Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Pelayan Baru


__ADS_3

“maafkan saya tuan Eric karena saya datang sedikit terlambat” ujar kepala pelayan Eric sambil membungkukkan badan di hadapan Eric.


“tidak kepala pelayan, kamu datang di saat yang tepat. Oh iya dimana Lili ?, pelayan yang biasa bertanggung jawab di taman ini”


“dia sudah dipecat dari dua bulan yang lalu tuan Eric”


“kamu bilang dia sudah pecat, kenapa saya tidak tau?”


“bukankah tuan Eric yang sudah memberikan perintah untuk memecat Lili dengan segera”


“saya tidak pernah memerintahkan kamu untuk memecatnya”


“memang bukan tuan Eric yang secara langsung memerintahkan saya akan tetapi nona Viana yang memberitahu saya jika ia diperintahkan oleh tuan Eric untuk memecat pelayan itu”


“Viana?”


“benar tuan Eric. Nona Viana berkata karena tuan


Eric sedang berada di luar jadi tuan Eric memerintah nona Viana untuk menyuruh saya memecat pelayan tersebut”


“lalu siapa pelayan yang kamu bawa ini?”


“dia adalah pelayan baru yang dibawakan oleh nona Viana untuk menggantikan pelayan yang sudah dipecat tersebut tuan”


Eric sangat pusing dan memegang kepala dengan kedua tangannya karena merasa semua peraturan di rumahnya sudah berantakan. Alyosha hanya bisa diam dan menjadi pendengar saja karena tidak tahu menahu urusan rumah Eric.


“baiklah, sekarang bangunkan Viana dan beritahu dia untuk menemui saya di sini”


“baik tuan”


Kepala pelayan pun berlalu ke dalam rumah dan hendak diikuti oleh pelayan yang dibawa Viana ke rumah Eric.


“kamu mau kemana?”


“saya mau masuk ke dalam tuan Eric, ini masih sangat pagi”


“apa kamu bilang?, saya belum memerintahkanmu untuk pergi”


“tapikan tuan”


“tidak ada tapi tapian, kamu masih ingin bekerja disini atau tidak?”


Pelayan tersebut hanya diam sambil menundukkan kepala dan tidak menjawab pertanyaan dari Eric.

__ADS_1


“Sekarang juga kamu harus periksa berapa jumlah cetah yang ada di dalam sana”


Pelayan baru masih diam di tempatnya.


“KENAPA MASIH BERDIRI DISINI, AYO LAKUKAN APA YANG AKU PERINTAHKAN”


Setelah Eric berkata dengan ketus barulah pelayan tersebut dengan cepat mengerjakan apa yang diperintahkan Eric. Pelayan baru tadi dengan mudah masuk ke dalam taman milik keluarga jubatus. Karena ketidaktahuannya tentang cara mengurus dan mengontrol hewan peliharaan Eric membuat ia dikejar kejar oleh cetah cetah tersebut. Pelayan itu berlari mengelilingi taman sambil menjerit minta tolong kepada Eric untuk membantunya lepas dari kejaran para cetah di belakangnya.


“tuan Eric tolong saya”


“sudahlah Eric, dia sangat kasihan. Lebih baik kamu tolong dia”


Eric membunyikan siulan dari mulutnya membuat semua cetah berhenti mengejar pelayan tersebut. Saat pelayan itu merasa ada peluang, ia segera berlari keluar dari dalam taman dan mengunci pintu dengan cepat. Ia lalu menghampiri Eric dan Alyosha dengan nafas yang ngos ngosan.


“mereka mengejar saya tanpa berhenti tuan Eric, padahal saya hanya ingin menghitung jumlah mereka seperti yang anda perintahkan. Saya ingin anda memberikan pelajaran kepada hewan hewan itu” curhat pelayan yang bercucuran keringat.


“jaga ucapanmu pelayan. Kamu yang seharusnya diberikan pelajaran karena tidak mengerjakan pekerjaanmu dengan baik”


“tapikan tuan Eric, nona Viana...”


“sudah hentikan, aku tidak mau mendengar penjelasanmu”


"sepertinya aku harus bersiap siap dulu, jam sepuluh nanti kita kan harus kembali lagi ke pasar api” ujar Alyosha menyela pembicaraan yang sepertinya akan memanas antara Eric dan pelayannya.


“baik tuan Eric”


Alyosha berjalan mengikuti arahan dari pelayan menuju kamar yang sudah disediakan Eric padanya. Mereka berdua menaiki satu persatu anak tangga di dalam rumah Eric.


“silahkan, ini kamar anda”


“oh baik, terima kasih ya”


“kamu jangan berharap bisa mendapatkan hati tuan Eric, dia itu sudah memiliki tunangan yang sangat cantik dan juga baik hati. Maka jangan menjadi perusak hubungan orang”


“maaf?” Ujar Alyosha yang tidak mendengar dengan jelas perkataan pelayan karena ia berbicara sangat cepat.


