
Eric dan Nathan di sambut oleh kepala pelayan. Suara khas dari mobil Eric membuat jubatus berlari kencang dari halaman belakang dan menghampiri Eric yang baru saja sampai. Eric lalu mengelus kepala jubatus yang terus menerus mengelilingi Eric sedari tadi.
“kenapa kamu cepat sekali bangunnya ?, ini masih jam lima pagi.”
Meow...
“sebenarnya jubatus tiba tiba terbangun karena mendengar suara tamu anda tuan Eric. Tetapi saat dia melihat tamu yang sedang diusir nona Viana ia malah pergi ke taman belakang dan baru datang sekarang tuan Eric.”
“dimana tamu yang anda bilang?”
“ada di ruang tamu tuan, saya sudah menjamu dan menemaninya di sana sebelum anda tiba ke sini”
“bagus pak kepala pelayan”
Eric langsung menemui tamu yang ingin bertemu dengannya. Tamu tersebut sedang duduk dan hanya fokus pada ponselnya. Mendengar langkah Eric yang sudah datang ia langsung menyimpan ponsel di dalam saku. Eric melihat jubatus yang hanya diam di tempatnya dan tidak mengikuti langkah Eric. melihat keanehan yang dilakukan jubatus, Eric segera mengampirinya.
“ada apa jubatus?”
Meow...
Eric mengalihkan perhatiannya pada cetah yang ada di samping tamu tersebut. Cetah yang berbadan besar dan kekar tetapi memiliki kecacatan pada kakinya. Jubatus memperlihatkan ekspresi sedih melihat cetah yang cacat tersebut.
“tidak apa apa jubatus. Kamu tidak usah khawatir, mungkin dulu dia telah melewati sebuah kesulitan.
Tetapi dia sudah memiliki tuan yang baik padanya, lihat tubuhnya. Dia lebih besar dari tubuhmu dan dia terlihat jauh lebih gagah darimu” ujar Eric menyemangati jubatus.
Tamu yang mendengar perkataan Eric pada jubatus hanya tersenyum kecil. Eric lalu duduk bersama dengan tamu tersebut.
“kepala pelayan, tolong bawa jubatus ke atas”
“baik tuan”
__ADS_1
“oh sebentar, dimana Viana?”
“sayang aku disini. Aku tau kamu pasti merindukanku, kita kan sudah beberapa hari tidak bertemu”
Viana menyapa Eric dan langsung duduk di samping Eric. Viana lalu memeluk Eric dengan mesra. Eric melepas pelukan Viana karena merasa tidak enak pada tamu yang ada di depan mereka.
“Viana, jangan seperti ini.”
“sayang, kamu pasti sangat lelah kan beberapa hari ini. Apakah kamu tidak letih, lebih baik kamu istirahat saja”
“Viana, kamu tidak melihat tamu yang ada disini?” ujar Eric dengan tegas
Viana memasang wajah cemberut pada Eric dan Eric hanya mengabaikan Viana. Eric sudah tidak sabar untuk berbincang dengan tamu yang akan memberikannya informasi yang sangat penting.
“mohon maaf sebelumnya karena saya datang saat dini hari seperti ini. Saya memang sangat tidak sopan karena telah menganggu waktu anda.”
“tidak masalah, apa yang ingin anda katakan sampai membuat anda datang dini hari seperti ini?”
“bisakah kita berbicara berdua saja”
“oke sayang, kamu harus tetap berhati hati walaupun ini rumah kita”
Eric hanya menatap Viana membuat Viana langsung beranjak ke kamarnya. Eric lalu membawa tamu yang tidak ia kenali itu ke ruang tamu pribadi dan cetah yang dibawa oleh tamu Eric juga ikut bersama mereka. Eric dan tamunya duduk dengan santai di atas sofa setelah sampai di ruangan tamu pribadi Eric.
Tamu tersebut sedikit pun tidak menampakkan wajah tegang atau cemas saat bersamaan dengan Eric hingga membuat Eric penasaran dengan identitas tamunya itu. Tetapi karena tamu tersebut tidak memperkenalkan diri sedari tadi maka Eric juga tidak ingin menanyakan hal hal mengenai privasi tamunya.
“jadi saya datang kesini karena Dion, hewan yang sudah saya pelihara ini”
"kenapa dengan hewan peliharaan anda ?”
