Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Rumah Baru


__ADS_3

Alyosha membuka tirai jendela ruang pasien yang ditempati oleh mereka. Cahaya hangat menerpa wajah Ocha yang berada tepat di samping jendela. Ocha yang tengah duduk di atas ranjang melantunkan nada nada indah dari mulut mungilnya. Kepala Ocha mendayu dayu mengikuti irama musik yang ia nyanyikan seperti benar benar menikmati pagi tersebut dengan lagunya.


“mah, apakah hari ini kita akan keluar dari rumah sakit ini?” tanya Aarav


“iya sayang, dokter bilang kalau kak Ocha sudah boleh pulang. Tapi kita perginya agak siang ya karena mama ingin memastikan kembali rumah yang akan kita tempati nantinya”


“bolehkah aku ikut mah?”


“kalau Aarav ikut jadi kak Ocha sama siapa dong?”


“Ocha berani kok mah sendirian disini. Lagian kan kasian kalau Aarav terus tinggal di dalam ruangan ini, pasti dia sangat bosan.”


“iya mah, please sekali ini aja”


Alyosha menghampiri Ocha dan mengelus kepalanya.


“kamu yakin bisa sendirian disini”


“yakin mah. Di rumah sakit ini kan ada dokter Alan, dia akan menjaga Ocha dengan baik”


“yasudah mamah dan Aarav pergi sebentar. Ini adalah tombol untuk memanggil dokter jika kamu membutuhkan bantuan. Kamu bisa kan?”


“bisa mah. Kalian hati hati di jalan ya”


“oke kak Ocha. Aku akan membawakan makanan kesukaanmu nanti”


“mama pergi sebentar ya sayang, jangan izinkan siapapun masuk ke dalam”


“baik mah, dah..”


Alyosha dan Aarav keluar dari rumah sakit untuk memastikan rumah yang akan mereka tinggali. Alyosha sebelumnya sudah mendapatkan rumah yang cocok dengan mereka bertiga. Tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah yang berlokasikan tidak jauh dari rumah sakit agar Alyosha dapat lebih mudah untuk membawa Ocha melakukan pengecekan rutin mengenai penyakitnya.


Jarak dari rumah sakit ke rumah yang akan mereka sewakan dapat di tempuh dengan berjalan kaki sekitar sepuluh menit. Alyosha dan Aarav mengitari banyak cafe kecil maupun toko makanan dan toko buku dalam perjalanan mereka. Semua keperluan sudah lengkap tersedia di pinggiran jalan kota S.


“mah, nanti kita beli kue coklat untuk kak Ocha ya”


“iya sayang, nanti kamu yang pilih sendiri kue yang mana yang akan kamu bawakan untuk kak Ocha. Apakah Aarav letih berjalan?”


“tidak kok mah, Aarav sedang menikmati perjalanan kita ini”


“bagaimana kalau mamah gendong saja”


“tidak usah mah, Aarav kan sudah besar. Aarav juga akan merasa malu kalo jika di gendong mama”


“kok anak mama malu kalau di gendong ibunya. Mama kan juga pengen punya anak yang manja.”


Alyosha menggoda Aarav yang sudah merasa dirinya dewasa, ia mengejar Aarav yang berlari kecil karena di goda Alyosha akan menggendongnya. Mereka saling mengejar dan tertawa bahagia untuk menikmati perjalanan yang memakan waktu yang lumayan lama.


Alyosha dan Aarav memasuki gang kecil yang berada di antara dua bangunan. Gang kecil sebagai lalu lintas ke rumah yang akan mereka sewakan. Alyosha menjumpai pemilik rumah tersebut untuk bermusyawarah dalam pembelian rumahnya.


Setelah melakukan kesepakatan dengan pemilik rumah, Alyosha dan Aarav meninjau langsung lokasi rumah yang dituntun oleh pemilik rumah tersebut. Aarav tampak senang dengan rumah yang akan mereka tempati karena walaupun rumah tersebut kecil tetapi sangat nyaman untuk ditempati dan desain yang dibuat juga terlihat mewah.


