Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Berkumpul Bersama


__ADS_3

“mama, apakah ada yang terluka”


Melihat kedatangan Alyosha, Aarav segera memeluk Alyosha dan memeriksa keadaan Alyosha dengan mengelilinganya. Alyosha menghentikan Aarav dan berjongkok di hadapannya lalu memeluk Aarav. Aarav menatap tajam Eric yang juga datang bersamaan dengan Alyosha.


“sayang, mama baik baik saja.”


“aku tidak menyakiti mamamu dan tidak akan” ujar Aarav yang ikut berjongkok di samping Alyosha.


Aarav menarik tangan Alyosha, mereka berdua berjalan bersama ke arah Ocha. Eric membagikan makanan yang sudah ia beli saat perjalanan pulang.


“bro?” ujar Alan pada Eric yang memberikannya makanan


“seperti yang kamu lihat”


Eric tersenyum sombong pada Alan. Alan merasa sudah salah besar karena menganggap remeh pada Eric selama ini.


“mari makan siang bersama” ujar Eric


Waktu yang berjalan tidak terasa bagi Alyosha dan yang lain karena sibuk dalam bercerita lalu tertawa. Pada malam harinya Eric mengantar Alyosha, Ocha dan Aarav ke rumah mereka. Alyosha merasa anak anaknya butuh proses untuk menyatukan mereka dengan Eric.


“om Eric tidak ingin singgah terlebih dahulu?” ujar Ocha


“dengan senang hati sayang”


Eric masuk bersama dengan Alyosha, Ocha dan Aarav. Alyosha menghidangkan minuman hangat untuk mereka minum bersama di ruang tamu.


“kak Ocha jangan terlalu dekat dengan dia. Kita tidak tau apakah dia ingin berbuat baik atau jahat”


“Aarav sayang, tidak boleh berburuk sangka pada orang lain”


“baik mah, tetapi kita harus tetap waspada pada orang lain. Tante Meera juga berpesan pada Aarav untuk tidak berdekatan dengan om Eric”


“ha.. ha.. ha.., kamu sangat bijak Aarav. Akan tetapi kamu tidak boleh dengan mudah terpengaruh oleh perkataan seseorang dan juga jangan menilai seseorang dari luarnya saja”


“menurut Aarav penampilan itu juga penting, karena itu salah satu hal yang dapat kita baca dari kriteria seseorang.”


“Ocha tidak paham dengan yang kamu katakan”


“kak Ocha.., contohnya itu jika ada seseorang memakai pakaian yang kusut maka bisa diartikan dia adalah orang yang pemalas.”


“kita tidak boleh menilai secara langsung seperti itu dong Aarav”


“kenapa kak?”


“kita kan tidak tau situasi orang tersebut. Mungkin dia sedang terburu buru sehingga tidak sempat untuk menyetrika pakaiannya”

__ADS_1


“sama saja dia orang yang pemalas, ia terburu buru karena tidak menyiapkan diri lebih awal”


“mungkin dia tidak memiliki banyak waktu”


“oke.. sudah Ocha, Aarav. Mama tidak pernah melarang kak ocha dan Aarav saling beradu argumen, tetapi tidak baik berdebat di hadapan orang tua. Pilihlah waktu yang tepat ya anak anak kesayangan mama. Jadi pada intinya jangan sampai kita berburuk sangka pada orang lain karena itu perbuatan yang tercela.”


“baik mah” ujar Ocha dan Aarav serempak.


“oh saya lupa dengan satu hal. Apakah kalian memiliki rencana untuk kembali ke desa Hala?” tanya Eric.


“sepertinya tidak”


“nah, karena kalian sudah menetap di kota ini jadi saya ingin membeli lahan rumah kalian yang ada di desa Hala”


“tidak”


“kenapa sayang?, apakah Aarav ingin mengusulkan pendapat?”


“benar mah, Aarav tidak mau lahan tersebut dijual begitu saja”


“lalu?”


“Aarav ingin berinvestasi pada perusahaan om Eric. keuntungan dibagi sebanyak tiga puluh persen”


Eric bertepuk tangan karena bangga pada Aarav. Jiwa pebisnis pada Aarav yang masih berusia tujuh tahun sudah tertanam dengan baik. Aarav merasa heran karena Eric yang bertepuk tangan.