Eric mulai merasa kecewa pada lelaki paruh baya yang menjadi tamu dihadapannya itu setelah mendengar alasan dia mendatangi Eric. Rasa cemas pada Ocha dan Aarav membuat Eric dengan mudah memberikan izin pada tamu lelaki paruh baya itu untuk memasuki rumahnya. Semua ia lakukan karena alasan yang diberikan oleh tamu itu. Eric tidak berpikir panjang lagi dalam memberikan izin padanya karena ia sangat membutuhkan informasi sekecil apapun itu mengenai penculik anaknya. Ia sangat khawatir pada kedua anaknya.
__ADS_1
Eric berdiri hendak meninggalkan tamu yang ia rasa tidak memiliki hal penting yang berkaitan dengannya. Eric berpikir bahwa tamu itu sama dengan tamu tamu lain yang ingin menemuinya dengan alasan sesuatu yang penting tetapi akhirnya hanya ingin meminta uang Eric saja.
“dengarlah terlebih dahulu pembicaraan seseorang sebelum kamu meninggalkannya karena kamu tidak tau apa yang akan ia sampaikan pria dewasa. Cobalah bertahan agar kamu tidak menyesal.”
Dengan sekejap Eric terduduk kembali karena merasa tertekan dengan perkataan pria paruh baya tersebut.
“dulu saya juga pernah melakukan hal yang sama seperti anda ini, tidak menghargai seseorang. Dan itu membuat saya sangat menyesal karena tidak pernah mendengarkannya. Sekarang saya sangat merindukan suaranya bahkan satu kata saja yang keluar dari mulutnya. Karena apa yang ia sampaikan merupakan hal yang dapat saya jadikan pelajaran di masa sekarang.”
“saya minta maaf” ujar Eric dengan pelan
“ha.. ha.. ha.., memang sebenarnya pria pebisnis seperti anda ini wajar jika melakukan hal tadi.”
“hmm”
Sedikit keheningan mulai terasa di dalam ruangan besar itu. Keheningan antara mereka berdua yang saling tidak tau apa yang ada dipikiran masing masing.
“pada suatu malam saya keluar dari rumah saya karena ingin membalaskan dendam pada seseorang. Tetapi belum sampai pada rumah orang tersebut saya menemukan seorang ayah yang terluka parah sedang membawa anaknya yang juga terluka. Semua luka yang ada pada tubuh mereka adalah hasil dari ulah manusia yang tidak memiliki hati nurani.”
Eric dengan antusias mendengar cerita dari pria paruh baya yang ada di hadapannya. Cara pria paruh baya yang membawakan cerita itu membuat Eric terlena untuk terus mendengarnya.
“apakah anda melihat kejadian saat mereka berdua mendapatkan luka luka parah itu?” tanya Eric
“saya melihatnya, semua kejadian itu ada di depan mata saya.”
“lalu kenapa anda tidak memberikan bantuan pada mereka ?”
Rasa penasaran dalam hati membuat Eric ingin terus mendengar cerita pria paruh baya itu hingga selesai.
“pada saat itu saya adalah lelaki yang lemah dan bodoh. Saya hanya melihat ayah dan anak itu dipukuli di depan mata saya oleh banyak manusia yang sangat kejam. Ayah yang hanya sendirian harus melawan banyak manusia demi menjaga anaknya. Walaupun orang orang yang menyerang itu melihat saya tetapi mereka tidak perduli akan kehadiran saya disana karena memang saat itu penampilan saya sangat buruk dan saya dalam keadaan mabuk. Mungkin mereka berpikir saya adalah orang yang tidak waras.”
“lalu apa yang terjadi setelahnya?”
__ADS_1
“saat ayah yang malang tersebut melihat sedikit peluang, dia dengan segera membawa anaknya yang sama sama terluka berlari mengampiri saya yang sedang berdiri. Raut wajah memohon dari seorang ayah yang ada dihadapan saya saat itu membuat saya tersadar kembali, dengan cepat saya menerima anaknya dan menggendongnya dalam dekapan saya. Seorang ayah yang ingin anaknya tetap bertahan hidup dan tidak lagi mementingkan dirinya yang sedang dipukuli demi melindungi sang buah hati. Dia terus mengisyaratkan pada saya untuk lekas pergi. Saya tidak dapat membantunya untuk menghindari manusia manusia kejam tersebut dan hanya bisa membawa anaknya yang terluka parah pergi.”
Air mata pria paruh baya itu berlinangan di pelupuk matanya, ia merasa kesedihan yang dulu ia rasakan dan penyesalan yang dulu terjadi seperti terulang kembali dalam hidupnya. Beberapa ingatan masa masa dulu saling bertautan menghampiri isi kepala tamu itu hingga membuatnya tambah bersedih.