“kita sudah sepakat ya bu, saya akan membayar uang muka sekarang dan selebihnya akan saya lunasi.”


“iya bu, semoga rumahnya dapat bermanfaat dan keluarga ibu juga bisa tinggal dengan nyaman.”


“terima kasih bu, kalau begitu kami pulang dulu. Nanti sore kami akan menempatinya langsung.”

__ADS_1


“iya silahkan, sama sama bu Alyosha”


Alyosha dan Aarav melanjutkan perjalanan pulang mereka berdua. Di tengah perjalanan Alyosha membawa Aarav memasuki toko kue seperti yang sudah ia janjikan. Mereka berdua disambut dengan ramah oleh pegawai toko kue tersebut.


“kamu pilih yang mana sayang?”


“aku pilih yang ini aja mah, kuenya didesain dengan lucu dan sepertinya rasanya juga enak. Lalu krimnya juga tidak terlalu banyak”


“adik tampan, kamu sangat pandai dalam menilai kue kue yang enak.” Ujar pegawai toko setelah mendengar perkataan Aarav yang berada di sampingnya.


“saya pesan kue yang ini saja”


Alyosha menunjuk kue yang sudah dipilih oleh Aarav. Pegawai toko kue langsung mengambil kue yang mereka inginkan dan membawanya ke kasir untuk di bayar. Alyosha dan Aarav mengikuti pegawai yang berjalan sedikit jauh di depan mereka berdua.


“salah satu strategi marketing” ujar Aarav dengan polos.


“sayang, kenapa bicara seperti itu ?.”


“eh maaf mah, Aarav keceplosan. Perkataan tadi terbesit dipikiran Aarav karena sedang membaca situasi kehidupan dalam berbisnis”


“lain kali apa yang ingin Aarav katakan harus dipilih pilih dulu ya sayang, nanti bisa melukai hati orang lain.”


“iya mah, Aarav akan mengingatnya.”


Alyosha dan Aarv kembali ke rumah sakit setelah membayar kue yang mereka beli. Aarav menenteng kue yang akan ia berikan untuk Ocha dalam perjalanan.


...****


...


“aku ingin menjumpai anak anakku Alan”


“tetapi aku kan sudah mengatakan padamu kalau ini bukan waktu yang tepat”


“lantas waktu yang tepat yang kamu katakan itu kapan?”


Eric berjalan dengan tegas menuju ruangan Ocha. Eric terus menerus memikirkan kedua anaknya karena ingin bertemu hingga membuatnya tidak bisa tidur. Ia rela meninggalkan pekerjaannya di perusahaan hari ini untuk berjumpa dengan Ocha dan Aarav. Alan yang tidak bisa mencegah Eric hanya bisa mengikutinya dari belakang. Ia sangat cemas jika Eric melakukan hal yang membuat Ocha dan Aarav tidak nyaman.


Eric menghela nafas dengan berat sebelum memasuki ruangan yang Ocha tempati. Ia membuka pintu kamar dengan pelan agar tidak mengejutkan orang yang berada di kamar tersebut. Eric tampak bingung karena hanya ada Ocha yang sedang menatap ke arah Eric dengan curiga. Eric perlahan masuk dan diikuti oleh Alan. Melihat Alan yang juga datang membuat Ocha merasa sedikit aman.


“selamat pagi” ucap Eric berdiri di sudut ranjang Ocha.


“selamat pagi”


“apakah namamu Ocha?”


“benar, nama saya Ocha. Ocha Digna”


“perkenalkan saya Eric, apakah kamu mengenali saya?”


“saya tidak mengenali anda, tetapi saya ingat jika anda pernah berkunjung ke rumah makan kami dan juga orang yang berbicara pada saat kami berkunjung ke perusahaan di desa seberang. Ada urusan apa ya?”


