
Pagi itu sangat cerah secerah senyuman Ocha dan Aarav setelah mengetahui bahwa mereka berdua akan kembali bersekolah. Alyosha telah mendaftarkan Ocha dan Aarav di sekolah yang menurutnya bagus untuk kedua anaknya. Karena Alyosha mengetahui tingkat kecerdasan Ocha dan Aarav, ia memilih sekolah yang memiliki tingkat pelajaran yang lebih unggul dan kedisiplinan yang lebih ketat.
“kapan kami akan mulai masuk sekolah mah?”
“besok para murid akan mulai belajar di sekolah, tetapi karena kak Ocha harus menjalani kemoterapi hari ini, maka dia bisa memulai belajar sesuai waktu rekomendasi dari dokter. Jadi kita tunggu saja apa kata dokter nanti.”
“Aarav sudah tidak sabar lagi mah, pasti belajar di kota ini enak sekali”
“iya sayang”
“selamat pagi Ocha, saya akan memeriksa kamu terlebih dahulu sebelum memulai kemoterapi”
Dokter Alan memeriksa keadaan Ocha yang akan menjalani kemoterapi untuk pertama kalinya. Aura Alan tampak lebih fresh dari sebelumnya. Setelah menunggu selama satu hari, tibalah waktunya untuk Ocha memulai perawatan rutin agar penyakit yang ia derita tidak semakin parah.
“bagaimana perasaanmu?”
“Ocha merasa lebih baik dokter”
“Apakah Ocha sudah siap untuk kemoterapi?”
“sudah dokter, Ocha harus bersemangat agar Ocha lekas sembuh”
“bagus sekali, yasudah kami akan membawamu ke ruangan kemoterapi. Kita akan mulai sekarang”
Dokter Alan membawa Ocha ke ruang perawatan intensif bersama dokter lainnya. Alyosha dan Aarav menunggu Ocha di luar ruangan. Mereka berdua sama sama berdoa untuk kelancaran perawatan Ocha.
Langkah kaki terdengar dari sudut lorong, terlihat Alya dan Meera mendatangi mereka di pagi hari itu. Tidak lama setelahnya Eric juga datang dengan membawa bingkisan di tangannya. Alyosha tampak heran melihat mereka yang mengetahui keberadaannya dan anak anaknya.
“apakah sudah dimulai?” tanya Meera
“sudah dari setengah jam yang lalu”
“Alyosha, saya datang ke sini untuk berpamitan. Saya akan kembali ke kota H bersama orang tua saya pagi ini”
“begitu cepat. Kenapa kamu tidak mengenalkanku dengan orang tuamu sebelumnya Alya. Lalu bagaimana keadaan mereka berdua?”
“aku hanya tidak ingin memberatkanmu saja, ayahku sangat sehat tetapi ibu masih sedikit kurang baik”
“aku turut bersedih, yasudah kamu pulang dan berbaktilah karena mereka adalah orang tuamu yang harus disayangi.”
“baik Alyosha. Aarav, bunda kembali dulu ya. Jaga kak Ocha dan mama dengan baik, jadilah anak yang penurut”
“iya bunda. Aarav akan menjaga mama dan kak Ocha”
“benar Alya. Aku juga akan ikut serta menjaga Alyosha dan anak anaknya” ujar Eric
“heh kamu ngomong apaan sih, lagian bukannya kamu bekerja di perusahaan besarmu itu malah nganggur disini” ujar Meera ketus
“saya berhak menjenguk Ocha karena saya...”
__ADS_1
Eric menghentikan perkataannya karena semua orang mengalihkan pandangan darinya setelah melihat dokter Alan dan Ocha keluar dari ruangan perawatan. Mereka lalu kembali ke ruangan pasien VVIP bersama sama. Alya bersalaman dengan semua orang yag ada di ruangan tersebut sebelum ia berangkat. Ia memeluk erat Ocha dan Aarav lalu memeluk Alyosha juga kakaknya.
“aku pergi dulu ya”
“iya, jangan lupa berkunjung setelah urusanmu selesai” ujar Alyosha
“siap buk bos”
“jaga ayah dan ibu dengan baik. Perhatikan pola makannya dan kegiatannya agar tetap sehat”
“iya kak Alan, kamu juga sesekali harus berkunjung bersama Meera ke rumah kita. Benarkan Meera?”
“benar Alya. Kalau Alan memiliki waktu senggang kami akan segera meluncur ke sana.”
Kepergian Alya menyisahkan keheningan di dalam ruangan tersebut membuat mereka saling menatap satu sama lain.
“kapan anak saya bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa dokter Alan?” tanya Alyosha
“dia sudah boleh beraktivitas seperti biasa, tetapi jangan terlalu berat”
“jadi apakah dia sudah boleh bersekolah besok?”
“boleh saja asalkan dia tetap diawasi terus olehmu”
Alyosha lalu berpikir mengenai perkataan dokter Alan, ia tidak bisa terus menerus berada di samping Ocha karena harus bekerja untuk penghasilan mereka bertiga. Lalu Eric tiba tiba membuka bingkisan yang ia bawa sendiri. Sebuah boneka beruang yang memiliki bulu yang sangat lembut ia berikan pada Ocha. Ocha menerima boneka pemberian Eric dengan senang hati dan memeluknya dengan erat.
