
“kenapa tidak ada suara. Kemana Viana?”
“nona Viana mengatakan jika hari ini dia kembali ke rumah orang tuanya dan akan tidur disana tuan”
“baiklah, kamu hubungi salah satu anggota Elang untuk mengantar jubatus kembali sekarang”
“baik tuan Eric, saya akan menghubunginya segera”
Eric memasuki kamarnya dan bersantai di sofa lembut yang menghadap keluar jendela. Ia dapat menatap malam yang diselimuti kesunyian di kawasan rumahnya. Eric yang sedari kecil dilatih untuk menjadi kuat sudah terbiasa menatap kesunyian di malam yang penuh kegelapan itu. Kesepian yang ia rasakan setelah kepergian ibunya mulai memudar setelah menemukan Ocha dan Aarav yang ternyata adalah darah dagingnya sendiri.
Meow.... meow... meoww
Ngeongan jubatus dari luar kamar Eric membangunkannya dari tidur. Ia tertidur di atas sofa karena kelelahan. Jubatus yang sudah berpisah dengan Eric beberapa hari sangat merindukan tuan pemiliknya itu. Jubatus tidak sabar untuk bertemu dengan Eric dan menggeliat manja padanya.
Eric membukakan pintu untuk jubatus yang sudah tidak sabar masuk ke kamar Eric. Melihat Eric di hadapannya, jubatus segera menerkam Eric hingga membuat Eric terjatuh. Jubatus menjilat wajah Eric yang masih dibawahnya dan Eric membalasnya dnegan mengelus elus kepala Jubatus. Ia yang semakin kuat karena berlatih bersama anggota Elang yang lain membuat Eric tidak bisa menahan terkamannya.
“badanmu semakin besar. Apakah kamu senang di sana?”
Meoww...
“ha... ha..., lukamu juga sudah sembuh total. Kamu sudah kembali seperti semula”
Jubatus langsung terdiam dan menunduk setelah mendengar perkataan Eric barusan. Perkataan Eric membuatnya teringat kembali pada kejadian yang sudah membuat jubatus kehilangan anaknya didepan mata. Jubatus lalu meninggalkan Eric yang masih terbaring di depan pintu. Ia berjalan dengan kepala tertunduk ke arah kasur yang biasa ia gunakan. Jubatus meringkuk dan menutup kepalanya dengan ekornya. Eric merasa bersalah melihat jubatus yang kembali bersedih.
“jubatus, aku tidak berniat untuk mengingatkanmu pada kejadian itu. Aku sudah memeriksa semua cctv di sekitar sini tetapi tidak ada yang terjadi pada rekamannya. Semua seperti biasa, tetapi anggota Elang masih mencari semua informasi mengenai pelakunya. Kamu tenang saja, jika kita sudah menemukannya aku akan membalasnya dengan setimpal”
Eric tidak bisa berbuat apa apa pada jubatus yang sedang sedih. Ia juga tidak tau bagaimana cara bertanya pada seekor hewan tentang apa yang sudah terjadi padanya. Eric lalu terpikir sebuah ide untuk memainkan piano dengan lagu yang jubatus suka. Jari jemari Eric mulai menari nari di atas tuts piano. Mendengar irama musik piano membuat jubatus kembali bersemangat. Ia duduk disamping Eric dan mendengarkan nada nada indah yang tercipta dari piano tersebut.
“bagaimana jubatus? Apakah suasana hatimu sudah lebih baik?”
Meow...
Jubatus menggeliat pada Eric menandakan jika ia sudah lebih baik. Ia dan Eric melanjutkan beberapa lagu untuk menghiasi malam sunyi tersebut.
...****
...
“kak Viana, kenapa kakak pulang?”
“ini itu juga rumahku, kenapa aku harus menjawab pertanyaan konyolmu itu”
“Hana hanya bertanya saja kok kak”
“kamu tidak usah bertanya apapun tentangku. Aku sudah tau niatmu dari dulu, ingat ya kamu itu tidak bisa menggantikan posisiku dikeluarga ini.”
“Hana tidak pernah berniat seperti itu kak Viana”
“halahh... kamu itu gadis penyakitan yang setiap waktu harus menjalani kemoterapi. Kamu tau tidak kalau uang keluarga kita itu akan habis hanya untuk mengobati wanita penyakitan seperti kamu ini. Mendingan udahan deh hidupnya”
“kenapa kakak tega mengatakan perkataan kasar seperti itu?”
__ADS_1
“duh jangan nangis dong. Kan aku mengatakan yang sebenarnya”
Air mata Hana mengalir deras di hadapan Viana yang masih menatapnya tajam. Hana berlari ke kamarnya karena sudah tidak tahan lagi terhadap perlakuan Viana. Selama ini Hana sudah berusaha membantu Viana untuk dekat dengan Eric tetapi seakan semua yang ia lakukan tidak ada artinya buat Viana.