“kamu sangat jenius Aarav, tidak sia sia aku memilih kamu menjadi penerusku. Aku akan melakukan sesuai permintaanmu pada lahan rumah kalian. Setiap bulan akan aku transfer hasil keuntungan yang kalian minta sebanyak tiga puluh persen sampai selamanya”


“benarkah?, A...arav hanya bercanda mengatakan tiga puluh persen. Kalian akan rugi karena lahan rumah kami juga tidak luas”


“kamu harus berpegang teguh pada pedirianmu. Jika kamu merasa itu memang hak yang harus kamu dapatkan maka kenapa tidak, apalagi lahan rumah yang kamu miliki memang sangat diperlukan oleh pihak lain. Jadi jangan pernah ragu dalam mencoba, jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan maka kamu putuskanlah bersama dengan pihak lawanmu sebuah keputusan yang lebih rendah tetapi tetap memberikan kamu keuntungan yang layak. Jadi penawaran untuk permulaan itu memang harus yang lebih besar karena siapa tau pihak tersebut dengan mudah menyetujuinya.”


“om Eric sangat hebat yah”


“terima kasih Ocha, Ocha juga harus banyak berlatih agar bisa sukses seperti om”


“baik om, akan Ocha ingat nasehat om Eric”


“bagaimana Aarav, kenapa diam saja?”


“dalam waktu dekat sepertinya aku akan menyukaimu”


“kamu berkata langsung pada intinya. Aku suka itu”


“sudah, sudah. Sekarang sudah waktunya Ocha dan Aarav beristirahat.”

__ADS_1


“baik mah, selamat malam mama”


Satu persatu Ocha dan Aarav mencium pipi kanan dan pipi kiri Alyosha sebelum mereka berdua beristirahat malam itu. Setelah Ocha dan Aarav masuk ke kamar mereka berdua, suasana antara Alyosha dan Eric menjadi hening.


Eric mengamati barang barang yang tersusun dengan rapi, rumah tersebut tampak nyaman dan hangat untuk di tinggali. Eric lalu tidak sengaja melihat sepatu kembar yang dikeluarkan oleh perusahaan Jun pertama kali untuk fashion kalangan anak anak. Sepatu kembar yang sudah ia berikan pada Alyosha.


“ternyata kamu masih menyimpan hadiah sepatu kembar dariku sampai sekarang”


“karena sepatu itu masih layak dipakai. Pantaslah perusahaanmu menjadi perusahaan besar, ternyata karena memang semua produk perusahaan Jun terjamin kualitasnya seperti sepatu mereka berdua”


“kamu benar, perusahaan kami sangat memperhatikan kualias barang yang akan kami produksi. Tetapi produksi fashion untuk kalangan anak anak sudah aku hapuskan dari awal peluncuran pertama kalinya. Jadi hanya sepatu kembar itu yang menjadi satu satunya keluaran produk dari perusahaan Jun untuk kalangan anak anak.”


“kenapa?”


“mungkin karena firasat seorang ayah. Jadi aku merasa cukup sepatu kembar itu saja yang aku keluarkan dan ternyata sepatu tersebut untuk anak anakku sendiri”


“sebenarnya pada saat itu aku tidak ingin menerima hadiah pemberianmu itu. Tetapi karena aku juga merasa sepertinya itu adalah firasat seorang ayah pada anaknya maka dengan terpaksa aku membawanya”


“kamu terpaksa?”


“ya begitulah. Karena pada saat itu aku menganggap kamu adalah lelaki yang kurang baik”


“kamu keterlaluan sekali sudah menganggapku begitu”


“sepertinya malam sudah mulai larut dan anak anak juga sudah tidur, jadi menurutku sudah waktunya kamu pulang.”


“sepertinya begitu. Aku pulang dulu, besok pagi aku akan menjemput kalian.”


“untuk apa?”


“untuk mengantar kalian ke sekolah. Bukankah kamu mengatakan jika mereka berdua akan mulai sekolah besok”


“apakah kamu tidak sibuk di perusahaanmu?”


“tidak, itu adalah perusahaanku dan aku adalah bosnya. Jadi apapun yang ingin aku lakukan tidak ada yang bisa menghalangi”


“baiklah, terserah padamu. Aku mengantarmu sampai sini saja, hati hati di jalan”


“ya, kamu juga harus beristirahat dengan baik dan jangan lupa mimpikan aku dalam tidurmu”


“kamu jangan berharap”


“kalau begitu aku yang akan memimpikanmu dalam tidurku”


“sudah jangan banyak bicara yang tidak berguna. Kamu buruan berangkat sebelum jalanan menjadi sepi”

__ADS_1


__ADS_2