
Hari ini adalah hari ke lima Eric, Nathan dan Galen berada di kediaman kakek. Pada pagi hari seluruh anggota keluarga berkumpul di lapangan belakang rumah.
Para cucu dari keluarga Digna memiliki hobi bermain sepak bola. Jika mereka semua telah berkumpul, kelima cucu keluarga Digna akan membentuk kelompok bersama beberapa pelayan dan bertanding. Terdapat dua tim yang akan berlawanan. Tim pertama di ketuai oleh Eric dan tim kedua diketuai oleh Rio.
“Airin maunya satu tim dengan kak Eric. Kalau sama kak Rio pasti Airin selalu bagian tim cadangannya saja” Ujar Airin sambil memeluk Eric.
“gak boleh gitu. Kamu kan adik aku, jadi harus selalu bersama kakak ya adik manja." Ujar Rio menggodanya.
“aku bilang kalau aku maunya sama kak Eric ya harus dengan dia. Kakak kok maksa aku sih, aku gak mau main lagi” Ujar Airin berlari menghampiri kakek yang tengah duduk memperhatikan cucunya untuk mengadu.
“sudahlah. Dia tidak usah ikut bermain. Lagi pula ini permainan antara lelaki” Ujar Eric menyela.
Sekita dua jam mereka bertanding, tim Eric menang mengalahkan tim Rio. Airin bersorak riang dari tempat peristirahatan dan mengejek kakaknya yang kalah bermain.
“maaf tuan besar tamunya sudah datang” Ujar kepala pelayan pada kakek.
Kakek berdiri dan meninggalkan mereka yang sedang beristirahat. Keringat Eric sudah membasahi kaos putih yang ia kenakan, begitu juga dengan yang lain.
“Airin tolong ambilkan minuman soda di dapur” ujar Galen menyuruh Airin.
Airin dengan Galen memiliki usia yang sama dan sangat akrab. Hanya Galen yang bisa memerintah Airin. Saat ini Airin hendak berdiri mengambil minuman yang di minta Galen ke dapur. Airin menghentikan langkahnya mendengar suara perempuan yang tidak asing memanggil namanya.
“Hai Airin...” suara keras itu membuat semua orang menoleh bersamaan ke arahnya.
Ada Hana dan Viana yang sedang berjalan menuju tempat cucu keluarga Digna sedang beristirahat. Airin masih menyempatkan diri berlari kedapur untuk mengambilkan minuman soda yang diminta Galen tadi. Tidak berapa lama dia sudah datang bersama beberapa pelayan yang membawa minuman soda.
“hai Eric dan semuanya” Sapa Viana.
“ehm...ehm... sepertinya kita masih harus bersiap siap untuk acara nanti malam. Karena saat ini kita semua harus sedikit menjaga jarak dengan sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Masuk aja yuk” Ujar Rio melirik Eric.
__ADS_1
Mereka semua membereskan tempat dan pergi masuk ke dalam rumah. Eric memberikan handuk yang ia pakai untuk mengelap keringat pada Nathan. Sekarang hanya ada Eric dan Viana yang duduk bersama di pinggiran lapangan. Eric memulai percakapan antara mereka berdua.
“ada bisnis penting apa yang membuat kamu meninggalkan urusanmu diluar negeri dan menyempatkan diri untuk singgah di kediaman kakek” tanya Eric
“kamu belum tau ya” ujar Viana
“tau apa?” tanya Eric kembali.
"Sepertinya kakek belum memberi tahu kamu mengenai persetujuan antara ayah dan kakek. Mungkin nanti jika semua sudah berkumpul saat makan malam kakek akan memberitahumu” ujar Viana.
"sudah lama sekali kita tidak duduk bersama seperti ini" lanjut Viana
"begitulah" ujar Eric
"kamu tidak ikut masuk dengan yang lain. Cuaca hari ini sangat terik. Cahaya matahari panas seperti ini bisa membuat kulit kita hitam." ujar Viana
Eric diam dan tidak menanggapi perkataan Viana. Ia hanya mempersilahkan Viana masuk dengan isyarat tangan. Viana yang kesal atas perlakuan Eric beranjak meninggalkannya.
Eric tersenyum sendiri dengan mata yang tertutup. Lalu Eric mulai membayangkan Alyosha sedang duduk disampingnya tersenyum melihat ke arah Eric.
