Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Positif Hamil


__ADS_3

Kulit putih milik Alyosha penuh dengan memar. Alyosha yang selama ini berusaha menutupi semua bekas yang diberikan Gauri dengan berbagai cara. Ia mengajukan cuti selama seminggu untuk menghilangkan memar pada wajah dan tubuh yang kali ini sudah tidak bisa Alyosha tutupi.


Di kedua sudut mata dan bibir Alyosha penuh dengan memar. Luka di dahi yang masih harus di perban membuat ia bersembunyi dari masyarakat. Alyosha tidak ingin seorang pun mengetahui mengenai kondisi tubuh dan keadaannya.


Selama seminggu ia terus mengurung diri dirumah dan mematikan ponsel tidak ingin diganggu. Terkadang ia pergi ke toko herbal malam hari dengan menggunakan topi agar tidak dikenali siapapun dan tidak ingin berjumpa dengan orang yang ia kenal.


Toko herbal yang dimiliki oleh seorang nenek yang berumur sekitar lima puluh tahun. Ia hidup sendirian menjaga toko miliknya dan sangat perhatian pada Alyosha. Dia mengajari Alyosha sepenuh hati tentang berbagai tanaman dan fungsi dari tanaman tersebut. Nenek tua itu juga memberikan obat pada luka milik Alyosha.


Hingga luka didahi kanan Alyosha membaik dan memar pada tubuhnya menghilang. Luka pada dahi Alyosha meninggalkan sedikit bekas. Jika seseorang melihat bekas pada dahi Alyosha sekilas saja, bekas itu langsung bisa dikenali kalau itu luka yang dalam.


Seminggu sudah berlalu, ayahnya juga tidak membuat masalah dan rumah mereka dalam suasana yang tenang sehingga Alyosha dapat memulihkan diri dengan baik.


...****


...


Di pagi hari yang cerah ini, Alyosha akan pergi ke kampus dan menghubungi Meera untuk menjemputnya. Dalam satu minggu Meera selalu mengirimi Alyosha makanan dan buah buahan. Walaupun Meera tidak berjumpa dengan Alyosha saat mengirim makanan tersebut.


Meera hanya meletakkan pemberiannya didepan rumah Alyosha lalu pergi. Begitulah Meera memberikan perhatian pada Alyosha walaupun secara tidak langsung.


Alyosha keluar rumah setelah mendengar suara mobil Meera. Meera sudah berada di depan rumah Alyosha, ia sedang berdiri diluar mobilnya. Lalu Alyosha memeluk Meera lama dan dia menangis. Akhir akhir ini Alyosha tidak dapat mengontrol emosinya.


"aku merindukanmu" ujar Alyosha


"cup..cup..cup.. sudah jangan menangis lagi. Bukan kah aku sudah berada di pelukanmu" ujar Meera


Alyosha yang biasanya kuat dan tidak mudah menangis sekarang berhati yang lemah. Hatinya yang lemah itu selalu membuatnya harus berusaha dengan kuat agar ia tidak terjatuh terlalu dalam di kesedihan. Selesai berpelukan mereka masuk mobil dan melaju ke kampus. Di dalam mobil Meera dan Alyosha tidak mengeluarkan satu katapun saat perjalanan.


Sesampai di kampus mereka langsung menuju ke kelas dan mulai mendengarkan penjelasan mata kuliah. Alyosha berusaha fokus pada materi yang dipresentasikan oleh kelompok Meera.

__ADS_1


Selesai kuliah Alyosha dan Meera makan siang dikantin. Hari ini menu makan siang yang disediakan kampus adalah seafood.


Kampus swasta Arashi yang terkenal selalu menyediakan makan siang gratis untuk para mahasiswanya. Dan tak jarang menu yang dihidangkan berkelas dan mahal, karena biaya kampus yang harus dibayar pun besar.


Alyosha bisa kuliah dikampus bergengsi seperti Arashi karena mendapatkan beasiswa untuk setengah pembayaran uang kuliah semester dan setengah biayanya lagi dilunasi oleh ayah Meera.


Belum juga mendapatkan hidangan makan siang, tiba tiba Alyosha merasa mual. Ia berlari menuju kamar mandi. Lalu Meera yang ada dibelakangnya membawakan minyak kayu putih untuk menghangatkan Alyosha. Ia mengoleskan minyak kayu putih itu kebeberapa bagian tubuh Alyosha.


“kita pergi ke klinik dulu sebelum pulang. Minta obat agar tidak mual lagi”ujar Meera menarik tangan Alyosha.


