Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Kepergian Alya


__ADS_3

“mama kami akan berangkat. Doakan kami bisa memenangkan perlombaan ini ya mah” ujar Ocha


“iya sayang, mama selalu mendokan kedua anak mama agar dapat mencapai semua yang diinginkan. Kalian harus berusaha dengan keras agar bisa menjadi pemenang”


Ocha dan Aarav menyalami Alyosha sebelum berangkat bersama guru yang membimbing mereka pada saat menjalani perlombaan. Sebuah perlombaan tentang cerdas cermat yang diadakan oleh kampus Arashi untuk semua golongan pelajar di Negara M.


“Ocha, Aarav, tunggu sebentar” ujar Alya dari depan rumahnya.


“bunda?” ujar Aarav


“ini untuk kalian berdua, bekal yang dibuatkan oleh mama kalian di tinggalkan saja. Kali ini bunda yang memasak bekal spesial untuk Ocha dan Aarav.”


“kalau begitu sini tas bekal kalian biar mama ganti dengan bekal dari bunda Alya.”


Alyosha mengeluarkan bekal makan siang yang ia siapkan untuk Ocha dan Aarav lalu menukarnya dengan bekal yang sudah disiapkan oleh Alya. Alya ingin memberikan kesan baik buat kedua anak Alyosha sebelum ia kembali ke rumah kedua orang tuanya.


“nah selesai. Apakah masih ada pesan dari bunda buat Ocha dan Aarav sebelum mereka berangkat?” tanya Alyosha


“anak kesayangan bunda, kalian berdua harus menang saat berlomba. Jangan mengecewakan bunda yang sudah mengajari kalian selama ini. Harus saling menjaga satu sama lain. ”


“emang bunda mau pergi ya?” tanya Ocha


“bunda hanya pergi sebentar, kalian tenanglah”


“oke bunda, mama. kami pergi dulu ya”


“baiklah, hati hati di jalan ya sayang. Bu guru saya titip anak saya” ujar Alya


“iya buk dokter, kalau begitu kami pergi dulu”


“bye... bye.. sayang.”


Setelah melihat kepergian Ocha dan Aarav, Alyosha dan Alya duduk bersama di rumah makan Alyosha. Mereka berdua saling berdiaman diri tidak tau akan membicarakan apa. Wajah Alya penuh dengan kebimbangan untuk meninggalkan Ocha dan Aarav yang sudah ia anggap anak kandung sendiri.


“apakah ada yang terjadi pada dokter Alya?”


“ayah saya baru saja menghubungi saya, dia mengatakan jika ibu sedang sakit parah. Karena saya harus menjaga ibu, jadi saya harus kembali ke rumah. Tetapi saya juga tidak bisa meninggalkan kalian.”


“saya turut bersedih mendengar bahwa ibu bu dokter sedang sakit. Kamu memang lebih baik untuk kembali dan menjaganya karena itu adalah kewajiban kamu. Untuk soal meninggalkan kami itu tidak perlu kamu risaukan, kita bisa berhubungan via telepon. Saya berharap semoga ibu kamu dapat sembuh secepatnya”


Alyosha dan Alya saling berpelukan dan menangis bersama mengingat begitu banyak kenangan yang sudah dilewati oleh mereka berdua selama enam tahun. Alya yang sudah sangat membantu pada saat Alyosha sedang dalam keadaan terpuruk. Dan Alyosha yang sudah membawakan kekeluargaan bagi Alya.


“lalu kapan kamu akan berangkat?”

__ADS_1


“nanti pukul sebelas, aku akan besiap siap sekarang. Bisakah kamu mengantarku sampai stasiun kereta api?”


“tentu. Aku juga akan bersiap siap”


Alyosha mengantar Alya hingga stasiun kereta api, setelah kepergian Alya ia baru kembali pulang ke rumahnya. Pada sore harinya saat Ocha dan Aarav pulang dari perlombaan yang telah dijuarai, mereka tidak banyak bertanya mengenai kepergian Alya karena dia sudah berpamitan pada mereka berdua.


Rumah Alya yang sekarang tidak ditinggali oleh seorang pun membuat suasana pada malam hari menjadi terasa sangat sunyi bagi Alyosha dan kedua anaknya sebagaimana yang telah dikatakan oleh kepala desa Hala.


...****


...


“tuan Eric ada telepon penting untuk anda”


“katakan aku sedang sibuk”


“tapi ini adalah panggilan dari kakek anda”


“Jubatus, kamu istirahat dengan patuh disini.”


Meow....


Suara jubatus terdengar gemetaran takut ditinggal kembali oleh Eric, karena ia masih trauma dengan apa yang sudah terjadi pada sekujur tubuhnya. Luka akibat pukulan yang sudah bertubi tubi pada tubuh Jubatus membuat ia harus dirawat di rumah sakit hewan.


Eric sangat sedih melihat Jubatus yang berjalan tergopoh gopoh pada saat ia bertemu setelah kehilangan jubatus pada malam hari sebelumnya. Eric masih terus menyelidiki orang orang yang sudah melukai peliharaan kesayangan yang sudah bersamanya sedari kecil.