“sayang, kenapa kamu mengatakan itu pada Hana?”
“aduh mama. Ini urusan kami berdua jadi mama gak usah ikut campur”
“mama memang tidak ingin ikut campur urusan kalian berdua, tetapi kamu harus menjaga citramu sendiri. Keluarga kita tidak boleh berkata kasar seperti tadi, jangan sampai kamu lepas kontrol jika suatu waktu kita mengadakan perkumpulan keluarga besar”
“iya mamaa.., aduh Viana capek. Viana istirahat dulu”
“bagaimana dengan Eric?”
“astaga aku lupa tujuanku ke sini gara gara wanita penyakitan itu”
“Viana berapa kali mama katakan, perhatikan kata katamu”
“maaf ma, lagian dia ngapain sih nyambut kedatanganku. Kenapa tidak mama sih?”
“mama sedang di kamar jadi sudah keduluan sama Hana. Jadi ada apa datang kemari?”
“ini semua berkaitan dengan pertunanganku ma. Ayah mana?”
“dia ada di kamar. Kamu kesana saja nanti mama nyusul. Mama mau melihat adik kamu dulu di kamarnya”
“mama cepetan ya. Nanti keburu habis ceritanya”
“iya..”
Tok... tok... tok...
“ayah ini Viana”
Ayah Viana membukakan pintu untuk Viana dan mengajaknya masuk. Kamar yang sangat luas dengan tempat tidur besar yang memiliki tiang tiang di setiap sudutnya sebagai sanggahan penutup tepat tidur tersebut. Beberapa sofa besar terdapat di dalam kamar orang tua Viana.
Rumah Viana beserta isinya di desain dengan nuansa kerajaan dikarenakan ayah Viana yang merupakan keluarga dari kerajaan.
“apa kabar sayang?”
“baik ya, ayah apa kabar?”
“ayah juga baik. Dimana ibumu?”
“mama sedang memberikan obat pada Hana”
“hmmm”
“ayah, Viana ingin memberitahukan ayah sesuatu”
“apa itu?”
__ADS_1
“ini mengenai pertunangan Viana dan Eric”
Tok... tok... tok...
“itu pasti mama, biar Viana saja yang buka”
“silahkan”
“mama, apakah sudah selesai?”
“sudah sayang, Hana sedang istirahat sepertinya tidak usah diganggu dulu.”
“bagaimana kelanjutan yang ingin kamu bicarakan tadi?” tanya ayah Viana setelah mereka bertiga berkumpul bersama.
“coba mama dan ayah lihat ini dulu”
Viana menyodorkan gambar yang ada di ponselnya. Foto Eric yang sedang berjalan dengan membawa dua tas dari anak anak kecil yang ada disampingnya.
“siapa wanita ini dan kenapa mengambil gambar dari belakang” ujar ayah Viana
“Viana yang mengambi foto ini secara diam diam jadi hanya bisa mengambil foto mereka dari belakang saja. Tapi Viana tau siapa wanita ini”
“siapa?”
“mama masih ingat gak dengan berita tranding tentang Eric yang memiliki kekasih saat dulu”
“ingat, emang wanita itu adalah wanita yang di sebelah Eric ini?”
“benar mah, dan Eric sudah terkena hipnotis kembali oleh wanita ini mah”
“namanya siapa ?”
“namanya Alyosha dan sudah punya dua anak. Viana tidak tau siapa ayah dari anak kecil itu, mungkin mereka anak dari pria simpanannya yang lain”
“ini tidak bisa dibiarkan begitu saja yah, kasihan Viana karena pertunangannya akan terganggu oleh wanita ini”
“benar ayah, Viana tidak mau berpisah dengan Eric.”
“ayah akan memikirkan cara untuk menghalanginya mendekati Eric”
“kenapa tidak meminta bantuan keluarga ayah saja”
“kita akan dicurigai jika meminta bantuan lagi karena kita sudah meminta ramuan yang digunakan untuk kakek Eric”
“itukan sudah lima tahun yang lalu. Ayah... Viana mohon ya ayahhh”
“baiklah ayah akan mencobanya kembali. Malam ini kita istirahat dulu, besok baru ayah pikirkan lagi mengenai ini”
“benarkah?”
“iya sayang, sudah sana kembali ke kamarmu. Istirahat yang baik”
__ADS_1
“terima kasih ayah, terima kasih mama. Selamat malam, Viana kembali ke kamar dulu.”
"sama sama. Selamat malam sayang" ujar mama Viana