Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Lagi Dan Lagi


__ADS_3

Tok.. tok... tok..


Alyosha mengusap kedua matanya dan melihat jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Alyosha ketiduran di atas meja belajar karena terlalu lelah. Ia membuka pintu rumah yang sedari tadi diketuk dengan keras tanpa henti. Dua orang dengan badan yang besar dan tato ular di lengan kanan. Penampilan yang bengis ditambah dengan pakaian berwarna hitam membuat kedua pria itu tampak lebih seram.


“ada urusan apa malam malam mengetuk pintu rumah saya?” ujar Alyosha


“sekarang juga kamu harus memberikan kami uang lima juta” Saut salah satu dari mereka langsung tidak basa basi.


“maaf sebelumnya, sepertinya saya tidak pernah bermasalah sampai mengeluarkan biaya semahal itu” Ujar Alyosha hendak menutup pintu.


“memang bukan kamu, tetapi ayahmu. Sekarang dia berada di taman itu”


Mereka memegang pintu yang hendak ditutup oleh Alyosha dan salah satu dari mereka juga menunjuk ke taman dekat rumah Alyosha.


“masalah apa yang sudah dilakukan oleh ayah saya sampai harus mengeluarkan uang sebesar itu?” tanya Alyosha kembali.


Setiap Gauri meminta uang pada Alyosha dia akan memberitahu hendak diapakan uang tersebut. Seluruh uang yang diberikan Alyosha pada Gauri selalu dihabiskan untuk mabuk mabukan.


“sudah jangan banyak tanya lagi. Ayahmu itu sudah kami hajar karena dia sudah kalah berjudi dengan bos kami. Kalau tidak ada uang yang kamu serahkan sekarang...” ujarnya lalu mereka saling melirik.


“kalau tidak apa” jawab Alyosha dengan menentang.


“ayahmu akan kami bunuh dan kamu kami culik untuk diberikan pada bos kami sebagai bayarannya" ujar pria yang memiliki badan lebih besar, mereka tertawa bersama menatap Alyosha.


Alyosha langsung terdiam. Jika hanya Alyosha sendiri yang diculik, ia masih bisa menyelamatkan diri tetapi tidak dengan ayahnya. Alyosha menatap Gauri yang sedang berjalan dikejauhan dengan tertatih tatih. Alyosha merasa hatinya sangat sakit melihat Gauri yang terjatuh saat melangkah berjalan.


Malangnya nasib ayah, pikirnya.


Lalu Alyosha mengeluarkan uang tabungan yang sudah ia simpan selama dua bulan untuk keperluan selesai ia kuliah nanti. Alyosha mulai menabung setelah mendapatkan gaji dari ia bekerja beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


“hanya ada empat juta ditangan saya untuk sekarang, lebihnya bisa saya transfer saja kan?” tanya Alyosha


“boleh saja, tetapi kamu harus mentransfer uang itu sekarang juga. Ini nomornya” ujarnya sembari memberikan secarik kertas pada Alyosha.


Alyosha menatap dua preman yang ada di hadapannya dengan curiga. Persiapan yang dilakukan kedua pria tersebut sangat matang untuk menagih utang.


“tenang saja. Kami melakukan tugas dengan jujur, kamu tidak perlu takut. Setelah membayar utang ayah kamu semuanya urusan kita selesai” Ujar orang tersebut.


Alyosha mengeluarkan ponselnya lalu mentransfer semua kekurangan utang Gauri. Setelah selesai melakukan transfer mereka pergi diikuti Alyosha yang berjarak sedikit jauh di belakang dua preman itu.


Alyosha hendak menghampiri Gauri. Ia melihat saat kedua preman tadi berpapasan dengan ayah Alyosha mereka mendekati Gauri dan membicarakan sesuatu dengannya.


“hei pergi kalian. Jangan ganggu ayahku lagi” teriak Alyosha dari jauh.


“lebih baik kamu meninggalkan ayah yang tidak berguna ini” Ujar salah satu dari mereka dan mendorong Gauri hingga terjatuh di tanah.


Alyosha berlari dengan cepat mengejar mereka berdua. Ia langsung meninju wajah pria yang mengatakan hal yang paling ia benci tadi. Alyosha meninju dengan kuat sehingga membuat hidung pria besar itu mengeluarkan darah.


Kedua pria berbadan besar itu terdiam sejenak.


“haiss... sudahlah kamu hanya gadis kecil saja. Tidak cocok menjadi lawanku.” Ujar pria itu dan menghapus darah di hidungnya.


lalu mereka berdua pergi meninggalkan Alyosha dan Gauri.


