
Keesokan harinya Alyosha bangun kesiangan. ia mulai menyiapkan segala barang barang yang paling penting untuk keperluannya kedepan.
Semua barang yang ia bawa dimasukkan di dalam satu koper berukuran besar dan satu tas. Selesai menyiapkan barang tersebut, Alyosha kemudian menuliskan surat untuk ayahnya, Meera, dan Dafa.
Alyosha pergi ke rumah sakit wijaya untuk melakukan pemeriksaan terakhir kalinya pada dokter yang sangat baik hati.
“hasil dari pemeriksaan tadi, bayi yang ada dikandungan kamu masih dalam keadaan sehat saja. Kamu harus terus memperhatikan kondisi badan dan kandungan. Jangan lupa karena itu sangat berdampak pada mereka” ujar dokter menjelaskan.
“terima kasih atas apa yang sudah dokter berikan pada saya sebelumnya.” Ujar Alyosha memegang tangan dokter.
“kelak saat mereka sudah lahir kedunia saya akan memberitahu mereka kalau mereka memiliki pahlawan yang bijaksana seperti dokter dan menyuruh mereka untuk berbalas budi” lanjut Alyosha
“saya sangat menantikan kehadiran mereka berdua. Mereka pasti anak yang sangat tampan dan cantik persis seperti ibunya” ujar dokter tersebut.
“saya juga berharap seperti itu. Apakah saya boleh meminta obat obatan mengenai kandungan saya dok?. Sepertinya untuk kedepannya saya akan sedikit sibuk jadi tidak sempat untuk melakukan pemeriksaan. Dan besok saya akan memberitahukan kepada keluarga saya jika saya sedang hamil” UjarAlyosha
“oh tentu saja kamu boleh memilikinya. Senang mendengarnya jika kamu sudah memiliki keberanian untuk mengungkapkan keadaanmu kepada keluarga kamu. Mereka pasti akan menjagamu dengan baik. Saya mengerti”
Dia beranjak dari tempat duduknya dan memilih beberapa obat untuk Alyosha kedepannya.
“ini ada obat penambah darah, vitamin dan juga ada obat penghilang rasa sakit jika sesuatu terjadi pada tubuh anda.” jelas dokter menyerahkan yang Alyosha inta padanya.
“terima kasih dokter, saya harap kita bisa bertemu lagi” ujar Alyosha dan pamit pulang.
...****
...
__ADS_1
Alyosha membuka laptop dan mencari lokasi hendak kemana ia pergi. Alyosha akan pergi ke sebuah desa yang masih di negara ini. Desa yang memiliki suasana damai dan tidak terlalu ramai penduduknya.
Desa yang masih memiliki banyak tumbuh tumbuhan hijau dan asri. Setelah mencari cari desa yang seperti ia mau, hanya ada satu desa yang memiliki banyak kesamaan dengan yang ia inginkan.
Desa Hala namanya. Waktu yang ditempuh kesana sekita satu harian. Desa tersebut hanya memiliki penduduk sebanyak seribu jiwa sudah termasuk anak anak dan lansia. Tetapi banyak dari penduduk tersebut hanya orangtua dan anak anak saja. Karena para remaja dan dewasa kebanyakan pergi merantau ke kota S.
Alyosha melihat lihat beberapa gambar dari desa Hala yang ada di internet. Ia menyukai desa itu, suasananya sangat damai dan tenang. Alyosha memutuskan untuk pergi ke desa Hala. Ia memesan tiket keberangkatan menggunakan bus untuk pergi besok dipagi hari.
Alyosha akan mengantarkan surat yang sudah ia tulis ke kantor pos. Ia berpesan untuk melakukan pengantaran surat itu di siang hari, saat Alyosha sudah pergi. Jadi ia tidak perlu melihat kesedihan di wajah mereka karena kepergiannya.
“huff... semua sudah selesai, aku beristirahat saja.
Besok akan melakukan perjalanan yang lama” ujar
Alyosha setelah mengantar surat dan berbelanja kebutuhan Gauri untuk kedepannya.
“ayah sayang, Alyosha pergi sebentar ya. Jaga diri ayah dengan baik dan berhentilah mabuk.”ujar Alyosha pelan di depan pintu kamar ayahnya.
