
“selamat sore tuan muda. Apakah ada yang anda butuhkan untuk sekarang?” tanya kepala pelayan pada Eric.
“tidak ada, kamu kerjakanlah tugasmu yang lain” ucap Eric.
Eric menuruni anak tangga satu persatu. Pakaian olahraga melekat mewah di tubuhnya. Sepatu mahal yang ia pakai membentuk keren di bawah sana. Tidak lupa dengan kaca mata hitam memperindah tampang lelaki kaya yang sedang
berada di atas anak tangga itu.
“jubatus kemarilah” panggil Eric
Jubatus berlari kencang dari atas menghampiri Eric yang telah memanggilnya. Jubatus mengendus endus wajah Eric yang sedang berjongkok di hadapan Jubatus. Eric mengelus kepala hewan peliharaannya dengan lembut.
“sore ini aku akan menemanimu berjalan jalan di luar. Apakah kamu suka?” tanya Eric disambut dengan Jubatus yang menggeliat pada Eric.
Eric memakaikan kalung di leher Jubatus. Kalung yang akan menjaga Jubatus agar ia tidak melakukan hal berbahaya dan semacamnya pada orang lain saat mereka keluar. Jubatus memutari Eric yang merasa senang karena akan bermain bersama dengan Eric. Sudah lama Eric tidak mengajak ia keluar bermain seperti biasa.
Matahari yang sudah bergerak ke barat masih menyinari bumi dengan hangat. Sinar yang memancar tepat pada tubuh Eric dan menyilaukan mata. Jubatus berjalan mengikuti ritme langkah Eric, ia berusaha menyamakan langkah dengan tuan pemiliknya.
“sore yag cerah seperti ini sangat tenang apalagi ditemani kamu” ujar Eric pada Jubatus.
Setelah mereka melewati gerbang besar rumah Eric, mereka mulai berlari lari kecil. Eric dan Jubatus mengitari jalanan di sekitar rumahnya. Villa yang hanya ditempati oleh sepuluh rumah besar dan mewah. Jalanan sangat sepi karena tidak sembarangan orang diijinkan masuk membuat Eric nyaman keluar bersama Jubatus.
Eric dan Jubatus beristirahat sebentar dan duduk di kursi yang sudah tersedia di pinggir jalan. Pemandangan dan pepohonan yang rimbun menyegarkan pikiran Eric. Eric menyandarkan kepalanya pada badan kursi.
Jubatus yang duduk disamping Eric megamati sekitar dengan seksama. Mereka berdua menyadari ada orang yang tengah mengintai mereka semenjak keluar dari gerbang rumah Eric.
Samar samar terdengar suara ranting yang bergesekan. Suara langkah seperti kelinci yang sedang bersembunyi seakan terus berpindah tempat dari belakang Eric di kesunyian itu.
“keluarlah sebelum aku menangkapmu”ujar Eric
Suasana hening masih menyelimuti sampai Eric menoleh kebelakang, ia melihat seorang wanita yang memakai topi kuning dengan wajah dibalut masker hitam.Tas kecil yang ia sandang juga kamera yang masih berada diwajah wanita tersebut persis seperti paparazi.
Wanita itu adalah Meera yang sedang melakukan pengintaian pada Eric. Ia hendak mencari tahu tentang keseharian Eric untuk mengamati situasi.
Meera berlari dengan cepat menghindari panggilan Eric yang menyuruhnya menyerahkan diri sendiri pada Eric. Ia merasa heran karena Eric hanya duduk di tempat tidak menanggapinya yang tengah melarikan diri.
“kenapa berhenti?. Apakah kamu sudah menyerah?” tanya Eric
__ADS_1
Mendengar perkataan Eric Meera kembali berlari sampai ia ngos ngosan. Ia berhenti sekejap untuk mengatur napas seperti semula. Meera membuka botol minum yang ia bawa. Ia minum terlebih dahulu sebelum kembali melarikan diri.
“jubatus tagkap wanita itu dan bawa kemari” perintah Eric.
Jubatus berlari dengan kencang dan dengan mudah menangkap Meera. Teriakan ketakutan dari Meera terdengar nyaring di telinga Eric. Meera yang sekarang berjongkok dan menyembunyikan kepala dalam dekapan tubuhnya gemetar ketakutan saat dikelilingi oleh Jubatus.
“seret dia kemari Jubatus”
Jubatus mengaitkan tas kecil yang di sandang Meera dengan mulutnya lalu menyeret tas beserta Meera. Meera yang terjatuh dan tertidur di jalanan karena tarikan pada tasnya yang kuat. Meera berusaha melepaskan tas tersebut.
“hei aku ini manusia. Kamu jangan sembarangan menyamakan aku dengan mangsa peliharaanmu” ujar Meera setelah berhasil melepaskan diri dari Jubatus.
“kalau begitu kemarilah dengan patuh” ujar Eric
Jubatus kembali dengan santai menuju Eric diikuti Meera yang berjalan sangat pelan. Setelah berjarak jauh dari Jubatus ia kembali melarikan diri. Kali ini ia berlari ke arah pintu gerbang saat ia masuki tadi. Belum sempat Meera keluar dari perumahan elit tersebut gerbang dengan otomatis tertutup.
