
“Meera, dimana Ocha dan Aarav?”
Alyosha menghampiri Meera yang sedang ******* ***** jari jemarinya dengan kuat. Meera segera menghampiri Alyosha yang baru saja kembali setelah memesan bunga. Keringat di wajah Meera bercucuran dan sekarang jaket kuning yang ia kenakan sudah ia buka.
“Alyosha aku minta maaf. Aku tidak tau mereka berdua kemana, aku baru saja menerima paggilan dari Alan. Saat aku sudah selesai berbicara dengan Alan, aku tidak melihat Ocha dan Aarav di belakangku lagi”
“lalu?”
“aku sudah mencari mereka di taman ini tetapi tidak menemukan mereka berdua. Aku benar benar minta maaf Alyosha”
“ka...kamuu yakin tidak menemukan Ocha dan Aarav”
Wajah Alyosha menjadi pucat mengetahui kedua anaknya menghilang. Ia langsung berlari dan meneriaki nama Ocha dan Aarav di taman tersebut. Semua orang memperhatikan Alyosha yang terus berteriak memanggil nama anak anaknya. Para petugas taman menghampiri Alyosha dan menanyakan apa yang sedang terjadi.
“kami memiliki cctv di sini, lebih baik kita memeriksanya sekarang”
“benarkah, terima kasih sebelumnya.”
Alyosha dan Meera mengikuti petugas ke kantor keamanan taman Sunni.
“kami mohon maaf sebesar besarnya karena kamera cctv kami sedang dalam perbaikan.”
“KAMU JANGAN MACAM MACAM. INI TAMAN BESAR, BAGAIMANA BISA MENGALAMI KERUSAKAN?”
Alyosha menarik kerah baju petugas kemanan yang mengatakan cctv mereka sedang rusak dengan marah. Alyosha menatap tajam wajah pria tersebut. Dengan hati hati Meera menarik Alyosha ke belakang karena ia juga merasa sangat bersalah.
“sudahlah Alyosha, petugasnya juga sudah mengatakan seperti itu. Lebih baik kita mencari mereka kembali, mungkin saja Ocha dan Aarav masih di taman ini”
“kami mohon maaf atas semuanya” ujar petugas sebelum Alyosha pergi.
Alyosha dan Meera melanjutkan pencarian Ocha dan Aarav di taman lain.
“Ocha.., Aarav.., kalian dimana sayang”
Alyosha terus bergeming saat melangkah menanyakan keberadaan kedua anak kembarnya pada dirinya sendiri. Alyosha dan Meera mencari keberadaan Ocha dan Aarav yang juga dibantu oleh beberapa petugas taman tersebut. Hari sudah semakin sore dan para pengunjung satu persatu mulai berkurang akan tetapi Ocha dan Aarav masih belum ditemukan.
__ADS_1
Mereka kembali mencari Ocha dan Aarav di taman matahari setelah memastikan di taman yang lain tidak ada Ocha dan Aarav. Wajah dan rambut Alyosha sudah berantakan karena sibuk mencari anak anaknya. Saat mereka sampai di tempat pemesanan bunga matahari, Alyosha melihat dua anak yang sedang berjongkok mengamati bunga bunga kecil dengan memakai jaket kuning di taman matahari.
“ternyata kalian disini, kalian membuat mama takut saja. Ocha dan Aarav dari mana saja sih?”
Alyosha menarik tangan dua anak kecil yang berjongkok tadi dan hendak mengajak mereka berdua pulang. Saat Alyosha menggenggam tangan dari kedua anak itu, ia menyadari pergelangan tangan kedua anaknya sedikit berbeda dari biasanya.
“sepertinya akhir akhir ini kalian makan dengan lahap. Mama sampai tidak sadar kalau anak mama gemukan”
Alyosha berhenti dan merasa ada yang salah karena tidak mendapatkan respon dari semua yang sudah ia katakan. Alyosha terkejut melihat wajah dua anak yang sedang bersamanya, ternyata mereka bukan Ocha dan Aarav. Seorang ibu yang berbadan gemuk menghampiri Alyosha dan menampar wajah Alyosha.
“kamu jangan sembarangan menculik anak saya ya. Tolong para petugas, lain kali orang gila seperti ini jangan diberi izin masuk. Bagaimana sih para
petugas keamanannya”
Alyosha hanya terdiam membisu dan tidak menghiraukan apa yang sudah dilakukan oleh ibu tersebut padanya. Dalam pikirannya hanya ada Ocha dan Aarav. Meera mulai bersedih atas semua yang sudah terjadi pada Alyosha.