“Terima kasih om Eric. Ocha sangat senang karena tidak pernah diberikan boneka oleh orang lain”
“itu berbeda dengan pemberian om Eric”
Alyosha tidak dapat berkata kata mendengar perkataan Ocha. Ia menyadari jika seorang anak perempuan sangat membutuhkan perhatian dari seorang ayah. Alyosha merasa ia sudah keterlaluan karena masih dengan kukuh untuk tetap memisahkan anak anaknya dengan ayah mereka sendiri.
“om juga membawakanmu ini. Silahkan kamu buka”
Aarav mengabaikan pemberian Eric, ia menolaknya dengan memalingkan wajah. Alyosha yang melihat tingkah Aarav merasa bahwa sudah waktunya ia menyatukan anak anaknya dengan ayah kandung mereka sendiri sebelum terlambat. Karena ia merasa jika Ocha dan Aarav sudah dewasa maka mereka berdua tidak akan pernah menerima Eric dan juga memaafkannya.
“sayang, ayo terima pemberian om Eric. Tidak baik untuk menolak pemberian orang lain”
“terima kasih”
“kamu bersabar sedikit Eric, saya saja sulit untuk mendekatinya apalagi kamu yang bukan siapa siapanya”’ ujar Meera.
“Meera, apakah hari ini kamu sibuk?”
“tidak. Aku sedang cuti. Kan aku baru saja menikah”
“jadi bisakah aku menitipkan Ocha dan Aarav sebentar bersamamu disini?”
“huaaa senangnya, terima kasih banyak Alyosha karena sudah memberikanku waktu sendirian untuk mengurus malaikat malaikat kecil ini. Akan aku lakukan dengan senang hati”
__ADS_1
“Ocha dan Aarav tunggu sebentar disini bersama dengan tante Meera ya sayang. Mama keluar sebentar saja.”
Alyosha mencium kening kedua anaknya sebelum pergi. Lalu ia berjalan ke arah Eric yang berdiri berseberangan dengan Alyosha.
“bisakah kamu ikut denganku keluar sebentar”
Alyosha menarik tangan Eric tanpa meminta persetujuannya. Jantung Eric berdegup kencang, ia merasakan tangan Alyosha yang sangat lembut dalam genggamannya untuk yang kedua kalinya. Alan yang melihat Alyosha menarik Eric merasa resah karena takut jika perbuatan dari Eric di pagi ini menyebabkan masalah untuk diri Eric sendiri.
“ada apa?” tanya Eric pada Alyosha setelah berada di luar ruangan.
“apakah kamu membawa mobil?”
“ya, ada di parkiran. Apakah kamu ingin aku membawamu ke suatu tempat ?”
“benar. Aku ingin kamu membawaku ke tempat yang akan aku arahkan nantinya”
Eric dan Alyosha berjalan beriringan ke tempat parkiran. Di parkiran tersebut sudah terparkir mobil hitam yang hanya dikeluarkan sebanyak lima mobil yang sama di dunia ini. Eric membukan pintu mobil untuk Alyosha. Alyosha merasa sedikit canggung karena mobil tersebut teralu mewah baginya.
“tidak perlu sungkan, masuklah”
Alyosha lalu memasuki mobil tersebut dan duduk di bangku yang ada di samping pengemudi. Mobil yang hanya memiliki dua bangku saja di dalamnya. Eric mengendarai mobilnya mengikuti arahan dari Alyosha. Jika Alyosha mengatakan belok kanan maka ia akan membawa mobilnya ke arah yang sudah ditentukan oleh Alyosha.
“kamu bisa menghentikan mobilmu”
“apakah sudah sampai?”
Eric tampak heran karena mereka berhenti tepat di depan supermarket. Alyosha membuka mobil lalu turun dan masuk ke dalam supermarket tersebut. Eric menepikan mobilnya dan mengikuti Alyosha yang masuk ke supermarket.
“apakah ini tempat yang kamu sebut tadi”
“tidak, kita belum sampai dan masih sedikit jauh. Aku hanya ingin membeli susu coklat”
Alyosha mengambil susu coklat di kulkas lalu menuju kasir. Sedangkan Eric mengambil minuman soda dan menuju kasir sama seperti yang Alyosha lakukan. Eric dan Alyosha sedang mengantri untuk melakukan pembayaran.
“apakah hanya ini saja?” tanya kasir saat tiba giliran Alyosha
“ben..”
“ini juga, saya yang akan membayarnya”
Eric meletakkan minumannya di depan kasir dari belakang Alyosha. Eric yang mendekatkan diri pada Alyosha dari belakangnya karena meletakkan minuman soda tersebut membuat pipi Alyosha memerah malu. Ia tidak berani menggerakan kepalanya ke samping karena wajah Eric masih ada tepat di sampingnya. Tangan Eric menekan meja kasir untuk melihat proses pembayaran yang membuat tubuh Alyosha terkurung di antara kedua tangannya persis seperti orang tua yang mengawasi anaknya saat membayar belanjaan.
“terima kasih sudah berbelanja. Selanjutnya,”
Alyosha menerima minuman yang mereka beli dan berbalik bersamaan dengan Eric. mereka berdua berjalan menuju mobil Eric. Di dalam mobil Alyosha membuka susu coklatnya dan langsung meminumnya untuk mengurangi rasa canggung antara Alyosha dan Eric.
“selanjutnya kita akan kemana?”
“ke taman yang ada di jalan Onya, kamu taukan?”
__ADS_1
“ya”