Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Di Taman


__ADS_3

“apakah benar taman yang ini?”


“iya benar, kamu parkirkan mobil di sebelah sana saja”


Eric membukakan pintu pada Alyosha yang akan turun dari mobil. Mobil mewah yang terbatas milik Eric menjadi pusat perhatian orang orang yang sedang berlalu lalang di sekitar parkiran. Mereka berdua melangkah bersama memasuki gerbang taman. Eric dan Alyosha berjalan ke sebuah tempat yang tidak pernah Alyosha lupakan. Perubahan pada taman setelah enam tahun berlalu membuat Eric tidak mengenali taman tersebut.


“taman ini ternyata bagus juga ya. Aku belum pernah mengunjungi tempat ini”


“oh ya?”


“iya, sekian lama aku hidup di kota S tetapi belum pernah menginjakkan kaki di taman seperti ini”


Alyosha melangkah lebih cepat dibandingkan dengan Eric. Ia merasa kesal karena Eric dengan begitu mudah melupakan tempat dimana dulu ia bersama dengan Eric menghabiskan waktu di malam yang kelam. Alyosha duduk tepat di bangku panjang yang sudah menjadi saksi kejadian antara mereka berdua. Eric lalu duduk bersebelahan dengan Alyosha.


“apakah kamu sudah mengingat sesuatu sekarang?”


“oh iya aku baru ingat”


“benarkah !. Aku sudah yakin kamu tidak akan melupakannya begitu saja” ujar Alyosha dengan semangat


“Aku baru ingat kalau minuman yang kita beli masih...”


“....”


“apakah ada yang salah. Kenapa kamu memasang wajah yang cemberut seperti itu.”lanjut Eric


“tidak ada.”


Suasana seketika menjadi hening antara mereka berdua. Eric mengarahkan pandangannya ke segala arah taman tersebut sedangkan Alyosha hanya menundukkan kepalanya ke bawah sambil mengayun ayunkan kedua kakinya.


“aku ingin memberitahumu tentang sesuatu” ujar Alyosha


“tentang apa itu”


“tentang kebenaran selama ini”


Eric mulai gelisah tak menentu mendengar perkataan Alyosha. Ia tidak berani menebak sendiri dalam benaknya tentang apa yang akan Alyosha katakan.


“bangku yang kita duduki sekarang ini adalah tempat dimana kamu merendahkanku sebagai wanita”

__ADS_1


Eric tersentak bagai di sambar petir. Ia telah melupakan tempat dimana kejadian penting enam tahun yag lalu dalam hidupnya. Ia tidak bisa mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya apalagi Alyosha mengatakan jika Eric telah merendahkannya.


“Pada malam itu, aku baru saja mendapatkan perlakuan kasar dari ayah kandungku sendiri. Oleh karena itu aku datang ke taman ini untuk menenangkan pikiran, tetapi siapa yang tau apa yang akan terjadi pada diri kita sendiri satu detik kemudian. Tidak ada yang bisa tau ” ujar Alyosha sambil mengangkat bahunya.


Eric masih terdiam seribu bahasa, ia sangat merasa bersalah pada Alyosha. Jika bukan karena terpengaruh oleh obat terlarang itu maka dia tidak akan pernah melakukan hal tercela seperti itu pada seorang wanita.


“aku benar benar minta maaf padamu. Aku mengaku aku salah dan siap untuk menerima semua konsekuensi dari apa yang sudah ku perbuat”


“Tidak apa apa, aku sudah memaafkanmu sejak kamu meninggalkanku tertidur sendiri di atas bangku panjang ini. Aku tau kamu adalah orang baik karena yang kamu lakukan padaku bukanlah keinginanmu sendiri melainkan karena terpengaruh oleh obat terlarang. Aku sudah melupakan semuanya saat itu, tetapi ternyata kamu malah meninggalkan jejak seumur hidup padaku. Seperti yang aku katakan tidak ada yang tau apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri kedepannya”


“....”Eric terdiam


“Kamu sudah melihat semuanya di rumah sakit tadi. Aku yakin kamu pasti juga sudah mengetahuinya sebelum aku beritahu. Tetapi aku hanya ingin kamu mendapatkan informasi tersebut dari diriku sendiri. OCHA DAN AARAV ADALAH ANAK KANDUNGMU”


Alyosha tersenyum pahit pada Eric dan dibalas tatapan hangat dari Eric. Eric memberanikan diri untuk merangkul pundak Alyosha dan memeluknya dengan erat. Semua rahasia yang selama ini Alyosha pendam akhirnya ia lepaskan juga. Air matanya menetes secara perlahan karena merasa dirinya selama ini sangat kuat.