“bro, sadarlah. Sudah waktunya kamu membersihkan badan” Nathan yang entah kapan datang duduk disamping Eric.
“bagaimana yah kabar gadis itu?” tanya Eric pada Nathan
“sepertinya kamu harus menyiapkan diri dulu untuk makan malam nanti” Ujar Nathan meninggalkan ia sendiri.
“ada apa dengan kalian yang terus membicarakan makan malam. Apa ada hal yang aku lewati” ujar Eric yang mengikuti Nathan masuk.
Makan malam yang ditunggu tunggu pun akan dimulai. Semua sudah berkumpul duduk di tempat masing masing. Viana duduk di hadapan Eric, mereka berdua berada tepat disamping kanan kiri kakek Eric.
__ADS_1
“kita dari dua keluarga yang berbeda tetapi sudah sangat akrab. Dan juga sudah sangat lama menjalin hubungan bisnis. Jadi kakek akan mempererat hubungan kita bukan hanya dalam berbisnis saja” Ujar kakek memulai percakapan malam itu.
“sekarang Eric sudah memasuki usia matang untuk menikah, benarkan." Lanjut kakek menatap Eric.
“jadi pada malam hari ini, setelah keluarga kita dan keluarga Viana melakukan pembicaraan dan perhitungan mengenai hal ini akhirnya semua sudah setuju. Maka dari itu kakek memutuskan untuk mengundang keluarga Viana untuk membicarakan tentang kelanjutan perjodohan antara Eric dan Viana" Ujar kakek menunjuk Eric dan Viana .
Perasaan Eric yang sedari tadi gelisa karena percakapan kakek akhirnya terungkap juga. Ternyata hanya sebuah perjodohan dapat membuat hati seorang pria kejam itu gelisah. Eric langsung berdiri dan bertanya pada keluarga yang lain.
“apakah semua sudah mengetahui hal ini dan menyetujuinya?” tanya Eric
"benar Eric. Perjodohan antar kamu dan Viana sudah lama direncanakan antara keluarga kita dan keluarga Viana. Kita semua sepakat untuk mempererat jalinan keluarga bukan hanya sekedar dalam berbisnis" ujar ayah Eric.
“Tetapi aku tidak menyetujui ini. Kalian semua memutuskan segala hal untukku dan aku tidak boleh membantahnya. Dulu kalian memintaku menjalankan semua bisnis dan harus meninggalkan semua yang aku sukai. Akan tetapi untuk kali ini aku minta maaf, aku tidak bisa menuruti kalian karena pernikahan itu selamanya. Aku harus memilih sendiri dengan siapa aku akan menjalani kehidupanku kedepannya.” Ujar Eric dengan tegas dan kembali ke kamarnya.
“ERIC. KAMU JANGAN KURANG AJAR DI DEPAN SEMUA ORANG” Ujar ayah Eric berteriak.
Eric berhenti sejenak dan menoleh ke meraka semua. Ia melihat kakeknya tak merespon sedikitpun perkataan Eric dan yang lain hanya bisa terdiam.
“maaf kakek aku belum bisa memutuskan ini. Dan Nathan siapkan semua barang kita. Hari ini kita pulang, terlalu banyak pekerjaan yang menunggu kita diperusahaan.” Ujar Eric beranjak pergi.
Sesampai dikamar ia langsung mengambil semua barangnya. Eric keluar dari kamar dan diluar sudah ada Nathan, Galen dan Airin yang sedang menangis.
“kakak.. hiraukan saja apa yang sudah terjadi di ruang makan tadi. Kakak jangan pulang dulu ya, Airin masih rindu dengan kakak hiks... hikss..” Ujar Airin menangis.
“Airin bisa datang ke rumah kakak kalau kamu rindu pada kakak. Karena kakak harus pergi sekarang juga, masih banyak pekerjaan yang belum kakak selesaikan” Ujar Eric mengusap kepala Airin.
“Galen, kamu bisa tinggal untuk sementara waktu disini”
“baik kak. Kamu dan Nathan hati hatilah dijalan” ujar Galen.
__ADS_1
Eric dan Nathan turun kebawah hendak meninggalkan kediaman kakek. Ia melihat ayahnya dan keluarga Viana masih berada di ruang makan tersebut.
Viana dan kakek sudah tidak berada disana. Mereka berdua telah kembali ke kamar mereka masing masing.