Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Sampel Rambut


__ADS_3

“selamat pagi mama.., ayah..”


“selamat pagi sayang”


“bagaimana yah?, apakah ayah sudah memikirkan rencana kita?”


“ayah sudah memikirkannya tadi malam. Kita harus memastikan kedua anak itu, apakah mereka memiliki hubungan dengan Eric. Karena jika memang benar kenyataannya akan sulit untuk memisahkan mereka berdua.”


“lalu apa yang harus kita lakukan ayah?”


“kita akan memastikannya terlebih dahulu baru melanjutkan rencana yang sudah mama tulis, coba kamu lihat ini”


“wah... mama memang sangat pandai dalam menyusun strategi”


“iya dong sayang. Nanti mama akan membantu Viana mencari tau mengenai dua anak itu”


“selamat pagi mama, ayah, kak Viana” ujar Viana yang baru saja datang ke ruang makan.


“selamat pagi Hana sayang. Bagaimana istirahatmu tadi malam ?”


“sangat baik mah. Hana merasa lebih segar pagi ini.”


“bagus kalau begitu. Ayo kita sarapan dulu.”


“baik mah”


Viana dan keluarganya mulai menyantap hidangan yang ada di atas meja pagi itu. Setelah selesai sarapan, Viana dan ibunya pun bersiap siap untuk mencari tau identitas dua anak yang bersama dengan Eric.


“coba kamu hubungi kepala pelayan Eric. Tanyakan sekarang Eric ada dimana”


“oke mah sebentar”


Viana mengeluarkan ponsel untuk menghubungi kepala pelayan Eric.


“ halo pak”


“halo nona Viana”


“apakah Eric ada di rumah?”


“tida ada nona Viana. Pagi ini tuan Eric sudah berangkat ke perusahaan manufakturnya”


“oh ya, lalu kapan dia akan pulang?”


“tuan Eric akan pulang dua hari lagi. Apakah tuan Eric tidak memberitahu anda?”


“bagaimana ini ma, apa yang harus Viana jawab” ujar Viana berbisik pada ibunya


“jawab saja sesuka hatimu. Dia hanya kepala pelayan biasa”


“ini tidak apa apa mah?”

__ADS_1


“iya sayang. Percaya sama mama”


“Halo nona Viana, apakah kamu masih ada disana?”


“ha..haloo pak kepala pelayan. Eric sudah memberitahu saya kemarin. Saya hanya ingin memastikan apakah anda melakukan pekerjaan anda dengan baik”


“maaf nona Viana, sepertinya saya sudah terlalu lancang”


“tidak apa apa, tetapi lain kali jika saya bertanya sesuatu padamu kamu jangan bertanya balik pada saya”


“baik nona Viana, saya akan mengingatnya”


Viana mengakhiri panggilan tersebut dengan lega. Ia sangat takut semua rahasianya terbongkar oleh kepala pelayan yang selalu mengintimidasinya.


“lalu apa sekarang mah?”


“kita pergi ke sekolah mereka berdua untuk mencari bukti”


“baik mah”


Viana dan ibunya meluncur ke sekolah Ocha dan Aarav dengan menggunakan mobil. Dalam perjalanan ke sekolah, ibu Viana menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Viana sesampai di sana. Viana mengangguk anggukkan kepala tanda kalau ia sudah memahami semua perkataan ibunya.


Sesampai di sekolah mereka mulai beraksi secara diam diam. Mereka berdua menuju kelas Ocha dan Aarav setelah bertanya pada orang sekitar mengenai letak kelas Ocha dan Aarav. Di luar kelas Ocha dan Aarav ada Alyosha yang setia menunggu kedua anaknya.


“mah berhenti sebentar"


“ada apa sayang ?”


“kenapa dia ada disini?”


“Viana juga tidak tau mah, bagaimana ini?”


“sepertinya kita harus mengulang semua rencana kita. Mama kira kita dapat melakukannya semulus mungkin tanpa mendapati rintangan”


“mama sih, mana ada di dunia ini yang tidak memiliki rintangan”


“yasudah begini saja. Mama akan mencoba mendekati Alyosha saat jam istirahat dan mengambil sehelai rambut Ocha dan Aarav. Kamu tunggu di sini, nanti mama akan memberikan isyarat pada Viana untuk berjalan ke arah kami saat mama sedang bebicara dengan Alyosha, setelah itu....”