“Sepertinya Tidak Perlu, aku langsung pulang saja. Entar juga sembuh, ini mungkin karena kurang memperhatikan pola makanku seminggu terakhir” Ujar Alyosha.


walaupun ia tahu Meera setiap hari mengiriminya makanan sebanyak tiga kali dan tidak ada yang absen. Meera memiringkan kepalanya melihat Alyosha dengan tajam.


“apakah aku tidak berharga bagimu. Bisa bisanya kamu mengabaikanku” Ujar Meera berteriak


“maaf, aku kurang selera makan. Kamu jangan marah ya” Ujar Alyosha memohon


Meera memegangi tangan Alyosha lalu mereka berdua berjalan keparkiran untuk pulang.


Alyosha langsung masuk ke kamar setelah sampai di rumahnya. Ia rebahan sambil memainkan mainan bunga mataharinya. Tiba tiba Alyosha merasa mual lagi lalu pergi ke kamar mandi. Ia mulai gelisah.


Alyosha melihat kalender dan membolak balik kalender tersebut. Bulan ini ia belum datang bulan dan sudah telat sekitar seminggu. Sedangkan sekarang sudah tanggal akhir untuk bulan ini. Biasanya Alyosha selalu dapat di tengah bulan.


Alyosha mencoba menenangkan diri dan berpikir positif.


Mungkin ia hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran sehingga bulan ini belum menstruasi. Ia juga berpikir sama seperti alasan yang diutarakannya pada Meera karena kurang memperhatikan pola makan makanya ia merasa mual. Dimalam hari Alyosha terbangun dan perutnya sedikit sakit.


Alyosha pergi ke dapur untuk makan malam. Hari ini Gauri memasak makan malam, entah ada angin apa sehingga dia memasak makanan untuk Alyosha.

__ADS_1


Saat hendak makan Alyosha kembali merasa mual. Ia melanjutkan santapannya dengan sedikit paksaan karena makanan tersebut masakan Gauri, sayang sekali bila ia tidak makan dengan banyak. Selesai makan ia kembali tidur di kamar.


Hingga keesokan harinya Alyosha merasa tidak enak badan. Ia menghubungi Meera mengatakan jika ia tidak pergi ke kampus karena ada sedikit masalah. Lalu Alyosha pergi ke rumah sakit Wijaya untuk melakukan pemeriksaan.


“selamat buat ibu, akhirnya memiliki anugrah yang ditunggu setiap para ibu” Ujar dokter yang berada didepan Alyosha dengan senyum bahagia.


Alyosha bingung luar biasa. Ia melakukan pemeriksaan hanya untuk mengecek apakah ada penyakit yang meyebabkan ia belum menstruasi bulan ini. Tetapi apa yang di dengar olehnya membuat ia merasa tidak karuan.


“ibu dalam keadaan mengandung. Selamat sekali lagi” Ujar dokter kembali memberikan selamat pada Alyosha.


Alyosha terdiam seribu bahasa dan tersenyum pahit di depan dokter itu. Dokter tersebut langsung menutup mulutnya seperti memahami betul kondisi Alyosha. Lalu dia membawa Alyosha ke kursi panjang yang ada di ruangan tersebut dan duduk di samping Alyosha.


“maaf bukannya saya lancang. Tetapi saya sebagai dokter kandungan dan seorang wanita juga sekaligus ibu tahu persis ekspresi yang kamu keluarkan tadi. Apakah orang tuamu tau?” tanyanya.


Alyosha menggelengkan kepala dan menunduk melihat perutnya. Ternyata ada jiwa yang sudah bersemayam di dalam perut itu yang ia tidak ketahui sebelumnya.


Apakah aku akan menjadi malaikat tanpa sayap yang sering disebutkan anaknya untuk ibunya ?


Bagaimana kedepannya, apakah sifat ibu bisa menurun padaku sehingga aku melakukannya pada jiwa yang ada di perutku ini?


Apakah aku bisa menghidupinya seorang diri?


Alyosha mulai bertanya tanya.


Dokter mengusap usap punggung Alyosha dan menenangkannya.


“kamu tidak usah risau, saya akan membimbingmu terlebih dahulu sampai kamu siap memberi tahu orang tuamu. Soal biaya saya tidak akan perhitungan karena ini pertama sekali bagimu jadi saya akan membebaskan biayanya. Ini juga hadiah buat malaikat kecil yang ada didalam sini” Ujar dokter itu menunjuk perut Alyosha.


“terima kasih banyak dok. Mohon bantuannya untuk hari hari berikutnya” Ujar Alyosha tersenyum getir.

__ADS_1


Alyosha lalu keluar dari rumah sakit Wijaya. Selama perjalanan ia hanya bisa menundukkan kepala dan terus berpikir mengenai kehamilannya.


__ADS_2