Jubatus terkulai lemas di atas ranjang yang sudah di sediakan oleh dokter spesialis hewan untuknya. Dia melihat langkah Eric yang melewati pintu ruangan dengan tatapan penuh harap pada pemiliknya untuk datang kembali padanya.


“halo kakek, bagaimana kabarmu?”


“kakek merasa sudah lebih baik sekarang. Kakek mendengar dari Viana kalau kamu mendapatkan sebuah masalah di perusahaan Digna, lalu apakah sudah kamu selesaikan”


“sudah kek, semuanya sudah diselesaikan dan perusahaan Digna tidak dirugikan sedikit pun”


“baguslah kalau begitu, lalu pembangunan cabang perusahaan manufaktur milikmu sudah sampai dimana”


“sedang berlangsung dalam pembangunan sekolah dan rumah sakit yang baru”


“kakek bukannya ingin ikut campur dengan perusahaan milikmu, tetapi ada baiknya sebelum kamu mulai membangun cabang perusahaanmu kamu membukanya bersama dengan anak anak di desa tersebut agar semua berjalan dengan lancar. Mereka menganggap jika seseorang memberikan kesenangan bagi anak anak maka akan memberikan kelancaran dalam menjalankan sebuah usaha. ”


“baik kek, Eric akan melakukannya besok pagi sesuai apa yang telah dikatakan kakek. Kalau tidak ada yang lain lagi aku akan mengakhiri panggilan ini karena aku masih memiliki pekerjaan yang lain”


“itu saja yang ingin kakek sampaikan, kamu harus menjaga Viana dengan baik. Dia adalah tunanganmu”

__ADS_1


“baik kakek, sampai jumpa di lain waktu”


Eric bergegas kembali ke ruangan jubatus, melihat Eric yang datang jubatus kembali bersemangat. Eric mengelus elus kepala jubatus yang ada dipangkuannya. Dokter sudah melakukan pemeriksaan dan pengobatan pada jubatus dan mengatakan jika ia sudah boleh pulang siang ini. Badan jubatus gemetaran mendengar bahwa ia akan dibawa pulang oleh Eric kerumahnya. Dia tidak berhenti mengeong seperti menolak untuk pulang.


“apakah ada yang salah dengannya dok?”


“sepertinya dia sangat trauma pada kejadian yang sudah menimpanya tuan Eric. Mungkin lebih baik kamu mencarikan suasana baru agar dia bisa memulihkan traumanya pada pukulan yang sudah ia terima.”


“terima kasih dokter”


“sama sama tuan Eric”


Eric menggendong jubatus yang masih sedikit lemah. Dia terus memeluk dan mengusap kepala jubatus untuk memberikan ketenangan. Nathan mengikuti mereka berdua dari belakang dengan membawa obat yang diberikan dokter untuk jubatus.


“siapkan mobil, kita akan pergi ke vila Satya”


“siap tuan Eric”


Vila Satya adalah vila milik Eric yang diberikan oleh mendiang ibunya. Vila yang terletak bersamaan dengan lokasi pelatihan Elang yang dijaga dengan sangat ketat. Hingga orang lain tidak dapat mengakses lokasi tersebut.


“lalu perintahkan Alan untuk datang dan menjaga jubatus”


“ketua tim inti bilang jika Alan sedang berada di luar kota tuan, mungkin malam ini dia akan kembali”


“baiklah”


Sesampai di Vila Satya, Eric disambut dengan penuh wibawa oleh para bawahannya dari kelompok mafia Elang. Jubatus mulai bersemangat mengingat kenangannya di kamp tersebut, tempat ia berlatih bersama dengan Eric sewaktu mereka masih kecil.


“kamu sudah berada di tempat yang aman sekarang, jadi kamu harus bisa pulih dengan cepat”


Meow... meow... meow...


Jubatus mulai bermain bersama dengan para anggota Elang, Eric melihat jubatus yang sudah kembali riang merasa legah. Pada sore harinya mereka berdua duduk di pinggiran taman Vila tempat mereka berdua melihat matahari yang akan terbenam saat sore hari setiap mereka tinggal di vila Satya. Eric menyandarkan kepalanya pada badan kekar jubatus dan jubatus duduk menatap pemandangan kota s di bawah mereka.


“apakah kamu merasa senang tinggal disini?”


Meow...


“kalau begitu, bisakah aku melanjutkan pekerjaan ku?”


Jubatus tidak mengeong untuk memberikan jawaban pada Eric. lalu jubatus pergi meninggalkan Eric sendirian menatap matahari yang sudah mulai tenggelam dan menyisahkan cahaya indah berwarna orange yang menerpa wajahnya. Mau tidak mau ia harus meninggalkan jubatus yang sedang terluka karena masih memiliki banyak pekerjaan lain.


“tuan, apakah kita bisa kembali malam ini?”

__ADS_1


“bisa Nathan. Kita akan kembali pada malam hari ke rumahku”


“baik tuan muda.”


__ADS_2