“oke.. oke.. Viana mengerti apa yang harus dilakukan setelah itu. Ayo cepetan mah, sebentar lagi sudah jam istirahat”


Ting... ting... ting...


Bel berbunyi menandakan jam istirahat sudah dimulai. Ibu Viana mulai mendekati Alyosha yang masih duduk di bangku yang tadi. Alyosha tampak terkejut karena kedatangan ibu Viana di sampingnya. Ibu Viana mulai mengutarakan basa basi pada Alyosha yang merasa sedikit tidak nyaman karena ia tidak tau orang yang ada di sampingnya itu. Para murid sekolah mulai berhamburan keluar kelas untuk beristirahat. Ocha dan Aarav segera bergabung dengan Alyosha.


“kami permisi ya bu,” ujar Alyosha pada ibu Viana


“oh.., ini anak kamu. Mereka berdua lucu sekali”


Ibu Viana segera berjongkok di hadapan Ocha dan Aarav untuk menahan mereka yang hendak pergi.


“siapa nama kamu?” tanya ibu Viana pada Ocha sambil mengusap kepala Ocha.

__ADS_1


“saya Ocha Digna”


“nama kamu bagus seperti orangnya. Kalau kamu?”


Ibu Viana mulai beralih pada Aarav tetapi Aarav segera mundur saat ibu Viana mendekatinya. Ibu Viana tertahan melihat Aarav yang menjauh, ia lalu berdiri canggung dan tersenyum pada Alyosha yang sedang mengamatinya. Dari kejauhan Viana mulai berjalan ke arah Alyosha dan ibunya. Ia bersiap siap untuk mengambil helaian rambut dari dua anak yang ada di hadapan ibu Viana tersebut.


“ha.. ha..., dia sepertinya takut pada saya. Apakah mereka berdua kembar?”


“benar bu. Mohon maaf sekali, kami harus pergi sekarang karena mereka juga harus istirahat”


“oh silahkan, silahkan”


Ocha hendak menyalami ibu Viana karena akan meninggalkannya. Ibu Viana langsung menjatuhkan rambut Ocha yang sedang ia genggam ke lantai dan dengan cepat menyambut tangan Ocha yang sudah disodorkan padanya.


“kami pergi dulu omah, sampai jumpa”


Ibu Viana melambaikan tangan dan menatap kosong ke depan. Ia sangat kesal karena Ocha menganggapnya seorang nenek nenek. Viana menghentikan langkahnya melihat kepergian Alyosha. Ia merasa sudah tidak perlu berpura pura menjatuhkan barang di hadapan mereka untuk menukarkan rambut yang di ambil oleh ibu Viana padanya.


“mama... mama..” Viana memanggil ibunya yang masih berdiri seperti patung dengan pelan.


Merasa tidak ada respon, Viana lalu menghampiri ibunya. Ia memukul bahu ibunya dan itu membuat


ibu Viana kembali tersadar.


“mama ngapain sih berdiri disini. Mama gak dengar kalau Viana memanggil mama dari tadi.”


“apakah wajah mama sudah tua?”


“aduh mama bikin Viana takut saja, Viana kira mama sudah ketahuan. Mama itu masih cantik kok tapi memang wajah tidak bisa membohongi umur mama.”


“benar kan sayang. Ini karena mama sudah jarang perawatan lagi”


“sudah mah, jangan memikirkan itu dulu. Sekarang itu yang paling penting adalah rambut anak Alyosha. Mana mah ?”


“astaga sayang, mama sampai lupa. Dimana yah, tadi mama menjatuhkannya disekitar sini”


“kenapa dijatuhkan segala sih mah”


“tadi anaknya mau menyalami mama jadi dengan spontan mama menjatuhkannya. Mana cuma dapat rambut dari satu anaknya saja lagi”


“loh kenapa cuma dapat satu mah?”


“anaknya yang satu lagi tiba tiba menjauhi mama. Jadi mama pikir satu anak saja sepertinya sudah cukup karena mereka berdua itu kembar. Ayo bantu mama mencarinya”


“aduh mama nambah kerjaan aja deh”


“DAPAT” ujar Viana dan ibunya bersamaan.


Viana dan ibunya sama sama mendapatkan satu helai rambut di waktu bersamaan. Hanya ada dua helai rambut tersebut yang ada di lantai depan kelas Ocha dan Aarav.


“kita bawa saja dua duanya ke laboratorium ayah”

__ADS_1


“iya mah, ayo kita pulang sebelum mereka kembali”


__ADS_2