“maafkan aku Alyosha. Aku memanglah pria bodoh yang sudah mengabaikan kalian selama bertahun tahun.”


“apakah kamu kecewa melihatku yang sudah gagal merawat anak anakmu?”


“tidak. Aku tidak pernah kecewa terhadapmu, malah aku sangat bangga karena kamu adalah wanita kuat yang pernah aku temui.”


“Maukah kamu membagi kasih sayang pada Ocha dan Aarav, aku sudah sangat keterlaluan pada mereka berdua. Karena aku mereka tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. ”


“jangan pernah katakan seperti itu karena itu sangat menyakiti hatiku. Semua ini adalah hasil dari kebodohanku. Jika kamu memberi izin padaku, aku ingin memulai dari awal untuk menjaga dan memberikan seluruh kasih sayangku pada kalian”


“tentu saja aku mengizinkannya. Aku ingin Ocha dan Aarav selalu merasakan kebahagiaan dalam hidupnya”


“aku juga menginginkan hal itu terjadi pada kalian bertiga. Sudah jangan menangis lagi, kamu seperti anak kecil”


Alyosha mengusap air matanya dan tersenyum hangat. Ia menengadahkan kepalanya menghadap ke arah langit yang cerah persis seperti yang ia lakukan saat ia bangun di bangku panjang itu. Perbedaannya sekarang ia menatap penuh dengan kebahagiaan.


Grab a cop gun kinda crazy , she’s poison but tasty


Yeah people say, run don’t walk away


Cause she’s sweet but psycho, a little bit psycho


At night she screamin....

__ADS_1


Nada dering panggilan masuk pada ponsel Alyosha menghentikan suasana hening di antara mereka berdua. Alyosha mengambil ponselnya dan melihat nama Meera tertera di layar depan ponsel tersebut.


“Halo Meera”


“Halo Alyosha, bisakah kalian kembali sekarang. Aarav sangat khawatir padamu karena bepergian dengan Eric. Sekarang ia sedang bad mood karena menunggumu”


“katakan padanya untuk menunggu sebentar lagi, kami akan kembali sekarang”


“baiklah, aku akan membujuknya kembali. Apakah kamu baik baik saja?”


“ya, aku baik baik saja”


“suaramu seperti baru saja menangis”


“aku baik baik saja Meera. Sudah dulu ya, kami mau berangkat”


“jika terjadi sesuatu padamu aku tidak akan pernah memaafkan Eric. Kamu dengar Alyosha”


“iya Meera.”


Alyosha mengakhiri panggilan masuk dari Meera. Ia menatap Eric yang tertawa mendengar perkataan Meera melalui panggilan tadi. Volume panggilan yang sedikit keras tersebut membuat Eric dapat mendengarkan pembicaraan antara Alyosha dengan Meera.


“lalu bagaimana caramu untuk mengambil hati Aarav?”


“sedang aku pikirkan. Menurutmu hal apa yang ia sukai?”


“ia mengatakan jika akhir akhir ini ia menyukai hal hal tentang ilmu komputer. Mungkin dia suka semua yang berbau teknologi”


“kalau begitu pas sekali, aku akan mengajaknya berkunjung ke perusahaan kami untuk belajar banyak tentang teknologi”


“itu terdengar bagus.”


Alyosha dan Eric kembali ke parkiran, mobil Eric sudah menjadi bahan kamera. Semua orang yang lewat akan mengambil gambar mobil Eric bahkan ada yang berfoto bersama dengan mobilnya. Eric memakai kaca mata hitamnya mendekap wajah Alyosha ke dalam pelukannya lalu berjalan ke arah mobil.


“kalian boleh mengambil gambar mobil saya. Tetapi jika saya mendapatkan salah satu dari kalian mengambil gambar saya dan dia, kalian akan tau konsekuensinya”


Eric memperingati pada semua orang yang berkumpul karena kedatangannya. Ia tidak ingin mengulangi kejadian yang dulu terjadi yang membuat nama Alyosha buruk di media sosial. Alyosha yang sudah masuk duluan ke dalam mobil dan melihat tindakan Eric dalam menjaga privasinya merasa tersentuh. Alyosha merasa tidak ada penyesalan dalam memberikan Eric kesempatan untuk bersamanya.


“aku harap kamu dapat memaklumi semua ini, tetapi sebisa mungkin aku akan menjaga privasi orang orang terdekatku”

__ADS_1


“iya”


Eric menatap Alyosha yang salah tingkah karena ia sebut dengan orang terdekatnya. Alyosha memalingkan wajah meronanya dari Eric yang tersenyum senang melihat Alyosha malu malu.


__ADS_2