya.”
“Ocha?”
“iya tante Meera”
“tidak ada lagi. Oh sebentar ya, om Alan menghubungi tante. Kalian jangan jauh jauh dari tante ya”
“kamu bisa aja deh Ocha, sebentar ya sayang”
“kakak kenapa sembarangan mengatakan jika kita itu anak om Eric. Bagaimana kalau om Eric mendengar kita mengaku ngaku menjadi anaknya pasti dia akan marah dan merasa kita itu rendahan”
“ayo sedikit menjauh dari tante Meera. Aku ingin memberitahu kamu sesuatu”
Ocha dan Aarav berjalan menjauh dari Meera yang sedang serius menerima telepon dari Alan.
“apa yang ingin kak Ocha beritahu”
“sebenarnya kakak sudah lama mengetahui ayah kandung kita. Kakak tau setelah kita mengikuti kompetisi saat perayaan ulang tahun Negara kita. Saat itu kakak memberitahu nama kakak pada juri dan juri mengatakan jika ia memiliki nama belakang yang sama dengan kakak. Juri itu juga berkata jika nama Digna itu hanya dipakai oleh keluarga mereka. Jadi kakak mencari tahu tentang nama Digna dan menemui informasi mengenai om Eric”
“kenapa kakak bisa dengan cepat menyimpulkan jika dia adalah ayah kandung kita”
“kamu tidak melihat warna mata om Eric ya. Warna mata kamu itu diwarisi dari keluarga Digna dan hanya bisa sempurna pada keturunan laki laki saja. Karena kita kembar jadi kak Ocha juga memilikinya tetapi tidak sempurna.”
__ADS_1
...****...
“bos anak kecil itu hanya berdua saja. Kenapa kita tidak menculik mereka sekarang?”
“kita tunggu sampai ada aba aba dari yang lain. Ibu kedua bocah ini pandai bela diri dan larinya sangat cepat.”
“kenapa kamu bisa tau”
“tidak mungkin tuan Arya bertindak tanpa mencari tau semuanya. Jika tidak maka rencana ini akan gagal”
Ting... tingg...
Suara ponsel ketua dari anggota Arya berbunyi menandakan sudah waktunya mereka melakukan penculikan terhadap Ocha dan Aarav. Salah satu anggota mereka yang paling kuat sedang memeriksa Alyosha yang berjauhan dengan anak anaknya. Dia lalu memberitahu ketuanya setelah memastikan semuanya sudah aman.
Karena sedang serius membahas masalah ayah kandung, Ocha dan Aarav tidak menyadari jika ada orang yang sudah berdiri di belakang mereka. Wajah Ocha dan Aarav ditutupi oleh kain yang sudah diberikan cairan penghilang kesadaran. Dengan sekejap Ocha dan Aarav pingsan di tempat karena cairan yang diberikan terlalu banyak.
Mereka lalu menggendong Ocha dan Aarav seperti orang tua yang menggendong anaknya yang sedang ketiduran agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pengunjung yang lain.
Para penculik lalu menuju pintu keluar taman matahari dimana pintu masuk dan pintu keluarnya berbeda tempat dan petugas taman tersebut juga berbeda beda.
“ayo cepat bergerak jangan sampai ibunya menyadari kehilangan mereka.” ujar ketua berbisik
“silahkan buka jaket bapak dan anaknya”
“baik buk. Adik ketiga, ayo kamu letakkan jaketnya sesuai dengan perintah petugasnya, jangan menyusahkan orang lain”ujar ketua pada salah satu bawahannya.
“tidak apa apa pak. Biar saya saja”
“yasudah berikan pada petugasnya saja, terima kasih ya sudah membantu kami”
Ketua berpura pura memanggil bawahannya dengan adik ketiga agar petugas menganggap mereka adalah keluarga. Dua bawahan lainnya kemudian ikut keluar setelah mereka berjalan jauh.
“silahkan buka jaket anaknya pak”
“karena taman ini terlalu luas membuat adik saya letih, saat menunggu pemesanan bibi bunga ia tertidur”
“maaf pak saya mengira jika dia anak bapak. Memang karena terlalu banyak yang memesan membuat para pengunjung harus mengantri dan itu sudah biasa pak”
__ADS_1
“tidak masalah”
Dengan berpura pura ramah mereka dapat melewati petugas tanpa ada kecurigaan. Setelah sampai di parkiran mereka semua langsung berangkat dengan cepat menuju lokasi yang sudah ditentukan.