“ayah tidak usah mendengarkan perkataan mereka. Mereka hanya memiliki badan besar tapi sebenarnya otak mereka itu sangat kecil” ujar Alyosha menghibur Gauri.


Saat Alyosha hendak membantu ayahnya berdiri, tangan Gauri kembali melukai wajah Alyosha.


Plakkk....

__ADS_1


Gauri menampar wajah Alyosha lalu mendorong tubuh Alyosha dengan kuat sampai ia terjatuh. Alyosha lalu berdiri dan membersihkan tangannya dari pasir yang melekat saat ia terjatuh.


Alyosha kembali memapah ayahnya yang terduduk diam di jalan. Mereka berdua berjalan bersama kembali ke rumah mereka. Air mata Alyosha keluar tidak terbendung menangis sedih melihat keadaan Gauri yang semakin hari semakin menyedihkan.


Bau alkohol dari tubuh ayah memiliki aroma yang berbeda. Kali ini Gauri mengeluarkan bau yang lebih menyengat dan kuat. Darah yang mengalir juga sudah melumuri wajah Gauri karena dipukuli dua orang preman barusan.


Saat Alyosha hendak menutup pintu rumah ia melihat dibawah lampu jalan ada seorang wanita sedang berdiri menghadap rumah mereka. Lalu wanita itu menundukkan kepala sambil mengangkat tangan kanan kedepan seperti mengajak seseorang.


Air mata Alyosha terus mengalir deras melihat wanita itu yang hanya menonton kejadian tadi dan tidak melakukan pergerakan. Ia hanya diam dan menatap dengan kosong ke arah Alyosha dan Gauri dari tempatnya duduk.


Alyosha menutup pintu dengan keras hingga membuat Gauri terkejut. Kemarahan Alyosha pada wanita itu membuat ia dipukuli kembali oleh Gauri hingga ia puas dan masuk ke dalam kamarnya.


“AKU TAHU KAMU JUGA MEMILIKI PEMIKIRAN SEPERTI PREMAN PREMAN TADI. AKU TAHU KAMU INGIN MENINGGALKANKU DAN MEMBIARKANKU MATI MENGENASKAN SENDIRI DI RUMAH INI. KALIAN SEMUA SAMA SAJA TERUS MENYAKITIKU. DASAR ANAK TIDAK BERGUNA” Gauri meneriaki Alyosha dengan suara keras dari dalam kamar.


“KAMU DAN IBUMU SAMA SAJA. SELALU INGIN MENINGGALKANKU. KENAPA AKU SELALU DIKELILINGI ORANG ORANG BODOH DAN TIDAK BERGUNA SEPERTI KALIAN” lanjut Gauri.


Alyosha yang duduk bersandar di dinding menyibak kecil tirai jendela melihat keluar sambil menangis terisak. wanita itu sekarang terduduk dan masih berada ditempat yang sama saat ia berdiri tadi. Ia melihat wanita tersebut terus mengusap muka dengan sapu tangan. Ia tahu wanita itu sedang menangis sendirian. Alyosha terus menatap ke arah wanita tersebut dari dalam rumah dan tersenyum pahit.


*Bagaimana rasanya bu melihat kami hancur dihadapanmu?


Bagaimana rasanya mendengar pukulan dan teriakan suamimu pada anakmu sendiri?


inikah yang kau mau*? Tanya Alyosha dalam hati.


Alyosha lalu teringat saat ibunya meninggalkan ia bersama Gauri karena lelaki yang ia jumpai hanya satu malam. Dia meninggalkan Alyosha pergi dengan mobil seorang lelaki yang sangat mewah dihadapan Alyosha dan Gauri.


Saat itu Alyosha berlari secepat yang ia bisa untuk mengejar ibunya berharap dia berhenti dan memberikan pelukan terakhir pada seorang anak kecil yang berusia 12 tahun.


Alyosha kembali ke kamarnya untuk mengobati luka pukulan dari Gauri. Pukulan yang diberikan Gauri menyebabkan luka didahi Alyosha kembali berdarah.

__ADS_1


Tenggorokan Alyosha terasa kering, Ia sangat kehausan. Karena masalah yang terjadi membuat ia sampai lupa untuk minum. Selesai mengobati semua lukanya, Alyosha menuju dapur untuk minum susu coklat yang tersedia di kulkas. Sebelum masuk kamar ia melihat kembali keluar rumah. Wanita itu sudah pergi.


__ADS_2