Anak Genius Pasangan Elit

Anak Genius Pasangan Elit
Dafa


__ADS_3

Sesampai dirumah Alyosha menyimpan kotak kecil pemberian nenek tersebut di dalam lemari pakaiannya.


Grab a cop gun kinda crazy, she’s poison but tasty


Yeah people say, run don’t walk away


Cause she’s sweet but psycho


“hallo” ujar Alyosha


“hallo Alyosha. Malam ini aku akan pulang ke kota S. Besok aku ingin berjumpa dengan kamu sesuai dengan janji kita saat aku pergi” ujar Dafa


“akhirnya kamu pulang juga. Dimana kita akan bertemu?” tanya Alyosha


“Di tempat latihan saja bagaimana?” tanyanya


“oke. Bagaimana dengan pertandingannya?”


“kamu tenang saja. Aku tidak akan mengecewakan penyemangatku. Sudah dulu yah, aku dan mama akan bersiap siap untuk membereskan semua barang untuk pulang malam ini” ujarnya


“baik. kamu dan mamimu hati hati di jalan ya.”


Setelah mengakhiri panggilan dengan Dafa, Alyosha menghubungi Meera dengan melakukan vidio call.


“hai babe, apakah kamu merindukanku?” tanya Meera.


Meera sedang memakai masker wajah berwarna hijau dan hanya menggunakan handuk baju saja menutupi badannya.


“kamu baru selesai mandi?” tanya Alyosha untuk memastikan.


“kamu benar sekali Alyosha. Malam ini ada kencan dengan pacar baru lagi. Doakan aku ya semoga


lancar” ujar Meera mengedipkan satu matanya


“kenapa kamu kalau kencan itu selalu malam?” tanya Alyosha.


“karena malam itu bagiku adalah waktu Yang tepat untuk berjuma dengan kekasih tercinta.”ujar Meera dengan alay.


“mulai lagi deh”


“ha..ha..ha... Kamu kan tahu kalau aku hanya memiliki waktu di malam hari. Ayah akan memarahiku jika selesai kuliah tidak ada di kantornya”


“besok aku ada sedikit urusan, setelah itu aku akan menghubungimu untuk menjemputku. Aku rindu mami” ujar Alyosha


“yeayy, Aku sangat senang mendengarnya. Kamu sudah lama tidak berkunjung ke rumah. Aku akan meyuruh mami untuk memasak hidangan sendiri khusus untukmu” lanjutnya


“oke. Salam sama ayah juga ya” ujar Alyosha lalu Meera mengakhiri panggilan setelah menciumnya dari balik layar hp.


...****

__ADS_1


...


Alyosha yang sibuk tengah memilih milih pakaian yang cocok agar perutnya yang mulai membesar ini tidak terlalu terlihat. Setelah banyak pakaian yang ia coba Ia memilih dress berwarna hitam.


Alyosha memakai sepatu berwarna abu abu.


Alyosha melihat Dafa yang sudah menunggu di tempat yang sudah mereka sepakati. Dafa memakai topi hitam dan jaket putih kesukaannya.


“maaf ya, aku terlambat”ujar Alyosh.


“oh enggak kok. Aku juga baru saja sampai” ujar Dafa.


“jadi bagaimana? Kemenangannya ada berapa banyak?” tanya Alyosha memulai percakapan.


“nah kamu lihat sendiri” ujar Dafa memberikan tas kecil pada Alyosha.


“Kamu hebat banget. Selamat ya sudah membawa banyak kemenangan. Andai saja itu kamu” ujar Alyosha dengan suara pelan.


Astaga... aku salah ucap. Semoga dia tidak mendengar apa yang barusan ku ucapkan. Ujar Alyosha di dalam hati.


“iya terima kasih”


Setelah mendengar perkataan Dafa barusan, Alyosha merasa tenang ternyata dia tidak mendengar yag ia ucapkan.


“Alyosha, kamu ingatkan sebelum pergi olimpiade aku berjanji kalau aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu?”


“sudah sejak lama aku ingin mengatakan ini, tetapi setiap kali aku ingin mengatakannya kita selalu berada di waktu maupun suasana yang tidak pas. Karena hari ini aku merasa sudah waktunya. Jadi aku ingin mengatakannya” ujarnya.


“Alyosha aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi pacarku” lanjut Dafa dengan sangat perlahan sehingga Alyosha dapat memahami dan mendengarnya dengan jelas.


“hahaha...hahaha.....” Alyosha tertawa.


Hal ini adalah hal yang Alyosha tunggu tunggu. Ungkapan perasaan dari Dafa, lelaki yang penuh dengan perhatian, lembut, dan bertanggung jawab. Tetapi seperti yang dikatakannya mereka berada di waktu dan suasana yang salah. Sekarang ia sudah mengandung anak dari lelaki lain. Ia tidak bisa menerima cinta suci dari pria baik seperti Dafa.


“hahaha....” Alyosha tertawa kembali lalu memalingkan wajah dari Dafa.


“aku juga tidak berharap kamu menjawabnya sekarang. Aku tahu kamu pasti kaget mendengar apa yang sudah aku katakan barusan. Aku sudah mengira hal ini akan terjadi. Jadi aku akan memberikan waktu untuk kamu berpikir terlebih dahulu”


“kamu tidak perlu memberikan waktu padaku. Sekarang pun aku tahu apa yang harus kukatakan padamu. Maaf Dafa kamu terlambat mengatakan semua ini. Aku tidak bisa menerima cintamu dan menjadi pacar kamu”ujar Alyosha meningglkan Dafa.