“eehmm..ehmm..., kamu hanya cukup melakukan pekerjaanmu dan jangan membual di sini. Sana pergi” ujar Galen dari arah belakang pelayan tersebut.


“ah.. tuan Galen, kenapa anda bisa kesini. Saya baru saja ingin membuatkan tuan Galen teh di pagi yang cerah ini”


“aku tidak perlu pelayanan dari wanita sepertimu, sudah sana lanjutkan pekerjaanmu. Ingat kamu adalah seorang pelayan rendahan.”


Pelayan tersebut segera pergi setelah mendengar perkataan tajam dari Galen. Alyosha juga merasa kaget karena yang ia tau Galen adalah pria lembut dan perkiraan Alyosha Galen tidak akan mengutarakan perkataan seperti tadi.

__ADS_1


“maaf Alyosha, aku merasa kesal pada pelayan barusan. Oh iya ini pakaian yang kak Eric belikan untukmu”


“pasti ini sangat mahal, aku pakai pakaian yang biasa saja”


“tidak apa apa Alyosha, hanya pakaian seperti ini tidak akan menguras habis harta kak Eric. Ayo buruan siap siap, aku akan menjemputmu ke sini dua puluh menit lagi untuk sarapan”


“baiklah kalau begitu, aku siap siap dulu”


Alyosha menerima pakaian yang dibawakan Galen padanya lalu masuk ke dalam kamar.


“kamar besar seperti ini sama luasnya dengan gabungan kamarku dan juga Ocha dan Aarav”


Alyosha kembali teringat dengan Ocha dan Aarav yang membuatnya sedih. Alyosha masuk ke kamar mandi ingin membersihkan diri, ia berdiri dibawah siraman air hangat yang mengalir membasahi tubunya. Setelah mandi, Alyosha lalu mengenakan pakaian dari Eric dan mengeringkan rambutnya. Alyosha kemudian melihat lihat isi kamar yang berada tepat di samping kamar Eric. Mata Alyosha tertuju pada bingkai foto yang berisikan foto kecil Eric bersama dengan seorang wanita yang lebih tua darinya.


“dia sangat imut saat masih kecil tetapi juga sangat tampan, sedikit lebih tampan dari Aarav. Ibunya juga sangat cantik dan elegan.”


Alyosha mengarahkan pandangannya ke segala arah pada setiap sudut kamar tersebut. Ia baru menyadari jika kamar itu adalah kamar milik ibu Eric. Sebuah patung kecil membuat Alyosha penasaran karena patung yang dibuat persis seperti kepala cetah itu timbul dipermukaan dinding kamar. Dengan perlahan Alyosha menyentuh patung kepala cetah tersebut dan tidak sengaja menekannya.


Sebuah pintu terbuka di hadapan Alyosha setelah menekan patung kecil barusan kedalam. Rasa penasaran Alyosha membuatnya dengan sigap melangkah memasuki pintu itu. Ia menelusuri sebuah lorong yang dipenuhi dengan foto masa kecil Eric. Kemudian Alyosha melihat ada sebuah ruangan di ujung lorong, ia pun melanjutkannya hingga sampai di ruangan tersebut.


AAAA....


Alyosha berteriak dengan keras setelah melihat apa yang ada di hadapannya. Seorang pria yang hanya mengenakan celana pendek saja di tubuhnya yang kekar sedang menatap Alyosha dengan santai.


“kamu?”


“ada apa?”


“kenapa kamu bisa ada disini Eric, apalagi sekarang kamu...” Alyosha tidak dapat melanjutkan perkataannya dan memalingkan pandangannya dari Eric.


“seharusnya aku yang bertanya padamu Alyosha karena ini adalah kamarku”


“a.. aa.. aku mana tau jika ini kamar kamu”


“untuk apa kamu memalingkan pandangan dariku, anggap saja ini simulasi untuk kita nanti”


Eric berjalan perlahan menuju Alyosha yang berdiri dan membelakangi Eric. Saat Alyosha merasakan ada hawa Eric di belakangnya ia berbalik perlahan.


“kamu....”


Alyosha dengan spontan mendorong Eric menjauh darinya akan tetapi karena dorongan dari Alyosha yang sedikit kuat dan tiba tiba membuat Eric akan terjatuh. Eric menarik tangan Alyosha saat ia mulai terjatuh ke lantai dan tarikan dari Eric membuat Alyosha juga ikut jatuh tepat di atas Eric. Alyosha menatap lekat mata Eric yang ada dibawahnya disambut senyuman hangat dari Eric.


“apakah kamu suka seperti ini?”

__ADS_1


Mendengar pertanyaan yang diutarakan Eric membuat Alyosha tersadar kembali dari pesona mata dan wajah Eric itu. Alyosha dengan cepat berdiri dan kembali ke kamarnya meninggalkan Eric yang masih terbaring di atas lantai.


__ADS_2