Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Kebakaran


__ADS_3

“sayang, kata kepala desa besok kalian akan pergi berkunjung bersama dengan anak anak lainnya ke desa seberang, apakah ujian sekolah sudah selesai?”


“sudah mah, hari ini adalah hari terakhir kami ujian akhir sekolah.” Ujar Ocha


“oh yasudah, mama akan menyiapkan pakaian kalian terlebih dahulu. Kalian istirahatlah”


“mama tidak membacakan cerita sebelum tidur?”tanya Aarav


“nah, karena anak mama baru berulang tahun dan sekarang sudah berumur tujuh tahun. Mama ingin mendengar cerita dari kalian masing masing. Baik itu apa yang sudah kalian lalui tadi pagi atau perasaan apa yang kalian rasakan”


“oke aku duluan mah,”


“baik Aarav, kamu menjadi orang pertama yang akan bercerita setelah itu baru di lanjutkan oleh kak Ocha”


“hari ini Aarav berkeliling bersama dengan teman teman Aarav, ditengah perjalanan kami berjumpa dengan seorang lelaki yang sedang berlibur ke desa ini. Dia juga meminta kami menuntunnya melihat lihat desa kita, jadi teman teman yang lain membantunya sedangkan aku dan kak Ocha tidak”


“anak mama kenapa tidak ikut membantu?”


“Aarav merasa pria itu memiliki aura yang jahat, jadi Aarav hanya waspada saja”


“baiklah, itu juga merupakan hal yang sangat baik. Apakah kamu mengatakan sesuatu sebelum pergi?”


“aku berpamitan pulang dengan alasan membantu mama”


“lalu kak Ocha, bagaimana hari yang sudah kak Ocha lalui?”


“hari ini Ocha merasa biasa saja, tidak terlalu bersemangat”


“anak mama kenapa tidak bersemangat”


“tidak apa apa mah, hanya sedikit letih saja”


“bagaimana kalau besok kamu izin tidak ikut berkunjung?, mama akan menemanimu beristirahat sampai kamu merasa nyaman”


“tidak usah mah, Ocha masih bisa kok”

__ADS_1


“yasudah, kalau kamu merasa ada sesuatu yang sakit kamu harus segera memberitahu mama ya. Agar mama dapat mengobati rasa sakit tersebut. Sekarang kalian istirahat dengan baik, selamat tidur malaikat mama”


“selamat tidur mah” ujar mereka berdua.


Pada pagi harinya, Alyosha seperti biasa mengantarkan keberangkatan kedua anaknya sampai mereka berdua benar benar telah pergi sejauh mata memandang. Setelah itu barulah Alyosha memulai kegiatannya sendiri. Hari ini Alyosha akan membersihkan pekarangan belakang rumah yang sudah ia tanami dengan bunga matahari. Bunga bunga matahari tersebut sudah mulai bermekaran. Alyosha membersihkan pekarangan dari daun pohon mangga yang berjatuhan.


Setelah melakukan kebersihan baik di dalam maupun di luar rumah selesai, ia tidak menyadari bahwa hari sudah hampir siang hari. Alyosha pergi berbelanja ke pasar untuk keperluan rumah makannya. Cuaca yang sangat cerah tidak terasa panas di bawah sinar matahari yang sangat terik. Ia memilih bahan bahan secukupnya saja untuk hari itu.


Pada saat Alyosha pulang dari berbelanja, ia melihat dari kejauhan ada keramaian dan keributan di depan rumahnya.


“ada kebakaran... ada kebakaran...” ujar penduduk setempat.


Alyosha berlari dengan cepat untuk melihat apa yang sedang terjadi. Gumpalan asap hitam sudah membumbung tinggi ke atas dari rumah Alyosha. Udara panas sangat terasa dikulit karena api tersebut. Api yang sudah melahap sebagian rumah Alyosha masih bergejolak.


“tolong.... tolong...”


"kebakaran... kebakaran..."


Warga semakin banyak membantu untuk memadamkan api. Alyosha juga berusaha melawan jagoan merah yang melahap rumahnya. Hingga akhirnya api tersebut padam tetapi semua usaha yang sudah dijalankan oleh Alyosha telah terbakar, bahkan bagian depan rumah dan kamar anak anaknya juga ikut terbakar.


Hari sudah sore, Alyosha membersihkan beberapa runtuhan yang bisa ia bersihkan. Saat ia sibuk memungut sampah yang tertinggal, ia tidak sadar jika Ocha dan Aarav ternyata sudah ada di depan rumah sedang berdiri melihat keadaan rumah mereka. Mereka berdua lalu tersenyum dan memeluk Alyosha seperti tidak ada yang terjadi.