Meera menoleh kebelakang melihat Eric yang berjalan dengan peliharaannya. Mereka berdua yang berjalan bersamaan membuat aura jahat bersinar di hadapan Meera. Meera berjalan dengan langkah yang sangat kecil menuju arah Eric.
“hehe.. saya tadi hanya ingin berolahraga saja. Kamu tidak usah memperdulikan saya, saya ini hanya seekor lalat saja jika dibandingkan dengan anda” ujar Meera
“kamu memang seperti lalat yang bertujuan untuk mengotori saya. Serahkan semua barang barang yang kamu bawa.” Ujar Eric.
“hei pria tampan jangan terus menatapku. Tahukah kamu jika kamu berada di dunia manusia tatapanmu ini merupakan perbuatan pelecehan pada wanita. Kamu akan dihukum akan hal itu” ujar Meera menatap Jubatus
Jubatus terlihat marah saat Meera mengarahkan kedua matanya pada Jubatus. Jubatus mengeong menampakkan kedua taring panjang miliknya.
“oh..” ujar Meera menutup mulut mendengar ngeongan dari Jubatus.
“dia sangat imut dan lucu. Dia sangat ahli dalam mengeong.” lanjut Meera hendak menyentuh kepala Jubatus dihentikan oleh Eric.
“berhati hatilah. Jangan sampai kamu terlena hanya karena suara imut yang ia keluarkan.” Ujar Eric menghempaskan tangan Meera.
Eric mengeluarkan isi tas kecil Meera. Eric mengambil selembar foto dirinya sendiri yang jatuh di tanah. Ia lalu memeriksa kamera milik Meera, terdapat foto Eric yang sedang berlari bersama Jubatus. Foto yang diambil oleh Meera barusan saat ia berolahraga.
Eric terus melihat foto foto yang ada di kamera Meera. Eric berhenti di sebuah foto, ia terdiam lama menatap foto tersebut lalu menatap Meera. Meera sedikit berjinjit melihat foto yang sedang Eric lihat. Meera menarik kameranya dari tangan Eric dengan cepat.
“kamu jangan keterlaluan ya. Ini sudah termasuk melihat hak privasi saya” ujar Meera
__ADS_1
“bukankah kamu yang sudah mengganggu waktu privasi saya. Kamu jangan bertingkah seperti korban di sini” ujar Eric
“siapa yang bertingkah jadi korban. Kamu kan pria masa beraninya melawan wanita doang” ujar Meera mencoba membela diri terhadap Eric.
“kamu ngapain ngikuti saya dari tadi?”
“siapa juga yang ngikuti kamu. Saya sedang menikmati pemandangan di sekitar sini emang gak boleh”
“terlalu banyak alasan, jika sudah salah maka mengaku salah. Jangan mencari pembenaran”
Meera terdiam mendengar perkataan Eric. Ia memang sudah melakukan kesalahan karena sudah mengganggu privasi Eric.
“iya deh, aku memang mengikuti dan mengambil foto kamu tanpa izin barusan. Tetapi ini semua aku lakukan karena kamu salah” ujar Meera
“aku?” tanya Eric heran karena ia tidak mengingat pernah melakukan kesalahan apalagi bertemu dengan wanita yang ada di hadapannya.
“iya kamu. Gara gara kamu nama baik sahabat aku menjadi rusak dikalangan masyarakat” ujar Meera
“sahabat kamu?”
“benar. Alyosha adalah sahabat sejati yang aku miliki. Semua karena kamu yang tidak memberikan klarifikasi sampai sekarang mengenai berita hoax itu makanya aku melakukan ini.”
“kamu sedang membicarakan apa?”
“kamu kurang update atau kamu memang tidak peduli pada Alyosha. Sekarang ini berita tentang dia menggoda kamu sedang menyebar luas.”
Eric membuka ponsel mencari berita terkini. Ia membaca berita yang memiliki komentar lebih dari seratus juta. Komentar yang penuh celaan terhadap satu orang yang tengah diberitakan tersebut.
“puas kamu membuat nama seorang wanita yang tidak bersalah menjadi rusak”
“saya tidak tau mengenai berita ini, tapi saya akan menyelesaikannya dan mengembalikan nama baik Alyosha.”
“baiklah saya tidak akan mempermasalahkannya lagi, mungkin kamu sibuk terhadap perusahaan mu. Tetapi sekarang kamu sudah mengetahuinya, ini semua karena kamu megakui bahwa wanita yang diberitakan saat itu adalah kekasihmu. Saya akan menunggu berita klarifikasi darimu besok”
“saya akan memikirkan ini terlebih dahulu”ujar Eric
“Lebih baik kamu berbohong pada publik dan pura pura tidak mengenali Alyosha agar Alyosha bisa hidup dengan tenang. Ingat kamu harus memutuskan semua hubungan dengan Alyosha jika memang kamu memikirkan kehidupannya.”
__ADS_1
Meera menarik paksa barang barang miliknya dari Eric.
Lalu ia meninggalkan Eric dengan cepat karena tidak ingin berurusan lagi. Rencana untuk membuat Eric memutuskan hubungan dengan Alyosha sudah ia sampaikan pada Eric. Meera juga merasa sedikit lega karenanya.