
“kita harus mengetahu alasan cctv taman itu tidak digunakan hari ini, aku yakin pasti penculik tersebut yang sudah merencanakannya” ujar Nathan.
“apakah kamu tau dimana kita bisa menemui pemiliknya Nathan?” ujar Galen
“aku belum mendapatkan informasi mengenai itu”
“pemilik apa?” tanya Alan
“pemilik taman Sunni. Oh iya, dulu kamu juga ingin membeli taman ini kan Alan. Pasti kamu tau dimana rumah pemiliknya, bisakah kamu membawa kita kesana?”
“pas sekali, karena malam ini pasar api sedang berlangsung”
“pasar api apa sayang?” tanya Meera pada Alan.
“pasar api itu pasar perdagangan senjata sayang, ayah dari pemilik taman sunni ini kan satu satunya penjual senjata tajam di Negara kita. So pasti dia juga akan hadir disana”
“emang semua orang bisa masuk ke pasar itu?”tanya Alyosha
“bisa saja, asalkan dia sudah mempunyai kelompok mafia sendiri. Setiap ketua kelompok yang hadir secara langsung di pasar api, dia dapat membawa lima orang bawahannya.” Jelas Eric
“kalau begitu sekarang kita harus berangkat. Aku tidak bisa membiarkan Ocha dan Aarav terlalu lama di luar sana”
“kamu jangan berpikir kesana dulu Alyosha, pasar semacam itu belum tentu aman. Apalagi Eric sudah mengatakan orang yang boleh ikut itu adalah para mafia” ujar Meera
“walaupun yang hadir para mafia tetapi semua
tetap aman kok Meera. Karena jika ada yang mengacaukan perdagangannya maka tidak akan pernah bisa mendapatkan senjata tajam di negara yang sangat ketat ini” ujar Galen
“ouh begitu, yasudah ayo kita berangkat sekarang juga. Biar Alyosha dengan kami saja dan Eric bersama anggotanya. Karena walaupun aman, jika bersama dengan para ketua aku pikir kemungkinan banyak hal hal yang berbahaya nantinya”
“benar juga yang kamu katakan” ujar Alyosha.
Mereka lalu berangkat pada malam itu juga. Eric memerintahkan para anggota Elang yang juga hadir untuk menunggu mereka di luar wilayah pasar api. Alan, Meera dan Alyosha menaiki mobil yang berbeda dengan Eric, Galen dan Nathan.
Di dalam perjalanan Galen masih memiliki satu pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan pada Eric sedari tadi. Setelah merasa situasinya pas ia lalu mengutarakan keingin tahuannya tersebut pada Eric.
__ADS_1
“aku masih tidak tau alasanmu untuk membantu Alyosha kak Eric.”
“bukankah kita harus saling membantu satu sama lain Galen.”
“tapikan kak, dia itu sudah memiliki keluarganya sendiri dan kakak juga sudah memiliki tunangan. Jangan sampai kakak melakukan kesalahan sehingga membuat dua hati wanita ini tersakiti”
“kamu benar Galen. Aku memang salah karena belum memberitahu keluarga kita”
“memberitahu apa kak?”
“Anak Alyosha adalah anakku juga”
Galen memasang wajah bingung karena mendengar perkataan Eric. Ia belum pernah mendengar jika seorang Eric pernah melakukan hal intim dengan wanita lain.
“tidak semuanya harus kamu ketahui Galen, yang penting Ocha dan Aarav adalah anak kandung Eric. Mengenai kapan mereka bersama lebih baik kamu tidak menyinggungnya apalagi dihadapan Alyosha” jelas Nathan pada Galen.
Galen hanya bisa terdiam dan melihat keluar jendela mobil. Suasana yang mereka lewati persis dengan apa yang sedang ia rasakan. Suasana dimana mereka baru saja melewati hutan rimbun dengan cahaya remang dan sekarang sudah memasuki jalanan yang dipenuhi dengan cahaya lampu. Semua keraguannya selama ini akhirnya sudah tercerahkan, dimulai dengan saat Eric membawa Alyosha ke kantor pribadinya hingga wajah mirip dari Ocha dan Aarav yang dulu pernah ia temui di rumah makan mereka. Semua yang berkaitan dengan itu membuat Galen terus merasa bingung.