“ayo kita pulang Alyosha, hari sudah mulai gelap”
“kamu pulang duluan saja Meera. Aku akan menunggu Ocha dan Aarav disini, mereka akan kembali sebentar lagi”
“bagaimana bisa anak anakku bertemu duluan dengan para petugas setelah melewati waktu yang berbahaya bagi mereka berdua. Kamu tidak tau bagaimana hati seorang ibu kehilangan anaknya, lebih baik kamu pulang saja Meera”
“tetapi kan Alyosha, ini...”
“AKU SUDAH BILANG KAMU PULANG SAJA MEERA. JANGAN MEMBUATKU MARAH SAMPAI MEMBENCIMU”
Meera tersentak mendengar teriakan dari Alyosha, ia tidak pernah melihat wajah merah padam pada kulit putih Alyosha. Air mata Meera berjatuhan dari kelopak matanya karena tidak bisa membendung air mata tersebut. Begitupun dengan Alyosha, ia juga mulai menitikkan air mata karena sudah merasa bersalah pada Meera.
“maaf Meera, aku tidak bermaksud untuk memarahimu. Aku sedang memarahi diriku sendiri yang tidak becus menjaga anak anakku tetapi malah memarahimu. Sudah jangan menangis lagi”
Alyosha memeluk Meera yang menangis. Mereka
berdua duduk di bangku taman matahari untuk menenangkan pikiran. Dari kejauhan seorang petugas berjalan menghampiri mereka berdua. Alyosha dan Meera bangkit berdiri hendak pulang, mereka berdua berpikir mereka akan diusir oleh petugas tersebut karena taman akan tutup.
“sebentar mbak” panggil petugas
__ADS_1
Alyosha dan Meera berhenti dan berbalik melihat petugas tersebut.
“saya baru saja melihat grup chat kami dan ada info kehilangan anak. Setelah saya melihat fotonya, saya baru ingat kalau tadi siang ada seorang lelaki yang membawa anak kecil yang sedang tidur. Anak itu memiliki wajah yang persis dengan foto ini”
“apakah kamu masih mengenali wajah orang yang membawanya?”
“saya mohon maaf, karena terlalu banyak pengunjung yang ingin keluar jadi saya tidak memperhatikan wajah lelaki tersebut.”
“atau mungkin kamu bisa memberitahu kami ciri ciri orang tersebut”
“saya juga tidak terlalu memperhatikannya. Saya minta maaf atas kelalaian saya”
“tidak masalah. Yang penting kami sudah tau jika anak anakku tidak lagi di taman ini.”
“ouh saya baru ingat. Ada bekas jahitan di tangan teman yang membawa anak kecil itu. Saat temannya memberikan jaket kuning mereka pada saya, tidak sengaja bekas jahitan itu terlihat oleh saya dan dengan cepat ia menutupinya”
Kedua kaki Alyosha terasa lemas hingga membuatnya terjatuh ke tanah. Ia tidak berani membayangkan hal buruk pada Ocha dan Aarav. Meera membantu Alyosha berdiri kembali.
“Jika sudah seperti ini kita harus melapor ke kantor polisi”
“kamu benar Meera, kita harus segera menemukan Ocha dan Aarav. Aku tidak mau terjadi apa apa pada mereka berdua”
Alyosha dan Meera lalu berterima kasih kepada petugas yang membantu mereka tersebut sebelum meninggalkannya. Meera mengendarai mobilnya bersama Alyosha menuju kantor polisi. Dalam perjalanan Alyosha sangat tidak tenang, matanya tertuju ke setiap arah di jalanan kota S berharap barangkali ia dapat melihat anaknya.
Sesampai di kantor polisi Meera dan Alyosha langsung melaporkan kehilangan Ocha dan Aarav. Karena hari sudah terlalu malam, para polisi akan mencari mereka berdua besok hari. Alyosha pulang dengan hati yang kacau balau.
“aku sungguh minta maaf Alyosha. Ini semua salahku, tidak seharusnya aku membiarkan Ocha dan Aarav sendirian saat aku menerima telepon”
“tidak Meera. Yang salah itu adalah aku, aku sebagai ibu yang tidak menjaga anak anakku dengan baik. Kamu jangan memikirkannya lagi. Pulang dan istirahatlah, anakmu juga butuh istirahat. Dia pasti lelah setelah berkeliling keliling seharian.”
“kamu jangan melakukan hal yang tidak tidak malam ini Alyosha. Kamu juga harus beristirahat karena besok kita akan membutuhkan banyak energi, aku pulang dulu ya”
“kamu hati hati di jalan ya Meera.”
“iya sayang”
__ADS_1
Alyosha dan Meera berpelukan untuk memulihkan kekuatan hati yang baru saja rapuh karena kehilangan. Mereka berdua saling menguatkan untuk terus berpikir positif tentang Ocha dan Aarav. Alyosha mengelus perut Meera yang sudah mengandung anak pertama mereka.