Eric menarik kursi ke samping ranjang Ocha. Ia mencoba duduk dengan tenang agar tidak meninggalkan kesan yang jahat pada Ocha.


“keluarga kamu dimana?”


“keluarga saya sedang keluar, sebentar lagi mereka akan kembali”

__ADS_1


“saya adalah CEO dari perusahaan manufaktur yang kamu katakan tadi, saya kesini ingin memberikan surat dari perusahaan kami untuk orang tuamu”


“apakah kamu orang kaya yang baik?”


“benar, saya adalah orang terkaya di Negara M ini”


“apakah kamu yakin?”


“sejauh ini masih saya yang berada di urutan pertama. Kenapa anak kecil sepertimu bertanya seperti itu?”


“bisakah kita berbicara berdua saja?”


Mendengar permintaan Ocha membuat hati Eric senang. Ia sangat senang karena merasa seperti sedang diperlukan oleh anak perempuannya. Eric buru buru mengusir Alan keluar dari ruangan mereka. Alan masih tidak enak hati meninggalkan Ocha dengan Eric. Tetapi mengetahui jika Eric adalah ayah kandung Ocha ia segera menuruti permintaan Ocha untuk meninggalkan mereka berdua.


“nah sekarang hanya tinggal kita berdua, silahkan lanjutkan perkataanmu tadi”


“sekarang Ocha sedang menderita penyakit yang serius. Ocha akan sangat sedih bila meninggalkan ibu dan Aarav sendirian karena penyakit yang


Ocha derita”


Hati Eric terasa sakit mendengar perkataan yang keluar dari mulut anak perempuannya. Eric menggenggam tangan Ocha yang putih pucat. Ia mengusap usap tangan Ocha untuk memberikan kehangatan.


“saya yakin kamu pasti bisa sembuh, kamu harus semangat untuk menjalani perawatan dan pengobatan. Jangan takut, saya akan menemanimu”


“Ocha tidak pernah takut, Ocha hanya merasa kalau penyakit yang Ocha derita ini akan membebani mama karena harus bekerja dengan keras”


“lalu bagaimana?”


“aku memiliki suara yang bagus dan merdu. Aku akan menyanyikan satu lagu spesial untukmu jika kamu bersedia membantuku untuk melunasi biaya perawatanku”


“itu sangat mudah bagiku, aku akan memberikan uang untukmu berapa pun yang kamu minta. Apakah kamu akan bernyanyi sekarang”


“tidak sekarang. Aku akan bernyanyi di waktu yang sudah kita tentukan tetapi harus di rumahmu”


“kenapa harus di rumah saya?”


“kenapa tidak. Sepertinya kamu harus kembali karena mama dan Aarav akan segera datang. Jika kamu masih disini jangan harap kedepannya bisa berjumpa dengan kami”


Eric memasang ekspresi wajah yang bingung.


“jika kamu memang sungguh sungguh untuk mendapatkan hati mama dan Aarav maka sekarang kamu harus pergi. Aku tidak akan mempermasalahkan ketidak tahuanmu pada kami karena aku sudah menerimamu dari dulu.”


Eric semakin bingung dengan perkataan ambigu dari Ocha. Tiba tiba Alan memasuki ruangan Ocha dan menarik Eric keluar. Sebelum Eric benar benar keluar, ia menoleh ke arah Ocha. Ocha melambaikan tangan pada Eric dengan senyuman hangat persis seperti senyuman Alyosha.


“apa apaan kamu ini?”


“Alyosha sudah datang, dia akan melihatmu di kamar anaknya jika aku tidak menarikmu keluar dengan paksa”


“tapikan kamu bisa mengatakannya dengan baik padaku dan bukan menarikku seperti tadi. Itu bisa saja membuat Ocha merasa curiga padaku.”


“itu respon yang tiba tiba karena peduli terhadapmu Eric”


“Hais..., sudahlah aku mau pulang saja ke kantorku”


“oke, sampai jumpa di pernikahanku”


“ya..”ujar Eric ketus

__ADS_1


__ADS_2