Dafa menggapai tangan Alyosha dan menariknya ke dalam pelukan. Alyosha menangis keras membalas pelukan Dafa. Ia yang sangat ingin memeluk Dafa semenjak ia tahu jika ia menyukai Dafa.


“aku benar benar minta maaf” ujarku memegang wajah pria itu dengan lembut.


Terima kasih sudah menyampaikan perasaanmu. Aku pikir aku memiliki cinta bertepuk sebelah tangan. Ternyata selama ini kita memiliki perasaan yang sama tetapi tidak dengan takdir yang sama.


Alyosha berlari meninggalkan Dafa. Ia mengusap air matanya yang tidak berhenti mengalir deras.


Alyosha menghubungi Meera untuk menjemputnya. Ia yang sudah berjanji pada Meera untuk mengunjungi mami harus menepatinya.

__ADS_1


Alyosha menunggu jauh dari gerbang pelatihan agar tidak berpapasan dengan Dafa kembali. Ia melihat Dafa yang keluar dari tempat pelatihan mengendarai motor yang sering ia naiki berdua bersamanya dengan kecepatan tinggi. Alyosha yang ingin sekali menegur Dafa agar mengendarai motornya dengan pelan saja seperti biasa. Melihat Dafa melaju pergi ia kembali bersedih.


Tidak berapa lama Meera datang menjemputnya. Dilihatnya Alyosha yang baru selesai menangis, dia membawa Alyosha berkeliling keliling dengan mobilnya untuk meredakan sedih Alyosha.


“turun”perintah Meera


“kamu tunggu aku disini. Lihat saja dulu danau di depan sana. Aku pergi sebentar” lanjut Meera


Danau dengan air yang tenang dan angsa angsa yang berkeliaran di pinggirannya. Alyosha duduk di bawah pohon rindang tempat Alyosha dan Meera banyak menghabiskan waktu saat SMA.


“nih, minum dulu. Kalau kamu belum berhenti menangis aku tidak bisa membawamu pulang ke rumah. Nanti mami malah menyuruhmu untuk tinggal dirumah. Kamu tidak maukan” ujar Meera


“terima kasih” ujar Alyosha


“kamu jangan sedih terus dong. Akhir akhir ini. kamu selalu dalam keadaan sedih jika berjumpa denganku. Kamu tahu gak kalau aku itu gak bisa melihat kamu bersedih terus. Apalagi kamu tidak pernah memberitahuku semua masalahmu” ujar Meera duduk disamping Alyosha dan menyandarkan kepalanya ke bahu Alyosha.


“aku gak bisa ngebayangin gimana aku hidup tanpamu. Aku paling benci bila itu terjadi” lanjutnya


“Thanks yah Meer selalu ada saat aku membutuhkan”ujar Alyosha mengelus kepala Meera


Alyosha dan Meera bergegas pergi pulang agar mami Meera tidak menunggu terlalu lama. Dirumah Meera mereka makan bersama dan berbincang ria. Jika Alyosha berkunjung kerumah Meera ia baru bisa merasakan suasana berkumpul dengan keluarga yang lengkap.


“tulis saja sesuai kebutuhanmu. Ayah dan mami akan selalu bersamamu kapan pun kamu butuh”ujar ayah Meera sembari memberikan cek kosong pada Alyosha.


"terima kasih om" ujar Alyosha.


Anak pertama keluarga Meera meninggal tiga tahun lalu karena kanker payudara. Setelah kematian kakaknya mami Meera sangat terpukul. Sampai kedatangan Alyosha dikehidupan keluarga Meera membuat maminya kembali semangat. Karena itu mereka sangat menyayangi Alyosha.


Sesampai di rumah ia melihat ayahnya yang pulang lebih awal hari ini.


“kamu dari mana saja?” tanya Gauri


“barusan aku pergi ke rumah Meera ayah.”


“oh kamu ingin mencari keluarga baru ya?”


“ayah. Keluarga mereka itu sangat baik kepadaku, sudah seperti keluarga. Tidak ada salahnya menganggap mereka keluarga kan”


Gauri menarik rambutk Alyosha dengan kuat.


“kamu ingin meninggalkan ayah. Jawab dengan jelas” ujar Gauri


Gauri kembali memukul Alyosha dengan botol bir yang ada di atas meja. Alyosha dengan segera melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Tangan Alyosha terluka dan mengeluarkan darah. Ia menatap ayahnya dengan tajam. Ia berpikir jika terus terusan begini kedua anaknya akan mengalami banyak hal berbahaya.


“ayah aku mohon hentikan ini semua” ujar Alyosha memohon pada ayahnya.


Gauri meninggalkan Alyosha pergi. Alyosha membereskan kaca yang berserakan. Ia mengobati tangan yang terluka karena pukulan botol bir dari Gauri. Alyosha merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah diatas kasur.


Terima kasih ya malaikat kecilku, kalian sudah menemani hari hari berat mama ujarku mengelus elus perutku. Sepertinya aku harus meninggalkan kota ini agar kalian bisa terlahir dengan selamat.

__ADS_1


__ADS_2