Ia meninggalkan rumah yang mengisahkan banyak perjuangan bagi Alyosha. Alyosha berjalan dengan lambat mengingat semua kejadian yang terjadi saat ia tinggal di dalam rumah itu. Ia memberhentikan taksi untuk membawanya ke terminal bus.
Alyosha menaiki bus yang akan berangkat dalam lima menit lagi. Ia duduk dibangku yang sudah ia pesan. Bus melaju dengan pasti, ia duduk tepat disamping jendela.
Alyosha memperhatikan kembali kota yang sudah ia tinggali dua puluh tahun lamanya. Kota yang diselimuti keramaian. Banyak hal yang akan dijumpai disetiap sudutnya baik kebaikan, kejahatan, keadilan bahkan juga kelicikan.
Alyosha mengantuk, matanya semakin berat hingga ia tertidur. Alyosha terbangun karena bis yang berhenti menurunkan penumpang. Mereka sudah mulai memasuki kawasan yang banyak ditumbuhi pohon pohon besar.
Karena terlalu asik melihat keluar jendela, Alyosha tidak sadar hari sudah mulai sore. Di dalam bus hanya tersisi lima penumpang saja. Seorang ibu dengan anaknya, satu pasang lansia dan juga ia sendiri.
__ADS_1
“Sebentar lagi kita akan memasuki desa Hala. Untu seluruh penumpang yang bertujuan ke desa Hala diharapkan untuk bersiap siap. Perhatikan kembali barang anda jangan sampai ada yang tertinggal. Terima kasih”
pengumuman otomatis dari bus ini membuat penumpang yang ada di dalam bus bersiap siap dan mengambil semua barangnya yang diletakkan di sekitar bangkunya masing masing.
Bus berhenti di terminal yang ada di desa Hala. Terminal yang jauh berbeda dengan terminal yang ada di kota. Tidak ada kerumunan apapun di terminal ini. Hanya ada ia dan empat penumpang lain. Alyosha menaruh tas diatas koper dan menariknya.
Alyosha langsung menuju ke rumah kepala desa Hala dan menyelesaikan beberapa urusan. Alyosha membeli rumah milik kepala desa yang sudah tidak ditempati dengan harga murah.
“kamarnya ada dua tetapi memiliki lokasi yang strategis karena berdekatan dengan sekolah dan pusat kesehatan desa ini” ujar kepala desa tersebut setelah lama mereka berbincang bincang.
“iya pak terima kasih. Saya bisa membangung usaha kecil kecilan di depan rumah nanti.” Ujar Alyosha.
Dia juga tidak menanyakan terlalu banyak tentang pribadi Alyosha karena ia sudah menyiapkan surat berprilaku baik dari kepolisian. Semua biaya yang Alyosha keluarkan adalah uang tabungan miliknya dan cek yang diberikan ayah Meera.
Alyosha mengambil uang dari cek tersebut setelah semua perhitungan biaya untuk tempat tinggal dan modal usaha.
Kepala desa tersebut membawa Alyosha mengelilingi desa dan berkenalan pada penduduk desa Hala. Semuanya bersikap ramah dan baik. Alyosha dan kepala desa berbaur dengan para penduduk.
Ia mengenalkan Alyosha dan bercerita sedikit tentang Alyosa pada mereka. Mereka menerima Alyosha menjadi bagian dari keluarga di desa Hala dengan baik.
“terima kasih sudah menerima saya sebagai penduduk desa Hala” ujar Alyosha yang hendak pergi.
“sama sama. Kamu jangan sungkan untuk meminta bantuan pada kami”ujar salah satu penduduk.
“baik ibu semuanya. Kami pamit dulu karena dia masih ingin melihat rumah yang akan ia tinggali. Dia akan tinggal di dekat sekolah dan pusat kesehatan. Mari saling menjaga kekeluargaan antara kita” ujar kepala desa berpamitan.
Matahari sudah mulai terbenam, sinar senjanya menghiasi desa Hala membuat Alyosha sangat takjub, anak anak kecil yang tadi bermain bersama dengan riang mulai bubar dan pulang kerumah masing masing.
__ADS_1
Alyosha membuka pintu rumah yang baru saja ia beli. Rumah yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil untuk ia tempati dengan anak anaknya nanti.