“mamah kami pulang,”


“kalian sudah pulang, pakaian kalian ada di kamar mama ya”


“baik mah”


Di malam hari mereka bertiga makan bersama dengan keadaan rumah yang masih sedikit berantakan karena kebakaran tadi. Alyosha berusaha tegar di depan kedua anaknya walaupun pikirannya berpikir dengan keras tentang apa yang akan ia lakukan besok hari.


“Ocha pergi keluar sebentar ya mah” ujar Ocha selesai makan.


“jangan lama lama ya sayang, hari sudah malam”


Alyosha kembali ke kamarnya setelah selesai membereskan dapur untuk menyiapkan tempat tidur untuk mereka bertiga.

__ADS_1


Kriet...


Suara pintu terbuka membuat Alyosha kaget karena tidak mendengar orang mengetuk pintu kamarnya.


“sayang, kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?”


“Aarav sudah mengetuk pintu berkali kali,”


“maaf yah mama sedang membersihkan temat tidur, jadi tidak mendengar ketukan pintu. Kamu tidak ikut bersama kak Ocha?”


“tidak mah. Mama, Aarav ingin memberitahu mama kalau kak Ocha pingsan saat berkunjung tadi pagi, semalam juga dia mengeluarkan banyak darah dari hidungnya saat bermain bersama teman teman, Aarav juga sering melihat kak ocha berkeringat pada malam hari saat tidur.” Ujar Aarav


Alyosha memiringkan kepalanya tidak mengerti dengan perkataan Aarav. Suara jeritan kesakitan terdengar dari luar kamar, Alyosha berlari keluar kamar dan melihat Ocha duduk di lantai dengan darah yang sudah berceceran. Alyosha langsung mengangkat Ocha yang sedikit pun tidak ada mengeluarkan air mata. Ocha menjerit karena menginjak pecahan kaca dari jendela rumah mereka yang terlewatkan oleh Alyosha saat membersihkan rumah.


Alyosha pergi keluar dan memetik selembar daun pohon yodium yang ia tanam di depan rumah. Lalu mengoleskan getahnya ke kaki Ocha yang terluka. Alyosha merasa kesusahan untuk menghentikan darah yang keluar dari kaki Ocha. Ia mulai cemas teringat yang diucapkan Aarav barusan.


Aarav membersihkan darah yang ada di lantai. Setelah selesai menghentikan darah yang terus menerus keluar dari luka Ocha baru Alyosha membersihkan ruangan tersebut sekali lagi agar tidak ada yang tertinggal.


Malam itu mereka bertiga tidur bersama di atas satu ranjang. Ocha memeluk Alyosha dengan erat lalu bergeser kearah Aarav begitu seterusnya. Alyosha bangun karena Ocha yang tidak tidur dengan nyaman. Ia melihat wajah Ocha yang pucat lalu mengecek suhu tubuh Ocha dengan tangan. Suhu tubuh Ocha terasa panas dan keringatnya bercucuran padahal udara sangat dingin pada malam itu. Alyosha tidak bisa tidur karena melihat keadaan Ocha yang kesakitan menahan sesuatu.


Keesokan harinya Alyosha membawa Ocha ke pusat kesehatan dan Aarav menjaga rumah. Setelah pemeriksaan dilakukan, dokter mengatakan lebih baik ia membawa anaknya ke rumah sakit yang ada di kota untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Sementara dia di rawat di pusat kesehatan. Alyosha kembali ke rumah untuk membereskan barang barang mereka karena mereka bertiga akan kembali ke kota dan meninggalkan desa Hala setelah melihat kondisi mereka saat ini.


Sebelum mereka bertiga pergi pada siang hari, Alyosha berpamitan terlebih dahulu kepada kepala desa dan penduduk yang ada di di desa Hala. Beberapa penduduk dan kepala desa ikut serta mengantar Alyosha, Ocha dan Aarav ke stasiun.


“apakah tidak lebih baik jika kalian menggunakan mobil saja?”tanya kepala desa.


“tidak usah pak kepala desa, Ocha juga masih bisa bertahan di perjalanan. Dokter sudah memberikan dia obat peredah kesakitan untuk beberapa saat.”


“kalian harus berhati hati dan segera membawa Ocha ke rumah sakit”


“baik pak, terima kasih pak kepala desa dan semuanya. Ayo Aarav kamu salam kepala desa dan yang lain”


“terima kasih pak, buk. Aarav pergi dulu ya”

__ADS_1


__ADS_2