“kita sudah sampai, jangan melamun lagi” ujar Eric pada Galen
Mobil mobil mewah sudah terparkir rapi di luar gedung pasar api. Wajah para tamu dengan berbagai ekspresi memasuki gedung dengan gagah. Setelah mereka berkumpul bersama di parkiran barulah mereka bersama sama memasuki gedung tersebut. Eric mengenggam tangan Alyosha karena ia merasa Alyosha sedikit ketakutan.
“ini pertama kalinya kamu datang kesini kan?” tanya Eric
“aku tidak ingat persis, tetapi aku seperti mengalami de javu melihat patung yang ada disana. Patung itu terasa sangat familiar di ingatanku”
“patung itu memang sangat terkenal karena itu adalah lambang persatuan mafia di Negara ini. Tidak usah dipikirkan, ayo masuk”
Eric dan Alyosha memasuki gedung dengan diikuti oleh Meera dan yang lainnya. Nathan mendaftarkan mereka terlebih dahulu sebagai anggota mafia dari Elang lalu diberikan kartu sebagai tanda izin untuk memasuki ruangan yang sudah disediakan. Para tamu yang datang sudah duduk dan menunggu acara dimulai. Semua tamu berkumpul dan pintu masuk juga sudah ditutup akan tetapi acara masih saja belum dimulai.
“aduh kenapa lama sekali sih, apa kita tidak bisa menjumpai pemiliknya sekarang?” ujar Meera
“acara belum dimulai dikarenakan mungkin pemilik ini belum datang sayang. Kamu sabar ya”
“kalau kamu mengantuk kamu tidur saja sana. Di gedung ini ada tempat penginapannya juga” ujar Galen
__ADS_1
“ayo Meera, aku akan mengantar kamu beristirahat.” Ujar Alyosha
“tapikan...”
“tidak apa, kan ada Eric. Biar dia saja yang menjumpai orang tersebut, kamu perlu beristirahat karena ini sudah sangat larut”
“aku tidak percaya dengan mereka”
“kami adalah para pria dan sudah biasa menghadapi seperti ini. kamu tidak perlu khawatir” ujar Nathan
“ayo Meera, angin malam ini tidak baik dengan kandunganmu” ujar Alyosha penuh perhatian.
“kamu khawatir apa Meera, aku akan melakukan semua yang bisa kulakukan untuk mendapatkan anak anakku kembali. Dan kamu jangan membuat calon istriku bertambah pikiran untuk terus menerus mengkhawatirkanmu. Jangan selalu menyusahkan saja.”
“aku tidak seperti itu”
“tetapi sekarang kamu seperti itu. Semua harus memberikan perhatiannya pada kamu karena perlakuanmu ini”
Alyosha dengan tidak sadar menampar wajah Eric karena melihat Meera tampak bersedih hingga air matanya berlinang mendengar perkataa Eric. Alyosha tidak bisa melihat Meera yang masih tertegun.
“Eric..., aku tidak ingin mendengar kamu berkata seperti itu lagi” ujar Alyosha memperingati Eric
“apakah kamu lebih memilih Meera dibandingkan anak anakmu ?. Aku tidak paham dengan apa yang kamu pikirkan Alyosha. Bagaimana bisa seorang ibu bertindak seperti kamu ini?”
“sudah, sudah. Kami serahkan semua ke kalian, aku akan membawa mereka berdua untuk beristirahat.” Ujar Alan.
Alan mengenggam tangan Meera lalu membawa Alyosha dan Meera keluar dari ruangan tersebut. Ia tidak ingin membuat keributan dan memperpanjang masalah dengan Eric karena sudah tau bagaimana akhirnya nanti. Ia sudah lama bersama dengan Eric dan mengetahui betul kenapa ia marah.
“lupakan saja semua perkataan Eric sayang, kedepannya aku tidak akan membawamu berjumpa dengan dia. Aku minta maaf” ujar Alan pada Meera setelah mereka bertiga sampai dikamar penginapan.
Meera dan Alyosha tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Alan. Mereka berdua hanya melamun memikirkan yang terjadi hari ini. Hari yang paling berat yang pernah mereka lalui di kehidupan mereka berdua.
“kalian jangan tersalah arti atas kemarahan Eric barusan, dia pasti sedang menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin kita sampai tau itu makanya dia marah seperti itu. ”
Alyosha dan Meera hanya menganggukan kepala menjawab perkataan Alan. Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi, Alyosha dan Meera sudah tertidur dengan saling berpelukan. Sedangkan Alan menjaga mereka berdua sambil membaca baca berita di sosial media.
__ADS_1